Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
21. Musuh



Tanpa berkata apapun Ezar segera menarik tangan istrinya dan menjauhinya dari Rian dengan sedikit kasar. Embun sampai nyaris terhuyung. Bella yang melihatnya hanya bisa tersenyum sinis.


"Istrimu ini sangat kampungan. Sudah begitu berani-beraninya selingkuh di depan umum? Memalukan." Sahut Bella.


"K-Kampungan?" Gumam Embun. 


Baiklah. Embun tidak masalah jika dihina seperti itu oleh orang seperti Bella karena memang Embun bukan orang kaya. Tapi jika dirinya dituduh selingkuh begitu saja Embun merasa tidak terima. Memangnya siapa yang selingkuh? Embun bahkan tidak kenal dengan Rian.


Dan bukankah yang selingkuh itu Ezar?


"Aku tidak selingkuh!" Tegas Embun.


"Harusnya orang seperti mu itu bisa sedikit sadar diri. Bukankah menikah dengan Ezar adalah suatu keajaiban dalam hidupmu? Dan kau berani-beraninya selingkuh dengan Rian."


"Tidak perlu memprovokasi seperti itu nona." Desis Embun.


Rasanya Embun sudah tidak bisa menahan diri lagi. Mulut Bella sangatlah menyebalkan dan terus memancing emosinya. Kedua wanita itu saling melayangkan tatapan dengan sinis seolah masing-masing dari keduanya itu adalah musuh. Embun tidak tahu dimana letak kesalahannya sampai Bella harus bersikap seolah mengajaknya untuk berperang padahal sejak awal Bella lah yang memisahkannya dari Ezar.


"Hanya sekali lihat saja aku sudah tahu kalau kau itu orang miskin yang kampungan dan hanya tahu uang. Kau pasti menikah karena uang kan?" Sahut Bella.


Embun tertawa sinis.


"Memangnya apa yang salah dari itu? Hidup di dunia ini membutuhkan uang. Semua orang bertahan hidup dengan uang." Ujar Embun.


Embun dan Bella pun terus beradu mulut. Sementara sedari tadi Ezar terus melayangkan tatapan tajamnya pada Rian. Tidak tahu kah Embun bahwa Rian ini adalah musuh Ezar dalam dunia perbisnisan? 


"Jangan tinggalkan istrimu itu sendirian, Ezar. Jika kau meninggalkannya maka aku akan mengambilnya seperti dulu." Rian tersenyum miring.


"Apa? Seperti dulu?" Sahut Embun yang mendengarnya.


"Jangan pernah melewati batas seperti dulu lagi, Rian! Ingat itu." Tukas Ezar dengan penuh penekanan.


Lalu Ezar menarik tangan Embun untuk pergi dari tempat itu. Embun hanya bisa menurut meskipun sulit mengikuti langkah Ezar yang cepat.


"Tidak bisakah kita jalan pelan-pelan? Gaun ini membuatku sulit melangkah lebar." Sahut Embun.


Ezar hanya melirik sekilas.


"Kita pulang."


...__ooOoo__...


Mobil Ezar sudah memasuki pekarangan rumah mereka. Embun berdecak kesal lalu berniat turun dari mobil. Tapi rupanya Ezar belum membuka kunci pintu mobilnya. Embun melirik suaminya dengan kesal. Ezar hanya menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengatup rapat. Raut wajahnya tidak berubah sejak diperjalanan pulang tadi. 


"Buka pintunya!" Desis Embun kesal.


"Kenapa kau bisa bersama dengannya?" Tanya Ezar tanpa menoleh.


"Maksudmu Rian?"


"Ya. Jawab pertanyaan ku."


Embun mendengus.


"Seharusnya aku lah yang marah dan bertanya seperti itu padamu."


"Tidak. Aku yang harus bertanya seperti itu karena kau tidak tahu siapa Rian."


Ezar menolehkan kepalanya ke samping dan menatap Embun dengan tajam. Ezar terlihat seperti orang yang marah. Apa pria itu marah karena Embun bersama dengan Rian?


"Jadi aku tidak pantas bertanya alasan kenapa kau meninggalkanku karena aku ini tidak tahu siapa Bella? Begitu?" 


