
"Ezar bisa kau kecilkan sedikit volumenya? Aku tidak bisa tidur!" Omel Embun.
Embun terbangun karena terganggu dengan suara tv yang besar. Dilihatnya Ezar yang duduk membelakanginya. Ezar tidak merespon. Pria itu tetap asik menonton tv tanpa mempedulikan ucapan Embun atau mungkin tidak mendengarnya. Embun pun terpaksa bangkit dari ranjang dan berjalan menuju Ezar. Dilihatnya Ezar yang sedang sibuk menatap layar tv sambil bersandar pada punggung sofa. Embun berkacak pinggang lalu berdecak.
"Ezar!"
Barulah Ezar melirik Embun.
"Apa?"
"Kau tidak mendengarku?"
Ezar menggeleng.
"Maaf, aku terlalu fokus." Ujar Ezar.
"Kecilkan volume tv nya. Aku tidak bisa tidur."
"Kalau tidak bisa tidur ya tidak usah tidur." Ezar tersenyum kecil.
"Aku kan tidak bisa tidur karena kau membesarkan suara tv-nya."
Tiba-tiba Ezar menarik tangan Embun sampai gadis itu terduduk disampingnya. Embun menjadi gugup karena bersentuhan dengan kulit Ezar. Apalagi saat Ezar mengubah sedikit posisi duduknya agar bisa menghadap Embun. Sebelah tangannya ia jadikan penopang kepala. Embun semakin gugup karena mungkin Ezar memiliki pesona yang mampu membuat hatinya berdebar. Mata itu kini sedang menatap Embun.
"Ezar, ada apa?" Tanya Embun dengan suara bergetar.
Ezar tersenyum miring. Ia berhasil membuat Embun salah tingkah. Ezar benar-benar tidak bisa membiarkan gadis itu tidur malam ini.
Lalu Ezar meraih dua gelas berisi wine. Satu gelasnya ia berikan pada Embun.
"Minumlah. Pelayan hotel sudah menyiapkannya untuk kita." Ujar Ezar.
"Oh, benarkah? Kapan?"
Embun menerima wine itu. Sudah cukup lama tidak pergi ke club dan Embun sedikit merindukan minuman-minuman disana.
"Seharusnya ini menjadi malam pertama untuk kita." Ujar Ezar dengan suara rendah.
Embun menghela nafas.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan mungkin itulah yang kau inginkan sekarang tapi maaf, aku belum bisa dan lelah."
Embun meletakkan gelas miliknya di meja lalu bangkit. Dia berniat kembali tidur. Tubuhnya benar-benar lelah. Sekalian dia juga ingin menghindari sesuatu hal yang terjadi. Embun tahu betul kalau seorang pria memiliki sisi liarnya sendiri dan sekarang mungkin Ezar sedang menginginkannya. Bukanya tidak mau tapi Embun benar-benar lelah hari ini.
"Kalau begitu temani aku." Pinta Ezar.
"Apa?"
"Temani aku malam ini."
Ezar menatap Embun dengan sorot sendu. Embun pun kembali duduk disebelah Ezar. Mungkin Ezar belum mengantuk. Tapi apa pria itu tidak lelah ya setelah seharian menerima banyak tamu?
Keduanya menatap layar televisi yang menampilkan sebuah acara komedi. Namun entah seberapa lucunya para pelawak itu melucu, tidak membuat kedua pasangan pengantin baru itu tertawa. Baik Embun maupun Ezar hanya menatap kosong layar tv sementara pikiran mereka ada dimana-mana. Keduanya sama-sama merenungkan pernikahan yang sudah terjadi tentunya. Namun Embun lebih fokus ke rasa kantuknya. Berulang kali gadis itu menguap.
Ezar melirik istrinya. Embun masih melamun sambil menatap kosong layar tv. Mata Embun sangat bulat kalau sedang melamun. Belum lagi raut wajah datar itu. Entah kenapa Embun terlihat lucu dan polos jika sedang melamun seperti itu. Embun benar-benar memiliki paras yang cantik dan kulit putih bersih. Dari luar saja kulit Embun terlihat sangat mulus. Ezar mendadak jadi penasaran semulus apa bagian tubuh gadis itu yang tertutup oleh pakaian?
Sial. Pikirannya semakin liar. Tapi bukankah Ezar berhak menyentuhnya? Mereka sudah menikah secara sah jadi tidak apa-apa untuk melakukannya. Hanya saja Ezar belum ada kesempatan untuk menyentuh semua itu dengan benar. Lihatlah paha mulus itu, membuat Ezar ingin mengelus dan membelainya.
