Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
14. Teman



Setelah pelajaran ciuman waktu itu Embun jadi merasa sangat malu untuk bertatapan mata dengan Ezar. Rasanya sangat canggung. Entah kenapa Embun tidak bisa melupakan ciuman Ezar. Seolah kejadian saat itu selalu terputar otomatis dalam benaknya. Dan saat membayangkannya Embun merasa merinding. Bahkan rasanya kalau bisa Embun ingin tidur berpisah ranjang dengan Ezar hanya karena malu. 


Ayolah, beberapa hari ini Embun tidak bisa berpikir jernih. Rasanya sangat kesal hingga ingin selalu marah. 


"Embun." Panggil Ezar.


Embun mengerjap. Ia menatap sosok pria yang duduk berseberangan dengannya. Ada secangkir kopi di tangan kanan pria itu. Kopi buatannya.


"Kenapa?" 


"Akhir-akhir ini kau banyak melamun dan sering menggerutu sendiri. Ada masalah?"


"M-Menggerutu bagaimana?"


Ezar tampak berpikir sambil memainkan janggut-janggut tipisnya.


"Beberapa kali aku mengamatimu yang terkadang suka menggerutu sendiri saat membuatkan sarapan termasuk hari ini."


Sial. Ternyata Ezar menyadarinya. Embun bahkan tidak tahu kalau dirinya suka menggerutu. Dia hanya kesal karena merasa pikirannya kotor. 


"Jika kau lelah membuat sarapan tinggal serahkan saja pada bi Lasri. Tidak perlu memaksakan dirimu."


"B-Bukan begitu! Aku hanya.. ah! tidak perlu membahasnya!" Pekik Embun histeris.


Setelah memekik seperti itu nafas Embun jadi tersengal-sengal membuat Ezar semakin kebingungan melihat tingkah istrinya. Merasa diperhatikan Embun pun merasa malu.


"K-Kalau sudah selesai silahkan berangkat sebelum terlambat."


"Semenjak ciuman itu kau bertingkah aneh." Gumam Ezar.


Embun melotot. Wajahnya semakin memerah padam. Meski Ezar hanya bergumam pelan tapi Embun dapat mendengarnya. Ezar bangkit dari kursinya karena telah selesai dengan sarapannya. 


"Hari ini aku akan mengantarmu ke cafe." Ujarnya.


Embun mendongak. Tidak biasanya Ezar berniat mengantarnya ke cafe. Biasanya Embun berangkat sendiri naik angkutan umum. Sejak awal menikah Ezar mana pernah menawarinya tumpangan. Yah, walau karena memang Ezar selalu berangkat lebih dulu daripada Embun sih. Tapi setidaknya kalau Ezar benar-benar niat seharusnya pria itu memberikan Embun fasilitas sendiri. Ah, ingat Embun, jangan mengharapkan apapun pada suamimu.


"Tidak usah. Lagian arah tempat kita bekerja itu berlawanan. Aku akan naik angkutan umum saja." Tolak Embun.


"Benar tidak apa-apa? Aku mengantarmu karena aku ada urusan di daerah dekat sana. Kalau mau aku bisa sekalian mengantarmu kesana." 


Embun langsung berwajah masam. Rupanya karena alasan itu Ezar berniat mengantarnya. Embun kira Ezar memang sengaja ingin mengantarnya. Benar-benar tidak ada yang bisa diharapkan dari seorang Ezar. Embun pun mendengus.


"Baiklah. Tunggu aku."


...__ooOoo__...


Sepertinya hari ini Embun datang lebih pagi dari biasanya. Bahkan sepertinya Carrel sang pemilik Cafenya saja belum datang. Yah, memang Embun datang terlalu pagi. Terpaksa karena berangkat bersama suaminya. Begitu masuk ke dalam Cafe Embun melihat Arsen si anak baru sedang mengelap gelas-gelas bersih. Arsen langsung menoleh saat Embun masuk.


