
Ranggi POV
Kenyang.
Itu yang aku rasakan sekarang setelah memakan satu porsi soto nasi ditambah dua kerupuk plus es jeruk. Aku sedang berada di Warung Soto Medina. Soto disini sangat enak dan sesuai dengan seleraku. Aku makan disini bersama Leo. Iya Leo.
Dia mendadak mengajakku makan soto, katanya dia lagi kepengen. Udah lama banget nggak makan soto. Aku tentu jawab “yes” untuk urusan makan. Sejak selesai makan, dia belum ada berbicara padaku. Dia hanya diam menscrool HP nya. Aku jadi penasaran karena terlihat sangat serius.
Aku melonggokkan kepala ku ke arah HP Leo, dan kalian tau apa yang aku lihat? Dia sedang….
Sedang …
JENG JENG JENG
Dia sedang membaca novel yang sangat popular di aplikasi biru saat ini.
DIA MEMBACA NOVEL !!!!
Hal yang baru kulihat pertama kalinya didalam hidupku. Dan dia membaca novel romance yang biasanya disukai para wanita.
“Kamu sejak kapan hobi baca novel begituan?” tanya ku dengan penasaran. Karena selama belasan tahun aku kenal dengannya, dia tak pernah terlihat membuka aplikasi baca apapun dan juga tidak pernah aku lihat membaca novel apapun.
Selama ini Leo yang aku kenal hanya membuka HP nya untuk komunikasi dan terkadang main game.
“Begituan gimana maksudnya?” tanya Leo padaku. Ini anak tidak mendengarkah pertanyaan ku dengan baik? Aku kan bertanya “sejak kapan?” mengapa dia malah fokus ke kata “begituan” sih.
“Kamu sejak kapan hobi baca novel?” Ku ulangi pertanyaan nya.
“Aku nggak terlalu hobi juga sih, ini kemaren hanya kebetulan aja ada iklan yang tak sengaja kepencet, jadi aku baca-baca. Ternyata lumayan juga” ucapnya. Aku hanya mengangguk dan ber “oooh” saja. Aku mau bercerita kalau aku juga menyukai novel dengan judul “A,B,C dan D” tersebut. Tapi belum sempat aku bercerita Leo kembali bertanya.
“Kamu tadi bilang novel begituan tadi maksudnya apa?” tanya Leo.
“Nggg, enggak. Itu kan novelnya genre romance gitu, biasanya anak laki-laki tidak suka” ucapku.
“Kamu baca novel ini juga?” tanya Leo padaku.
“Iya” jawabku sambil mengangguk.
*aku heran mengapa kepalaku ini sangat senang mengangguk angguk. Apa-apa ngangguk. Udah kayak boneka kucing dikedai China jadinya aku”.
“Eh ngapain kamu baca? Ini novelkan ada cerita dua puluh satu plus plusnya. Orang jomblo dilarang baca” ucapnya padaku.
Hellowww, dia sadar tidak sih, dia juga jomblo. Lagian nih ya hampir semua novel yang popular saat ini itu ada yang begituannya. Padahal novel-novel dulu tidak segitunya. Lebih banyak sensornya. Novel sekarang ngeri-ngeri beuhhh.
Karena inilah keluar istilah dari para lelaki “Perempuan yang di gadgetnya terdapat aplikasi baca yang warnanya biru dan orange itu, tidak sepolos penampilannya”.
*aku rasa ini ada betulnya*.
Pada intinya, kita semua harus pandai-pandai dalam memilih bacaan. Jangan sampai yang jomblo terjerumus dan bacalah sesuatu sesuai usia kita. Aku juga baca karena usia aku memang sudah dua puluh satu plusnya enam kali. Hehehe.
“Sadar diri lah pak, kalau nasehatin. Noh bapak juga lagi jomblo kan? Atau jangan-jangan udah jadian sama Renata?” tanya ku pada Leo.
“Enak aja. Nggak ada. Aku lagi fokus sama kamu aja” ucapnya membuatku tersentak.
“Maksudnya? Kok malah jadi aku?” tanyaku lansung. Aku takut jadi kegeeran sendiri, karena kadang-kadang Leo ini kalau ngomong suka nggak di filter dan bisa buat orang lain salah paham. Eh tapi ngapain aku GR ya, orang aku udah ada Bang Fathyr. Hehehe hampir lupa udah punya gebetan.
“Yah kamu dululah, kalau kamu nggak laku-laku biar aku yang selamatkan. Entar aku datang deh kerumah kamu sama keluarga aku. Mau nggak?” tanya Leo padaku. Ini anak kenapa ya? Makan soto buat otaknya jadi berminyak?
“Leo, kamu kalau ngomong yang bener ih. Aku nggak ngerti ini. Kamu mau ngelamar aku?” tanyaku to the point.
Belum sempat Leo menjawab, HP ku berdering. Ibuku menelpon, tentu harus aku angkat dulu.
“Waalaikumsalam, kamu lagi dimana nak? Kok agak ribut?” tanya ibu.
“Oh ini, lagi makan soto sama Leo bu, warungnya lagi rame, jadi agak ribut” ucapku.
“Ya sudah, nanti saja ibu ngomongnya. Nanti ibu telpon lagi ya” ucap ibu. Sepertinya ibu mau membicarakan hal yang sangat penting.
“Iya bu, nanti kalau sudah pulang biar Ranggi yang telpon ibu” ucapku lagi.
“Iya, kamu jangan pulang kemaleman ya, nggak bagus dilihat orang. Pergi sampai malam sama laki-laki, nanti ada yang salah paham” ucap ibu.
“Iya bu, assalamualaikum “ ucapku lansung menutup pembicaraan karena memang mulai berisik lagi.
Setelah menutup panggilan, aku kembali fokus kepada Leo. Aku ingin mendengar penjelasannya. Maksudnya apa tadi ngomong seperti itu. Selama ini kami tidak pernah membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan perasaan. Hanya sekali yang dulu itu.
Tapi yang aku lihat Leo malah diam. Aku kembali bertanya sekali lagi. “Leo, ih kamu kok malah diam? Maksud kamu tadi apa?”.
“Kayaknya aku suka kamu deh, bukan sebagai sahabat” ucapnya.
Aku terdiam.
Aku juga deg degan.
Ha?
Ini beneran?
Tapi aku jadi bingung.
Tiba-tiba aku kepikiran Bang Fathyr.
Aku tambah deg degan.
Jantungku mau copot ini.
Kenapa ya?
####
Ranggi : Author, aku deg degan banget ini .. kenapa ya?
Author : Meneketehe. Itu hatimu bukan hatiku.
Ranggi : Aku nggak tau siapa yang aku suka nih. Leo maupun Bang Fathyr sama-sama buat aku deg degan.
Author : Aku juga suka deg degan kalau di tatap taehyung.
Ranggi : Author, jangan becanda ih. Bantuin aku.
Author : Apanya yang mau dibantuin? Urusan hati urus sendiri.
Ranggi : Ih jahat.
Author : Eh kemaren ada pemuda yang datang kerumah kamu. Dia ngomong sama ibu.
Ranggi : Siapa?
Author : Nggak tau, aku tak liat wajahnya. Aku selidiki dulu sama ibu, entar aku kasih tau di next part.