"Bukankah aku pernah bilang jika Bella itu wanita yang hampir dijodohkan denganku?" Ezar bertanya balik.


"Hah.. ya. Terserah. Cepat buka kuncinya!" Ketus Embun.


Ezar menghela nafas lalu membuka kunci pintu mobil. Dengan segera Embun turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Ezar mengusap wajahnya frustasi. Ia hanya bisa menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu rumah.


"Kau tidak tahu siapa Rian sebenarnya." Gumamnya dengan penuh sesal.


...__ooOoo__...


"Benarkah? Seharusnya dia tidak meninggalkanmu demi wanita lain!" Sungut Carrel kesal.


Embun mengangguk setuju.


"Ya, memang seharusnya begitu." Ucap Embun dengan lesu.


Tio yang sedari tadi ikut mendengarkan pun hanya diam menyimak. Mereka bertiga sudah terbiasa saling berbagi cerita. Kecuali Arsen yang tetap gigih memilah biji kopi untuk diolah. Tapi sebenarnya diam-diam Arsen mendengarkan juga kok. Arsen hanya bisa sesekali tersenyum kecil mendengar bagaimana intonasi Embun ketika mengeluarkan keluh kesahnya tentang acara kemarin. Dan Arsen juga baru tahu kalau ternyata hubungan Embun dengan suaminya tidak sedekat itu. Mereka seperti pasangan yang belum melekat satu sama lain. Apalagi setelah mendengar cerita Embun barusan membuat Arsen berpikiran kalau keduanya menikah karena dijodohkan.


"Memangnya secantik apa Bella?" Tanya Tio penasaran.


Embun mendengus. Dasar lelaki. Kalau urusan wanita cantik saja langsung sangat penasaran.


"Permisi, apa aku bisa memesan?"


"Ya tentu. Mau pesan ap-"


Ucapan Embun terpotong. Raut wajahnya sangat terkejut melihat siapa yang datang. Seorang wanita cantik dengan tubuh yang tinggi semampai. Wanita itu adalah Bella.


"B-Bella?!"


Bella tersenyum miring melihat keterkejutan Embun. Ditambah melihat penampilan Embun yang begitu sederhana dan dibalut apron milik cafe membuatnya terlihat semakin kampungan. Bella tertawa sarkas.


"Jadi benar ya istrinya Ezar si pengusaha kaya raya itu bekerja di cafe kecil seperti ini." Tukas Bella.


"Oh, jadi kau yang bernama Bella." Gumam Carrel.


Carrel menyentuh bahu Embuh sebentar lalu memilih mengurus pelanggan yang lain. Bukanya tidak mau membantu tapi ada pelanggan lain yang harus lebih diutamakan sekarang. Embun mengepalkan tangannya saat melihat Bella yang menatapnya penuh remeh. Padahal Embun belum selesai dengan kekesalannya yang semalam, wanita ini malah datang menghampirinya. 


"Kenapa kau datang kemari?" Tanya Embun sedikit ketus.


"Aku hanya penasaran saja. Ternyata benar itu kau. Tolong layani aku."


"Dan tolong layani aku juga." Sahut seorang lelaki yang baru saja datang.


Bella dan Embun pun langsung menoleh. Oh, baiklah. Satu masalah lagi datang. Embun menghela nafas. Ia tidak tahu apakah Bella ini sengaja mengajak orang itu atau tidak. Embun harus bisa menjaga emosinya demi kenyamanan semua pelanggan cafe Carrel.


Embun pun tersenyum walau dengan sedikit paksaan.


"Baiklah, silahkan duduk Bella dan Rian. Aku akan mengantarkan menunya."


...__ooOoo__...


Dari balik kaca jendela besar yang ada di ruangannya itu Ezar mendongakan kepala untuk menatap langit yang sangat biru dan cerah. Ketika pikirannya sedang kalut dan lelah bekerja Ezar akan meluangkan waktunya sejenak untuk berdiam diri sambil menatap langit. Hal itu akan membuat pikirannya kosong dan rileks sejenak. 


Ezar menoleh sedikit begitu pintu ruangannya terbuka. Aldo langsung masuk karena memang Ezar yang memanggilnya kemari.


"Ada apa memanggilku?" Tanya Aldo.