"selamat pagi Arsen. Kau datang sendirian?" Sapa Embun.


Arsen mengangguk. Lalu Embun meletakkan tasnya di loker.


"Apa setiap hari kau selalu datang pagi?"


Dan lagi-lagi Arsen hanya mengangguk. Arsen benar-benar orang yang pendiam namun dingin. Embun memakai apron milik Cafe mereka lalu segera melaksanakan pekerjannya. 


"Tumben sekali." Sahut Arsen dengan cepat.


Embun langsung menoleh.


"Apanya?"


"Datang pagi." Lanjut Arsen.


Lihat kan begitu singkat dan cepat. Tapi Embun sudah mulai terbiasa.


"Ya karena diantar oleh suamiku."


Arsen hanya mengangguk kemudian melanjutkan pekerjaannya. Embun yang sedang menyiapkan bahan-bahan untuk di dapur itu kembali melirik Arsen. Tiba-tiba dia jadi merasa tertarik untuk mengobrol. Sejak Arsen mulai bergabung bekerja disini Embun tidak tahu apapun soalnya kecuali nama dan usia yang ternyata seumuran dengan Embun.


"Ngomong-ngomong dimana rumahmu?"


Arsen menatap Embun lalu menatapnya dengan datar.


"Tidak begitu jauh."


Embun menghela nafas ketika tahu hanya itu jawabannya yang ia dapat. Mengobrol dengan Arsen memanglah tak mudah. Terkadang Embun heran bagaimana bisa ada orang seperti Arsen yang bicaranya sangat singkat. Tapi terkadang Embun malah merasa tertarik pada orang yang datar dan pendiam seperti Arsen. Karena Arsen tidak banyak bicaranya jadinya mengundang rasa penasaran Embun. 


Embun memutuskan untuk pergi ke dapur. Ia harus segera mempersiapkan bahan-bahan untuk hari ini. Namun Embun sedikit kesulitan karena harus mengambil coklat bubuk di rak paling atas. Biasanya itu adalah tugas Tio untuk mengambil barang-barang yang letaknya tinggi. Tapi sekarang Embun hanya sedang berdua bersama Arsen. Mungkin ia harus meminta bantuan pada Arsen.


Embun pun berbalik badan berniat memanggil Arsen. Namun tiba-tiba begitu balik badan Arsen sudah ada dihadapannya. Embun sampai menubruk dada cowok itu. Tanpa bicara dan tanpa menatap Embun, Arsen langsung mengambilkan bubuk coklat yang ada di bagian atas lemari. Dengan raut wajah datarnya itu Arsen memberikan bubuk coklatnya pada Embun. 


"Terimakasih Arsen." Sahut Embun dengan gugup.


Lalu Arsen kembali ke posisi semula dan kembali membereskan gelas-gelas. Embun menghela nafas. Pertama kali dalam seumur hidupnya melihat lelaki yang sangat kalem dan dingin seperti Arsen. Kalau boleh jujur Embun terpesona. Jantungnya sampai berdebar hanya karena berdekatan dengan Arsen barusan sementara Embun tidak tahu apa yang sedang dirasakan atau dipikirkan oleh pria itu sendiri.


"Arsen." Panggil Embun.


Arsen tidak balas menyahut, hanya menoleh.


"Kalau butuh bantuan apapun kau bisa bertanya atau meminta bantuan padaku. Aku dengar kau pindahan dari luar kota jadi pasti tinggal di kota ini tidak mudah untukmu." Embun tersenyum.


Arsen mengerjap.


"Apa bisa seperti itu?" 


"Tentu saja. Kita kan teman, Arsen." Pekik Embun bersemangat. 


Arsen langsung tertegun. Diam-diam ada perasaan haru yang Arsen rasakan. Sudah lama sekali Arsen tidak merasakan perasaan ini. Perasaan saat ada seseorang yang mengajaknya berteman. Dan sudah lama sekali Arsen tidak merasakan yang namanya berteman dengan seseorang. Arsen menatap Embun dengan sendu. Gadis yang sudah bersuami itu mau menjadi temannya. 


