
Apa-apan ini? Itulah kata yang ku ucapkan dalam hati saat sampai di kantornya Ranggi. Hari ini aku akan mengikuti acara family gathering kantornya, tapi yang kulihat pertama kali malah Ranggi yang sedang berbicara dengan Fathyr. Mengapa orang itu ikut-ikutan acara kantor orang lain?
Aku bukannya tidak sadar diri, ini juga bukan acara kantorku, tapi aku statusnya di ajak Ranggi, jadi aku iyain aja, hitung-hitung liburan gratis. Sifat protektifku muncul saat ada orang lain yang mendekati Ranggi. Aku berjalan cepat ke arah mereka dan lansung menyodorkan makanan kepada Ranggi.
Ranggi yang mata makanan ini tentu sangat senang, tapi orang disebelahnya malah menatapku dengan tatapan tidak suka. Aku tau dia tertarik kepada Ranggi, tapi apakah dia tulus atau tidak, aku tidak tau. Jadi aku harus lebih teliti dalam mengamatinya.
Di dalam bus, dia malah duduk di bangku depan kami. Sepertinya dia kenal dengan direkturnya Ranggi karena itu dia bisa ikut. Dasar KKN.
Sepanjang perjalanan aku berbincang banyak hal dengan Ranggi. Hingga akhirnya kami membahas tentang perjodohan kami masing-masing.
Aku tidak menyangka bahwa ibu Ranggi berfikiran untuk menjadikan aku calon menantunya. Aku cukup terkejut mendengarnya. Jadi aku bertanya “Kenapa nggak kamu iyakan saja?”.
Ranggi yang mendengar pertanyaanku sontak menoleh kepadaku dengan alis yang terangkat sebelah. Sayangnya bus sudah sampai hingga Ranggi tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya bersikap seperti biasa kembali. Padahal aku sangat penasaran dengan jawabannya.
Orang-orang di kantor Ranggi ini cukup unik, mereka mencabut undian untuk setiap kegiatan yang akan dilakukan. Aku untuk kamar kebetulan sekamar dengan Bang Agus dan satu lagi aku tidak tau namanya. Sedangkan untuk perlombaan kaki gajah, pasanganku adalah Fathyr.
Mau tidak mau, suka tidak suka aku tetap mengikuti kegiatan ini. Kami berlomba dengan lima pasang tim. Saat ini kaki kami sudah di ikat, kami akan berlomba sejauh lima puluh meter, tidak terlalu jauh sebenarnya kalau kita dan pasangan main bisa melangkah dengan kompak.
Sebelum peluit dibunyikan,Fathyr berkata padaku bahwa ia tidak ingin kalah. Dia pikir aku bisa menerima kekalahan? Tentu tidak. Jadi kami harus menang. Ranggi dipinggir arena main sedang bertepuk tangan sekaligus menyemangati kami.
“Bisa nggak mata nya dikondisikan, bukan mahram” ucapku pada Fathyr yang sedari tadi melirih ke arah Ranggi.
“Bisa nggak usah ikut campur? Bentar lagi juga bakal aku jadiin mahram” jawabnya membuat ku melotot.
“Eh, kamu pikir semudah itu? Ibunya aja memilih aku” jawabku nyolot sambil berjalan cepat menuju garis finis dengan Fathyr.
Kami berdebat sambil berlomba, jadi emosinya lebih berasa.
“Itu karena ibunya belum kenal dengan ku” jawabnya dengan sok pada ku. “Lagian kamu itu bukannya hanya sekedar sahabat? Kok sewot?” ucapnya lagi kepadaku.
Tiga langkah kemudian kami sampai di garis finish. Ranggi berlari ke arah kami dan bertepuk tangan. Aku melihat sekeliling, ternyata kami yang menang. Aku tidak menyadari karena berdebat dengan Fathyr ini. Aku segera membuka ikatan kaki kami dan menarik Ranggi menjauh darinya.
“Eh, hadianya nggak di ambil?” tanya Ranggi saat aku tarik menuju pantai.
“Biar aja untuk di Fathyr itu, orang hadianya cuma minyak dua liter, buat apa?” jawabku.
“Buat aku. Kan lumayan untuk di bawa pulang sebagai oleh-oleh untuk ibu” ucap Ranggi membuatku geleng-geleng.
Pemikirannya memang Cuma sampai di situ guys. Otak gratisan memang begini.
“Eelah, kan bisa kita beli. Udah yuk temenin cari kelapa muda, aku haus” ucapku kemudian.
Reaksinya tentu girang, kalau urusan perut itu bagi dia nomor satu. Terutama jika aku yang bayar.
Kami sampai di bawah tenda penjual kelapa muda, dan lansung memesan minuman tersebut. Tentu tidak hanya itu saja, Ranggi menambah pesanan dengan kerupuk kuah. Kemudian kami duduk di bangku yang dekat dengan ayunan.
Ranggi lansung berlari ke arah ayunan, aku mengamati dan memotretnya. Bukan diam-diam, karena dia tau aku sedang memotretnya, lansung bergaya tidak jelas. Tapi saat ayik memotret, seseorang nongol di dalam layar HP ku, sedang bergaya di sebelah Ranggi dengan senyuman menjengkelkan ke arahku.
Fathyr bre**sek, ngapain dia ngikutin kami. Aku lansung berhenti memotret dan memintanya gentian memotretku dan Ranggi. Dia pasrah saja mengambil HP dari tangan ku.
Aku berjalan ke arah Ranggi, dan menarik tangannya untuk berdiri dekat denganku. Kemudian aku mengarahkan wajah Ranggi untuk menghadap kepadaku sambil mengelus kepalanya. Panas panas dah tuh tukang foto.
Ranggi agak canggung dengan posisi kami, sebenarnya aku juga, aku jadi sangat dekat dengan wajahnya. Aku jadi dapat melihat setiap inci wajahnya. Mulai dari bola matanya yang hitam pekat, bulu mata yang lentik, hidung yang tidak terlalu mancung dan terakhir bib** nya.
Aku terpaku sendiri melihatnya . Jantungku mulai berdetak tidak karuan. Ada apa ini? Mengapa reaksi ku berbeda dengan biasanya. Aku bukan pertama kali melihat wajah Ranggi sedekat ini, tetapi mengapa kali ini rasanya ada yang berbeda?
###