Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 45



"Entah kau sadar atau tidak, tapi wanita itu selalu menatapmu dengan penuh cinta."


Aldo sialan. Perkataan itu terus terngiang oleh Ezar. Omong kosong yang dikatakan Aldo ternyata memiliki dampak besar pada Ezar semenjak mendengarnya. Ezar merasa ada yang salah dengan kalimat itu. Dan ia merasa sangat terganggu. Ezar ingin memarahi Aldo detik ini juga karena omong kosong yang telah diucapkannya itu tapi Aldo sedang tidak ada. Sesuai perkataannya, Aldo terbang ke Indonesia untuk mengurusi pernikahannya.


Sebagai gantinya Aldo pun mengirim Sekar untuk menggantikannya sementara.


Dan juga Sarah.


Wanita itu tiba-tiba datang berbarengan dengan Sekar kemarin. Yahh, terserahlah. Ezar tidak ingin begitu memusingkan hal yang tidak jelas. Seperti istrinya mungkin.


Wzar terhenyak dari lamunannya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Sarah keluar dari sana memakai bathrobe putih milik kamar hotel. Ezar terdiam beberapa saat. Sarah masih tetap cantik meski usianya tidak semuda dulu lagi. Cinta pertamanya...


"Ekhem."


Sarah langsung melirik Ezar.


"Kenapa kau memakai kamar mandiku?" Tanya Ezar datar.


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Sahut Sarah.


Kemudian Sarah duduk di sofa. Mau tak mau Ezar juga ikut duduk di sofa yang berbeda.


Ezar melirik arlojinya.


"Waktuku tak banyak. Sebentar lagi aku harus menemui klien bersama Sekar."


"Kenapa kau tidak menghubungi istrimu?" Tanya Sarah tiba-tiba.


Kening Ezar berkerut.


"Kenapa kau bertanya?"


"Aku hanya penasaran."


Sarah menghela nafas.


"Jika kalian bercerai sungguhan, apakah kau benar-benar akan kembali padaku lagi?" Tanya Sarah dengan serius.


Kini giliran Ezar yang menghela nafas.


"Jika itu jalan terbaik ayo kita lakukan."


Sarah tersenyum kecut. Nada bicara Ezar terdengar seperti orang pasrah. Tidak bisa disebut ajakan dan tidak ada unsur membangun didalamnya. Pria itu sangat pasrah pada apa yang akan terjadi kedepannya. Ezar pasrah. Hei, Sarah sangat kenal dengan Ezar. Dan pria yang duduk tak jauh darinya ini seperti bukan Ezar, mantan kekasihnya yang dulu sangat ia cintai.


Ezar adalah pria tangguh yang mempertaruhkan segalanya demi sesuatu yang ingin ia lindungi. Tapi lihatlah sekarang. Pria itu malah berniat melepas istrinya begitu saja tanpa tahu kalau sebenarnya ada benihnya yang sedang tumbuh disana.


~~


"*Aku hamil. Aku hamil anaknya."


Pengakuan itu membuat Sarah terkejut. Sarah langsung terdiam. Tatapan matanya langsung turun menatap perut Embun yang masih rata tertutupi oleh kemeja kerja. Sarah tidak menyangka jika akan ada Ezar kecil secepat ini.


"Kau serius?" Tanya Sarah dengan pelan.


"Ya. Aku baru tahu kehamilanku sendiri saat Ezar pergi. Bahkan aku terus mengidam makanan yang tidak kusukai." Embun terkekeh pelan.


Sarah tersenyum kecil.


"Anak ini akan terlahir dengan sehat dan menjadi anak yang tangguh. Seperti ayahnya." Gumam Sarah.


Embun menatap Sarah dengan bingung.


"Kau serius dengan perkataanmu? Bukankah kau.."


Seolah mengerti apa yang Embun pikirkan, Sarah pun tersenyum. Sebuah senyuman hangat yang baru Embun lihat dari seorang Sarah. Ayolah, sejak pertama kali bertemu keduanya hanya saling melemparkan tatapan tajam dan saling menantang. Tapi semua itu tak sampai hati Sarah lakukan.