Embun merasa bingung karena Arsen terus menatapnya tanpa berkedip.


"Arsen." Panggil Embun dengan ragu.


"Apa tidak apa-apa jika kau berteman denganku?"


"Memangnya kenapa? Kita semua disini adalah teman bukan hanya sebagai rekan kerja. Ada masalah?"


Arsen menggeleng dengan cepat. Embun tersenyum.


"Kalau begitu aku akan ke dapur untuk mulai memasak." 


Embun pun langsung pergi ke dapur sesuai perkataannya. Diam-diam Arsen memperhatikan gadis itu. Tanpa sadar tangan Arsen meraba dada kirinya. 


Ternyata Embun benar-benar sangat cantik. Sesuai dugaannya.


...__ooOoo__...


Embun berjalan dengan lesu menuju rumahnya yang hanya tinggal beberapa meter lagi. Bahkan rumahnya juga sudah terlihat dari sini. Seteleh naik angkutan umum Embun masih harus berjalan kaki lagi untuk sampai ke rumahnya. Perjalanannya lebih melelahkan dibandingnya pulang ke rumah kecilnya yang dulu. Jarak Cafe dengan rumah lamanya pun lebih dekat dibandingnya jarak Cafe dengan rumah Ezar. Haruskah Embun meminta kendaraan pribadi pada Ezar? 


Tinggal beberapa langkah lagi Embun sampai di rumahnya. Namun langkah Embun terhenti ketika melihat Ezar berada di halaman rumahnya bersama seorang wanita. Mereka tampak mengobrol sebentar sebelum akhirnya Ezar mengantarkan wanita itu masuk ke dalam mobil taksi yang sudah dipesan. Ezar sampai membuka dan menutup pintu mobil taksi untuk wanita itu. Embun mendengus. Padahal Ezar sendiri tidak pernah membukakan pintu untuk Embun. Sepertinya wanita itu orang yang spesial atau mungkin kekasih Ezar.


Tapi Ezar bilang dia tidak punya kekasih dan tidak tertarik menjalin hubungan dengan wanita. Mungkin wanita itu teman kerjanya? 


Tatapan mata Ezar kini tertuju padanya. Wajah yang semula tersenyum kecil itu langsung berubah kembali menjadi tanpa ekspresi. 


"Kenapa berdiam diri disitu?"


Embun pun melangkah memasuki halaman rumah besar itu.


"Kau baru pulang?" Tanya Embun.


"Ya. Kau juga."


"Setiap hari aku memang selalu pulang jam segini. Tumben kau pulang telat Ezar."


"Ya, ada sedikit urusan. Ayo masuk."


Pasangan suami istri itu berjalan masuk ke dalam rumah mereka secara bersamaan. Sampai di kamar Embun gelisah sendiri. Embun sangat penasaran ingin bertanya tapi takut Ezar tidak akan menjawabnya. Embun rasa itu bukan wewenangnya untuk mengetahui segala urusan Ezar tapi tetap saja penasaran. Embun hanya ingin tahu siapa wanita itu. 


Ezar langsung membuka jas dan kancing kemejanya. Diliriknya Embun yang melemparkan tas ke sofa sambil mendengus. Ezar baru ingat kalau tadi istrinya itu pulang berjalan kaki. Otomatis setiap berangkat pagi pun gadis itu harus berjalan kaki sampai ke jalan besar untuk naik angkutan umum. Kasihan sekali istrinya itu. 


"Kenapa tidak pulang naik taksi?" Tanya Ezar sambil berjalan mendekati istrinya yang terduduk di depan meja rias.


"Aku lebih suka berjalan kaki. Lagipula naik taksi itu boros."


"Tidak lelah?"


Embun mendengus dan menatap Ezar dengan sinis.


