
Finally proyek dengan brand Mama Glow berjalan dan selesai dengan lancar. Cuan alias bonus akan mendarat ke rekening masing-masing. Bayangkan betapa senangnya hatiku. Seluruh anggota Club Elit A5 sepertinya juga sangat bahagia.
Ditambah lagi pihak Mama Glow yang merasa puas dengan kerjasama pertama kami bersama mereka. Saat ini mereka juga sedang merancang untuk mengeluarkan produk lainnya dan akan tetap menggunakan jasa perusahaan kami kedepannya. Cuan cuan sudah mulai terlihat sejak dini.
Dalam suasana menggembirakan ini, direktur kami ternyata sudah menyiapkan suatu acara untuk merayakan serta menjalin silaturrahmi antar sesama karyawan agar menjadi lebih akrab dan kompak untuk kedepannya. Kami akan mengadakan Family Gathering ke Pantai selama dua hari satu malam.
Kami yang termasuk perusahaan baru dengan total karyawan tidak lebih dari tiga puluh orang ini diizinkan untuk membawa satu orang anggota keluarga ataupun temannya. Aku belum kepikiran akan mengajak siapa, kalau ibu pasti tidak akan mau karena prinsip ibu tidak pernah mau ikut campur dengan pekerjaanku termasuk untuk hal seperti ini.
Kelima rekan ku sudah memutuskan dan mendaftarkan nama orang yang ingin diajak, Bang Agus dan Bang Andi sudah jelas mengajak istrinya, Kak Anisa sudah pasti ajak suami, Kak Arni tidak bisa ikut karena ada sepupunya pesta pada hari itu, sedangkan Bang Arya mengajak adek perempuannya.
Karena hari ini merupakan hari terakhir pendaftaran peserta, aku memasukkan nama Leo sebagai temanku, daripada nanti kursinya hangus begitu saja. Leo bisa atau tidaknya urusan belakanganlah. Kalau dia tidak bisa tinggal aku ajak siapa aja yang mau.
***
Saat jam istirahat siang, aku menghubungi Leo. Dua kali aku telpon, tapi belum ada jawaban. Mungkin dia sedang sibuk, jadi aku memutuskan untuk pergi ke kantin untuk makan, nanti akan aku coba menghubunginya lagi.
Sesampainya di kantin, aku lansung memesan seporsi nasi kuning, seporsi batagor dan minum cukup dengan air mineral. Setelah memesan makanan aku lansung duduk di meja yang sudah di isi oleh Bang Arya, Bang Andi dan Bang Agus.
“Eh anak cewek ngapain duduk disini? Pindah sono” ucap Bang Agus saat aku baru saja mendaratkan pant**ku pada bangku kayu.
“Pada penuh mejanya Bang, cuma ini yang kosong. Lagian kenapa memangnya aku duduk disini?” kataku pada Bang Agus.
“Coba deh liat sekeliling, yang perempuan pada duduk dengan sesama jenis, cuma kamu yang duduknya sama kami ini” ucapnya lagi.
“Mereka pada mau ngegossip, makanya harus duduk dengan sejenis. Lagian kan kita sekantor semua, seruangan lagi, apa salahnya duduk dan makan sama-sama?” tanyaku padanya.
“Berbaur Nggi sama yang lain. Gabung ngegossip sama mereka. Masa kamu kemana-mana musti sama kami. Ntar di sangka yang lain kamu yang sombong” kali ini yang berucap adalah Bang Arya.
“Lain kali deh bang, sekarang kan lagi pada penuh mejanya, nggak bisa gabung buat gossip” jawabku.
“Kamu maruknya kenapa nggak bisa kurang sih? Makan sama setan mulu ya?” ucap Bang Agus dengan mulut pedasnya.
“No coment deh, aku mau makan dulu” jawabku bête.
Aku sedang malas berdebat dengannya, aku lansung melahap makananku dengan membaca do’a terlebih dahulu. Kalau dilanjutkan debat dengan Bang Agus, aku nanti malah tidak jadi sempat makan. Karena kalau debat dengannya itu tidak ada habisnya.
Ditengah – tengah kunyahanku, Bang Andi bertanya, “Jadi Family Gathering nanti kamu ngajak siapa? Kalau nggak ada, jatahmu abang pakai ya untuk ajak anak yang paling kecil”.
“Yaaahhh, aku tadi udah daftarin nama Leo bang, tapi kalau dia tidak bisa pergi, abang boleh pakai deh jatahnya” ucapku kemudian.
“Pakai yang punya aku aja Bang, adek aku kayaknya nggak jadi pergi juga. Katanya segan sama yang lain nggak ada yang kenal” Bang Arya berucap kemudian.
“Oke sip, entar adek kamu aku kasih jajan deh buat ganti rugi” kata Bang Andi.
Bang Arya hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Aku yang tidak mau melewatkan kesempatan untuk dapat uang jajan tentu kembali menawarkan bangku Leo. Lebih baik aku dapat uang jajan dari pada ajak Leo yang sampai saat ini belum pasti bisa atau tidaknya.
“Bang nggak mau ajak anak yang lain? Pakai jatahku aja, Leo kan belum pasti juga” ucapku sambil menaik turunkan alis ku padanya.
“Nggak perlu Nggi, aku cuma mau bawa anak bungsu aja, karena takut neneknya kerepotan jika ditinggal semua” ucap Bang Andi. Dia tipikal anak yang cukup berbakti pada orang tua ternyata.
Aku yang tetap ingin mendapatkan uang jajan tambahan menawarkan Bang Agus untuk membawa anaknya, “Abang nggak mau bawa anak Bang?”
“Nggak, anak aku udah pada besar, udah aman ditinggal. Jangan ngarap uang jajan ya” ucapnya to the point padaku. Aku hanya cengengesan.
####
Wahhh si Ranggi selain mata makanan ternyata juga mata duitan.