
Di dalam ruang kamar, Yuika sedang memberi makan pada kedua ikan mas miliknya.
Saat ini cuaca di kota Otaru mencapai 34°C, hingga terasa sangat panas.
Saat sedang asyik memperhatikan ikan hias, tiba-tiba terdengar bunyi handphone berdering.
"Hallo, selamat siang..!" Ucap Yuika.
"Ya selamat siang..! Yuika kamu dimana..?" Tanya Minato.
"Aku sedang berada di rumah, ada apa..?" Seru Yuika.
"Oh, begitu ya..! Kakek ingin bertemu denganmu, aku pikir kamu masih di Karuizawa." Jawab Minato.
Rupanya Minato yang masih berada di Karuizawa, mengirah bahwa Yuika masih berada di penginapan Karuizawa.
"Kapan kamu kembali..?" Tanya Minato lagi.
"Sekitar 3 hari yang lalu." Jawab Yuika.
"Oh begitu ya..! Baiklah, sampai nanti." Ucap Minato.
"Ya, sampai nanti..! Sampaikan salamku untuk kakek." Yuika lalu menutup telponnya.
Pukul 01:15 siang, cuaca menjadi semakin terasa panas, di dalam kamar Yuika duduk sambil menghidupkan kipas angin untuk menyejukan ruang kamarnya yang terasa panas.
Karena perekonomian kelurga Yoshimura yang masih belum baik, rumah Yoshimura hanya terdapat satu AC pendingin ruangan yang berada di dalam kamar tuan Yoshimura.
Walau dengan bantuan kipas angin di dalam kamar, tatap saja Yuika masih merasa gerah.
Gadis itu pun lalu beranjak dari tempat duduknya hendak pergi ke kamar Fuji adiknya.
"Fuji..!" Teriak Yuika yang mengetuk pintu kamar Fuji sambil memanggil-manggil nama adiknya.
"Fuji, apa kamu di dalam..?" Ucap Yuika sambil membuka pintu kamar adiknya.
Rupanya pintu kamar Fuji tidak terkunci dan Yuika tidak mendapati adiknya berada di dalam sana.
"Kemana anak itu..?" Serunya.
Yuika lalu turun ke lantai bawah, dia hendak mengambil minuman dingin di dapur. Tak sengaja di sana dia berjumpa dengan Fuji yang sedang menempelkan tubuhnya di pintu kulkas.
"Apa yang kamu lakukan..?" Ucap Yuika heran melihat tingka aneh adiknya itu.
"Cuaca hari ini sangat panas kak, aku sedang mencoba mendinginkan tubuhku." Ujar Fuji.
"Kalau kamu merasa kepanasan, mengapa tidak pergi ke kamar ayah saja..? Di sana kamu bisa merasa sejuk, tanpa harus masuk ke dalam kulkas seperti ini" Ucap Yuika sambil memperhatikan adiknya.
"Apa kakak tidak tahu, kamar ayah kan terkunci..! Ayah sedang pergi keluar." Sahut Fuji.
"Ayah pergi..! Ayah pergi kemana..? Mengapa tidak memberitahu kepadaku..?" Ucap Yuika.
"Tadi ayah mengetuk kamar kak Yuika, dan mengatakan dia akan pergi, tapi sepertinya kakak sedang berada di toilet sehingga kakak tidak mendengarnya." Jawab Fuji.
"Benarkah..?" Sahut Yuika.
"Minggirlah, kakak ingin mengambil minuman dingin." Ucap Yuika lagi.
"Tidak, biar aku yang mengambilkannya." sahut Fuji.
Gadis kecil itu pun mengambil sebotol air dingin dan memberikannya kepada Yuika.
"Terima kasih..!" Ucap Yuika.
"Hmm... Sebelum pergi, tadi ayah berpesan agar kakak membersihkan gambar lukisan yang ada di ruang tamu. Kata ayah itu sudah penuh dengan debu." Ucap Fuji.
"Iya, kakak akan membersikannya nanti." Jawab Yuika sambil menuang air dingin dari dalam botol ke sebuah gelas kaca.
"Apa kamu mau juga..?" Tanya Yuika sambil menyodorkan minuman dingin kepada Fuji.
"Tidak, tidak perlu. Tadi aku sudah meminumnya." Jawab Fuji.
"Kak..! Ayo kita beli ice cream, aku sangat ingin makan es krim." Ucap Fuji.
"Tidak." Jawab Yuika singkat.
"Ayo kak, ku mohon..!" Seru Fuji sambil merengek.
"Lihatlah di luar sana sangat panas, bagaimana kita akan membelinya..!" Seru Yuika.
"Kan ada payung, kita bisa memakai payung ini." Ucap Fuji sambil mengambil payung yang terletak di belakang lemari piring.
"Ayo kak, kita ke toko ice cream." Fuji mengajak Yuika sambil menarik tangan kakaknya itu.
"Baiklah tunggu sebentar, kakak ingin mengganti pakaian dulu." Ucap Yuika sambil pergi menuju ke kamarnya.
Yuika yang tak tahan bila terkena sengatan mentari, memakai pakaian serba panjang yang menutupi seluruh tubuhnya. Gadis itu mengenakan celana panjang dan jaket kulit tebal.
"Benarkah..! Baiklah tidak masalah, ayo kita pergi." Ucap Yuika.
Yuika tidak memperdulikan penampilannya
Sebelum pergi keluar rumah dia tidak lupa mengunci pintu rumah agar aman dari pencuri.
