
Langit tempak sedikit mendung, udara mulai terasa dingin, kota Otaru yang indah kini tertutupi kabut yang semakin lama semakin tebal. Tanggal 5 Desember awal musim dingin baru saja dimulai.
Saat di pagi hari pukul 07:20, terlihat Yuika yang memakai seragam sekolah dengan berlapiskan jaket tebal dan sarung tangan sedang berjalan menuju stasiun Kereta Api, gadis itu baru saja akan berangkat ke sekolah dengan menaiki Kereta Api seperti biasanya.
Udara di pagi itu terasa begitu dingin menusuk.
Sesampainya di stasiun Yuika bertemu dengan Minato yang juga akan berangkat ke sekolah di pagi itu. Minato duduk di kursi ruang tunggu stasiun Kereta sambil melipat kedua tangannya ke bagian dadanya. Dia juga mengenakan jaket yang tebal, pria itu tampak menahan rasa dingin yang berserang di tubuhnya.
Yuika tersenyum sambil berjalan menghampiri Minato lalu duduk di sebelahnya.
"Hey, kamu disini..!" Seru Minato menyapa Yuika sambil bibirnya sedikit bergetar.
"Cuaca pagi ini sangat dingin." Ucapnya lagi.
"Hmm..." Sahut Yuika singkat.
Angin bertiup sepoi-sepoi, beberapa helai rambut pajang Yuika berayun dengan lembut, Minato yang duduk di sisinya dapat mencium wangi harum dari rambut gadis itu.
"Sepertinya hari ini Kereta akan datang terlambat." Ucap Minato.
"Benarkah." jawab Yuika.
"Mereka memberitahu kepadaku, mungkin kereta akan datang terlambat, sekitar 10 sampai 20 menit lagi." Ucap Minato.
Karena kondisi cuaca yang tertutup kabut tebal, maka kedatangan Kereta Api akan sedikit terambat.
"Aku membawakan sesuatu untukmu. Tunggu sebentar..!" Ucap Minato sambil membuka tasnya dan mengambil sesuatu di dalamnya.
"Ini ambilah, kamu menyukai cerita romansa bukan..?" Ucap Minato kembali sambil memberikan sebuah buku novel romansa kepada Yuika.
Yuika lalu mengambil novel itu dari tangan Minato. Dia dapat merasakan dingin pada telapak tangan Minato saat dia menyentuh tangannya.
Gadis itu lalu memperhatikan judul cover pada novel itu.
"Please Stay With Me." Ucap Yuika.
"Ya, Itu adalah novel berjendre romansa, kamu pasti akan menyukainya.
"Terima kasih..! Ucap Yuika sambil tersenyum.
Sambil menunggu kedatangan Kereta Api, Yuika menghilangkan rasa jenuh dengan membaca beberapa bab dari novel itu.
Sementara itu Minato hanya memperhatikan area sekitar stasiun sambil sesekali memandangi wajah Yuika, dia sangat menyukai gadis itu sehingga dia merasa sangat bahagia bila terus berada di dekat Yuika.
"Apa kamu menyukai ceritanya..?" Tanya Minato.
"Hmm... Ya..!" Yuika terus membaca novelnya.
"Yuika..!" Panggil Minato kepada Yuika.
"Ya, ada apa...?"
"Sebenarnya, selama ini aku ingin mengatakan sesuatu hal kepadamu." Ucap Minato sambil menatap wajah Yuika.
"Sesuatu apa..?" Yuika menghentikan bacaanya.
"Sebenarnya selama ini aku suka..." Belum sempat Minato meneruskan ucapannya, tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya datang dan duduk di sebelahnya.
Sehingga membuat pria itu tidak melanjutkan parkataanya.
Dalam hati Minato merasa sangat kesal karena untuk yang kesekian kalinya dia harus mengurungkan niatnya, mengungkapkan isi hatinya kepada Yuika.
