Please Stay With Me

Please Stay With Me
Lukisan Milik Ayah Yuika yang Dulu Hilang



Foto keluarga kecil Yuika terpajang rapi di ruang tamu, pantulan kilauan cahaya dari bingkai kaca berwarna emas membuat silau tiap mata yang memandanginya.


Fuji tampak sedang berdiri sambil memandangi gambar dari bingkai foto itu, sepertinya anak berusia 10 tahun itu sedang merindukan Yuika, padahal baru dua hari kakaknya pergi berlibur ke Karuizawa.


Sementara itu tuan Yoshimura tengah menerima sebuah panggilan yang cukup penting dari kerabatnya.


"Ya, jangan cemas aku pasti akan mengantarnya tepat waktu. Ya, jika kamu mau sore ini akan langsung kuantarkan. Ya baiklah, terima kasih..!" Terdengar tuan Yoshimura berbicara melalui telpon genggamnya.


"Sayang..! Apa kamu ingin ikut bersama ayah..? Teriak tuan Yoshimura kepada Fuji yang masih asyik memandangi foto keluarga kecil mereka.


"Fuji sayang..! Ayah akan pergi ke rumah teman ayah..!" Teriak tuan Yoshimura sekali lagi.


Karena tidak mendapatkan jawaban dari putrinya, tuan Yoshimura lalu menghampiri Fuji di ruang tamu.


"Fuji..! Ayah akan pergi ke rumah teman, kamu ingin ikut atau ayah akan mengantarmu ke rumah nona Naomi..?" Tanya tuan Yoshimura.


"Fuji mau ikut bersama ayah saja." Sahut Fuji.


"Baiklah, sekarang pergilah bersin-siap 10 menit lagi kita pergi." Ucap tuan Yoshimura.


"Ok yah..!" Seru Fuji sambil melompat turun dari atas sofa dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


Tuan Yoshimura kemudian mulai mempacking 2 buah lukisan mengunakan gardus tebal.


10 menit kemudian Fuji telah kembali dengan tampilan yang sangat rapi.


"Ayah, aku sudah siap, ayo kita pergi sekarang..!" Ucap Fuji megajak ayahnya pergi sambil menggandeng tangannya.


Sementara itu di Karuizawa. Yuika tampak asyik menikmati pemandangan yang indah di sekitar resor tempat mereka menginap.


Ini adalah hari kedua Yuika dan teman-teman berada di Karuizawa. Sore nanti mereka semua akan pergi ke Museum Contemporary Art Karuizawa.


"Yuika..!" Teriak salah satu temannya yang bernama Misao, memanggil Yuika.


Misao adalah salah satu anggota dari tim volleyball SMA 1 Otaru.


"Ada apa..?" Tanya Yuika sambil menghampiri Misao.


"Lihat itu..!" Ucap Misao sambil menunjuk sebuah lukisan yang terpajang dinding gedung penginapan.


"Lukisannya sangat cantik bukan..!" Ucap Misao kembali.


"Ya, ini indah sekali..!" Sahut Yuika sambil datang mendekati lukisan itu dan melihat-lihat secara seksama.


"Aku seperti mengenal lukisan ini..? Seperti lukisan yang di buat ayah. Apa jangan-jangan ini memang lukisan ayah..!"Seru Yuika.


"Biasanya setiap lukisan pasti ada tercantum nama pelukisnya, coba kamu mencarinya." Ucap Misao.


"Ya kamu benar juga." Sahut Yuika sambil mencari-cari nama pelukis dari lukisan itu, tapi sayangnya Yuika tak menemukan nama atau pun kode yang biasanya di tulis oleh senimannya.


Tak kehabisan ide, Yuika lalu mengeluarkan handphone dari saku baju yang di kenakannya. Dia lalu mengambil foto dari lukisan itu dan mengirimkannya kepada ayahnya.


"Aku menemukan sebuah lukisan yang mirip seperti lukisan ayah di gedung penginapan. Apakah lukisan ini milik ayah..?" Yuika mengirim gambar itu sekaligus bersamaan dengan sebuah pesan untuk ayahnya.


Ayahnya yang sedang mengendarai sepeda motor tidak mengetahui pesan yang telah dikirimkan putrinya itu.


Sementara itu Yuika terus memandangi beberapa lukisan yang ada di gedung tempat mereka menginap. Yuika merasa curiga bahwa lukisan-lukisan itu adalah memang benar lukisan milik ayahnya yang telah di curi oleh tuan Takeda, sahabat yang telah menipu ayahnya.


Yuika lalu mengambil gambar dari semua lukisan-lukisan yang terpajang di dinding ruangan itu.


Gadis itu kembali mengirimi ayahnya pesan dan juga foto dari lukisan-lukisan itu, namun tuan Yoshimura yang sedang mengendarai sepeda motornya belum mengetahui pesan yang dikirimkan oleh Yuika kepadanya.


