
Rangkaian bunga lily dalam sebuah vas tampak begitu sangat indah terpajang di atas meja. Beberapa ornamen menghiasi dinding di setiap ruangan itu. Cahaya mentari perlahan-lahan mulai masuk dari selah-selah jendela kaca. Terasa begitu hangat pagi itu.
Jam dinding di ruang itu telah menunjukan pukul 07:15 pagi, namun tampak ruang kelas itu masih sepi. Hanya ada 2 murid di dalamnya.
Minato dan Mizuki baru saja datang.
Mizuki langsung menuju tempat duduk miliknya dan meletakan tasnya di sana. Dia lalu datang menghampiri Minato yang sedang berdiri di dekat jendela. Sepertinya Minato sedang memperhatikan sesuatu.
"Apa yang kau lihat..?" Seru Mizuki sambil menepuk bahu Minato.
Mizuki mendekati jendela kaca sambil melihat ke arah luar jendela.
Tampak Yuika yang sedang berjalan menuju pintu masuk gerbang sekolah.
"Apa kau menyukai gadis itu..?" Tanya Mizuki kepada Minato.
"Dia gadis yang cantik bukan..!" Ucap Mizuki lagi.
"Ku dengar katanya ada seorang siswa kelas 11 yang mengidolakan gadis itu, kau akan bersaing dengannya. Seru Mizuki sambil tersenyum menggoda Minato.
Minato hanya terdiam dan terus saja memperhatikan Yuika.
Beberapa menit kemudian. Suasana di kelas itu telah menjadi sangat ramai, para siswa dan siswi satu persatu mulai memasuki ruang kelas.
Yuika, Miki dan Hana juga telah berada di dalam ruang kelas. Mereka tampak sedang membicarakan film yang mereka nonton semalam.
"Apa kalian bersenang senang semalam..?" Ucap Hana dengan raut wajah yang agak cemberut.
"Hmm, kami sangat menikmati filmnya. Apa kau tahu, pangeran hantunya juga sangat tampan..! Andai saja akulah putri yang menjadi pasangan pangeran itu, pasti aku sangat bahagia..!" Seru Hana sambil berangan-angan.
Yuika tersenyum melihat kelakuan Miki sahabatnya itu.
Sementara Hana tampak bersedih karena tidak bisa ikut bersenang-senang di malam itu.
"Kau jangan beredih Hana, kita pasti akan menontonya lagi nanti." Yuika mencoba mengibur Hana sahabatnya itu.
Rupanya diam-diam Minato memperhatikan Yuika yang sedang tersenyum dari kursi tempat duduknya berada.
Minato tampaknya sangat menyukai gadis berambut panjang itu.
Mata pelajaran di jam pertama telah usai.
Sambil menunggu guru yang akan mengajar di jam berikutnya. Hana mencoba menunjukan bakat bermain biolanya di depan kelas sambil di saksikan kedua sahabatnya serta seluruh murid di sana.
Minato dan Mizuki juga tampak menikmati permainan biola Hana.
Tepuk tangan dan sorakan kagum dari para siswa terdengar saat Hana mengakhiri permain masiknya. Hana terlihat sangat senang karena semua siswa di ruang itu menyukai permainan biolanya.
Pak guru yang mengajar mata pelajaran di jam kedua masuk ke dalam ruangan sambil ikut bertepuk tangan. Rupanya pak guru juga sempat mendengarkan permainan musik biola dari Hana.
Hana merasa malu sembari berlari menuju bangku tempat duduk miliknya. Semua murid pun kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
Saat pulang sekolah. Seperti biasa di pintu gerbang sekolah, Miki, Hana dan Yuika berpisah.
Yuika berjalan menuju stasiun Kereta. Dia berjalan pelan sambil memperhatikan sekelilingnya. Dia juga tampak beberapa kali menengok kebelakang.
"Apa mungkin dia tidak pulang menggunakan Kereta hari ini..?" Dalam hati Yuika berkata.
Yuika telah berada di stasiun menunggu Kereta Api, ketika kereta itu tiba ia segera naik dan duduk disebelah seorang kakek tua yang hampir seluruh rambutnya telah menjadi putih.
kakek tua itu melepas kaca mata yang di pakainya sembil bersandar.
Sementara itu Yuika sedari tadi hanya memperhatikan pintu masuk kereta api, dia tampak sedang menunggu kedatangan Minato.
Namun sepertinya Minato tak kunjung datang hingga Kereta Api itu pun berjalan meninggalkan stasiun.
Ia duduk di sana sambil menghelah nafas dan sesekali memperhatikan kakek tua di sebelahnya itu.
Kereta Api melaju dengan cepat, membawa seluruh penumpang menuju stasiun selanjutnya.
Saat kereta telah berhenti. Dia pun keluar dari kereta api begitu pula dengan kakek tua yang duduk di sebelahnya ikut keluar bersamanya.
Yuika berjalan menuju tempat tinggalnya. Sebelum pulang ke rumah, ia akan mampir sebentar di sebuah toko untuk membeli beberapa peralatan lukis, toko itu berada tidak jauh dari stasiun Kereta Api.
