Project For Love

Project For Love
Bagian 43 – Keluh Kesah



Hai cintoooo,


Sebelum dilanjutkan ceritanya, author mau minta maaf nih sama reader tercintah. Mohon maaf sekali karena sudah beberapa hari ini tidak up. Author sedang di dera pekerjaan yang tiada habisnya dan tiada yang membantunya. #sedikit curhat.


So, kedepannya author akan berusaha semampunya untuk tidak membuat para reader menunggu lama. Sekali lagi mon maaf yeee…


Nah, sekarang kita lanjut, bagaimana perkembangan kisah Rangginang ubi dan kawan-kawannya..


Selamat membaca.


***


Author POV


Lain dengan Ranggi yang sedang asyik mengendarai jet ski dengan Fathyr, Leo malah sedang menyendiri. Setelah dia memacu jet ski dengan kecepatan tinggi, dia pergi mengarah ke tempat yang cukup jauh. Ditengah lautan dia menghentikan jet ski nya dan berdiam diri sambil memandang ke lautan lepas.


(Mudah-mudahan saja dia tidak lupa arah untuk kembali ke tepian pantai. Kalau hilang di lautan kan berabe juga).


Cukup lama ia termenung, sepertinya ada yang sedang mengusik hatinya. Tapi belum dapat dipastikan apa yang sedang di rasakannya saat ini. Ia menghela nafas sejenak kemudian kembali memacu jet ski ke arah tepian pantai. Syukurlah dia tidak buta arah, sehingga selamat kembali tanpa menimbulkan tragedy.


Sesampainya ditepian ia melihat Ranggi juga sedang menepi dengan Fathyr. Ranggi terlihat tersenyum bahagia. Kemudian Ranggi dan Fathyr bergabung ke kelompok lain. Ia ingin mencoba permainan lain dengan cara memaksa Bang Andi, Bang Arya dan Kak Anisa untuk bergabung dengan mereka.


Entah bagaimana caranya mereka yang sudah bermain itu, dapat kembali bermain tanpa membayar. Sedankan Leo tidak terlihat ingin mencoba bermain lagi. Ia hanya duduk di atas pohon yang ada dipinggiran pantai sambil memainkan ponselnya.


Hari pun beranjak sore. Semua rombongan di persilahkan kembali ke Vila masing-masing untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk acara malam.


Ranggi yang sedang berbaring dengan malas setelah melaksanakan sholat magrib mendapatkan panggilan dari Leo. Ia segera menjawab panggilan itu.


“Hellowww, cepat banget nelpon aku? Udah rindu ya?” jawabnya sambil bercanda.


“Iya, aku lagi rinduuuu, rindu serindu rindunyaaa aaaaa” balas Leo dengan menyanyikan bait salah satu lagu dangdut yang terkenal pada masanya.


“Elah, nyanyi pula dia. Kenapa? Udah boleh makan ke cafeteria?” tanya Ranggi yang memang tidak pernah bisa lepas dari yang namanya makanan.


“Pikiran bisa nggak sih jangan makan dulu isinya? Heran deh” ucap Leo.


“Ya udah jagi kenapa nelpon?” tanya Ranggi.


“Lah, emang kenyang nanti itu kalau nggak makan nasi? Lagian kamu kok lebih tau acaranya dari aku ya?” herang Ranggi. Ini acara kantor mereka, bagaimana bisa Leo lebih tau segalanya.


“Entar juga ada menu yang sesuai untuk makan malam kok, kamu tenang aja. Tadi Bang Arya yang ngasih tau ke aku” jawab Leo.


Ranggi hanya ber “oh” di dalam kamar dan segera beranjak untuk keluar. Ia memang sudah lapar. Tidak heran dia Ranggi sang wanita rakus. Ia keluar tanpa memperhatikan penampilannya sedikitpun. Ia memakai sandal capal dan lansung menemui Leo di depan vilanya.


Leo sudah biasa melihat penampilan Ranggi yang apa adanya hanya menyuruh Ranggi merapikan ikatan rambutnya. Karena bagaimanapun di acara ini ada banyak orang, setidaknya dia terlihat lebih rapi. Kemudian Leo juga menyuruh Ranggi untuk mengambil sweater karena makin malam, dipinggir pantai akan semakin dingin.


Ranggi menurut saja dan kembali masuk untuk mengambil sweaternya. Kemudian mereka berdua berjalan ke arah kerumunan yang sedang menyiapkan aneka bahan makanan.


Mereka semua kembali mengambil undian untuk pembagian tugas, seperti siapa saja yang bertanggung memanggang, menyiapkan bumbu, menghidangkan makanan, dan menyiapkan tikar untuk dijadikan alas mereka duduk.


Dan tidak lupa mereka menyiapkan perlengkapan yang akan digunakan saat acara hiburan seperti sound system dan perangkat lainnya.


Satu jam berlalu mereka masih asik memakan aneka hidangan yang ada sambil berbincang-bincang dan bersenda gurau. Tim yang kebagian tugas untuk menyiapkan acara hiburang sedang menstel sound systemnya.


Dengan latar belakang spanduk acara, mereka membuat panggung kecil kecilan yang dihiasi lampu-lampu kecil yang berwarna warni. Mereka juga sudah menyiapkan gitar, stand micropon, serta keyboard yang akan digunakan untuk mengiringi mereka bernyanyi.


Semua peralatan itu mereka pinjam dari pihak vila, termasuk lampu-lampu dan kain yang mereka gunakan untuk dekorasi panggung itu. Untuk acara mereka malam ini, panggung itu terlihat cukup bagus, terutama jika di foto. Terlihat estetik.


Yang bertugas memandu acara mereka malam ini adalah duo gesrek tim perencaan yaitu Bang Andi dan Bang Agus. Mereka sudah terkenal humble dan mudah berbaur dengan orang lain.


Mereka memulai acara dengan kegiatan yang cukup format yaitu kata sambutan dari direktur dan motivasi untuk bekerja lebih rajin dan giat ke depannya. Kemudian acara dilanjutkan dengan acara keluh kesah.


Acara keluh kesah ini, setiap karyawan menuliskan keluh kesahnya dikantor selama ini baik itu kepada atasan maupun kepada rekan serperjuangan. Dan nanti akan dibacakan di depan umum tanpa menuliskan nama aslinya. Cukup dengan menulis nama samara. Dalam acara ini pihak keluarga karyawan dan Fathyr hanya bisa mengamati saja.


Semua karyawan sudah mengumpulkan kertas keluh kesahnya didalam sebuah kotak. Sekarang Bang Andi dan Bang Agus sedang mengaduk kertas keluh kesah tersebut dan memilih kertas yang pertama.


“Keluh kesah yang pertama, ditulis oleh karyawan dengan nama samaran Lisa Blackpink” ucap Bang Andi sambil geleng-geleng kepala. Bagaimana ada yang dengan pedenya menulis namanya sebagai artis yang sangat terkenal seantero dunia ini.


###


Siapakah lisa blackpink? Apakah keluh kesahnya?


Cus lanjut di next part ya…