
Ezar berjalan tergesa-gesa sambil terus berusaha menghubungi ponsel Embun. Tapi tidak ada jawaban bahkan sepertinya ponsel gadis itu mati. Perasaan Ezar mulai tidak enak. Sesuatu pasti sedang direncanakan oleh Roy. Sialnya Ezar terus terbayang-bayang bagaimana wajah ketakutan Embun malam itu. Setelah mendapat informasi nomor kamar yang Roy pesan dari resepsionis Ezar pun langsung menghubungi bagian keamanan hotel dan meminta kunci ganda untuk berjaga-jaga.
"Ini kamarnya Tuan."
Ezar memandangi pintu kamar hotel itu. Tangannya mencoba membuka pintu yang ternyata memang dikunci itu.
"Cepat buka pintunya."
"Tapi Tuan-"
"Cepat!" Tegasnya nyari berteriak.
Mau tak mau petugas itu pun segera membuka kuncinya dibandingkan harus kehilangan pekerjaannya. Ezar langsung membuka pintu dengan kasar.
BRAKK
"Ezar."
Ezar langsung menoleh ke suara yang terdengar sangat lirih itu. Matanya melotot. Roy sedang memaksa membuka pakaian gadis itu. Ezar pun bertatapan dengan Roy. Terlihat jelas bahwa Roy sangat terkejut dengan kedatangannya. Tanpa pikir panjang Ezar menghampiri kedua orang itu lalu menarik Roy dengan kasar.
BUGH
"Mau apa kau brengsek?!"
Ezar tanpa ragu memberikan pukulan keras ke wajah Roy.
"Hei, kau-"
BUGH
Ezar memukuli Roy tanpa ampun. Embun hanya bisa menangis melihat kejadian didepan matanya. Hatinya sangat hancur mengingat dirinya hampir dirusak oleh orang seperti Roy. Embun bahkan membiarkan Ezar memukuli Roy tanpa ampun. Kepalanya cukup pusing sekarang. Embun merasa sangat bersyukur karena Ezar benar-benar datang. Mungkin jika Ezar tidak datang dia akan..
Sekali lagi Embun menangis sambil meringkuk diatas ranjang dengan kondisi pakaiannya yang terkoyak dibeberapa bagian. Yang tadi itu sangat menakutkan. Entah bagaimana jadinya jika Ezar tidak datang.
"Embun, Embun bangunlah!"
Suara Ezar menyahut.
"Ezar."
"Kau baik-baik saja?"
Embun melihat Roy yang dibawa keluar oleh petugas keamanan dalam kondisi babak belur. Kemudian Embun langsung menerjang Ezar dan memeluknya dengan sangat erat. Tangisnya kembali pecah. Tubuh Ezar langsung menegang karena pelukan yang sangat tiba-tiba ini. Ezar tidak terbiasa memeluk orang asing tapi ia tahu bahwa gadis ini sedang ketakutan. Akhirnya Ezar pun memeluk Embun dengan lembut.
"Aku takut. Sangat takut." Lirih Embun.
"Aku tahu."
Tangan kekar Ezar bergerak mengelus rambut Embun dengan lembut sambil menepuk-nepuk bahu gadis itu. Ezar mencoba memberikan ketenangan. Perlahan tangisan Embun pun mulai mereda namun pelukan itu enggan terlepas.
"Ezar." Panggil Embun pelan.
"Ya?"
"Jangan tinggalkan aku."
...__ooOoo__...
"Ezar kumohon jangan tinggalkan aku."
"Ezar!"
"Jangan tinggalkan aku! Aku takut."
Suara itu terus terngiang-ngiang di kepala Ezar berbarengan dengan bayangan seorang gadis remaja yang memohon sambil terus merintih meminta tuk jangan ditinggalkan. Hati Ezar jadi terasa sesak. Semenjak Embun mengatakan kalimat yang sama itu Ezar jadi teringat masa lalunya. Masa lalu yang kelam dan membuatnya terus merasa bersalah. Bahkan rasanya sekarang Ezar ingin menangis.