"Tentu saja lelah!" ketusnya.


Ezar menghela nafas. Lalu ia menyodorkan sesuatu pada istrinya. Sebuah buku rekening dan kartu ATM. 


"Itu rekening milikmu. Setiap bulan aku akan mengirimkan 'uang jajan' tapi tidak boleh boros. Aku tidak suka istri yang boros hanya karena suaminya kaya."


Embun menatap buku rekening miliknya. Begitu membaca nominal yang tertera di buku tabungan itu Embun mengerjap. Ia pun memastikan angka nol yang tertera. Setiap bulan dia akan menerima uang sebanyak ini? Jumlahnya hampir sama dengan hutangnya pada Roy waktu itu.


"Dengan begini kau bisa pulang naik taksi." Ujar Ezar. 


Embun merasa terharu sampai matanya berkaca-kaca. Mungkin ini berlebihan tapi Embun tidak pernah mendapatkan uang sebanyak itu dari seseorang sebelumnya. Embun bergerak mengejar Ezar yang hendak masuk ke dalam kamar mandi lalu memeluknya dari belakang. Ezar langsung terdiam saat sebuah tangan melingkari pinggangnya.


"Embun?"


"Terimakasih banyak Ezar. Aku merasa beruntung karena menikah denganmu!" Pekik Embun penuh haru.


Embun mengeratkan pelukannya tanpa sadar sambil terus memekik kegirangan. Embun sampai tidak sadar kalau tubuh Ezar menegang karena dipeluk olehnya. Ezar menghela nafas lalu memegang tangan Embun yang berada di perutnya.


"Embun." Panggilnya pelan.


Mendengar namanya dipanggil sontak Embun langsung melepaskan pelukannya sambil terkejut. Hanya karena senang Embun reflek mengejar dan memeluk Ezar. Pasti ia telah membuat Ezar tidak nyaman. Pria itu pun berbalik badan. Melihat wajah Ezar yang dingin seperti itu membuat Embun meringis. Sementara Ezar kebingungan. Hanya karena diberi uang jajan olehnya yang jumlahnya sedikit menurutnya itu Embun terlihat sangat senang sampai memeluknya.


"Sesederhana itu kah dirimu?" Tanya Ezar.


Embun menunduk.


Seketika ada rasa sesal karena tidak mampu menahan rasa bahagianya karena uang dihadapan Ezar. Suaminya itu kan tidak suka wanita yang materialistis. Embun merasa sangat malu karena terlihat seperti wanita murahan yang selalu mengandalkan kebahagiaan pada uang. Tapi sebenarnya memang seperti itulah dirinya.


"Maaf Ezar. Aku terbiasa hidup miskin jadi aku terkejut dan tidak sengaja memelukmu karena senang."


Alis Ezar terangkat sebelah. Ezar bingung kenapa Embun harus meminta maaf. Bukankah mereka berdua ini suami istri? Tapi walau memang Ezar merasa jadi agak canggung karena pelukan barusan..


"Apa sesederhana itu dirimu? Uang dapat membuatmu senang?" Tanya Ezar.


Embun mengangguk pelan.


"Kalau begitu kau akan memelukku seperti tadi jika aku memberimu uang?"


"A-Apa?"


Lalu Ezar pun tersenyum miring. Ezar sedikit membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya. Sontak Embun langsung mundur selangkah. Ezar menatapnya sambil tersenyum miring dengan wajah mereka yang sejajar.


"Kau harus memelukku seperti tadi setiap bulannya."


...__ooOoo__...


Embun menatap langit-langit kamarnya. Ini sudah hampir tengah malam namun ia tidak bisa tidur. Selain karena suara ketikan Ezar disebelahnya, ada sesuatu yang Embun pikirkan. Soal wanita yang bersama Ezar tadi. Sepertinya Ezar tak berniat memberitahunya sedikitpun meski pria itu tahu Embun melihatnya. Rasanya Embun ingin tahu segala sesuatu tentang Ezar tapi itu tidak mungkin. Dan entah kenapa Embun terus kepikiran.


