
Aku fokus membuka obrolan group kantor, dan ternyata foto tadi sudah dihapus oleh Bang Andi dan ia memberikan klarifikasi tentang drama di ruangan kami siang ini.
Tapi melihat komentar-komentar berikutnya, aku tambah bête karena tidak ada diantara mereka yang percaya.
Aku harus apa? otakku mendadak buntu dan tak mau berfikir.
Saat ini semua orang yang kutemui tersenyum-senyum jijai kearahku. Sedangkan aku hanya bisa mengangguk-angguk tak jelas kepada mereka.
Aku bukannya tidak berusaha mengklarifikasi bahwa itu hanya candaan, tapi mereka yang betul-betul tidak percaya.
Mereka hanya berkata “Nggak perlu malu Nindi. Kami dukung kok. Ditunggu undangannya ya”.
Dengan situasi gak jelas dan moodku yang sudah hancur seperti ini, yang kulakukan adalah lari dari kenyataan, alias bolos dari kantor. Aku ingin menenangkan pikiranku dengan jalan-jalan sebentar. Aku meraih ponselku dan menghubungi satu-satunya orang tempatku curhat selama ini.
🐈🐈🐈🐈
Yasha,
Dia adalah orang pertama yang kutelpon untuk berbagi kisah kesialanku hari ini. Dia merupakan teman atau bisa dikatakan sahabatku sejak SMA. Lama bangetkan kami temenan nya. Sejak usia 15 tahunan hingga 27 tahun. Wah kalau kami nikah, udah TK aja tuh anak kami.
Heh? Apa apan ini? Kenapa pikiranku sampai kenikah? Pasti ada sangkut pautnya dengan perut keronconganku dan problem saat ini?. Kalian yang baca harus anggap iya. Jangan sampai membuatku bertambah bête ya.
Yasha itu sahabatku, kalian jangan pikir yang aneh-aneh. Kami murni sahabat oke. Bukan kayak di novel- novel ataupun film yang kalian tonton. Berawal dari sahabat menjadi cinta. BUKAN.
Nah sekarang yang bersangkutan belum juga datang menjemputku ke halte depan kantor. Entah kemana perginya. Aku yang mulai bosan menunggu kembali menghubunginya. Setelah nada dering berbunyi lima kali, dia pun mengangkat panggilan dariku.
Aku : “Eh lama banget sih? Kamu dimana? Keburu diculik aku ini”.
Itulah yang lansung kukatakan tanpa menunggu kata “halo” darinya.
“Eh eh, kamu aja yang nggak sabaran. Udah ngajakin mendadak, minta cepat pula. Gojek aja dipesan musti nunggu dulu, apalagi aku yang termasuk kalangan elit ini”. kata Yasha sewot
Aku : “Dih banyak gaya. Kamu lagi dimana sih? Lama banget. Aku lapar huhu”
“Nggak usah sok soan mau nangis, sabar aja. Aku lagi di lampu merah yang dekat kantor kok. Kalau lapar makan gih. Jangan ngerecokin aku”. ucap Yasha lagi
“Iya ini mau makan, sama kamu. Biar ditraktir. Hehehe” kataku seenaknya
“Peraturan itu nggak berlaku di aku. Pokoknya kamu yang traktir”. ucapku tak mau kalah
“No. Aku pulang aja deh kalau gitu”. ancam Yasha kepadaku.
Setelah mendengar perkataan Yasha itu, tiba-tiba ada mobil Pajero sport model terbaru berhenti di depan halte tempat aku nungguin Yasha.
Aku tentu diam tak perduli dan masih melanjutkan telponan dengan Yasha.
“Ya ampun jangan pelit banget sama aku napa. Kasihanilah anak yatim ini”.
Aku mulai mendramatisir keadaan supaya Yasha mau mentraktirku. Karena selama persahabatan kami, Yasha tidak menerapkan peraturan laki-laki yang harus membayar makanan, tetapi kami malah bergiliran membayar. Dia termasuk laki-laki yang perhitungan bukan?
Dan setelah kupikir mungkin akulah yang paling sering membayar lantaran aku yang selalu ngajakin dia makan.
Bukan karena apa, tapi aku itu tidak punya teman lain yang mau aku ajakin kemanapun selain Yasha. Kurang pergaulan banget memang aku ini.
Dan sekarang saat aku mulai mendramatisir keadaan, dia malah menjawab seperti biasanya. “Nggak usah sok dramatis deh, cepat naik. Katanya lapar”.
Aku heran dan bertanya, “Naik kemana? Kamunya dimana? Nggak mungkinkan aku kamu suruh naik sapu terbang”.
Itulah yang terucap olehku karena melihat di dekat halte ada sapu lidi yang sedang bersandar dengan santainya di pojokan dinding halte seolah memang siap untuk diterbangkan.
Yasha yang mendengar perkataan ngawurku berdecak dan berkata “Ya ke mobil lah”.
Ha? Mobil apaan?
🐥🐥🐥🐥
Hai hai hai cintaku
Masih betah membacakan? #kumohon tetaplah bertahan membaca cerita ini
Jangan lupa berikan dukungannya ya.