Kedua kakak beradik itu lalu berjalan menuju toko yang menjual ice cream yang berada tak jauh dari rumahnya.
"Hey... Kalian mau kemana..?" Teriak nona Naomi yang kebetulan sedang berada di teras rumahnya.
Dia melihat Fuji dan Yuika
berjalan dari arah sebrang jalan.
"Kami ingin ke toko ice cream..!" Sahut Fuji sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
Kedua kakak beradik itu kini telah berada di dalam toko ice cream.
"Kamu ingin yang rasa apa..?" Tanya Yuika.
"Aku ingin yang rasa vanilla kak." Jawab Fuji sambil menunjuk cup ice cream dengan ukuran besar.
"Jangan yang itu, kakak tidak membawa uang yang cukup, cari yang lain saja." Ucap Yuika.
"Bagaimana kalau yang ini..!" Ucap Yuika kembali sambil menunjuk ice cream yang berukuran sedang.
"Ya, terserah kakak saja, asalkan itu rasa vanilla." Sahut Fuji.
Yuika lalu mengambil 2 buah cup ice cream dengan ukuran sedang dan menuju ke kasir untuk membayarnya.
Mentari bersinar begitu panasnya, mereka berdua lalu berjalan kembali pulang ke rumah.
Saat tiba di depan rumah, Yuika kaget melihat pintu rumah yang telah terbuka.
Gadis itu buru-buru masuk ke dalam rumah dan memeriksa setiap ruangan.
Tiba-tiba saja dari arah belakang Yuika,
"Door..." Seseorang menepuk bahu Yuika dan mengejutkannya.
"Astaga ayah... Ayah telah kembali..!" Seru Yuika dengan sedikit bergetar. Jantungnya terasa hampir berhenti berdetak karena merasa terkejut.
"Ayah memanggil-manggil kalian berdua tapi tidak ada jawaban. Ayah sudah menunggu lama di depan pintu teras, bahkan ayah juga menghubungi handphonemu tapi tak ada balasan.
"Oh itu, handphone Yuika aku letakan di dalam kamar dan lupa membawanya." Sahut Yuika.
"Memangnya kalian berdua dari mana..? Tanya tuan Yoshimura.
"Kami dari toko ice cream dekat rumah, Fuji meminta kepadaku untuk membelikannya ice cream." Jawab Yuika.
"Ayah, ayah sudah pulang..!" Seru Fuji sambil berlari masuk ke dalam rumah dan memeluk ayahnya.
"Ayah kami membeli ice cream, apa ayah juga mau..?" Ucapnya lagi.
"Iya sayang, ayah juga mau." Sahut tuan Yoshimura.
"Baiklah, ayah ayo makan bersama." Ajak Fuji kepada ayahnya.
Fuji menarik ayahnya menuju dapur untuk mengambil sendok dan makan ice cream berdua dengannya. Sementara itu Yuika segera masuk ke dalam kamarnya, dia ingin memakan ice cream di dalam kamar sambil memperhatikan ikan mas miliknya.
Pukul 08:15 malam, setelah selesai makan malam dan membereskan semua piring-piring kotor. Yuika lalu pergi menemui ayahnya yang sedang berada di teras rumah bersama dengan Fuji yang sedang bermain dengan Ketty.
"Ayah, apa ayah mau aku buatkan secangkir teh..?" Tanya Yuika.
"Tidak sayang, ayah sedang tidak ingin minum teh. Kemarilah duduk di samping ayah." Ajak tuan Yoshimura kepada putrinya.
"Hari ini, ayah mendapatkan telpon dari tuan Hanohara, dan ayah telah berjumpa dengannya siang tadi." Ucap tuan Yoshimura.
"Jadi bagaimana..? Apa ayah sudah mendapatkan informasi tentang tuan Takeda..?" Tanya Yuika dengan raut wajah yang serius.
"Iya sayang, tuan Hanohara sudah memberi tahu keberadaan tuan Takeda kepada ayah, dan aku juga sudah berjumpa dengannya siang tadi, tapi..."
"Tapi apa ayah..?" Tanya Yuika penasaran.
"Bagaimana pun juga tuan Takeda adalah sahabat ayah, ayah akan merasa sangat bersalah jika harus memasukannya ke dalam penjara. Tuan Takeda memiliki istri dan 3 orang anak yang harus di nafkahinya, jika ayah mengadilinya dan memasukannya ke dalam penjara, maka bagaimana dengan nasib istri dan ketiga anaknya..?" Ucap tuan Yoshimura yang merasa bimbang.
"Tapi ayah, bukankah dia telah menipu ayah, dia telah melakukan kejahatan yang harus diadili, setidaknya tuan Takeda harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya." Ucap Yuika.
"Iya sayang, dia memang harus mendapatkan hukuman, tapi tidak dengan keluarganya yang tidak bersalah. Dan ayah telah memutuskan untuk tidak memenjarakannya. Ayah hanya akan meminta kembali semua apa yang telah di ambil dari ayah." Ucap tuan Yoshimura.
"Ayah..! Ayah sangat baik, bahkan saat seperti ini ayah masih memikirkan nasib orang lain, ayah memang ayah Yuika." Ucap Yuika yang tersenyum sambil memeluk erat ayahnya.
Malam semakin larut, keluarga kecil Yoshimura tampak telah masuk ke dalam kamar tidur masing-masing,
Walau dengan keadaan rumah yang sederhana tapi keluarga kecil itu tampak sungguh bersyukur dengan apa yang telah di miliki saat ini.