Ezar merasa suhu tubuhnya mulai panas. Ah, sial. Seharusnya Ezar tidak perlu memikirkan Embun sejauh itu. Tapi jika boleh .. adakah kesempatan bagi Ezar untuk bisa menikmati tubuh Embun malam ini?
Menikmati? Tidak ada salahnya kan. Ezar sudah resmi menjadi suami Embun berarti Ezar juga berhak atas tubuh istrinya.
"Embun." Panggil Ezar dengan suara serak.
"Hm?" Embun menoleh.
"Kau .. mengabaikanku."
Kening Embun berkerut.
"Maksudmu?"
"Sejak tadi kau hanya diam saja. Kau tidak benar-benar menemaniku jika begitu caranya." Ezar mendengus.
"Maaf Ezar. Aku tidak sadar jika aku melamun. Mau mengobrol?"
Ezar mengangguk.
Keduanya sama-sama terdiam memikirkan apa yang mau diperbincangkan. Embun pun berniat membuka obrolan terlebih dahulu. Sebenarnya sedari tadi ia bukan hanya melamun tapi juga mencari topik untuk diobrolkan.
"Aku tidak menyangka kita akan menikah seperti ini." Sahut Embun.
Ezar mengangguk setuju.
"Aku ingin bertanya padamu, Ezar."
"Tanyakan saja. Aku akan menjawab sebisaku."
"Kenapa kau .. tidak tertarik untuk menikah? Maksudku .. sebelumnya kau sangat tidak ingin menikah bukan?"
"Aku hanya belum siap. Jika soal tertarik atau tidaknya, tentu aku tertarik untuk menikah. Siapapun harus menikah untuk meneruskan keturunan bukan? Lagipula aku belum menemukan gadis yang cocok untuk kujadikan istri."
Ezar kembali meneguk wine nya. Embun memperhatikan Ezar yang meneguk sisa wine di gelas itu sampai habis.
"Kenapa? Bukankah banyak gadis cantik di lingkungan mu? Mereka semua sangat sempurna. Kau bisa memilih mereka dari sebagai profesi. Model misalnya atau penyanyi sekalipun kau bisa mendapatkannya." Ujar Embun.
"Memang benar. Tapi selama ini aku tidak pernah melihat perempuan dari sisi luarnya. Aku berusaha mencari kenyamanan dari mereka. Aku tidak tertarik pada gadis yang mengumbar tubuhnya kepada publik."
Seketika Embun merasa sedikit tersindir. Selama ini Embun hidup di club malam dengan gaun seksinya. Bukankah itu juga termasuk mengumbar tubuh pada publik?
Embun mendadak merasa pesimis menjadi istri Ezar. Namun semuanya sudah terlambat. Mereka sudah menikah resmi beberapa jam yang lalu. Mungkin Ezar pun terpaksa menikahinya karena sebuah tanggungjawab.
"Kau tahu? Walau aku belum siap menikah, tapi aku selalu berkeinginan untuk memiliki malam pertama yang indah dan sesuai ekspektasi ku." Ujar Ezar setengah berbisik.
Tangan pria itu pun mengelus pipi Embun dengan lembut sampai-sampai gadis itu merona dibuatnya. Embun menunduk malu.
"M-Maksudmu?" Tanya Embun.
"Selama ini aku ingin di malam pertama ku menjadi pengantin, istriku memakai gaun tidur yang aku pilihkan lalu kami memadu cinta bersama di atas ranjang yang dipenuh bunga mawar. Dan kami menghabiskan semalaman bersama tanpa lelah." Ezar kembali membelai wajah Embun dengan sangat lembut sambil menghela nafas berat.
Hati Embun berdebar hangat mendengar cerita Ezar barusan. Entah kenapa cerita itu terdengar seperti kode? Kode untuk Embun tentunya. Namun Embun bingung harus bagaimana. Baginya keinginan Ezar itu sangat murahan seperti kebanyakan di cerita novel romansa.
"Hei, kata-katamu seperti kisah di sebuah novel romansa. Itu terdengar sangat murahan. Kau pikir kau hidup di dunia novel?" Embun tertawa.
Ezar menatap Embun tajam. Merasa tak terima jika keinginannya selama ini malah mendapat penghinaan. Seharusnya Embun sadar dan koreksi dirinya sendiri sebagai seorang istri.
