Please Stay With Me

Please Stay With Me
Mencari Jejak Tuan Takeda (Bertemu Tuan Hanohara)



Pagi yang indah di Karuizawa, pepohonan yang tumbuh rindangn nan rapi di pekarangan resor, taman-taman bunga menghiasi pekarangan itu, sungguh indah pemandangan. Udara masih sangat terasa dingin dan sejuk.


Di dinding ruang teras yang berwarna coklat terang terpajang lukisan-lukisan yang sangat cantik membuat suasana di ruangan itu menjadi semakin harmonis.


Pagi itu terlihat pak Inuiki sedang sibuk berbicara menggunakan telpon genggamnya dengan seseorang.


Garis lengkung yang terukir di bibirnya menandakan pria lajang itu sedang tersenyum bahagia. Sepertinya pak Inuiki sedang berbicara dengan seorang wanita idamannya yakni nona Karin.


Tak terasa sudah 5 hari Pak Inuiki dan semua anak-anak didiknya berada di Karuizawa, menghabiskan musim panas mereka dengan berlibur di sana.


Sementara itu di dalam kamar, Miki, Yuika dan juga Hana tampak sedang bersantai ria sambil memakan cemilan wafer coklat yang mereka beli saat berkunjung di pasar malam Karuizawa.


"Malam ini ayo kite pergi ke pasar malam lagi." Ucap Miki.


"Apakah pak Inuiki akan mengizinkan kita lagi..!" Seru Yuika.


"Dia pasti akan memperbolehkan kita, kita semua ke sini kan untuk berlibur..! Jadi, aku rasa jika hanya tinggal di penginapan, ya... mending kita tidak usah liburan, to sama saja kita berada di rumah." Ujar Miki sambil di bibirnya dipenuhi dengan lumuran coklat.


"Tapi bagaimana jika pak Inuiki tidak mengizinkan kita..?" Tanya Hana.


"Dia akan mengizinkan kita, aku jamin itu." Sahut Miki.


"Aku ingin sekali lagi menaiki wahana komedi putar itu, rasanya sangat seru..! Seru Miki kembali.


"Ya, seru sih..! Tapi aku merasa sedikit mual." Sahut Hana.


"Bagaimana jika kita mencoba masuk ke wahana rumah hantu..? Ayo apa kalian berdua berani..?" Tanya Miki.


"Tidak, aku tak berani." Jawab Yuika.


"Dasar kau ini penakut." Ucap Miki.


"Apa kamu berani..? Tanya Miki sambil melirik ke arah Hana.


"Apa kamu pikir aku ini seorang yang penakut..?" Sahut Hana.


"Ya mungkin saja kan..!" Seru Miki sambil sedikit tersenyum.


"Baiklah..! Aku setuju, malam ini jika pak Inuiki memperbolehkan kita pergi, maka aku akan ikut denganmu masuk ke dalam wahana rumah hantu." Ucap Hana yang sedikit merasa kesal karena Miki meremehkannya.


"Ok kita sepakat."Sahut Miki.


Sementara itu Yuika hanya bisa menyimak perbincangan antara kedua sahabatnya itu, dia yang sedikit penakut tidak berani ikut masuk ke dalam wahana rumah hantu.


Beberapa saat kemudian handphone milik Yuika berbunyi, rupanya ada sebuah panggilan masuk dari ayahnya.


"Hallo..! Ucap Yuika.


"Hallo kak..! Ini aku Fuji, bagaimana kabar kakak, aku sangat merindukan kak Yuika..!" Seru Fuji.


"Kakak juga rindu sama Fuji, dimana ayah..?" Tanya Yuika.


"Ayah sedang di kamarnya. Aku sengaja menggunakan handphone ayah untuk menelepon kak Yuika, aku sangat merindukan kakak..!" Seru Fuji.


"Aku sedang berada di teras bersama Ketty. Kak Yuika..! Kapan kakak pulang..? Aku sangat merindukan kak Yuika, rumah rasanya sangat sepi tanpa kakak." Ucap Fuji kembali.


"Ya, kakak akan segera kembali. Apakah kamu menjaga Ketty dengan baik." Tanya Yuika.


"Ya kak, Ketty aku jaga dengan baik, kak Yuika tak usah cemas." Jawab Fuji.


"Saat kak Yuika pulang nanti, jangan lupa membawakan oleh-oleh buat Fuji ya..!" Ucap Fuji.


"Iya, kakak tidak akan lupa itu." Sahut Yuika.


"Kamu jangan nakal dan jangan merepotkan ayah, mengerti..!" Seru Yuika.


"Siap kak." Sahut Fuji.


"Baiklah kakak akan telpon kamu lagi nanti, bilang pada ayah Yuika baik-baik saja di sini." Ucap Yuika.


"Baiklah kak, sampai jumpa." Ucap Fuji.


Kemudian Yuika mematikan panggilannya dan pergi menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.


Saat sebelum tiba di dapur tiba-tiba saja handphone miliknya kembali berdering.


"Hallo kak, selamat pagi..! Ya bagaimana..? Benarkah..? Ya aku akan mengecek alamatnya nanti. Terima kasih banyak kak. Baiklah, selamat siang." Terdengar Yuika sedang berbicara dengan nona Karin di dalam telpon.


