Project For Love

Project For Love
Bagian 21 – Bad Feel and...



Sudah benerapa hari ini aku mencoba menghubungi Yasha, tapi masih tidak ada kabar darinya. Aku chat nggak di baca, aku telpon nggak diangkat. Apa dia sedang sekarat sendirian di rumahnya? Tidak mungkin. Diakan di sini tidak tinggal dengan Bagas adeknya. Sedangkan keluarganya tinggal di Kota Bator sama dengan orang tua ku.


Aku sudah berencana menghubungi Bagas untuk menanyakan bagaimana kabar abangnya. Tapi tiba-tiba ibu ku menelpon.


“Iya bu, Assalamualaikum” ucapku lansung saat mengangkat panggilan.


“Waalaikumsalam nak. Kamu bisa pulang sore nanti? Kakakmu katanya ada perlu”. ucap ibuku lansung tanpa basa basi.


Kakak ada perlu? Tumben. Biasanya dia juga jarang menghubungiku. Atau jangan-jangan perihal adek temannya itu? Hadeuhh aku malas. Tapi ini ibu yang minta.


“Harus hari ini ya bu?” tanyaku memastikan.


“Kamu tidak bisa ya? Sedang banyak kerjaan?” tanya ibu.


“Nggak banyak kok bu, yaudah nanti sore Nindi pulang deh”, ucapku akhirnya.


“Baiklah, hati-hati di jalan ya nak” pesan ibu kepadaku.


" Iya bu”.


Sepertinya proses pencarian Yasha terpaksa aku undur dulu. Aku harus siap-siap untuk pulang kampung.


Kalian jangan salah paham ya dengan kampung di sini. Kampong yang aku maksud itu hanya berjarah enam puluh lima kilo meter kata google.


Artinya aku bisa sampai di rumah dalam waktu kurang lebih satu jam lima belas menit.


Aku sampai di rumah sekitar pukul lima sore. Dan kakak ku sudah menunggu ku ternyata. Ia berkata bahwa nanti malam dia akan membawaku untuk bertemu dengan temannya itu. Eh bukan hanya temannya, tapi juga adik temannya yang ternyata bernama Adnan. Tedengar seperti Adonan ditelingaku.


Sudah ku duga, mereka menyuruhku pulang untuk berkenalan dengan si Adnan Adnan itu. Dengan dalih mana tau jodoh. Karena jodoh juga harus di cari, nggak bisa nunggu aja. Mereka belum tau aja, aku juga sedang mencari sendiri. Target pertamaku sudah jelas Pak Arel ganteng.


Malam hari setelah sholat isya, kakak ku mengajak untuk pergi ke salah satu tempat makan yang jaraknya sekitar sepuluh menit dari rumah. Ternyata orang yang akan kami temui belum datang. Kami menunggu cukup lama, hampir setengah jam barulah mereka datang. Dari awal saja sudah tidak lancar bukan?


Mereka mengatakan maaf terlambat karena ada keperluan mendadak. Aku hanya mengangguk saja. Mood ku sudah buruk sejak kesan pertama. Awalnya aku cukup penasaran bagaimana orangnya, tapi setelah bosan menunggu tadi, aku udah gak mood lagi.


Selama pertemuan itu, aku hanya banyak diam. Malah yang banyak berbicara kakak ku dan temannya. Sedangkan aku dan si Adonan ini hanya berbicara seadanya dan jika di tanya saja. Dari sini aku tau bahwa dia juga sepertinya tidak begitu tertarik dengan pertemuan ini. Zaman sekarang untuk apa ikut perjodohan jadul seperti ini.


Dua kakak yang sibuk dengan urusan orang ini pun malah menyuruhku dan Adnan berbicara berdua untuk saling mengenal. Sedangkan mereka malah pulang duluan. Kurang ajar banget nggak sih gitu. Jadi aku hanya dengan terpaksa iya iyain aja.


Aku dan Adnan akhirnya tak pergi kemanapun. Malas banget. Kami hanya duduk ditempat itu sambil berbicara ala kadarnya seperti nanya tahun lahir, kerja dimana, lulusan mana, saudara ada berapa, dan hal-hal remeh lainnya. Tapi kemudian Irfan bertanya sesuatu yang cukup serius.


Adnan bertanya padaku, “Nindi, aku mau dengar pendapat kamu nih”.


Waduh, pendapat apa ini, “Iya, apa?”


“Kalau misalkan kamu nih, nikah nantinya sama aku atau siapapun gitu, kalau di suruh berhenti bekerja dan jadi ibu rumah tangga saja, mau nggak?” tanya Adnan padaku.


Maksudnya apa ya nanya ginian? Dia mau melanjutkan perkenalan ini? Perasaan dari tadi dia kayaknya juga nggak tertarik gitu. Lagian ini dia nanya apaan coba, buat mikir banget. Aku paling malas sebenarnya kalau di kasih pilihan kayak gini. Serba salah tau kalau mau jawab.