"Kau melamun?" Suara lembut itu membuyarkan lamunan Ezar.
Ezar menoleh pada Embun yang duduk disampingnya. Kemudian Ezar melirik kaos Embun yang sobek. Pasti itu ulah Roy. Ezar langsung mengambil jaket miliknya dari kursi belakang lalu memberikannya pada Embun.
"Pakailah. Mungkin kau kedinginan." Sahut Ezar datar.
"Terimakasih."
Embun segera memakai jaket milik Ezar. Meski sangat kebesaran tapi rasanya lumayan hangat. Belum lagi aroma tubuh Ezar yang sangat kuat tercium olehnya. Diam-diam Embun tersenyum. Aroma itu akan sangat tercium jika ia memeluk Ezar seperti tadi.
"Aku suka aroma tubuhmu."
Ezar langsung menoleh.
Melihat raut kebingungan Ezar membuat Embun langsung tersadar atas apa yang baru saja ia ucapkan.
"Tidak. Maksudku .. aku suka jaket ini. Terasa hangat hehe."
Ezar menghela nafas.
"Kenapa kau sangat bodoh?" Tanya Ezar.
"Hah? Apa maksudmu?"
"Kau percaya bahwa aku benar-benar memberinya uang palsu?"
"Tidak juga. Makanya aku ingin datang untuk memastikannya langsung." Tukas Embun.
"Lalu kau tidak sadar bahwa dia mengarahkan mu ke hotel?"
"A-Aku sadar sih tapi aku tidak ingin berpikiran macam-macam karena aku takut kau menipu."
Ezar tertawa dengan sarkas.
"Kau benar-benar bodoh dan mudah tertipu."
Embun berdecak kesal.
"Tapi kau datang menyelamatkanku!"
"Ya, aku sudah melunasi hutangmu lalu menyelamatkanmu. Untung saja hotel itu milikku jadi sangat mudah untuk mengaturnya. Dan kau malah berpikiran aku ini menipu? Kau bahkan marah-marah padaku di telepon tadi." Ujar Ezar sambil menggerutu.
Embun menghela nafas.
"Maaf."
"Lupakanlah. Sekarang aku akan mengantarmu pulang."
Ezar bersiap memakai sabuk pengamannya sendiri tapi tiba-tiba Embun meraih tangannya dengan sedikit memaksa. Embun mengelus tangan Ezar dengan lembut lalu tersenyum.
"Terimakasih sudah mau menolongku. Kau pria yang sangat baik." Ujar Embun dengan tulus.
Ezar tertegun mendengarnya.
"Jika kita menikah aku harap kau mau melindungiku. Tapi sesuai kontrak, aku hanya perlu melayani mu sebagai balas budi kan?"
Embun tersenyum kecil. Dia tidak biasa bersikap lembut seperti ini apalagi didepan seorang pria. Tapi kali ini ia lakukan karena ia benar-benar merasa berterimakasih pada Ezar. Pria yang bahkan baru dikenalnya kemarin sudah sangat berjasa mau menolongnya sampai sejauh ini. Bolehkah Embun merasa beruntung?
"Sudahlah tidak perlu seperti ini. Kau harus segera istirahat." Sahut Ezar.
Ezar menarik tangannya dengan gugup. Mendadak suasana jadi canggung. Tapi mungkin itu tidak berlaku untuk Embun.
"Pakailah sabuk pengaman. Soal pernikahan kita akan membahasnya besok. Kau tahu? Bahkan orang tuaku sedang-"
"Ezar." Panggil Embun.
"Apa?"
Ezar pun menoleh. Sejujurnya pria itu kesal karena perkataannya dipotong. Ezar tidak suka jika ada yang memotong pembicaraannya. Namun tiba-tiba Embun bergerak mendekat dan mencium pipinya secepat kilat. Ezar mengerjap dan terkejut.