Kepalanya menoleh ke sisi ranjang sebelahnya. Ezar masih berkutat dengan laptopnya. Ah, rupanya Embun menikah dengan pria yang gila kerja. Padahal kalau dipikir-pikir oleh Embun sendiri, Ezar tidak akan jatuh miskin meski meninggalkan pekerjaannya selama satu hari.


"Ezar aku boleh bertanya sesuatu?"


"Katakan saja." Jawab Ezar tanpa melepaskan tatapannya pada laptop.


"Perempuan yang tadi pulang bersamamu itu siapa? Kekasihmu ya?"


Tangan Ezar langsung berhenti mengetik.


"Kenapa bisa menyimpulkan seperti itu?"


"Habis aku lihat kau terlihat senang saat mengobrol dengan perempuan itu."


"Dia sekretaris ku. Aku terlihat senang karena berhasil mendapat investor baru untuk proyek yang sedang aku kerjakan. Tadi kami pulang bersama karena mengurus hal itu."


"Ohh, begitu."


"Hmmm. Tidurlah. Besok aku tidak akan mengantarmu lagi."


Embun terdiam. Matanya mulai mengerjap pelan memperhatikan suaminya yang sedang sibuk sendiri disebelahnya. 


"Menurutmu apa suatu saat nanti kita bisa saling mencintai?" Embun kembali bertanya dengan pelan.


Ezar terdiam. Pria itu diam sambil menatap layar laptop dengan tatapan kosong. Ezar tidak tahu apa yang membuat Embun bertanya hal itu. Mungkin Embun cemburu pada sekretarisnya tadi? Entahlah. Ezar pun memutuskan untuk menyudahi pekerjaannya. Ia menutup laptop lalu meletakkannya ke nakas samping ranjang. 


"Bagaimana jika tidak?" Ezar bertanya balik sambil berbaring berhadapan dengan Embun.


"Jika tidak apa kita akan bercerai?" Dan Embun kembali menimpalinya dengan pertanyaan.


Ezar diam namun raut wajahnya seolah tak setuju dengan pertanyaan Embun. Keduanya bebaring menyamping dan saling berhadapan, saling menandangi wajah masing-masing sambil diam-diam mengagumi dalam hati. Rasa kantuk mulai menghampiri Embun. Matanya mulai sayu. Ezar menikmati pemandangan didepannya.


"Jika pada akhirnya kita tidak saling mencintai aku harap kita tetap bisa berteman. Aku ingin punya teman sebaik dirimu Ezar." Gumam Embun.


Kemudian gadis itu langsung menutup matanya karena tidak kuat lagi menahan kantuk yang tiba-tiba muncul setelah bertatapan dengan suaminya. Ezar tersenyum kecil melihat istrinya yang mulai mendengkur halus. Tak sampai lima menit Embun langsung terlelap. Ezar tahu kalau Embun pasti kelelahan. 


Mendadak Ezar memikirkan perkataan Embun barusan. Ezar menghela nafas berat. Belum ada niat untuk mencintai Embun saat ini dan Ezar tidak tahu apakah dia bisa membuka hatinya pada Embun atau tidak tapi Ezar sama sekali tidak berpikir untuk bercerai. Sejak Ezar memutuskan untuk meniadakan kontrak dalam pernikahan pun itu karena Ezar tidak mau bercerai. Ezar ingin pernikahannya hanya sekali dalam hidupnya meskipun bersama gadis yang tidak dicintainya sama sekali. 


Jika itu permintaan Embun maka Ezar juga ingin terus berteman dengan gadis cantik ini. Ezar juga tidak ingin perceraian. Tapi.. apakah Ezar benar-benar bisa mencintai Embun suatu saat nanti?


...______________________...


...To be continued...


...(Revisi : 31-10-2020)...