"Duduklah. Ini soal pesta yang aku datangi semalam." 


Aldo pun mengangguk dan duduk sesuai perintah. Disusul Ezar yang juga ikut duduk di sofa seberang.


"Akhir-akhir ini kau jadi sering memanggilku di jam kerja hanya untuk bercerita." Gumam Aldo.


Ezar menyugar rambutnya ke belakang.


"Apa ini tentang Embun lagi?" Tanya Aldo.


"Ya. Tapi kita tidak akan terlalu fokus padanya. Ini soal Rian."


Ezar mengangguk.


"Dia datang ke pernikahanmu waktu itu." Sahut Aldo.


"Ya. Tapi semalam dia berulah lagi seperti dulu."


"M-Maksudmu?"


Ezar menatap Aldo dengan tatapan yang lurus.


"Dia pasti akan mengincar istriku untuk balas dendam masa lalu. Semalam dia sudah berani menyentuh istriku."


"Apa maksudnya?"


Ezar menggeleng pelan.


"Sepertinya dia masih dendam pada masa lalu. Aku hanya menakutkan perusahaan ini. Dengar, kita harus tetap fokus pada proyek kali ini. Jangan sampai ada investor yang kabur." Tegas Ezar.


Aldo pun mengangguk dan setuju. Aldo tahu siapa Rian dan apa hubungannya Rian dengan Ezar. Rian adalah musuh Ezar dalam dunia bisnis. Selain itu dulu mereka juga musuh dalam hal lain. Padahal setahu Aldo dulu Ezar dan Rian sempat berteman baik meski tidak lama. Itupun hanya saat awal Ezar masuk kuliah.


Sebenarnya Rian tidak cukup berbahaya apalagi Ezar juga mengundang Rian ke pernikahannya sendiri waktu itu. Tetapi jika sudah mendengar kabar begini yang Aldo pikirkan hanyalah satu. Rian berusaha merebut Embun agar Ezar melemah dan saat itu juga Rian akan mulai melemahkan perusahaan. Rian pasti berpikir jika Embun adalah kelemahan Ezar sekarang. Karena itu Ezar merasa tidak boleh lengah sedikit pun.


"Kalau begitu mungkin aku tidak akan mencintai Embun dulu. Setidaknya sampai proyek ini selesai." Tukas Ezar.


"Hei, apa maksudmu? Jadi kalian belum saling mencintai?"


"Belum. Aku tidak akan mencintai sampai proyek kita selesai. Setidaknya untuk mengurangi rasa kecewaku jika Rian benar-benar merebut Embun."


"Kau benar-benar berpikir Embun bisa saja berselingkuh dengan Rian?" Tanya Aldo tidak percaya.


"Ya. Aku tidak tahu tipe seperti apa yang dia suka dan kemungkinan dia bisa saja berselingkuh. Apalagi kami belum saling mencintai."


"Hah. Aku lelah denganmu Ezar. Terserah kau saja. Tapi jangan sampai menyesal seperti dulu lagi. Lebih baik kenali istrimu dulu sebelum menyimpulkan sesuatu."


...__ooOoo__...


Embun mengamati suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Posisinya kini duduk sila ditepi ranjang sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Mata Embun mengamati Ezar dengan tajam. Ezar yang belum sadar sedang diperhatikan pun berjalan menuju sisi ranjang yang lain. Pria itu juga melepas kaos tipis yang semula dipakainya lalu melemparnya ke sofa. Embun menghela nafas. Meski sudah terbiasa melihat Ezar yang bertelanjang dada ketika tidur tetap saja Embun selalu kaget. Rasanya masih sulit terbiasa. Ezar pun melirik istrinya.


"Tidak tidur?"


"Kau pikir aku bisa tidur di saat seperti ini?!" Tanya Embun dengan lantang.


Ezar mengerjap terkejut.


"Kau kenapa?"


"Kenapa pria selalu berpura-pura bodoh padahal dirinya lah yang memiliki banyak kesalahan." Ketus Embun.


Ezar pun kembali duduk. Ia duduk mendekati Embun di sisi ranjang.


"Ada masalah, Embun?"


