
Sebuah lukisan terpajang indah di dinding kamar tuan Yoshimura. Gambar yang penuh dengan makna tersirat dan terlihat begitu nyata. Di sudut ruang kamar, tampak tuan Yoshimura sedang asyik mengayun-ayunkan kuas di atas sebuah kanvas. Begitu banyak warna terlukis di sana.
"Ayah..!" Teriak Fuji memanggil ayahnya dari balik pintu depan rumah sambil membawa lembaran kertas nilai hasil ulangan dari sekolah.
Fuji dan Yuika kala itu baru saja pulang dari sekolah. Yuika yang belum dapat mengendarai sepeda terpaksa menjemput adiknya dengan menggunakan bus.
Tuan Yoshimura yang mendengar suara Fuji segera menghentikan aksinya dan pergi menemui anaknya.
"Ayah, coba lihat ini..!" Dengan penuh semangat Fuji memanggil ayahnya.
Dia berlari menghampiri ayahnya sambil menunjukan selembar kertas nilai hasil ulangannya.
Tuan Yoshimura tersenyum menyambut kedatangan kedua putrinya sambil memperhatikan nilai ulangan yang di peroleh Fuji.
"Wah kamu luar biasa sayang. Kamu sangat hebat..!" Ucap tuan Yoshimura yang tersenyum puas melihat nilai 100 hasil dari ulangan Fuji.
Ayah Yuika itu sangat merasa bangga karena Fuji anaknya berhasil memperoleh nilai tertinggi.
"Aku hebatkan yah..?" Ucap Fuji sambil memeluk ayahnya.
Sementara itu Yuika yang kakinya masih belum pulih sepenuhnya, berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan kaki yang sedikit tampak pincang.
"Hati-hati nak..!" Teriak tuan Yoshimura.
"Biar ku bantu kak." Ucap Fuji sembari datang menghampiri Yuika dan meggandeng tangan kakaknya itu naik ke lantai dua menuju kamarnya.
"Terima kasih Fuji..! Ucap Yuika.
"Sama-sama kak..!" Fuji tampak tersenyum kepada Yuika.
Di dalam kamar Yuika segera berganti pakaian lalu kemudian dia merebahkan dirinya di atas kasur.
Hari itu tampak tak seperti biasanya, langit tiba-tiba saja menjadi mendung. Angin yang berhembus kencang menerbangkan dedaunan kering di sekitar pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan.
"Sepertinya akan turun hujan..!" Ucap Yuika.
Sementara itu angin di luar sana berhembus semakin kencang, membuat jendela kamar Yuika bergoyang-goyang di terpa angin.
Yuika tampak heran melihat cuaca yang tiba-tiba saja berubah, langit kini menjadi gelap. Gadis itu kemudian bangun dan bergegas menutup jendela kamarnya.
Hanya beberapa menit kemudian hujan pun mulai turun. Hari itu adalah hari pertama hujan turun di musim semi.
Yuika yang berdiri di dekat jendela tampak sedang menikmati pesona hujan turun. Butir demi butir air hujan jatuh membasahi tanah dan tanaman di luar sana.
Tiba-tiba saja dia di kagetkan dengan kedatangan Fuji adiknya.
Fuji masuk ke dalam kamar kakaknya sambil membawa makan siang untuk Yuika.
"Kak, ayo makan dulu..!" Ucap Fuji sambil meletakan menu makan siang di atas meja samping tempat tidur Yuika.
"Simpan saja dulu, kakak akan memakanya nanti, sekarang kakak masih belum lapar..!" Sahut Yuika.
Yuika masih berdiri di dekat jendela sambil terus memandangi turunnya hujan.
"Kakak sedang melihat apa..?" Tanya Fuji sambil datang mendekat kepada Yuika.
"Bukan apa-apa..!" Ucap Yuika.
"Apa kamu sudah makan..?" Yuika kembali bertanya kepada Fuji.
"Belum kak, tadi ayah menyuruhku membawakan makanan untuk kak Yuika terlebih dulu." Jawab Fuji.
"Kalau begitu pergilah, ayah pasti sudah menunggumu..!" Ucap Yuika sambil menyentuh bahu adiknya itu.
"Ya baiklah, tapi kak Yuika juga cepatlah makan, jika makananya sudah dingin maka rasanya akan menjadi tak enak..!" Ucap Fuji.
"Iya akan kakak makan nanti..! Kamu segeralah turun makan bersama ayah, jangan membuat ayah menunggu terlalu lama." Ucap Yuika.
Setelah puas memandangi hujan dari balik jendela kamar, Yuika juga segera menghabiskan makanannya.
Hujan masih saja turun, sudah hampir 30 menit lamanya. Yuika yang mulai merasa bosan lalu keluar dari dalam kamarnya dan pergi menuju kamar Fuji.