"Jika tahu akan begini, aku berharap tinggal di dunia novel saja." Sahut Ezar dengan dingin.
Embun berhenti tertawa lalu menatap Ezar.
"Lalu haruskah aku menuruti semua ekspetasi mu selama ini?"
"Ya. Kurasa begitu."
Tapi Embun juga ingat jasa Ezar yang sudah menyelamatkannya dari pria brengsek bernama Roy. Ezar sudah membantu membayarkan hutangnya hingga lunas lalu menyelamatkannya dari jebakan Roy. Haruskah Embun membayar jasa Ezar dengan memenuhi keinginan pria itu malam ini?
Ezar bahkan terlihat sengaja menceritakan semua itu sekarang.
"B-Bagaimana kalau sekarang kita saling menceritakan diri kita dan kehidupan masing-masing? Kita kan belum lama saling kenal lalu langsung menikah begitu saja. Mari kita saling mengenal satu sama lain." Tukas Embun dengan cepat.
Embun tahu kalau Ezar sedang menahan sesuatu dalam dirinya. Sebelum Ezar semakin menuntut Embun harus cepat mencari topik yang pas agar terhindar dari keinginan Ezar itu.
"Ck. Baiklah."
Ezar terlihat kesal. Embun jadi merasa tidak enak hati tapi mau bagaimana lagi, dia juga tidak ingin dipaksa.
"Hmm siapa yang mau bercerita lebih dulu?"
"Kau saja. Aku belum mau bercerita." Sahut Ezar.
"Tidak bisa. Kau duluan saja. Tidak ada cerita yang menarik tentang hidupku." Embun tersenyum kecil.
Ezar pun menghela nafas. Ezar juga bingung harus bercerita dari mana tentang hidupnya.
"Bertanyalah. Aku akan menjawab apapun yang kau tanyakan."
Embun mengangguk dengan semangat. Tentunya Embun sangat penasaran bagaimana kehidupan orang kaya seperti Ezar. Tapi dibandingkan itu, Embun lebih penasaran sebenarnya seperti apa diri Ezar itu.
"Orang seperti apa dirimu?" Tanya Embun.
Ezar menatap Embun.
"Kurasa pertanyaan itu tidak perlu kujawab karena nantinya kau bisa menilai sendiri seperti apa diriku."
"Kau benar. Tapi menurutku kau orang yang baik, Ezar." Embun tersenyum lebar.
"Sebenarnya aku tidak sebaik itu." Gumam Ezar.
Ezar terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali menatap Embun.
"Sekarang giliran ku." Ujarnya.
Embun mengangguk.
"Bagaimana bisa kau itu miskin?" Tanya Ezar.
"Hei! Apakah itu juga termasuk pertanyaan?"
"Ya. Jawab saja."
Embun mendengus. Mana ada pertanyaan seperti itu. Tapi tampaknya Ezar benar-benar serius dengan pertanyaannya.
"Aku tidak tahu. Sejak dulu keluargaku hidup sederhana sampai akhirnya kedua orang tuaku meninggal lalu aku benar-benar jatuh miskin dan hidup sebatang kara. Mungkin sudah takdirnya aku menjadi orang miskin." Jelas Embun.
"Padahal aku hanya bercanda." Sahut Ezar.
"Ck! Ternyata kau sangat menyebalkan."
"Lanjutkan. Sekarang giliran mu bertanya."
Lalu obrolan mereka pun semakin panjang dengan bercerita tentang kehidupan masing-masing. Dimulai dari cerita Embun yang pertama kali bertemu Roy disebuah club malam. Lalu Roy mulai bersikap baik dan selalu membelikannya minuman gratis setiap malam sampai akhirnya Embun malah terjerat hutang besar pada Roy. Semua itu berawal karena ruang lingkup pertemanan Embun yang lumayan bobrok. Rela berhutang demi gaya hidup.
"Tidak kusangka ternyata aku menikahi gadis bodoh." Ujar Ezar.
Embun mendengus.
"Lalu apa sekarang kau menyesal?"
"Tidak juga. Setidaknya aku yakin kau lebih baik daripada Bella."
"Siapa Bella?"
"Dia anak teman bisnis orang tuaku. Sejak dulu dia selalu menempel padaku. Tadinya aku hampir dijodohkan dengannya."
"Apa dia cantik?" Tanya Embun penasaran.
Ezar tampak berpikir sejenak.
