
Aku merupakan orang yang sangat susah untuk memutuskan sesuatu. Aku butuh berfikir lama dan minta pendapat beberapa orang yang sudah kenal dekat denganku. Selama aku berfikir, aku menghindari komunikasi dengan dua orang yang membuatku pusing itu.
Sejak kemaren mereka berdua mencoba menghubungiku lewat WA dan telpon. Tentu tidak aku angkat, karena aku belum bisa menjawab apa-apa. Bahkan untuk berbicarapun aku masih gagu. Jadi akhirnya aku hanya membalas pesan dan mengatakan aku butuh waktu sendiri.
Nah meskipun aku butuh waktu sendiri, aku tidak mungkin mengabaikan pekerjaanku. Aku harus tetap bekerja untuk masa depanku dan untuk hiburan bagiku. Karena rekan seruanganku memang paling rusuh seperusahaan ini.
Tapi, hari ini aku butuh cerita serius dengan mereka. Waktu makan sianglah yang paling cocok untuk curhat dengan mereka. Kali ini karena aku yang butuh mereka, aku sudah berinisiatif duluan memesan makan siang.
Setelah selesai makan, mereka akhirnya bertanya juga aku ada perlu apa.
“Jadi kamu sebenarnya mau cerita apa? Kenapa tumben mau traktir? Kamu sakit keras? Sakit-sakit yang kayak di TV itu? Yang umurnya tinggal tiga bulan lagi?” tanya Bang Andi dengan beruntun padaku. Dia kalau bertanya ngalahin cerewetnya aku.
“Hush, kalau nanya yang benar bang.” Ucap Kak Anisa menegur Bang Andi.
“Tau nih. Abang selalu aja merusak mood aku. Kan jadi malas akunya cerita”. Kataku padanya, tapi dia hanya berkata “sory sory” sambil bergaya ala-ala boyband Korea yang ngetren di era tahun dua ribuan itu.
“Jadi Nggi, kamu mau curhat apa? Penting banget kayaknya” tanya Kak Arni.
Aku pun menceritakan kepada mereka tentang Leo yang mendadak bilang suka padaku dan Bang Fathyr yang mendadak menemui ibuku untuk datang melamar. Mereka mendengarkan dengan seksama. Setelah aku selesai bicara, barulah mereka berkomentar.
“Waw, tidak kusangka dan kuduga sama sekali, orang kayak kamu akhirnya ada yang lamar juga” ucap Bang Andi sambil geleng-geleng dan bertepuk tangan.
“Kayak aku gimana maksudnya? Emang aku kenapa?” tanyaku ke Bang Andi. Dia selalu saja berkomentar seolah aku tidak pantas dan tidak layak sama sekali.
“Yah gini, tampang biasa, body biasa, isi dompet apalagi. Udah gitu cerewet, rakus dan mageran lagi” ucapnya sambil menunjuk-nunjuk ku.
Aku lansung melempari Bang Andi dengan sendok yang masih bertengger ditanganku. Dia tentu saja mengelak sambil berkata “Nah kasar lagi”.
Aku jadi tambah kesal dan ingin melemparinya dengan minuman yang sekarang ada dihadapanku. Tapi sebelum itu terjadi Kak Anisa lansung meleraiku.
“Ish, Bang Andi apaan sih? Kalau nggak bisa serius mendengarkan pergi keluar aja deh. Kalau kayak gini mengganggu aja jadinya”. Ucap Kak Anisa pada Bang Andi.
“Yah abis gimana? Ini anak mukanya udah kayak setres naggung beban lima keluarga. Padahal dianya belum berkeluarga” ucapnya lagi. Huh aku jadi menyesal sudah mentraktirnya. Tidak ada hal yang dapat aku ambil dari orang ini. Aku hanya bisa cemberut.
“Jadi abang-abang dan kakak-kakak, sekarang aku bingung dengan perasaanku sendiri. Aku tidak tau siapa yang akan aku pilih” ucapku akhirnya.
“Hemm, perasaan kamu sendiri gimana?” tanya Bang Arya.
“Aku juga bingung. Aku suka sama Bang Fathyr, tapi Leo itu juga penting banget bagi aku” ucapku pada mereka.
“Gini deh, kalau misalkan mereka berdua hampir tenggelam dan kamu hanya bisa menyelamatkan salah satunya, siapa yang akan kamu tolongin?” tanya Bang Agus padaku. Mengapa dia malah memakai perumpamaan kuno seperti ini? Ini sama sekali tidak membantuku.
“Gak ada Bang, aku hanya bisa berenang untuk menyelamatkan diriku sendiri, kalau menyelamatkan orang lain aku nggak kuat” jawabku diiringi gelak tawa Bang Andi. Sedangkan yang lain malah geleng-geleng kepala.
Aku tidak berniat bercanda saat ini, tapi karena pertanyaan Bang Agus ini dan aku menjawab sesuai kemampuanku saja. Eh mereka malah tertawa.
“Untuk sekarang, perumpamaan itu sudah tidak bisa dipakai Bang” ucap Kak Arni. “Sekarang ini orang sudah pintar dan sudah realistis semua. Jadi harus dihadapkan dengan hal-hal yang nyata di depan mata.” Sambung Kak Arni lagi.
“Gini deh Nggi, coba kasih tau kami hal apa yang membuat kamu suka sama Leo dan Fathyr?” tanya Kak Arni.
Hemm aku berfikir sejenak.
###
Apa ya daya tarik mereka masing-masing dihadapan Ranggi?
Kalau author sih, number one is tampangnya, hehehe…
Number two is hartanya…
#gakbolehmuna
Dua hal ini modal utama dalam hidup. Hahahaha.