Embun terkekeh pelan melihat bagaimana reaksi yang Ezar berikan.
"Terimakasih dan tetaplah nikahi aku ya."
...__ooOoo__...
Sebagian orang menganggap pernikahan sebagai akhir dari perjuangan hidup karena ketika menikah kita harus meninggalkan segala sesuatu yang telah kita peroleh untuk pernikahan. Namun sebagian orang menganggap pernikahan adalah awal dari kehidupan yang baru saja dimulai. Yang jelas pernikahan bagi seseorang memiliki arti yang sangat penting karena saatnya memilih siapa orang yang akan menjadi teman hidup kita nantinya. Dan Embun tidak menyangka jika hidupnya akan ditemani oleh pria kaya raya yang belum lama ini dikenalnya.
Lalu haruskah Embun menganggap pernikahannya sebagai awal dari kehidupannya atau malah akhir?
Entahlah. Embun merasa dirinya tidak melakukan apa-apa semenjak lulus sekolah. Hanya menghambur-hamburkan harta warisan, bersenang-senang, dan berbuat sesuka hati tanpa memikirkan masa depannya. Embun bahkan tidak tahu apa cita-cita yang ingin dicapainya. Semenjak ditinggal orang tuanya Embun merasa hidupnya hancur dan tidak ada harapan yang tersisa. Dan sekarang Embun sadar bahwa hidupnya memang sudah hancur karena telah berurusan dengan Roy, preman yang kaya raya berkat uang ilegalnya.
Embun menghela nafas. Kini dia hanya perlu menunggu hari pernikahannya beberapa Minggu lagi.
"Carrel aku tidak menyangka jika aku benar-benar akan menikah." Sahut Embun.
"Hmm aku juga. Padahal yang sudah lama berpacaran kan aku tapi malah kau yang menikah duluan." Carrel terkekeh.
"Mungkin beberapa tahun kemudian aku akan bercerai dengannya."
"Apa yang kau bicarakan? Menikah saja belum sudah rencana bercerai."
"Kami menikah hanya karena keuntungan yang didapat. Dia tidak ingin dijodohkan jadinya dia memutuskan untuk membantuku dan menikah denganku."
Carrel berdecak.
"Sudah kubilang cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Tenang saja."
"Benarkah? Aku pikir Ezar adalah orang yang dingin. Aku takut." Embun mengerucutkan bibirnya.
"Mungkin kau benar. Ezar adalah orang yang dingin namun tampan dan berkarisma. Coba lihat siapa yang datang."
Carrel memutar tubuh Embun ke arah pintu. Embun mengerjap. Ezar datang bersama seseorang. Tatapan mata mereka pun bertemu. Mata yang tajam dan penuh kuasa itu menatap Embun dengan datar.
"Apa dia pria yang bernama Ezar? Sejak awal tatapan matanya langsung tertuju padamu, Embun."
Embun menelan salivanya. Kepalanya pun mengangguk. Tapi .. untuk apa Ezar datang kesini?
"Embun." Panggil Ezar dengan suara baritonnya.
"Ah, mau apa kau kemari?"
Ezar menaikkan sebelah alisnya lalu berjalan mendekat. Kini jarak Embun dengan pria itu dekat bahkan sangat dekat. Embun sampai menahan nafasnya karena tidak ingin mencium aroma tubuh Ezar yang bisa membuatnya berdebar.
"Bukankah kemarin kau yang memintaku datang kesini? Kau bilang mau membicarakan sesuatu." Ujar Ezar keheranan.
"Benarkah?
Ezar mendengus geli.
"Kau sangat pelupa. Waktu ku tidak banyak jika kau ingin tahu."
Embun memperhatikan Ezar yang berjalan memilih meja. Gadis itu menghela nafas. Dia baru saja ingat kalau memang dirinya yang mengundang Ezar kemari. Bodohnya Embun lupa dan malah terkejut dengan kedatangan Ezar. Seorang pria yang datang bersama Ezar tersenyum pada Embun.
