Project For Love

Project For Love
Bagian 20 – Makan Siang dengannya



Nindi POV


“Hem, tidak perlu. Kamu cukup menemani saya makan sekarang”ucap pak Arel padaku.


“Ha? Gimana pak?”


Aku bingung dengan bapak satu ini, tadi dia seperti menyalahkan ku karena tidak menyediakan makan siang untuknya. Tapi itu memang bukan urusanku, kalau mau makan aturannya meeting jangan di kantor, tapi di Café biar keren.


Aku sebagai karyawan yang tidak ingin memperburuk nama perusahaan di hadapannya, akhirnya mengikutinya untuk pergi makan siang. Kebetulan juga ini merupakan jam istirahat. Awalnya aku pikir ia akan membawa ku ke café atau restoran yang terkenal. Tapi ternyata…


“Kamu tidak masalahkan kalau kita makan di rumah makan padang?” tanya pak Arel padaku.


“Tidak masalah pak, saya ngikut bapak saja” jawabku.


“Kamu kalau di luar kantor, bisa tidak jangan memanggil saya bapak? Aku belum setua itu”protes pak Arel padaku.


Pertanyaannya seperti yang sering-sering aku dengar di drama dan FTV Indonesia deh. Aku kan jadi merasa seperti sang bintang utama yang di sukai oleh atasannya.


“Aku tidak tau mau memanggil apa selain Bapak. Masa aku panggil Abang seperti yang lain, kan kita baru kenal pak dan belum tentu juga bapak lebih tua dari saya. Dan Bapak itu kan client perusahaan kami. Jadi memang sudah seharusnya saya memanggil Bapak” jawabku sebaik mungkin.


“Kamu boleh panggil saya Abang, karena sudah pasti aku yang lebih tua” ucapnya kemudian.


“Wahh jangan deh pak, gak enak hati saya” balasku.


“Susah ya ngomong sama kamu” ucapnya lagi. Sepertinya dia mulai marah lagi padaku.


“Yah begitulah pak” jawabku sekenanya. Aku tidak tau kenapa aku setidak sopan ini. Padahal aku ingin menjadikannya target dalam proyekku.


Setelah itu dia tidak bersuara lagi. Kami sampai di rumah makan sepuluh menit kemudian. Ini rumah makan yang sama dengan tempat aku dan Yasha makan waktu itu. Aku jadi kepikiran Yasha, dimana anak itu sekarang?


Nanti aku akan menghubunginya, karena sejak terakhir kali kami pergi nonton, dia tidak ada kabarnya sama sekali. Aku jadi kepikiran juga.


Kami masuk ke rumah makan dan duduk di lesehan yang letaknya ada di pojokan ruangan. Sedangkan sang supir malah mencari tempat duduknya sendiri. Jadi begitu rupanya jika orang kaya pergi dengan supir. Supirnya makan secara terpisah, apa salahnya kan kalau bergabung saja. Kita masih sama-sama manusia.


Setelah semua makanan tersaji, aku belum berani untuk mengambil makanan sebelum pak Arel mengambil makanannya. Aku segan juga makan dengan orang yang baru sekali ku jumpai. Dan karena dia masih muda dan tampan, aku juga harus menjaga image ku agar tidak tambah buruk lagi di hadapannya.


Ia mempersilahkan aku untuk makan. Aku mengambil makanan ala kadarnya saja. Atau sebanyak wanita normal makanlah. Aku mana berani di depan orang lain untuk makan lauk sekali tiga. Nanti dia malah ilfeel. Aku juga makan dengan sedikit lebih anggun dari biasanya. Cari muka ini ceritanya. Tapi dia tiba-tiba bersuara dan membuatku tersedak.


“O iya, kepala kamu yang terbentur tadi tidak apa apa?” tanya Pak Arel padaku.


Segera kuminum air putih yang ada di depan ku dan menjawabnya.


“Gak pa pa pak, Cuma sedikit benjol” jawabku dengan sedikit malu.


“Sakit tidak?” tanya pak Arel lagi.


“Tak seberapa pak, lebih parah malunya. Bapak jangan bahas itu boleh? Saya sumpah malu banget” jawabku sambil menunduk.


“Tapi lucu. Saya belum pernah melihat orang seperti kamu, hahaha” kata pak Arel yang membuatku berdo'a semoga dia keselek.


“Saya memang spesies yang langka pak” jawabku dengan nada datar.


Dia hanya tertawa mendengar jawaban ku. Aku perhatikan wajahnya saat tertawa terlihat jauh lebih tampan dan mempesona. Saat tertawa begini, ia terlihat sepuluh dua belas lah dengan Park Hyun Sik. Naik satu tinggal dari penilaian awal ku.


Aku jadi suka banget melihat muka nya, sekarang ini aku berfikir mungkinkah orang seperti dia bisa menyukai orang seperti aku? Aku tidak ingin di jodohkan dengan adik dari teman kakak ku itu.


Meskipun sampai saat ini aku belum pernah berjumpa ataupun berkomunikasi dengannya, tapi perasaanku mengatakan aku tidak akan cocok dengan nya. Kalian tau kan feeling wanita itu sangat kuat. Jadi feelingku mengatakan aku harus mendekati Pak Arel saja daripada di jodohkan dengan orang tak dikenal.


Pak Arel lebih jelas tampan dan kaya nya. Hahaha


###


Huuu si Nindi mau nya.


Liat yang cakepan dikit, udah ngayal aja.


Nindi : Biarin dong. Ngapain kamu yang sewot?


Author : Aku do’ain si Fathyr udah punya tunangan.


Nindi : Elah thor, baru juga tunangan. Ntar nikahnya akan aku usahain sama aku.


Author : Wah ada bibit-bibit pelak*r nih


Nindi : Apaaaa?


#author kabur