Please Stay With Me

Please Stay With Me
Mengenang Masa Lalu



Senja di kota Otaru, kota kecil yang terletak di Hokaido Jepang yang penuh dengan sejarah. Sekelompok kawanan burung laut terbang melintasi langit yang berwarna jingga lalu bertengger pada salah satu tiang kapal yang sedang berlabu.


Suasana di pinggir kota dekat pelabuhan Sapporo sangatlah indah di pandang mata.


Langit jingga kemerah-merahan terlihat bagaikan buah delima matang merona.


Beberapa kapal sedang berlabu di tepian pantai pelabuhan itu, namun ada satu kapal yang nampaknya baru saja tiba dan berlabu di ujung pelabuhan Sapporo, begitu banyak penumpang yang keluar dari kapal itu dan berjalan meninggalkan pelabuhan.


Seorang kakek yang masih terlihat segar bugar berjalan diantara rombongan penumpang lainnya.


Di tangannya terdapat sebuah tas dan topi yang tengah di gandengnya, sambil berjalan dia pun juga pergi meninggalkan pelabuhan.


Di ujung jalan tampak kakek itu tengah berdiri menunggu sesuatu. Tak lama kemudian, sebuah taksi online sewaan datang untuk menjemput kakek itu.


"Antarkan aku ke Hakodate..!" Ucap kakek itu kepada pak sopir saat sudah berada di dalam taksi.


"Baiklah kek..!" Jawab pak sopir taksi yang terlihat masih sangat mudah.


Udara di jalan tampak sangat dingin sehingga sopir muda itu menutup seluruh kaca taksi tersebut.


"Hallo..! Aku sudah di Otaru..! Tidak, kamu tak perlu menjemput ayah... Aku sudah di dalam taksi sekarang dan akan menuju ke sana..! Ya baiklah..! Apa cucuku baik-baik saja..? Oh begitu ya..! Ya ya ya baiklah..! Sampai jumpa..!" Kakek itu terdengar sedang berbicara di telpon dengan seorang pria.


"Ayo nak, percepat sedikit laju taksimu..!" Aku sedikit terburu-buru." Ucap kakak itu kepada sopir taksi yang mengantarnya.


"Ya baiklah kek..! Sahut sopir muda itu sambil menarik gas mempercepat laju mobilnya.


Sementara itu di rumah sakit Kasih Bunda, terlihat Yuika yang telah bangun dari tidurnya, sedang berbaring dan tengah mendapatkan perawatan dari dokter Reva.


"Bagus, ya seperti itu..!" Seru dokter cantik Reva saat memeriksa mata dan hidung serta telinga Yuika dengan menggunakan penlight.


"Sudah tak apa, semuanya nampak baik. Demammu juga akan turun dengan segera." Ucap dokter Reva sambil membantu mengangkat tubuh Yuika untuk duduk dan bersandar pada susunan bantal.


"Beristirahatlah.." Seru dokter Reva.


Kemudian dokter cantik itu berpamitan untuk kembali ke ruang kerjanya kepada ibu Yuika yang berada di dalam ruang rawat bersama Yuika.


Selang beberapa menit kemudian, tuan Yoshimura masuk ke dalam ruang rawat Yuika dengan tergesah-gesah, sambil menggenggam handphone di tangannya.


Dengan segera dia mengambil jaket dan kunci mobil milik nyonya Elena.


"Pinjamkan aku mobilmu sebentar..! Seru tuan Yoshimura.


"Tapi kamu mau kemana..?" Nyonya Elen heran melihat ayah Yuika yang terburu-buru.


"Hari ini kakek Yuika akan datang, dia baru saja menghubungiku dan mengatakan bahwa sekarang dia telah berada di jalan menuju ke rumah." Ucap tuan Yoshimura sambil mengenakan jaketnya.


Rupa-rupanya kakek yang berada di dalam taksi itu adalah kakek Yuika yang juga ayah dari tuan Yoshimura.


"Aku harus segera sampai ke rumah sebelum kakek Yuika tiba. Mohon kamu jaga Yuika." Ucapnya lagi.


"Fuji..! Apa kamu ingin ikut bersama ayah kembali ke rumah...? Kita akan menjemput kakek..." Ucap tuan Yoshimura kepada Fuji.


"Ya ayah... Fuji mau ikut bersama ayah." Jawab Fuji.


"Yeah... Kakek akan datang..!" Seru Fuji sambil melompat-lompat gembira ria.


"Ayah apa kakek benar-benar datang..?" Tanya Yuika.


"Iya sayang, kakekmu sedang di jalan, sekarang ayah akan menjemputnya."Jawab tuan Yoshimura.


"Baiklah, ayah pergi dulu." Ucap tuan Yoshimura sambil mencium kening Yuika putri kesayangannya itu.


"Hati-hati di jalan..!" Seru nyonya Elena.


Kemudian tuan Yoshimura berjalan keluar meninggalkan ruang rawat Yuika sambil menggandeng tangan Fuji putri kecilnya.


Mereka lalu menuju dan masuk ke dalam mobil milik nyonya Elena.


Di dalam kamar rawat.


"Ibu..! Aku ingin minum..!" Seru Yuika.


"Iya sayang..!" Nyonya Elena menyodorkan segelas air putih ke mulut Yuika.


Sementara itu di kediaman keluarga Minato.


Tampak Minato tengah berada di dalam kamar tidurnya.


Pria itu duduk di sisi sudut kasur dekat jendela sambil memandangi langit senja.


Minato tampak sedang berkhayal saat ketika kejadian dimana dia dan Yuika terjatuh lalu tercebur ke dalam air saat di pantai.


"Andai saja aku tidak mengajaknya ke pantai..! Andai saja aku tidak berbuat jahil kepadanya, pasti dia akan baik-baik saja sekarang..!" Ucapnya dalam hati.