"Siapa?" Tanya Embun bingung.
"Ohh, ku kira kau masih ingat denganku nona. Aku Aldo. Pria yang waktu itu kau minta jadi suami." Aldo tersenyum.
Embun terdiam sejenak sebelum akhirnya dia teringat sesuatu.
"Sekarang aku ingat! Astaga ternyata kita bertemu lagi!" Pekik Embun.
Aldo tersenyum.
"Yah, aku baru saja ingin menawarkan bos ku padamu tapi ternyata kalian sudah bertemu lebih dulu. Kebetulan yang menguntungkan bukan?"
"Eh, bosmu?"
"Iya. Ezar adalah bos sekaligus temanku sejak masa sekolah."
"Ah, begitu. Kalau begitu silahkan duduk, aku akan bawakan menunya."
Aldo mengangguk lalu segera menyusul Ezar untuk duduk. Ezar tersenyum masam pada Aldo.
"Kau pikir aku ini barang yang bisa ditawarkan begitu saja." Sahut Ezar.
"Tapi kalian beruntung dipertemukan di waktu yang sama. Akhirnya kau menikah juga bung!"
Aldo menepuk bahu Ezar sambil tersenyum bangga sementara Ezar hanya mendengus. Selama ini Aldo selalu menyuruhnya untuk menikah sampai memaksa entah karena apa. Tapi selama ini Ezar tidak tertarik untuk menjalin hubungan bersama wanita mana pun. Tak seperti Aldo yang sudah berpacaran bertahun-tahun dengan kekasihnya itu. Dan begitu Ezar bilang pada Aldo kalo ia sudah menemukan calon istri, Aldo langsung berteriak histeris dan memaksa Ezar untuk mempertemukannya dengan calon istri Ezar.
"Kau pernah bertemu dengannya?" Tanya Ezar pada Aldo.
"Ya, waktu dia sedang mencari suami di jalanan. Tadinya aku mau merekomendasikan mu padanya tapi ternyata kalian malah sudah bertemu."
Ezar menghela nafas. Matanya melirik Embun yang sedang membereskan meja lainnya. Rupanya gadis itu bekerja disini. Kalau dilihat dari luar dan kehidupannya Embun terlihat seperti gadis yang sederhana. Bahkan saat melihat Embun pertama kali pun Ezar kira Embun adalah gadis yang sederhana dan polos. Tapi ternyata tidak disangka gaya hidup Embun tinggi juga sampai bisa berhutang besar hanya demi berfoya-foya.
Ezar tidak suka gadis yang suka berfoya-foya dan materialistis meski dirinya kaya raya. Hanya saja menurutnya gadis yang memiliki kebiasaan seperti itu sangat tidak bijaksana. Apalagi sampai rela berhutang ratusan juta seperti Embun. Bisa disimpulkan bahwa Embun bukanlah gadis yang bijaksana. Padahal Ezar sangat suka gadis yang bijak dan dewasa.
Apa mungkin dia salah memilih calon istri?
...__ooOoo__...
Setelah menyelesaikan makan siang Ezar menyuruh Aldo untuk menunggunya di mobil sementara Ezar harus menyelesaikan urusan dengan Embun. Yah, Embun sendiri yang meminta mereka berbicara empat mata tanpa Aldo. Ezar sendiri belum tahu apa yang ingin dibicarakan oleh gadis itu.
Embun duduk dengan canggung. Dihadapannya duduk seorang pria berpakaian jas dan memiliki karisma yang tinggi. Ezar benar-benar terlihat seperti bos.
"Jadi apa yang sebenarnya mau kita bicarakan?" Suara Ezar menyahut.
Embun pun mengeluarkan secarik kertas yang dilipat dua bagian dari bawah meja. Kertas itu langsung Embun berikan pada Ezar agar dapat langsung dibaca.
...KONTAK PERNIKAHAN...
...EMBUN & EZAR...
