Project For Love

Project For Love
Bagian 24 – Jadi, Masalah Yasha...



Sesuai janjinya, Yasha menjemputku sehabis magrib. Aku yang tidak perlu lama waktu untuk bersiap sudah standby di depan kosan saat dia tiba. Aku hanya mengenakan celana jeans dengan baju kaos ****** yang dilapisi dengan kemeja. Setelah aku menaiki motornya, kami lansung tancap gas untuk pergi makan. Malam ini kami makan ayam bakar taliwang yang di dekat taman kota.


Setelah memarkirkan motor Yasha, kami masuk ke tenda yang sudah hampir penuh oleh pengunjung. Seperti biasa kami memesan ayam bakarnya dua, satu porsi tempe mendoan, nasi tambah dua dan es teh dua. Setelah pesanan kami datang, kami makan dengan tenang.


Bibirku sejak tadi sudah gatal ingin bertanaya kepada Leo. Tapi karena kami masih di warung tenda, aku tidak jadi bertanya. Situasinya tidak kondusif untuk cerita. Bisa-bisa pembicaraan kami diketahui orang lain, meskipun aku belum tau hal apa yang akan diceritakan Yasha. Aku akan bertanya saat kami sudah duduk berdua saja di taman nanti.


Setelah makan kami segera beranjak dari warung karena banyaknya antrian yang ingin makan malam. Kasihan kan pada lapar, tapi musti antri dulu. Beruntung kami cepat sampai disini lansung dapat makan. Kalau terlambat sedikit saja, aku rasa perutku tidak akan tahan menunggu.


Kami berdua sedang menyeberang ke arah taman untuk duduk bersantai sambil cerita. Seperti biasa aku akan lansung mencari tempat duduk sedangkan Leo pergi membeli bakso bakar dan minuman yang akan kami santap saat bercerita. Ini bukan karena aku rakus, tapi memang kalau cerita tanpa ada makanan itu rasanya sedikit canggung dan terlalu serius.


Karena kami akan bercerita hal yang menurutku cukup privasi, aku memilih tempat duduk yang agak pojokan dan dibawah pohon rindang. Aku suka duduk di sini karena agak jauh dari tempat duduk lainnya dan dari tempat ini aku bisa melihat hampir semua pedagang. Jadi jika ingin sesuatu, aku tinggal tunjuk,entar Yasha yang jalan kesana untuk membelinya. Hahaha.


Yasha datang dengan membawa sebungkus bakso bakar dan sebotol minuman.


“Ngapain duduk disana sih? Mau ghibah sama kuntilanak penghuni itu pohon?” pertanyaan yang tak bermutu lansung ditanyakan Yasha padaku.


“Nggak lah, ghibah gimana? Orang jumpa aja belom pernah” jawabku.


“Emang kalau jumpa beneran mau ghibah ya? Mau ghibahin apa rencananya?”dia kembali bertanya.


“Amit-amit lah ngibah sama kunti. Udah ah nggak jelas banget pembahasan kita. Siniin baksonya” ucapku akhirnya. Karena ngeri juga kalau beneran ghibah. Orang lampu padam di kamar mandi aja aku udah kejer. Gimana mau jumpa dan ghibah beneran?


Yasha memberikan bakso tersebut padaku, dan tentu lansung aku makan.


Inilah saat yang tepat untuk ku bertanya kepadanya.


“Jadi kamu kemana aja? Kata Bagas sedang ada masalah, masalah apa sampai gak bisa angkat telpon aku?”


“Nin, nanya satu-satu” ucapnya padaku.


“Eh iya, jadi kamu kemana?” ulangku.


“Gak kemana-mana. Disini aja”.


Gak kemana-mana katanya? Kalau dia di sini aja kenapa tidak pernah ada kabarnya, dia seolah menghilang dalam beberapa waktu dan bahkan waktu itu aku sempat ke rumahnya, tapi tidak ada orang dirumahnya. Bahkan hampir aku samperin ke kantornya, tapi nggak jadi karena hari itu aku dilarikan pak Arel ke rumah makan.


“Sarah hamil” jawab Yasha.


What?


Sarah pacarnya?


HAMIL??


Aku serasa di sambar petir saat mendengar kata “hamil”. Apa ini tuhan, mengapa jadi seperti ini? Dia masih Yasha yang aku kenalkan? Sahabatku tidak seperti ini. Tidak mungkin Yasha menghamili anak orang. Tapi dia juga laki-laki sih, ada kemungkinan juga, pikirku kalut dan sudah mulai melantur kemana-mana.


Oke, aku harus meluruskan pikiran ku dulu sebelum berprasangka yang tidak-tidak pada sahabatku.


“Hamil anak siapa?” tanya ku. Tapi Yasha diam saja. "Dia hamil anak siapa? Anak kamu?" ulangku.


Yasha lansung menjawab “Enggaklah, gila kali aku hamilin anak orang. Aku masih waras. Aku nggak sampai sejauh itu juga. Aku masih ada tuhan, aku juga masih memikirkan masa depanku dan aku juga masih memikirkan orangtua ku, dan aku masih memikirkan kamu".


Aku salfok sebenarnya dengan kata-kata “Aku nggak sampai sejauh itu juga”. Dan aku oleh ke kata-kata nya yang mengatakan "aku masih memikirkan kamu", maksudnya apa?? Pikiranku mulai kemana-mana.


Jadi aku luruskan lagi pikiranku dan mencoba menelaah satu persatu. Nggak sampai sejauh itu artinya gaya pacaran ada mengarah kesana, tapi nggak sampai gitu? Artinya dia pernah *****-***** anak orang?


Hadeuh, pikiranku tidak bisa diluruskan lagi. Aku akan meminta penjelasan tentang kata-kata yang tadi diucapkannya. Sekarang ada hal yang lebih mengganjal dipikiranku.


“Jadi dia kenapa bisa hamil? Terus apa hubungan kehamilannya dengan kamu? Kalau kamu bilang itu bukan anak kamu, jadi anak siapa?” tanyaku lansung.


Yasha mulqi menceritakan masalah yang dialaminya kemaren kepadaku. Jadi…….


###


Reader : “Jadi gimana thor?”


Author : “Sabar dong cintoo, author letak di next part ya, cus lanjut baca”.