"Kamu ingin mengatakan apa..? Suka..? Apa maksudmu..?" Tanya Yuika dengan raut wajah bingung.
"Itu... Maksudku... Tidak, bukan apa-apa, sudahlah lupakan saja." Minato tampak sedikit kesal, dia kesal kepada dirinya sendiri yang tidak bisa meneruskan ungkapan isi hatinya yang dia pendam selama ini kepada Yuika gadis yang di cintainya itu.
Setelah beberapa waktu menunggu di stasiun, akhirnya Kereta Api pun tiba. Minato dan juga Yuika masuk ke dalam Kereta dan duduk bersama.
Di dalam Kereta Api, Minato terus saja memperhatikan Yuika yang duduk di sisinya.
"Apa aku boleh memegang tanganmu..?" Ucap Minato.
"Ha..! Apa..?" Yuika melirik ke arah Minato dengan perasaan kaget bercampur rasa malu.
Gadis itu lalu menyembunyikan kedua tangannya di balik tas yang ada di pangkuannya.
"Mengapa..? Apa aku salah meminta kepadamu..?" Minato tersenyum sambil sedikit tertawa melihat tingka polos Yuika.
"Ayolah..! Tanganku rasanya hampir membeku. Berikan tanganmu kepadaku, biarkan aku menggengam tanganmu sebentar saja, sampai tanganku menjadi hangat kembali." Pinta Minato sambil mengulurkan tangannya berharap Yuika mau memegang tangannya.
Namun sepertinya Yuika hanya terdiam dan tidak menuruti permintaan Minato. Gadis itu terus menyembunyikan kedua tangannya.
"Baiklah jika kamu tidak mau." Ucap Minato sambil menarik tanganya kembali.
Di sepanjang perjalanan, di dalam Kereta api terlihat Minato terus saja meniup sambil menggosok-gosokan kedua telapak tangannya karena menahan rasa dingin.
"Berikan tanganmu..!" Pinta Yuika tiba-tiba.
Yuika merasa tidak tega melihat Minato yang terus menahan rasa dingin.
Dia menarik tangan Minato dan memberikan sarung tangan miliknya untuk di pakai Minato.
"Tidak masalah, pakailah sebelum tanganmu membeku." Canda Yuika sambil tersenyum manis kepada Minato.
Jantung Minato tampak berdetak cepat saat melihat senyuman manis Yuika. Saat sedang tersenyum ada sebuah lesung pipit terbentuk di sebelah pipi kanan gadis itu. Minato sangat terpesona melihat kecantikan alami yang tuhan berikan kepada Yuika.
"Biar ku bantu memasangkannya." Yuika menarik tangan Minato dan memasangkan sarung tangan miliknya pada kedua tangan Minato.
"Bagaimana sekarang, apa sudah terasa hangat." Ucapnya lagi.
"Ya, terima kasih..! Kamu gadis yang cantik dan baik hati." Minato semakin mengagumi Yuika.
Pria itu semakin jatuh hati kepada kebaikan hati Yuika.
Rasanya dia ingin sekali mengungkapkan perasaannya kepada Yuika, namun dia harus mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.
Beberapa menit telah berlalu, Kereta Api membawa kedua remaja itu ke tempat tujuan mereka.
Yuika dan Minato tampak keluar dari Kereta Api dan berjalan beriringan menuju SMA 1 Otaru.
Saat di depan gerbang sekolah, Minato melepas sarung tangan dan memberikannya kembali kepada Yuika.
"Ini, Aku rasa kedua tanganku sudah menjadi hangat, Terima kasih sudah meminjamkannya untukku." Minato memberikan sarung tangan milik Yuika kembali.
Kedua remaja itu berjalan mendekati pintu gerbang sekolah, namun tampaknya mereka telah sangat telat datang ke sekolah. Pintu gerbang SMA 1 Otaru kini telah kembali di tutup.