Rupanya pintu kamar Fuji adiknya itu tidak tertutup dengan rapat, sehingga dari balik pintu dia bisa melihat Fuji yang sedang merawat sebuah tanaman bunga di dalam pot yang berukuran sedang.
Yuika datang menghampiri Fuji dan berdiri tepat di belakang adiknya.
"Kamu sedang apa..?" Ucap Yuika.
"Kak Yuika..!" Fuji tampak kaget karena kakaknya secara tiba-tiba berada di belakangnya.
"Apa ini bunga lily..? Di mana kamu mendapatkan..?" Tanya Yuika.
"Ya kak, ini bunga lily, 1 minggu yang lalu bibi Naomi memberikan bunga ini kepadaku dan dia juga menitipkan pesan agar aku merawat bunga ini dengan baik sampai mekar." Jawab Fuji sambil memegang kelopak bunga lily yang sudah melai bermekaran.
"Bunganya sangat indah. Coba kakak lihat..!" Ucap Yuika sambil ikut memegang kelopak bunga lily.
"Kamu sebaiknya membawanya ke luar, jika di pelihara dalam kamar maka bunganya akan layu nanti, karena kurang mendapatkan sinar matahari." Ucap Yuika.
"Benarkah..! Kalau begitu Fuji akan membawanya dan menyimpannya di teras rumah." Sahut Fuji seraya mengangkat pot bunga.
"Jangan sekarang..! Tunggu hujannya rendah. Ucap Yuika.
Fuji lalu meletakan kembali pot bunga itu dan menunggu hujan berhenti.
"Kak..!" Panggil Fuji kepada kakaknya.
"Ya katakan." Ucap Yuika.
"Apa benar bahwa bunga lily adalah bunga perpisahan..?" Tanya Fuji.
"Ya itu benar, kamu tahu dari mana..? Ucap Yuika.
"Bibi Naomi memberitahukannya kepadaku, katanya bunga lily adalah bunga perpisahan. Tapi mengapa seperti itu..? bukankah bunga lily sangatlah indah..!" Ucap Fuji sambil melirik ke arah Yuika.
"Dahulu, saat ritual upacara pemakaman leluhur, orang-orang sering menanam bunga lily di dekat kuburan sebagai bentuk penghormatan. Itulah mengapa bunga lily di sebut juga sebagai bunga perpisahan." Ucap Yuika menjelaskan arti bunga lily kepada Fuji.
"Oh, jadi seperti itu ya..! Sekarang aku sudah mengerti." Ucap Fuji sambil tersenyum.
Sementara itu di luar tampaknya hujan telah berhenti. Fuji lalu mengangkat pot bunga hendak membawa dan menyimpannya ke teras rumah.
"Pelan-pelan nanti potnya jatuh..!" Ucap Yuika.
"Baik kak..!" Fuji mengangkat pot bunga lily dengan sangat berhati-hati dan pergi menuju teras rumah.
Sementara itu Yuika segera kembali ke kamarnya.
Yuika yang masih merasa bosan mengambil alat lukisnya dan mulai menggambar bunga lily. Dia menggambar bunga lily persis seperti bunga lily milik Fuji adiknya.
Setelah selesai menggambar bunga lily, gadis itu beranjak pergi menuju kamar Fuji kembali dan meletakan gambar itu di atas meja belajar milik Fuji setelahnya dia pun kembali pergi menuju ke kamarnya.
Gambar bunga lily yang tergeletak di atas meja tampak sangat indah saat ketika terkena sinar matahari yang pelan-pelan mulai kembali bersinar. Di atas langit yang biru pesona pelangi yang melengkung mulai menampakan diri membuat hari itu semakin menjadi indah dipandang mata.
Di dalam kamar tampak Yuika sedang tertidur pulas di atas ranjangnya. Tak lama kemudian, Ketty datang dan meloncat naik ke atas ranjang lalu ikut berbaring disisi Yuika.
Sementara itu Fuji yang baru saja kembali dari teras rumah, masuk ke dalam kamarnya dan mendapati gambar bunga lily tergeletak di atas mejanya.
"Ini pasti kak Yuika yang membuatnya..!" Seru Fuji dalam hati.
Fuji mengambil gambar itu lalu menempelnya di dinding kamarnya. Kemudian dia segera keluar untuk mencari keberadaan Ketty kucing kesayangannya itu. Fuji yang tidak menemukan Ketty di dalam dapur, segera beranjak pergi menuju kamar Yuika kakaknya, dia telah mengetahui bahwa jika Ketty tidak berada di dapur itu artinya Ketty berada di dalam kamar Yuika.
Dia pun lalu menuju kamar kakaknya dan mengambil Ketty yang sedang tidur bersama Yuika. Lalu dia membawa Ketty masuk ke dalam kamarnya dan kemudian Fuji tidur sambil memeluk Ketty.