"Dia lumayan cantik tapi aku tidak suka sifatnya yang manja dan suka mengatur. Dia juga suka hal-hal mewah. Aku tidak suka gadis yang sangat materialistis meskipun aku kaya." Jelas Ezar.
"Cih. Lalu bagaimana denganku? Aku tidak secantik Bella dan sangat materialistis." Gumam Embun.
Ya. Ezar tahu. Tapi entah kenapa pria itu merasa lebih bersyukur menikah dengan Embun dibandingkan menikah dengan Bella. Mungkin nanti ada waktu dimana Embun bertemu Bella dan bisa menilai langsung bagaimana Bella sebenarnya.
"Embun, kau pernah berciuman?" Tanya Ezar sambil menuangkan wine ke dalam gelasnya.
"Emm kalau hanya cium mungkin pernah. Aku belum pernah berciuman."
Ezar berdecak.
"Kau lupa? Kau pernah berciuman denganku."
"Itu hanya ciuman sepihak jadi tidak bisa dikatakan sebagai 'berciuman', Ezar."
Embun bersandar pada punggung sofa lalu mengadahkan kepalanya ke atas. Ezar terdiam setelah meneguk wine miliknya. Sudah Ezar duga jika Embun adalah gadis yang menjaga diri. Ezar sempat berpikiran kalau Embun itu gadis yang benar-benar liar yang sudah terjamah oleh banyak pria. Apalagi saat pertama kali mereka bertemu Ezar langsung mencap Embun sebagai gadis murahan. Ternyata Ezar sudah salah menilai. Embun belum pernah berciuman lalu otomatis pasti belum melakukan hal yang lebih jauh dari itu juga kan? Memang sih kalau dilihat dari luar Embun terlihat polos dan lugu.
Lagipula sebenarnya ciuman Embun malam itu tidak terasa apa-apa. Ciumannya sangat asal dan berantakan. Embun benar-benar tidak ahli. Perlukah Ezar mengajarkannya cara berciuman yang benar?
Ah, apa yang sebenarnya sedang Ezar harapkan sekarang.
"Sekarang giliran mu." Sahut Ezar.
Hening sesaat.
"Menurutmu.. aku cantik tidak?" Tanya Embun dengan suara pelan.
Lalu Ezar segera menoleh ke istrinya. Sedikit terkejut karena ternyata Embun sudah memejamkan matanya sambil mendengkur halus. Embun malah tertidur disaat Ezar ingin tahu lebih banyak tentangnya. Seharunya Ezar mengerti jika Embun kelelawar dan sudah mengantuk sejak awal.
Sebelum berniat memindahkan tubuh istrinya itu ke ranjang Ezar terdiam. Ezar mengamati wajah istrinya yang terlelap dengan seksama. Tangan kanannya tiba-tiba bergerak mengelus pipi Embun dengan sangat hati-hati. Lekukan wajah Embun terlihat sangat indah. Ezar tidak ingin munafik sebagai seorang pria yang bisa menikahi gadis seperti Embun.
"Ya, kau cantik."
Sayangnya jawaban itu tidak bisa didengar langsung oleh Embun. Dalam hitungan detik tubuh Embun yang terlelap sudah berada di gendongan Ezar untuk berpindah ke ranjang. Rasa kantuk perlahan juga mulai menghampiri Ezar. Acara pernikahan mereka hari ini memang benar-benar melelahkan.
Ezar pun meletakkan tubuh Embun di ranjang dengan sangat hati-hati lalu menyelimutinya. Tak lama Ezar segera menyusul untuk berbaring disebelahnya. Ezar merasa gugup. Ini pertama kalinya dia tidur bersama seorang gadis yang telah menjadi istrinya. Melihat perempuan terlelap di ranjang yang sama dengannya membuat Ezar tak bisa memahami apa yang ia rasakan sekarang.
Ezar kembali termenung. Entah Ezar harus merasa bahagia atau tidak atas pernikahannya. Mungkin dia harus bersikap baik pada Embun mulai sekarang. Bagaimanapun juga dia dan Embun akan menjalin rumah tangga dalam kurun waktu yang tidak bisa ditentukan. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan seketika Ezar merasa takut. Memilih untuk segera menyusul istrinya terlelap Ezar pun melepas kaos yang ia pakai. Mungkin nanti Ezar bisa merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukan hangatnya.
Ya, nanti. Suatu hari nanti Ezar ingin tidur sambil memeluk tubuh itu. Dan malam pertamanya terlewatkan begitu saja sekarang.
...__________________...
...To be continued...
...(Revisi : 31-10-2020)...