Project For Love

Project For Love
Bagian 25 – Tidak Kusangka Separah Ini



Yasha menceritakan masalah yang dialaminya kemaren kepadaku.


Jadi pacarnya yang bernama Sarah itu hamil dua bulan. Saat kehamilannya diketahui oleh keluarga, dia mengatakan bahwa Yasha adalah ayah dari bayi yang dia kandung.


Keluarganya tentu saja murka, dan lansung mencari Yasha untuk meminta pertanggung jawaban. Yasha yang yakin bahwa itu bukanlah anaknya, tentu tidak mau di fitnah begitu. Dia sudah menjelaskan bahwa dia tidak mungkin ayah dari bayi itu karena tidak pernah melakukan hal tersebut, tapi keluarga Sarah tidak mau mendengarkan. Karena saat itu Yasha adalah pacarnya Sarah, jadi anak siapa lagi yang di kandung jika bukan anak Yasha?.


Menurutku orangtua Sarah ini sungguh tidak jauh berbeda dengan kebanyakan orangtua zaman ini, mereka hanya tau menyalahkan orang lain tanpa berkaca pada diri dan keluarganya sendiri. Mereka selalu membela dan membenarkan perbuatan anaknya dan melimpahkan kesalahan kepada orang lain.


Karena Yasha tidak mau mengakui dan bertanggung jawab atas hal tersebut, orang tua Sarah menemui orantua Yasha untuk dimintai pertanggung jawaban.


Orangtua Yasha tentu juga murka saat mengetahui anaknya telah berbuat **na dan merusak anak perempuan orang. Mereka meminta Lansung meminta Yasha untuk menikahi Sarah, sebagai bentuk pertanggung jawaban.


Yasha tentu tidak mau. Dia menjelaskan kepada orangtuanya bahwa itu bukan perbuatannya. Dia tidak pernah melakukan hal seperti itu dan tidak akan pernah melakukannya jika bukan dalam ikatan halal.


Tapi masalahnya tidak hanya sampai di situ saja, Sarah yang mengetahui bahwa Yasha tidak mau menikahinya. Ia malah membuat drama baru dengan berniat menggugurkan kandungannya. Sarah meminum ramuan obat yang tidak tau dapat darimana.


Kalau feelingku berkata ia pasti dapat ramuan itu dari salah satu online shop yang terkenal. Karena di online shop semua hal diperjual belikan.


Upaya Sarah untuk menggugurkan kandungannya gagal karena dibawa ke rumah sakit tepat waktu oleh keluarganya.


Selama Sarah di rumah sakit, Yasha ikut menemaninya. Yasha berusaha membujuk Sarah untuk mengatakan siapa sebenarnya ayah dari sang bayi. Awalnya dia tidak mau dan tetap bersikukuh bahwa anak itu adalah anak dar Yasha.


Tapi entah apa yabg terjadi, bahkan Yasha pun heran, setelah lima hari Sarah tiba-tiba mengakui bahwa ayah dari anak dalam kandungannya itu bukan Yasha. Tapi anak dari selingkuhannya yang bernama Dirga. Dan parahnya selingkuhannya itu tidak mau bertanggung jawab.


Yasha tentu merasa lega setelah mendengar pengakuan Sarah. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa Ia juga sangat kecewa terhadapnya. Aku juga sangat kecewa pada pacarnya itu. Padahal diantara semua pacar Ysha, cuma dia yang agak aku sukai karena tidak sensian dengan persahabatan ku dan Yasha.


“Kamu mengalami hal sepelik ini kenapa tidak mengabari ku dari kemaren sih? Kan aku bisa bantu” marahku pada Yasha.


“Bantu apa? Nanti kamu bukannya membantu malah menambah masalah dengan mengatakan kamu juga hamil anakku” jawab Yasha.


Aku sebenarnya sedikit tersinggung karena perkataan Yasha, tapi “Wah mulai gila ini anak. Ya aku bisa bantu banyak kali. Aku bisa bantu menjelaskan kepada orangtua mu dan orangtua Sarah bahwa kamu bukan orang seperti itu. Aku juga bisa jadi bukti loh”.


“Bukti apa sih Nggi?” tanya nya lagi.


“Bukti bahwa kamu tidak akan pernah menghamili anak gadis orang sebelum menikahinya secara sah. Bukti bahwa kamu itu pria baik baik. Ini aku buktinya, lima belas tahun sahabatan sama kamu aman-aman aja” jawabku.


“Kamu yakin aku pria baik-baik?” tanya Yasha yang membuatku ragu akan perkataanku sendiri hingga membuatku teringat sesuatu.


“Tadinya iya, tapi setelah kamu bertanya ulang aku jadi nggak yakin lagi” jawabku.


“Dasar plin plan” ucapnya.


Aku akan menanyakan maksud peerkataannya tadi, “Aku mau nanya suatu hal deh sama kamu Sha”.


"Mau nanya Apa lagi? Kamu mau nambah beli apa lagi? Aku masih ada uang kok”, ucap Yasha kemudian.


“Ihhh bukan mau nanya uang kamu. Tapi kalau kamu masih mau jajanin aku, nanti aja sebelum pulang beli martabak mesir ya. Untuk di kos. Biasanya aku tengah malam lapar lagi”.


Dia hanya geleng-geleng setelah aku minta martabak mesir. Lagian siapa suruh dia mikir aku ingin jajan lagi. Padahal aku nggak ada niat. Tapi kalau di tanyain ya aku ambil. Mumpung dia nawarin iya kan? Itu rezeki kan namanya? Nggak boleh ditolak. Hahaha.


“Jadi kamu mau nanya apa lagi?” ulangnya.


Aku bertanya, “Tadi kamu ada bilang, Aku nggak sampai sejauh itu juga. Maksudnya apa? Mendekati itu pernah? Kamu pacaran ngapain aja sih?”


Yasha terdiam sejenak mendengar pertanyaanku. Dia mungkin tidak menyangka aku menanyakan hal ini. Karena selama ini kami jarang sekali membahas tentang pacar. Terutama aku yang jomblo sejak lahir ini. Apa yang mau di bahas nggak tau. Yasha juga kalau pacar Cuma cerita pas putus dan udah dapat gantinya.


Aku mulai mendesaknya untuk menjawab, “Jadi maksudnya apa? Kamu pacaran itu ngapain aja?”.


“Yah biasa Nin, kayak orang lain pacaran. Gimana lagi” jawabnya singkat.


Aku bertanya lagi “Iya gimana orang lain pacaran? Aku kan nggak pernah. Kamu ***** – ***** anak orang ya kalau pacaran?”


“Yaaahh aku kan juga lelaki normal Nin”.


What?


###


Waduh si Sha sha.


Reader : “Aku kecewa pada mu sha. Aku tidak menyangka”.


Yasha : " Jangan panggil aku Sha, kalian Tidak menyangka apa?”


Reader : “Yah itu..”


Yasha : “Itu apa? Aku kan belum bilang apa-apa. Aku Cuma bilang aku juga lelaki normal. Kan memang iya. Salahnya dimana?”


Author : “Dasar suka menghujat. Masalah belum jelas saja sudah komentar”.


Reader : “Apa lu thor? Mau kita kabur dari karya ini?”


Author : “Eh eh eh nggak dong. Author Cuma bercanda. Dukung terus karya author ya cinto. Disini mah bebas mau apa aja. Reader is number 1 deh”.