Yuika merasa senang karena telah mendapat informasi mengenai siapa penjual lukisan-lukisan milik ayahnya itu.


Nona Karin talah mengirimkan alamatnya kepada Yuika dan sore ini Yuika akan pergi mencari alamat tersebut dengan bantuan nona Karin.


Pukul 03:40 menjelang sore, Yuika yang telah bersiap-siap pergi menemui pak Inuiki, untuk meminta izin pergi bersama nona Karin ke tempat alamat orang yang telah membeli lukisan-lukisan milik ayahnya.


Setelah mendapatkan izin dari pak Inuiki,


Yuika kemudian pergi menemui nona Karin, mereka telah berjanji untuk bertemu di sebuah mall dekat resor.


Sesampainya di mall Yuika kembali menghubungi nona Karin dan mengatakan bahwa dia telah berada di mall dekat resor.


Beberapa menit menunggu, akhirnya nona Karin pun datang.


"Selamat sore..! Maaf aku datang sedikit terlambat." Sapa nona Karin kepada Yuika.


"Ya, itu tidak masalah, aku sangat berterima kasih, kakak telah mau meluangkan waktu hari ini untuk menemaniku." Ucap Yuika sambil tersenyum.


Lalu mereka berdua segera pergi menuju alamat yang menjadi tujuan mereka.


Wajima adalah tempat yang akan mereka datangi. Butuh sekitar 30 menit untuk tiba di sana dan perlu menggunakan bus sebagai alat transportasi untuk pergi ke sana.


Setelah melewati 30 menit di perjalanan, mereka akhirnya tiba di lokasi tempat tujuan mereka. Nona Karin yang memang berasal dari Karuizawa dengan sangat mudah menemukan kediaman rumah pak Hanohara. Kali ini Yuika akan mendatangi rumah kediaman keluarga besar Hanohara.


Tuan Hanohara adalah seorang kolektor yang telah membeli lukisan dari tuan Takeda yang telah menipu ayahnya.


Yuika sangat bersemangat dan ingin segera berjumpa dengan tuan Hanohara.


"Baiklah, kita telah tiba di kediamannya." Ucap nona Karin ketika telah sampai di depan pintu gerbang sebuah rumah yang cukup megah.


"Rumahnya sangat besar ya..!" Ucap Yuika yang kagum melihat rumah mega dengan bentuk arsitektur bangunan yang sungguh menawan.


Lalu Yuika menekan tombol bell yang terletak pada tembok pagar rumah megah itu.


Tak selang beberapa menit menunggu, kemudian seseorang keluar dari pintu rumah dan membuka pagar rumah itu.


"Selamat siang..!" Ucap Yuika dan juga nona Karin.


"Ya, selamat siang..! Apa ada yang bisa saya bantu..?" Tanya seorang anak laki-laki yang masih sangat mudah, yang usianya hampir sama seperti Yuika.


"Apakah benar ini rumah tuan Hanohara..?" Tanya Yuika.


"Ya benar, ada apa kelian berdua mencari ayah saya...?" Tanya anak laki-laki itu.


Ternyata anak itu adalah anak dari tuan Hanohara.


"Apakah beliau ada di rumah, bisakah kami bertemu dengannya..?" Ucap nona Karin sambil tersenyum.


"Ya, tunggu sebentar." Anak lelaki itu kembali masuk ke dalam rumah, selang beberapa menit dia kemudian kembali lagi dan mempersilahkan Yuika serta nona Karin untuk masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah tuan Hanohara sungguh sangat mengagumkan, banyak koleksi-koleksi unik dan menarik di pajang di ruang tamu, seperti patung, lukisan, lampu hias dan masih banyak lagi koleksi-koleksi barang di sana.


Sambil menunggu tuan Hanohara, Yuika yang sangat mencintai seni begitu menikmati koleksi-koleksi benda antik dan terlihat sangat elegan terpajang rapi di ruangan itu.


"Selamat sore..!" Sapa tuan Hanohara kepada Yuika dan juga nona Karin.


"Selamat sore..! Jawab Yuika dan juga nona Karin kompak.


"Kalian berdua dari mana..? Apa ada yang bisa saya bantu..?" Tanya tuan Hanohara.


"Kami berdua dari Karuizawa, dan tujuan kami kemari ingin menanyakan sesuatu hal kepada anda." Ucap Yuika.


"Ya, katakan apa itu..?" Sahut tuan Hanohara.


"Apakah anda masih ingat dengan lukisan yang anda jual kepada pemilik resor wisata terkenal yang ada di Karuizawa..?" Tanya Yiuka sambil memperlihatkan foto gambar lukisan yang ada di handphone androidnya.


"Ya, aku rasa aku masih mengingatnya." Ucap tuan Hanohara.


"Itu adalah lukisan yang aku dapat dari tuan Takeda." Ucap tuan Hanohara kembali.


Yuika yang mendengar nama tuan Takeda disebutkan, merasa sangat senang karena sedikit lagi, dia akan mendapatkan informasi tentang tuan Takeda dan akan segera mengabari ayahnya tentang keberadaan tuan Takeda, yang selama ini telah di cari-cari oleh ayahnya.