Project For Love

Project For Love
Bagian 38 – Family Gathering Part II



Fathyr POV


Pagi ini aku sepertinya cukup membuat kaget hampir seluruh karyawan NCD karena kehadiranku di kantor mereka. Yups mereka pagi ini akan melakukan perjalanan ke pantai dalam rangka Family Gathering perusahaan.


Aku yang jelas bukan bagian dari perusahaan mereka mendadak muncul untuk bergabung dengan acara mereka tentu cukup membuat mereka heran. Awalnya aku memang ditawarkan oleh Pak Imran untuk bergabung karena ini juga merupakan perayaan kerja sama yang sukses, tapi aku menolak karena ini acara kantor mereka.


Tapi, sesuatu membuatku berubah pikiran, yaitu gadis bernama Ranggi.


Aku disini bukan karena dia mendaftarkan aku sebagai teman atau rekannya untuk acara ini, tapi karena dia malah mengajak Leo untuk menjadi rekannya. Aku heran, apakah dia tidak punya teman lain hingga harus mengajak si Leo itu?


Untung saja aku bertanya kepadanya siapa rekan yang akan diajaknya saat FG, kalau tidak, aku sudah kecolongan.


Tidak kupungkiri bahwa aku sungguh tertarik dengan Ranggi. Sejak awal sudah aku katakana dia lucu, tapi semakin aku mengenalnya, lucu bukanlah satu-satunya yang bisa membuatku tertarik.


Dia gadis yang polos dan apa adanya, dia sulit untuk ditebak. Terkadang dia terlihat malu-malu dan terkadang seperti gadis pemberani. Dia juga berbeda dengan gadis lainnya dalam hal penampilan. Bukan berarti dia bergaya nyentrik sendiri, tapi dia memiliki gaya santai dan kasual serta tertutup.


Seperti sekarang ini, disaat yang lain memakai pakaian yang sering digunakan oleh orang saat kepantai seperti dress motif bunga, memakai jins pendek yang dipadukan dengan crop top serta dilengkapi topi lebar dan kacamata hitam.


Dia hanya menggunakan celana jogger panjang berwarna pastel dengan atasan kemeja putih yang depannya dimasukkan ke celananya. Kepala nya tidak ditutupi topi, hanya rambut yang biasanya di gerai itu,sekarang di cepol tinggi.


Dia sesimpel itu, dengan hanya memakai sandal capal.


Aku memperhatikannya sejak tadi, tapi dia sepertinya tidak mengetahui keberadaanku karena sibuk bercanda dengan Bang Agus dan Bang Andi. Sepertinya mereka sedang memperkenalkan Ranggi kepada istrinya masing-masing.


Aku berjalan ke arah mereka agar dia menyadari keberadaanku. Saat aku sudah dekat, Bang Agus yang pertama kali melihatku menyapa, dan diikuti oleh Bang Andi dan terakhir Ranggi.


Dia terlihat heran, “Loh, Pak Fathyr kok disini? Ikutan juga?” ucapnya dengan formal.


“Hem iya, kebetulan Pak Imran menawarkan saya untuk ikut, jadi sayang untuk di tolak, sekalian kita saling mengenal” jawab ku tak kalah formal.


Kemudian saya beranjak mencari dan menyapa Pak Imran sebentar sekaligus mengucapkan terima kasih karena sudah diajak. Setelah itu aku berjalan kembali ke kerumunan, tapi belum sampai tiba-tiba Ranggi berjalan disampingku.


“Bang kenapa nggak bilang bakal ikut juga?” tanya Ranggi padaku dengan suara yang sangat pelan. Mungkin dia tidak ingin ada rekannya mendengar pembicaraan kami. Dia juga berjalan disampingku seperti seorang sekretaris yang mengikuti bosnya.


“Kamu kan nggak ada nanya, dan nggak ada ngajak juga” ucapku sambil menatap lurus kedepan. Mengikuti aktingnya seolah kami hanya sebatas karyawan dan client. Dia mungkin tidak nyaman jika pertemanan kami diketahui orang lain.


Teman, sekarang ini hanya itu yang dapat aku gambarkan atas hubungan kami. Belum bisa lebih sama sekali. “Iya sih, aku Cuma cerita aja kemaren ya” ucapnya sambil angguk-agguk.


“Leo nggak jadi pergi?” tanyaku kemudian karena belum melihat batang hidung anak itu sedari tadi.


“Jadi kok, itu dia” jawab Ranggi sambil menunjuk ke arah depan dengan dagunya.


Aku melihat Leo berjalan ke arah kami dengan membawa kantong yang besar dengan merek Indahmart. Sampai dihadapanku dan Ranggi dia menyerahkan kantong itu kepada Ranggi dan berkata “Nih bekal untuk diperjalanan nanti, cukup kan?”.


“Waahhh cukup-cukup , baik banget deh” ucap Ranggi kegirangan. Ternyata kantong itu berisi aneka makanan ringan.


Dari sini aku semakin yakin kalau Ranggi ini suka sekali makan, dimanapun dan kapanpun. Dan Leo yang katanya sudah sahabatan lama ini sangat mengerti akan dirinya dan sudah siap sedia dengan sekantong makanan.


Aku kalah satu atau dua langkah darinya.


Aku menatap Leo dan Ranggi, setelah beberapa kali melihat interaksi mereka berdua, terkadang aku jadi ragu, apakah mereka benar hanya sekedar sahabat atau lebih. Aku akan mengamatinya terus selama dua hari kedepan.


Dengan demikian aku baru bisa jelas bertindak, jika mereka hanya sahabat, aku akan maju, tapi jika mereka ternyata lebih dari sahabat, aku akan tetap maju, sampai ada kesempatan yang tepat untukku.