"Maaf harus memberitahumu seperti ini. Aku dan Ezar tidak serius. Kami hanya mantan kekasih dan tidak lebih dari itu."


"A-apa maksudmu?"


Tentu saja Embun sangat terkejut mendengarnya. Embun seperti mendengar omong kosong yang hanya bertujuan untuk membuatnya tenang.


Sarah pun menjelaskan kronologi kejadiannya dimulai dari Ezar yang kembali mencari dan menghubunginya. Lalu saat Ezar bercerita masalah rumah tangganya hingga berujung meminta bantuan Sarah.


"J-jadi maksudmu.."


"Ezar masih dan hanya mencintaimu. Dia hanya benci fakta bahwa istrinya masih mencintai masa lalunya. Jadi dia berusaha melakukan hal yang sama." Ujar Sarah.


Entah Sarah melakukan hal yang benar atau tidak, yang jelas Embun harus tahu bagaimana perasaan Ezar selama ini.


"Dia salah paham." Lirih Embun.


Sarah melihat Embun yang menitikkan air mata.


"Jadi karena itu dia kabur malam itu juga. Semua yang dia dengar adalah salah paham. Dia tidak mendengar secara keseluruhan terutama kalimat selanjutnya."


Tangis Embun semakin deras. Embun terlihat kesal, marah, gemas, dan menyesal. Setidaknya itulah yang bisa Sarah tangkap darinya.


"Aku masih menyayangi Rayhan tapi sebagai adik. Dan aku hanya mencintai Ezar." Ujar Embun.


Sarah berdecak.


Ezar benar-benar pria brengsek.


Tiba-tiba Embun memegang kedua tangan Sarah begitu erat.


"Bisakah kau katakan itu padanya? Kumohon. Dia salah paham. Bawalah dia pulang, Sarah. Aku benar-benar merindukannya*."


~~


"Kapan kau akan pulang?" Tanya Sarah memecah keheningan.


"Entah. Aku masih memantau pembangunan disini."


"Kau tidak merindukan istrimu?"


Tapi Ezar tidak berminat untuk menjawab. Sarah menghela nafas.


Wanita itu pun bangkit dan berniat pergi ke kamarnya sendiri. Baru beberapa langkah Ezar tiba-tiba menahan tangannya. Sarah menahan nafas saat Ezar memeluknya dari belakang. Merengkuh tubuhnya dengan hangat dan menyandarkan kepalanya di bahu Sarah. Pelukan yang sudah sangat lama tidak menyapa. Sarah hanya diam mematung saat Ezar mengeratkan pelukannya.


"Eza-"


"Tetaplah seperti ini. Aku lelah."


Sarah langsung bungkam. Membiarkan Ezar memeluknya sambil memejamkan matanya. Nafas Ezar terasa berat dan cukup menggelitik tapi Sarah berusaha menahannya. Sarah tersenyum kecil lalu menepuk-nepuk tangan Ezar.


Sarah tidak tahu bahwa sebenarnya Ezar sangat merindukan Embun setengah mati. Tapi pria itu berusaha menahannya. Namun Ezar lelah dan berat hati.


"Pulanglah jika kau lelah dan merindukannya." Suara lembut Sarah mengalun merdu di telinganya.


Ezar membuka matanya.


Haruskah ia pulang sebentar hanya untuk memastikan keadaan Embun?


~~


Setelah hampir dua Minggu meninggalkan rumah akhirnya Embun memutuskan untuk pulang ke rumah. Rumahnya dengan Ezar. Meskipun pada awalnya ia sempat ragu dan gemetar saat membuka pintu rumahnya. Tapi memang sudah seharusnya ia tidak membiarkan rumah ini kosong begitu saja. Embun juga merasa tidak enak jika terus-terusan bergantung pada Carrel meskipun Carrel adalah sahabatnya.


