
Ini hari Sabtu, dan hari ini adalah hari liburku. Aku pulang ke rumah ibu ku sekalian menjenguknya. Aku tidak mau menjadi anak durhaka yang tidak peduli dengan orang tuanya. Aku sedang bermalas-malasan di kasurku. Aku sejak sholat subuh hingga sekarang pukul Sembilan pagi hanya berbaring sambil nonton drakor.
Aku tau pekerjaan seperti ini salah, anak yang baik itu sejak subuh sudah masak di dapur atau mencuci pakaian dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Dulu saat aku sekolah ibuku akan marah besar jika aku hanya berbaring sambil nonton saja, tapi setelah aku bekerja dan membiayai kebutuhan ibuku, dia tidak pernah marah jika aku hanya rebahan seharian.
Bukan berarti ibu ku mata duitan ya, dia membiarkan aku rebahan-rebahan sambil nonton itu ada alasannya sendiri, katanya kita juga harus membarikan tubuh kita itu istirahat dan aku tentu setuju. Pekerjaan rumah yang bisa aku kerjakan tetap akan aku kerjakan, tapi nanti setelah mengantar ibuku ke pasar untuk belanja harian.
****
Saat ini aku sedang di pasar dengan ibu untuk membeli bahan makanan kebutuhan sehari-hari. Hanya saja para pedagang langganan ibu ku ini cukup bisa membuat kesal. Setiap ganti tempat pertanyaannya sama. “Anaknya yang kerta di kota itu ya?” “Enak ya anak sudah besar, kerja dikota, pasti gajinya banyak ya?” “Eh kapan nikah? Nanti jadi perawan tua lo”.
Pertanyaan nikah ini lah yang membuatku sedikit jengkel. Bagaimana tidak, beli ayam ditanyai itu, pergi beli cabe itu lagi, beli ikan teri juga. Kan capek kuping dengarnya. Kenapa harus itu sih pertanyaannya? Terkadang aku malah ingin membalas “Bisa nggak buk, kalau nanya kapan nikah itu sediain juga calonnya, penghulunya, salonnya, serta tendanya”. Kalau udah lengkap kayak gitu kan aku mudah jawabnya, tiga hari lagi atau besok pagi. Lah ini nanya doang.
Nikah itu modalnya banyak kali. Nggak cuma calonnya aja yang musti di cari. Tapi masih banyak lagi. Ada calon nggak ada duit untuk salon, tenda, prasmanan untuk tamu kan susah. Bahkan nikah di kantor KUA aja kita butuh modal. Jadi stop deh nanya kapan nikah. Entar kalau udah waktu yang tepat dan jodoh yang tepat juga pasti nikah.
Tapi masalahnya, ibu ku sepertinya juga bosan mendengar pertanyaan para pedagang itu hingga sampai di rumah dia malah bertanya kepadaku, “Kamu sama Irfan gimana? Sudah ada kemajuan apa?”
“Bang Irfan? Nggak ada apa-apa bu. Kita juga nggak saling komunikasi” jawabku sekenanya.
“Tapi kemaren kata kakakmu dia anaknya baik, ramah juga” ucap ibu lagi.
“Kalau nggak cocok mau gimana lagi bu, gak mungkin di paksa kan?” jawabku pada ibu.
“Kamunya yang mungkin terlalu cuek sama dia, kamu pernah nggak coba ngechat dia duluan?” tanya ibu lagi padaku.
Aku menjawab dengan sedikit kesal “Lah aku memang orangnya kayak gini bu, mau di apain lagi. Kalau dia memang mau ya pasti akan terima aku apa adanya. Aku chat duluan memang nggak ada, nggak tau mau chat apaan”.
Lah, kenapa jadi aku yang salah ya? Orang dianya juga nggak pernah nanya-nanya sama aku. Kita setelah jumpa hari itu, cuma beberapa kali chat, dan nggak ngobrol apa-apa. Dia nya juga keliatan nggak niat. Kenapa sekarang seolah aku yang sombong sih?”
Aku menjelaskan kepada ibu dengan penuh kesabaran, “Bu, dianya juga kayaknya nggak mau lanjut kok, orang dia nggak pernah nanyain aku itu lagi ngapain hobinya apa, dia itu dulu cuma nanya kalau misalkan aku nikah, mau tidak berhenti kerja, ya aku jawab nggak mau”.
Ibu ku ber “oh “ sambil mengangguk dan berkata, “Ya udah deh kalau kamunya juga memang nggak suka, ibu juga nggak mau maksa. Tapi kalau gini terus kamu kapan dong nikahnya?”
“Kita serahkan saja pada yang maha kuasa bu” ucapku sok dramatis dengan menengadahkan kedua tangan ke atas seperti saat berdo’a.
“Ih nggak bisa lansung gitu dong, kitanya juga harus usaha” ucap ibu padaku sedikit kesal. Tapi melihat ku cengengesan saja, ibu tak jadi marah, dia malah bertanya, “Oh iya, si Leo gimana ? sehat? Sudah lama dia tidak datang untuk mampir”.
“Sehat kok bu, dia juga banyak urusannya bu jadi belum sempat mampir” jawabku.
“Atau kamu sama Leo aja gimana? Kan dia juga baik, kita udah kenal lama. Setau ibu dia juga sudah tidak ada hubungan sama perempuan yang tukang fitnah itu” kata ibu padaku, entah dari mana ide itu muncul di kepala ibu ku.
“Lah ibu tau kasusnya?” aku bertanya karena setau aku masalah ini hanya diketahui oleh keluarga Leo dan keluarganya Sarah. Ini termasuk aib, jadi semua pihak berusaha menutupi. Tapi ini emak gue tau dari mana?
“Tau lah, kan mamanya yang cerita waktu kita ada arisan. Mamanya juga lagi nyari jodoh buat dia. Kamu mau? Kalau mau ibu telpon ntar mamanya, pasti lansung oke” jawab Ibu santai, tapi membuat ku panic.
“Ih ibu apaan sih, kok sama Leo sih? Dia itu sahabat aku bu” jawabku pada ibu.
“Apa susahnya sih Nggi tinggal ubah status aja. Kita sudah tau dia dan keluarganya, jadi nggak perlu proses lama. Tinggal netapkan tanggal aja” ucap ibu lagi.
Ini emak mulai ngadi-ngadi deh. Udah mau netapkan tanggal aja. Belum tentu juga keluarga Leo mau. Kalaupun keluarganya mau, Leo nya juga belum tentu. Lagian aku kan masih ada Bang Fathyr. Aku dari awal kan sudah menetapkan kalau Leo itu masuk dalam urutan terakhir di daftar calon suami ku.