Please Stay With Me

Please Stay With Me
Minato yang Jatuh Cinta



Senja di kota Otaru, langit yang mulai menjadi gelap menandakan malam yang sebentar lagi akan segera tiba. Samar-samar sesosok bayangan tampak sedang berdiri di bawah lampu jalan yang mulai redup cahayanya.


Bayangan itu kemudian berlalu pergi memasuki gang-gang sempit di kota kecil itu dan lenyap entah kemana.


Tampak Minato baru saja tiba di rumah.


"Aku pulang..! "Minato melepas sepatu yang di kenakanya dan masuk ke dalam rumah.


"Bagaimana Minato..! Apa kamu sudah mengambil kiriman ayahmu..?" Ibu Minato berteriak dari dalam dapur.


"Ya ibu... Aku meletakanya di meja ya bu..!


Seru Minato sambil sedikit berteriak sembari berjalan masuk ke kamar tidurnya.


Rupanya ayah Minato yang sedang ke luar kota untuk mengahadiri sebuah pertemuan selama 4 hari baru saja mengirim beberapa barang untuk ibu Minato.


Minato merebahkan tubuhnya di atas sebuah ranjang miliknya.


Ia tampak menutup kedua matanya dan mulai menghayalkan sesuatu.


"Huuffff..." Minato menghela nafas sambil kembali membuka kedua matanya.


Ada garis membentuk lengkungan kecil terukir di kedua ujung bibirnya. Rupanya anak laki-laki itu sedang tersenyum, wajahnya yang tampan mulai tampak memerah.


Lalu dia mengambil sebuah bantal yang ada di dekatnya dan segera menutupi seluruh bagian wajahnya dengan bantal.


Sementara itu di kediaman tuan Yoshimura. Yuika yang sedang berada di kamarnya tampak sedang sibuk melukis wajah seorang wanita.


Ya, itu adalah wajah dari nenek Minato. Yuika sengaja melukis wajah nenek Minato karena dia ingin membuat sebuah kejutan untuk diberikan kepada kakek Minato.


Malam itu Yuika akan menyelesaikan lukisannya.


Kembali kepada Minato. Minato yang beranjak dari kasur lalu pergi menuju jendela kamarnya dan duduk di sana sambil memandangi bulan dan bintang yang samar-samar tertutupi oleh awan.


Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Tampak sebuah permen karet berada di gengamannya.


Rupanya permen karet itu adalah pemberian Yuika sewaktu mereka berdua berada di dalam Kereta Api.


Minato duduk sambil berkhayal tentang Yuika, saat pertama kali mereka bertemu di depan pintu masuk Kereta Api.


"Dia gadis yang sangat baik..! Apa aku sungguh menyukai gadis itu..? Ucapnya dalam hati.


"Mungkinkah aku benar-benar sedang jatuh cinta..? Minato duduk sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya. Wajahnya kini tampak tak karuan.


"Minato..! Makan malam sudah siap, ayo makan..!" Ibu Minato berteriak memanggil putranya itu, membuat Minato kaget dan tersadar dari lamunanya.


"Iya bu... Aku akan segera datang..!


Dia segera berdiri dan menuju ruang makan.


Keesokan harinya di SMA 1 Otaru. Tampak satu persatu murid-murid memasuki ruang kelas.


Miki dan Hana berlari mengejar Yuika yang sedang memasuki pintu gerbang sekolah.


"Hey Yuika..!" Miki dan Hana menyapa Yuika sambil berlari menghampirinya.


"Tumben kamu datang lebih awal..? Ucap Miki yang heran melihat Yuika datang sangat pagi.


Yuika hanya tersenyum dan kemudian mereka berjalan menuju ruang kelas.


"Apa rencana kita hari ini..? Miki bertanya kepada kedua sahabatnya itu.


"Rencana..? Yuika tampak bingung.


"Ya, rencana kita..! Bukankah kita telah memenangkan pertandingan..! Jadi ayo kita pergi ke suatu tempat yang meyenangkan." ucap Miki bersemangat.


"Tapi bukankah pak Inuiki akan mengajak kita ke bukit saat liburan musim panas nanti..? Ucap Yuika.


"Itu terlalu lama Yuika..! Liburan musim panas masih beberapa bulan lagi, aku tak sabar menunggu..! Bagaimana kalau kita pergi minggu ini..? Miki bertanya kepada kedua sahabatnya itu.


"Tapi kemana kita akan pergi..?


"Kita akan pergi ke festival musik, aku dengar minggu depan di dekat pelabuhan sapporo akan digelar festival konser musik. Bagaimana apa kalian setuju..?"


"Waahhh... blBenarkah..? Aku sangat menyukai musik..! Seru Hana.


"Jadi ayo kita pergi bersama-sama..!" Ucap Miki menggebuh-gebuh.


"Hmm... Baiklah..!" Yuika menerima ajakan kedua sahabatnya itu.


Mereka bertiga lalu berjalan masuk ke dalam ruang kelas.