Embun mendengus. Bisa-bisanya Ezar bertanya seperti itu dengan wajah polos. Padahal sudah dua hari Embun menunggu permintaan maaf Ezar. Terutama penjelasan soal semalam. Embun tidak bisa membiarkan kekesalannya dilupakan begitu saja. Embun bukan orang yang selembut itu.


"Hei, ada masalah?" Sahut Ezar.


Embun melirik dengan sinis.


"Aku masih tidak terima soal masalah kita kemarin lusa dan yang semalam!"


"Kemarin lusa? Memang apa yang salah dari itu?" Tanya Ezar bingung.


Saat ini Ezar berada diambang batas lelah dan mengantuk tapi otaknya mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin lusa sampai Embun terlihat semarah ini. Dan tak berapa lama Ezar baru ingat.


"Tentang aku yang membentakmu? Bukankah aku sudah menjelaskannya?" Tanya Ezar


"Tidakkah kau mau mengerti perasaanku? Kau pikir kita bisa saling mencintai jika begini caranya?"


"Bisa. Kita bisa bercinta untuk menumbuhkan perasaan."


BUGH


"Tidak semudah itu!" Ketus Embun setelah memukul lengan Ezar.


Namun tetap saja pukulannya tidak akan terasa karena otot-otot Ezar yang tebal dan kuat.


"Baiklah. Kalau begitu kenapa semalam kau menuruti Bella dan meninggalkanku?"


"Bella memang orang yang seperti itu. Meskipun aku menolak dia selalu memaksa dan manja. Karena itu aku tidak ingin menikah dengannya meskipun dia cantik." Jelas Ezar.


Embun mengerjap.


"C-Cantik? Jadi kau mengakui kalau Bella itu cantik?" Tanya Embun dengan nada sinis.


Ezar pun mengangguk dengan tanpa dosa. Embun mendengus. Bella memang cantik tapi tidakkah Ezar terlalu jujur didepan istrinya sendiri?


"Kau tegas padaku tapi tidak bisa bersikap tegas pada Bella. Dasar pria!"


Embun melempari wajah Ezar dengan bantal lalu bergerak masuk ke dalam selimut. Embun pun kembali menatap Ezar.


"Hari ini Bella dan Rian datang ke tempat kerjaku. Dan mereka sangat mengganggu."


Ezar terdiam. Tidak ada rasa terkejut ataupun marah karena Ezar sudah menduga jika hal itu akan terjadi. Rian pasti akan langsung mencari tahu tentang istrinya. Atau mungkin Rian juga tahu alasan mereka menikah. Kini giliran Ezar yang menatap Embun dengan serius. Kata Aldo dia harus mengerti istrinya lebih dulu sebelum bertindak.


"Umm Ezar."


"Ya?"


Embun jadi sedikit gugup karena tatapan Ezar yang tertuju padanya.


"Kemarin.. apa kau cemburu melihatku dengan Rian? Bukankah kau marah?" Tanya Embun dengan ragu.


"Tidak. Aku hanya marah karena Rian."


"Ahh begitu."


Diam-diam Embun merasa kecewa. Ia kira sikap Ezar kemarin adalah pertanda cemburu. Namun ternyata tidak. Embun tersenyum miris. Sejak awal Ezar sudah memberitahu padanya kalau jangan berharap apapun pada pria itu. Dan ternyata memang benar, tidak ada yang bisa diharapkan dari Ezar. Mungkin cinta memang sulit untuk tumbuh tapi Embun yakin jika suatu saat nanti pernikahannya akan bahagia. Setidaknya begitulah harapannya.


"Bagaimana denganmu?" Sahut Ezar.


Embun pun mendongak.


"Apa?"


"Apa kau cemburu melihatku bersama Bella?"


Hening sesaat. Keduanya hanya bisa saling menatap satu sama lain. Melihat wajah Embun yang terlihat begitu lugu membuat jiwa seorang pria dari diri Ezar meronta-ronta. Namun Ezar tidak mungkin melepaskan dirinya. Dan pemandangan Embun yang duduk diatas kasur memakai piyama bergambar kartun sambil mengerjapkan matanya dengan lugu adalah pemandangan yang disukai Ezar dimulai dari detik ini.


Embun terlihat menarik nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Ya. Aku cemburu."


..._________________...


...To be continued...


...(Revisi : 20-11-2020 )...