Pria tampan itu sungguh sangat menyayangkan perbuatannya dan sangat merasa bersalah.


Langit senja yang mempesona lambat laun berganti menjadi gelap dan semakin gelap.


Pukul 06:55 menjelang malam hari. Di depan gedung rumah sakit tampak tuan Yoshimura bersama Fuji dan juga kakeknya baru saja turun dari mobil dan hendak masuk ke dalam gedung rumah sakit.


"Dimana cucuku..? Ayo cepat antarkan aku kepadanya..!" Seru kakek Yuika sambil menggandeng tangan Fuji, berjalan masuk ke dalam gedung dengan terburu-buru.


"Iya ayah, bersabarlah, kita akan menemuinya segera." Jawab tuan Yoshimura.


"Kek..! Apakah kakek sangat cemas..?" Tanya Fuji denga raut wajah polos layaknya seorang anak kecil biasanya.


"Iya sayang." Jawab kakeknya.


"Aku juga sangat mengkhawatirkan keadaan kakak." Ucap Fuji.


"Benarkah..!" Sahut kakek sambil terus berjalan.


"Iya kek, karena aku sangat menyayangi kak Yuika." Ucap Fuji kembali.


Kakek Yuika tersenyum saat mendengar ucapan cucu kecilnya itu.


"Selamat malam..!" Seru Fuji saat memasuki ruang rawat Yuika.


"Selamat malam..!" Sambut nyonya Elena.


"Ayah, ayah datang..!"Seru nyonya Elena saat melihat ayah tuan Yoshimura.


"Ya, dimana cucuku..?" Ucap kakek Yuika.


"Aduh sayangku, kakek sungguh sangat minta maaf karena telat." Ucap kakek sambil menciumi pipi, dahi dan tangan Yuika.


Ayah Yoshimura itu sungguh sangat menyayangi kedua cucunya, terlebih-lebih kepada Yuika, yang saat masih berusia 2 tahun tinggal bersamanya.


Saat masih balita Yuika tinggal bersama kakek dan neneknya di Shinagawa, sebuah kota kecil yang berada di Tokyo.


Karena saat itu kedua orang tuanya tengah sibuk meniti karir mereka masing-masing.


Tuan Yoshimura yang seorang pelukis terkenal saat itu, selalu sibuk pergi keluar kota untuk menghadiri pergelaran seni lukis, bahkan hampir tiap-tiap minggu dia harus pergi keluar kota.


Sedangkan nyonya Elena adalah seorang arsitek muda berbakat yang juga sibuk meniti karirnya, sama seperti suaminya dia juga selalu pergi ke luar kota untuk sebuah urusan pekerjaan.


Tapi keadaan itu tidaklah lama terjadi, karena nyonya Elena yang memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai seorang arsitek. Dia tidak ingin menjadi seorang ibu yang egois, hanya memikirkan karir dan menelantarkan anaknya yang masih kecil. Nyonya Elena harus bertanggung jawab sebagai seorang istri yang mengurus rumah tangga dan juga sebagai seorang ibu yang harus memberi kasih sayang dan kepedulian untuk putrinya yaitu Yuika. Itulah mengapa ibu Yuika itu memutuskan untuk meninggalkan karirnya sebagai seorang arsitek.


Tuan Yoshimura dan nyonya Elena adalah pasangan yang saling mencintai, sejak bersekolah di SMA keduanya telah menjalin hubungan asmara sampai mereka berdua menjadi sarjana dan kemudian memutuskan untuk menikah. Salama 12 tahun terakhir, mereka telah hidup bersama dan membangun rumah tangga, namun tak disangka secara tiba-tiba nyonya Elena memutuskan untuk bercerai dengan tuan Yoshimura mantan suaminya itu.


Bukan karena faktor ekonomi yang membuatnya memilih jalan perceraian, tetapi karena tuan Yoshimura yang selalu bersikap egois, ayah Yuika itu selalu sibuk dengan pekerjaannya, dia lebih mementingkan karirnya sebagai seorang seniman, hari-harinya hanya dipenuhi dengan kesibukan, sehingga nyonya Elena merasa tidak mendapat cukup perhatian dari mantan suaminya itu.


Bahkan saat pengajuan sidang hak asuh anak di pengadilan, nyonya Elena mati-matian mempertahankan hak asuh kedua putrinya agar tetap bersamanya, namun pada akhirnya hakim kepala memutuskan hak asuh jatuh kepada tuan Yoshimura, ayah Yuika.


Itulah sebabnya nyonya Elena sangat merasa kecewa, selama bertahun-tahun dia hanya sibuk mengurus suami barunya serta membangun kembali karirnya dan mulai mengabaikan kedua putrinya.


Namun di dalam batin wanita itu merasa sangat tersiksa, karena harus terpisah dengan kedua putri yang telah di lahirkan dan di besarkannya dengan penuh kasih sayang.


Yuika yang saat itu masih berusia 12 tahun tidak mengerti dengan masalah yang sedang dihadapi oleh keluarganya, dia mengira ibunya meninggalkan ayahnya karena ingin hidup dalam kemewahan.


Yuika memilih di asuh oleh ayahnya karena dia tidak ingin tinggal bersama ayah tirinya.


Namun dengan bertambahnya usia, kini gadis itu mulai mengerti dan mencoba menerima takdir yang telah tuhan beri dalam hidupnya.


Walau pun terkadang jiwanya masih sedikit terguncang namun gadis itu mencoba untuk tabah dan berusaha menjadi gadis yang kuat, apalagi dia tahu bahwa dia bukanlah satu-satunya anak yang kurang beruntung itu, ada Fuji adiknya yang masih kecil yang juga harus nenanggung akibat dari perceraian kedua orang tuanya.