Setelah selesai berbelanja di toko, Yuika kembali berjalan pulang menuju rumahnya.
Namun di perjalanan ia melihat seorang kakek tua yang sepertinya sedang kebingungan mencari alamat rumah.
Yuika lalu datang menghampiri kakek tua itu, rupanya kakek tua itu adalah kakek yang duduk di sebelah Yuika saat di dalam Kereta Api.
"Kakek sedang mencari alamat rumah cucu kakek nak." Jawab kakek tua itu.
Rupanya mata kakek itu sedikit agk rabun. Dia tampak kesulitan berjalan. Kaca mata yang dia pakai sebelumnya tertinggal saat masih di dalam Kereta Api.
"Memangnya alamat rumah cucu kakek dimana..? Mungkin aku bisa membantu kakek mencarinya..!" Seru Yuika.
"Alamatnya ada di sini nak..!" Jawab kakek tua itu sambil memberikan sebuah kertas yang bertuliskan alamat rumah kepada Yuika.
Yuika pun lalu mengantarkan kakek tua itu menuju alamat yang dimaksud.
Mereka tiba di sebuah kompleks perumahan.
"Kek, apa kakek ingat yang mana rumah cucu kakek..? Ucap Yuika sambil memandangi begitu banyak rumah di kompleks itu.
"Tidak nak, kakek belum perna ke sini sebelumnya. Ini pertama kalinya kakek datang menemui cucu kakek." Ucap kakek tua itu.
"Oh begitu ya kek..!" Sahut Yuika sambil kembali membuka kertas alamat yang di pegangnya.
"Rumah nomor 3 E." Yuika membaca sebuah tulisan yang terterah di kertas itu.
"Syukurlah... Di kertas ini tertulis nomor rumah cucu kakek, jadi kita bisa mencarinya sekarang." Ucap Yuika bersemangat.
Setelah berjalan menyusuri beberapa gang, tibalah mereka di depan pagar sebuah rumah berwarna coklat yang bertuliskan House Number 3 E.
"Kita telah sampai kek." Yuika berdiri di depan pagar rumah sambil menggandeng tangan kakek tua itu.
Tampak kakek tua itu merasa kelehan karena telah berjalan cukup jauh.
Lalu Yuika segera memencet bel rumah itu sambil mengucapkan salam.
Tak lama setelah itu, seseorang keluar dari dalam rumah dan membukakan pintu pagar, tampak Minato berdiri di sana. Ternyata pemilik rumah itu adalah keluarga Minato.
Minato heran melihat kakeknya yang datang keruma bersama Yuika.
Ibu Minato pun segera keluar dari rumah dan langsung menemui ayahnya itu.
"Ayah, mengapa ayah tak memberi tahu kami bahwa ayah akan datang kemari !!" Ibu Minato yang terlihat sangat cemas sambil menggandeng tangan ayahnya dan merangkulnya membawa masuk ke dalam rumah.
Ibu Minato juga mempersilahkan Yuika masuk ke dalam rumah mereka.
"Kami sungguh sangat berterima kasih kau sudah mau mengantar kakek Minato kemari." Ucap ibu Minato kepada Yuika.
"Iya... Sama-sama bi. Aku sangat senang bisa menolong kakek Minato." Ucap Yuika.
"Beristirahatlah sebentar di rumah kami, kamu tampak lelah." Seru Minato yang baru saja keluar dari ruang dapur sambil membawa segelas air dan memberikanya kepada Yiuka.
"Apakah kalian saling mengenal." Tanya ibu Minato yang tampak heran melihat anaknya Minato cukup akrab dengan gadis itu.
"Ya ibu, dia adalah Yuika teman sekelasku." Ucap Minato.
"Wah... Kebetulan sekali."
Ibu Minato tampak tersenyum senang mengetahui bahwa anaknya Minato cepat menjadi akrab dengan teman sekelasnya itu.
Yuika juga tampak membalas senyuman ibu Minato.
Setelah menghabiskan segelas air yang di buat oleh Minato, dia pun lalu berpamitan pulang ke rumah
"Maafkan kami, kakek Minato tidak dapat bertemu langsung dan mengucapkan terima kasih kepadamu. Ia sangat lelah dia sedang beristirahat di kamar, tapi jika kau ada waktu luang mampirlah lagi kemari, kakek Minato pasti sangat senang bisa melihat mu lagi." Ucap ibu Minato.
Yuika lalu menganggukan kepalanya sambil berpamitan.
Minato mengantar Yuika sampai ke depan pagar rumah mereka.
"Trimakasih" Ucap Minato kepada Yuika.
"iya..." Jawab Yuika sambil menundukan kepalanya.
Lalu Yuika berlalu pergi meninggalkan kediaman keluarga Minato.
"sampai bertemu di sekolah besok..!" Teriak Minato sambil melambaikan tangannya.
Rupanya Minato masih berdiri di pintu pagar rumah memperhatikan kepergian Yuika.
Yuika pun menoleh ke arah Minato sembari ikut melambaikan tangannya.