Dengan adanya kontrak ini maka kami setuju untuk melakukan hal-hal di bawah ini secara wajib.
1. Dilarang mengetahui urusan masing-masing kecuali jika Ezar ingin tahu urusan Embun maka Embun wajib memberitahunya
2. Embun dilarang menolak apapun permintaan Ezar
3. Embun wajib bersikap melayani sebagai seorang istri yang baik dan benar kecuali Ezar yang dapat berbuat sesukanya
4. Dilarang jatuh cinta
_______________________
"Hahahahaha."
Embun terkejut melihat Ezar yang tiba-tiba tertawa. Bahkan Ezar tertawa sampai mengeluarkan air mata. Hei, ada apa dengan pria itu? Embun melirik Carrel yang ada di meja kasir. Carrel menatap Embun dengan tatapan bingung seolah bertanya 'apa yang terjadi dengan pria itu?' padahal Embun sendiri tidak tahu. Ngomong-ngomong, sejak tadi Carrel selalu memperhatikan mereka berdua.
"Ezar kenapa tertawa? Apakah ada yang lucu?"
"Ya, kau sangat lucu sekali. Astaga! Aku pikir aku sudah membaca tulisan yang konyol."
Ezar kembali tertawa tapi hanya sebentar. Lalu pria itu menegakkan punggungnya dan menatap Embun dalam pandangan yang lurus.
"Jadi ini yang dinamakan kontrak? Kau sangat serius dengan pernikahan kontrak?"
"Ya. Aku serius. Kau bilang tidak ingin menikah denganku jadi mari kita buat kontrak pernikahan. Dan semua isi disitu bukankah sangat menguntungkan untukmu? Anggap saja ini sebagai balas budi karena kau sudah membayarkan hutangku bahkan juga menyelamatkanku." Ujar Embun.
Ezar menghela nafas.
"Tapi bukan seperti ini kontrak yang benar."
"Ya aku tahu. Maka aku minta kau buat kontrak sungguhan. Aku hanya membuatnya sementara saja." Cicit Embun.
"Tidak perlu."
Embun langsung mendongak. Keningnya berkerut.
"Maksudmu?" Tanyanya.
Ezar tersenyum miring.
"Tidak perlu membuat kontrak. Tidak perlu ada pernikahan kontrak dan kau.."
Ezar memajukan tubuhnya agar wajahnya bisa berdekatan dengan wajah Embun. Mata tajamnya menatap lurus ke arah mata bulat kecoklatan yang tampak bening itu.
"Kau tidak perlu merasa berhutang budi." Lanjutnya.
Embun mengerjap. Pipinya terasa panas.
"Maksudmu apa, Ezar?"
"Kita menikah sungguhan. Tak perlu ada kontrak maupun hutang budi didalamnya. Mari kita jalani pernikahan ini dengan alami, Embun." Ujar Ezar dengan lembut.
Keduanya saling bertatapan cukup lama sebelum akhirnya Embun memalingkan wajahnya. Pipinya semakin merona. Apa yang baru saja Ezar katakan sedikit menyentuh hatinya.
"K-Kau serius?" Tanya Embun memastikan.
"Ya. Ayo kita menikah sungguhan."
Embun memberanikan diri untuk menatap mata Ezar. Ia berusaha mencari keseriusan dan kejujuran disana. Ezar terlihat benar-benar serius dengan perkataannya. Tapi mereka tidak saling mencintai, apakah Ezar tidak masalah akan hal itu? Ingin sekali Embun menanyakan hal itu sekarang tapi lidahnya kelu. Embun langsung kehabisan kata-kata saat Ezar malah memutuskan untuk menikah sungguhan dengannya.
Berarti apakah itu artinya Ezar mau belajar mencintai Embun kedepannya?
Ya, semoga saja Ezar maupun Embun dapat belajar saling mencintai satu sama lain nantinya.
..._________________...
...To be continued...
...(Revisi : 28-10-2020)...