Kedua remaja itu berdiri di depan pintu gerbang begitu lama, berharap pak satpam yang menjaga pintu gerbang sekolah mau membukakan pintu untuk mereka berdua.
Tampak Minato berkali- kali mencoba memohon kepada pak satpam agar mau membukakan pintu gerbang, namun sayangnya pak satpam tidak mendengarkan pinta Minato, bahkan pak satpam menyuruh mereka berdua untuk kembali saja ke rumah.
Sementara itu di luar cuaca cukup dingin sehingga mereka berdua mau tidak mau harus segera pergi meninggalkan pintu gerbang sekolah menuju tempat yang lebih hangat.
"Sungguh hari yang sangat sial." Minato berjalan sambil menendang batu kecil yang ada di jalan.
" Ha ha..." Dia tiba-tiba saja tertawa kecil.
"Kita akan kemana sekarang..?" Tanya Yuika kepada Minato.
"Aku juga tak tahu kita akan kemana, yang pasti kita tidak bisa kembali ke sekolah." Jawab Minato.
Mereka terus saja berjalan tanpa tahu harus kemana.
"Apa sebaiknya kita kembali ke rumah saja..?" Ucap Yuika yang menghentikan langkanya sambil memandang ke arah Minato.
"Kereta Api masih belum tiba, butuh 3 jam sampai Kereta Api datang, jika kita pulang sekarang..! Apa kamu mau menunggu berjam-jam di stasiun Kereta..?" Minato kembali bertanya kepada Yuika.
Yuika lalu menghela nafas dalam-dalam, memikirkan apa yang harus di lakukan.
"Ikutlah bersamaku, aku akan membawamu ke suatu tempat yang pasti akan kamu sukai." Ucap Minato sambil kembali berjalan.
"Tapi kita akan kemana..?" Tanya Yuika.
"Ikutlah saja, aku tak akan mungkin menculikmu." Canda Minato.
Kedua remaja itu lalu berjalan, menyusuri kota Otaru.
Udara yang dingin membuat tubuh Minato sedikit bergetar.
"Minato..! Bisakah kita berhenti sebentar..!" Seru Yuika.
"Ada apa..?" Tanya Minato.
"Ak aku... Aku merasa ingin pipis..!" Ucap Yuika terbarta-bata menahan rasa malu.
"Baiklah, tunggu sebentar di sekitar sini kalau tak salah ada sebuah toko pakaian. Kau bisa penumpang di sana." Minato berjalan mengajak Yuika ke sebuah toko pakaian.
Yuika lalu segera masuk ke dalam toko, sementara itu Minato berdiri sambil menunggu di depan pintu toko.
Setelah beberapa menit Yuika kini telah kembali dan keluar dari toko pakaian sambil membawa bungkusan kecil.
"Ini untukmu." Ucap Yuika sambil memberikan bungkusan itu kepada Minato.
"Ini apa..?" Minato membuka bungkusan dan mendapati sepasang sarung tangan berwarna hitam.
"Ini untukku..? Kamu sebaiknya tak usah repot-repot. kamu sangat perhatian kepadaku." Ucap Minato.
Minato lalu memakai sarung tangan yang baru saja di berikan oleh Yuika.
"Ah... Rasanya sangat nyaman. Terima Kasih." Ucapnya lagi sambil tersenyum.
Kedua remaja itu lalu melanjutkan perjalanan mereka, hingga tibalah mereka di sebuah pantai yang sangat indah.
Terlihat ada beberapa orang yang juga berada di pantai itu, menikmati indahnya lautan di pesisir pantai.
Pasir putih bersih dan air laut yang tenang menambah keindahan pantai itu.
"Wah...indahnya..!" Yuika berlari di tengah-tengah pasir pantai.
Dia berlari dan berputar-putar seperti anak kecil yang sedang menari.
Dari kejauhan Minato tersenyum memperhatikan tingkah lucu Yuika.