Lama menunggu balasan pesan dari ayahnya, akhirnya gadis itu pun menghubungi nomor ayahnya.


Suara-suara bising dari kendaraan yang ada di jalan raya membuat nada dering handphone tuan Yoshimura tak terdengar.


"Ada apa dengan ayah..? Apa ayah sedang sibuk..? Mengapa dia tidak menjawab telponku..?" Seru Yuika dalam hati.


Karena merasa penasaran Yuika lalu pergi menemui nona Karin yang kebetulan bekerja di resor itu.


"Maaf, apakah aku bisa berbicara denganmu..? Hanya sebentar saja, ada hal yang ingin aku tanyakan kepadamu..!" Ucap Yuika kepada nona Karin.


"Tentu saja, kamu boleh bertanya apa saja kepadaku." Sahut nona Karin sambil tersenyum kepada Yuika.


"Apakah kakak tahu tentang lukisan yang ada di sana itu..?" Tanya Yuika sambil menunjuk ke arah lukisan-lukisan yang terpajang di dinding.


"Maksudmu lukisan Ikan mas, bunga mawar dan lukisan seorang gadis kecil itu..?" Nona Karin kembali bertanya kepada Yuika.


"Ya, apa kakak tahu dari mana lukisan-lukisan itu didapatkan..?" Tanya Yuika dengan raut wajah penasaran.


"Setahu kakak lukisan-lukisan itu di dapatkan dari seorang kolektor." Ucap nona Karin.


"Apakah kakak tahu siapa nama kolektor itu..?" Tanya Yuika yang semakin penasaran.


"Dia berasal dari kota Tokyo, kakak lupa siapa namanya." Jawab nona Karin.


"Oh begitu ya..!" Ucap Yuika yang terlihat putus asa.


"Tapi jika kamu mau, kakak bisa menanyakan langsung kepada pemilik resor ini nanti." Ucap nona Karin.


"Memangnya ada apa dengan lukisan-lukisan itu, mengapa kamu begitu ingin tahu..?" Nona Karin kembali bertanya kepada Yuika.


"Ayahku adalah seorang pelukis dan kami dulu tinggal di kota Tokyo. Ayahku mengalami sebuah musibah, sahabatnya telah menipunya dan menjual galeri lukisan serta semua lukisan-lukisan karya ayahku dan kemudian dia melarikan diri entah kemana." Ucap Yuika menjelaskan.


"Oh jadi seperti itu..!" Ucap nona Karin.


"Jadi aku mohon jika Kakak telah mengetahui dari mana asal lukisan-lukisan itu di dapat, mohon kakak untuk segera memberitahu kepadaku." Ucap Yuika sambil menundukan tubuhnya memohon kepada nona Karin.


"Baiklah, kakak akan membantu mencari informasi tentang lukisan itu." Jawab nona Karin.


"Terima kasih..! Kalau begitu aku permisi pergi." Ucap Yuika sambil tersenyum dan kembali pergi menemui teman-teman satu timnya.


Sementara itu Fuji dan tuan Yoshimura yang baru saja kembali dari rumah rekan bisnisnya.


Ayah Yuika itu tampak baru membuka pesan dari Yuika.


Dia melihat foto-foto lukisan yang di kirimkan oleh putrinya dan memang benar itu adalah lukisan-lukisan miliknya dulu.


Tanpa membuang-buang waktu, tuan Yoshimura lalu menghubungi Yuika.


"Hallo..!" Ucap tuan Yoshimura.


"Iya ayah, apa ayah sudah melihat gambar lukisannya..?" Tanya Yuika.


"Ya sayang, itu adalah lukisan milik ayah. Jadi apakah tuan Takeda adalah pemilik resor tempat kalian menginap..?" Tanya tuan Yoshimura.


"Bukan ayah, pemilik resor ini bukan tuan Takeda, Yuika juga belum tahu apakah tuan Takedalah yang telah menjual lukisan milik ayah kepada pemilik resor atau bukan. Sekarang Yuika masih mencari-cari informasi." Ucap Yuika.


"Baiklah sayang, segera hubungi ayah jika kamu telah mendapatkan informasi tentang tuan Takeda." Ucap taun Yoshimura.


"Baiklah ayah, Yuika pasti akan berusaha mencaritahu tentang tuan Takeda dan segera memberikabar kepada ayah." Jawab Yuika.


"Terima kasih sayang, ayah tunggu kabar darimu." Ucap tuan Yoshimura.


"Kamu jaga diri baik-baik di situ, sampai nanti." Ucap tuan Yoshimura kembali.


"Baiklah yah..! Sampai nanti." Yuika lalu mengakhiri panggilan.