Di dalam ruangan tampak Minato yang sedang berdiri sambil bercakap-cakap bersama beberapa siswa di sana.


Tak selang beberapa detik Mizuki juga tampak baru saja datang dan ikut bergabung bersama Minato.


Saat di jam istirahat, Yuika, Miki dan juga Hana sedang berada di kantin sekolah, mereka sedang asyik membahas konser musik yang akan mereka datangi minggu depan.


"Konser musik kali ini akan sangat seru..! Kau tahu grub band-Maid dan Snow Man yang terkenal itu juga ikut mengisi konser kali ini." Ucap Miki menjelaskan.


"Wahhh... Itu akan sangat seru..! kali ini aku harus nonton, aku sangat mengagumi mereka semua..! Apalagi Snow, mereka semua tampan-tampan..!" seru Hana sambil memegang kedua pipinya.


"Baiklah dengarkan baik-baik 4 hari lagi aku yang akan memesan tiket konsernya, kali ini kau Hana tidak perlu mengeluarkan uang sepersen pun untuk tiket konser, aku dan Yuika yang akan membeli gratis untukmu. iya kan Yuika..?" Ucap Hana.


"Hmm... Ya itu benar..! Kami akan memberinya gratis untukmu." Kata Yuika.


"Sungguh..! Kalian berdua memang sahabat terbaikku." Hana begitu sangat senang karena kedua sahabatnya akan memberinya tiket secara cuma-cuma.


Beberapa saat kemudian, jam istirahat telah usai, ketiga sahabat itu kembali masuk ke kelas.


Pak Watanabe masuk ke kelas dan mengisi pelajaran di jam itu.


Yuika dan semua siswa tampak fokus mencerna pelajaran yang di berikan pak guru Watanabe.


Selang beberapa jam kemudian. Bel pulang pun berbunyi, semua siswa berhamburan keluar dari ruang kelas. Yuika, Miki dan Hana juga ikut keluar meninggalkan ruang kelas dan menuju pintu gerbang sekolah.


Mereka pun berpisah di sana.


Seperti biasa Yuika melanjutkan perjalanannya menuju stasiun Kereta Api. Dari arah belakang tampak Minato berlari mengejarnya.


"Kau berjalan sangat cepat, aku hampir tak bisa mengejarmu..!" Seru Minato dengan nafas yang tak beraturan.


"Aku harus menjemput Fuji di sekolah, nona Naomi hari ini tidak membuka toko bunganya, jadi aku harus menjemput Fuji lebih awal." Ucap Yuika.


"Begitu ya..! Bagaimana dengan lukisannya..?" Minato bertanya tentang lukisan neneknya yang di buat oleh Yuika.


"Oh itu... Aku hampir menyelesaikannya. Kurasa besok kita bisa memberikannya kepada kakek." Ucap Yuika.


"Benarkah..! Baguslah..! Kakek pasti akan sangat senang jika melihatnya." Balas Minato.


Yuika dan Minato terus berjalan menuju stasiun Kereta Api.


Saat tiba di stasiun rupanya Kereta api masih belum datang sehingga mereka berdua terpaksa menunggu di stasiun Kereta Api beberapa menit.


Mereka berdua tampak sedang duduk di ruang tunggu stasiun Kereta.


"Yuika..!" Minato manggil Yuika.


"Hmm, ada apa..?" Sahut Yuika.


"Sebenarnya aku......."


"......"


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu..!" Minato tampak gugup


"Sesuatu, apa itu..?" Yuika penasaran.


"Tapi jika aku mengatakannya, apa kau akan masih mau berteman denganku..?


maksudku, aku takut jika aku katakan maka kau nanti akan menghindar dariku..!" Ucap Minato sambil menatap wajah Yuika.


"Mengapa aku harus menghindarimu..? Aku tak mengerti apa yang kau maksudkan itu..!Sebenarnya apa yang ingin kau katakan..?"


Yuika merasa bingung.


"itu, sebenarnya........ Aku....... Aku............."


Belum sempat Minato menyatakan perasaannya kepada Yuika, tiba tiba saja Kereta Api datang, sehingga Minato tak bisa melanjutkan ucapannya karena terganggu kebisingan suara yang berasal dari kereta Api.


"Sial..!" Cetus Minato dalam hati.


Yuika tampak berdiri dan meninggalkan ruang tunggu stasiun menuju pintu Kereta Api.


"Ayo... Keretanya telah datang..!" Ucap Yuika sambil tangannya secara spontan menarik tangan Minato.


Mereka berdua segera memasuki Kereta Api, dan duduk bersebelahan.


Minato tampak memperhatikan tangan Yuika yang masih mengenggam erat tangannya.


"Eh... Maaf..! Maafkan aku, aku tak sengaja..!" Ucap Yuika sambil melepaskan genggaman tangannya dari Minato.


Ia tampak malu karena dengan tidak sadar telah memegang tangan Minato.


Minato hanya tersenyum melihat wajah Yuika yang menjadi kemerahan.


Ia tampaknya begitu sangat menikmati momen ketika Yuika menyentuhnya tadi.