Suasana rumah yang begitu dingin dan hampa. Bi Lasri masih cuti karena harus merawat anaknya yang sakit di kampung halamannya. Dan Ezar masih berada di Singapura sepertinya. Ya, sepertinya. Embun sendiri tidak tahu kabar pria itu.


Embun langsung menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Tak lupa ia juga membereskan segala kekacauan yang tersisa semenjak ia meninggalkan rumah itu. Rumah besar itu benar-benar sepi dan hampa. Embun juga rindu bi Lasri. Mertuanya juga sudah pulang ke Inggris. Setelah membereskan semuanya Embun bersantai di ruang tv. Menyalakan tv agar tidak terlalu sepi.


TING TONG


Embun baru akan menyesap minuman hangatnya namun tertunda karena suara bel. Bergegas Embun membukakan pintu.


"Sia- astaga Aldo!" Pekik Embun senang.


Aldo tersenyum lebar.


"Hai, Embun. Ternyata benar dugaanku kau ada dirumah."


"Aku baru saja pulang. Ayo masuk."


Embun mengajak Aldo masuk.


"Mau minum apa?"


"Emm tidak perlu. Aku kesini hanya ingin memberikan sesuatu."


"Apa itu?"


Aldo pun mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya. Sebuah undangan. Aldo menyodorkan undangan itu pada Embun.


"Aku harap kau datang bersama Ezar."


Embun membaca nama yang tertera diundangan itu lamat-lamat. Kemudian Embun menatap Aldo dengan tatapan terkejut.


"Kau menikah?"


"Iya."


"Wah! Hebat! Aku pasti .. datang." Seketika Embun langsung lemas.


Ia ingin sekali datang tapi bagaimana ia datang ke pernikahan Aldo nanti? Ia ingin datang bersama Ezar. Seolah mengerti apa yang sedang Embun pikirkan, Aldo memegang tangan wanita itu.


Embun tersentak.


"Datanglah bersama Ezar."


"Tapi-"


"Dia pasti kembali."


"Sudah ada Sarah." Cicit Embun.


Aldo menghela nafas.


"Mereka tidak serius Embun. Percayalah. Dia hanya mengada-ada."


"Tidak apa-apa. Ini memang salahku. Sejak awal aku tidak pernah menganggap dan membalas perasaan Ezar. Aku pantas mendapatkan ini, Aldo."


Embun menatap Aldo dengan mata berkaca-kaca. Aldo jadi tak tega. Sampai kapanpun Aldo tidak pernah percaya jika Ezar bilang wanita ini tidak mencintainya. Lihatlah, Embun bahkan terlihat menyesal dan sedih ditinggalkan. Jika Embun memang masih mencintai Rayhan, seharusnya Embun sudah berbahagia dan tak mengungkit Ezar lagi.


Aldo ingin mengutuk Ezar. Aldo yakin jika bosnya itu tidak akan percaya jika wanita ini ingin menangis sekarang.


"Aku ingin memberitahumu sesuatu." Sahut Embun.


"Apa?"


"Aku sedang hamil."


Embun tersenyum tipis. Aldo tersentak. Sial. Aldo pun menyugar rambutnya ke belakang.


Ezar benar-benar keterlaluan. Dia pasti tidak tahu jika istrinya sedang hamil.


"Ummm begini. Besok aku akan kembali ke Singapura. Kau mau ikut denganku?" Tawar Aldo.


Embun tercengang mendengar ajakan itu. Seketika wajahnya berubah murung.


"Dia tidak ingin bertemu denganku Aldo. Lupakan saja. Terimakasih."


"Kau sendiri yang harus datang kesana untuk meyakinkan dia. Bertindaklah jika ini tidak adil bagimu. Kumohon. Aku juga tidak akan membiarkan kalian berpisah." Pinta Aldo dengan wajah memohon.


Embun terdiam.


"Percaya padaku, dia juga membutuhkanmu disana."