
Pegangan tangan itu tak terlepas semenjak keduanya turun dari mobil dan memutuskan masuk ke taman hiburan itu. Embun terus menarik tangan Ezar sampai mereka masuk ke dalamnya. Sesekali Embun tertawa kecil melihat wajah masam Ezar. Pasti pria itu kesal karena waktunya telah diganggu. Tapi Embun selalu ingin pergi ke taman hiburan dengan seseorang yang ia anggap cukup dekat. Terlebih Ezar adalah suaminya sendiri.
Mata Embun berbinar melihat keramaian yang ada di tempat itu. Ia semakin bersemangat dan tidak sabar untuk menaiki wahananya satu persatu.
"Ezar aku ingin naik itu!" Tunjuk Embun pada sebuah wahana rollercoaster.
Ezar menatap rollercoaster itu dalam diam. Bukanya takut tapi Ezar malas untuk membuang waktunya hanya untuk menaiki wahana seperti itu. Ezar pun menghela nafas.
"Hanya membuang-buang waktu." Ujar Ezar.
Embun terkekeh.
"Sesekali kau harus menikmati waktumu seperti ini. Keseharianmu kan hanya bekerja jadi kau butuh pengalaman baru dihari-harimu itu, Ezar."
"Tapi aku bekerja juga untuk mendirikan taman bermain sendiri."
"Kalau begitu cobalah menikmatinya."
Embun kembali menarik tangan Ezar dan mengajaknya untuk menaiki wahana satu persatu. Ezar hanya bisa menurut walau sesekali mendengus sebal. Tapi Embun terlihat tidak peduli meskipun Ezar sudah terang-terangan menunjukkan keterpaksaannya. Ya, Embun tidak peduli karena hari ini ia hanya ingin bersenang-senang dengan suaminya.
Setidaknya sebelum suatu masalah datang menghampiri mereka.
...__ooOoo__...
Arsen bersandar pada dinding. Di tangannya ada cangkir kopi kosong yang baru saja dikeringkan. Tatapan matanya sendu dan Arsen terlihat tidak bersemangat. Jangan tanya kenapa karena mulai hari ini dan seterusnya ia tidak akan bisa melihat Embun bekerja lagi. Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Dirasa baru kemarin Arsen berkenalan dan merasa tertarik dengan Embun. Bahkan belum banyak kenangan yang mereka buat bersama selama bekerja tapi Embun sudah harus berhenti.
Carrel datang dari luar. Arsen tahu apa yang Carrel lakukan di luar sana. Carrel baru selesai menempelkan kertas pencarian pekerja baru pengganti Embun. Arsen merasa tak rela tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Selain itu Embun pun sudah bersuami. Arsen semakin kehilangan arah untuk bertindak sesuatu.
"Arsen tolong buatkan aku kopi." Sahut Carrel.
Arsen tak menjawab tapi tetap bergerak membuatkan kopi untuk Carrel.
Diam-diam Carrel memperhatikan gerak-gerik Arsen. Mata Carrel memicing saat Arsen meletakkan kopi pesanannya diatas meja.
"Kau pasti sedih karena Embun sudah tidak bekerja disini." Sahut Carrel.
Arsen menatap Carrel.
"Kenapa?"
"Kau kan menyukai Embun." Carrel menahan untuk tidak tersenyum.
Sebelah alis Arsen pun terangkat sebelah dan menatap Carrel dengan bingung.
"Maksudmu?"
"Sudahlah tidak perlu pura-pura. Aku sudah tahu semuanya. Hanya dalam sekali lihat saja aku tahu kalau kau suka pada temanku." Ujar Carrel dengan bangga.
Arsen menunduk sambil mengusap tengkuknya.
"Emm sebenarnya kau tipe pria yang Embun sukai. Hanya sayang sekali Embun sudah menikah dengan pria kaya dan dia bukan orang yang mudah berpaling."
"Ya aku tahu." Arsen menghela nafas.
"Tapi kau teman yang baik untuknya. Meskipun mereka menikah karena keadaan tapi aku yakin Ezar bisa memberikan kebahagiaan untuk temanku." Ujar Carrel sambil memandang ke depan.
Arsen pun hanya diam mendengarkan sambil mencerna perkataan yang ia dengar. Carrel menghela nafas.
"Mungkin aku juga harus segera menikah. Tapi sejujurnya aku sudah tidak begitu mencintai kekasihku." Carrel menatap Arsen dengan penuh makna.
Seolah tahu maksud dari tatapan itu Arsen pun terkejut.
"M-Maksudmu Carrel?"
"Kurasa aku benar-benar menyukai Aldo."
...__ooOoo__...
Dengan terburu-buru Aldo berlari keluar rumah dan menuju mobilnya yang terparkir di depan. Karena ini hari Minggu jadinya Aldo keluar rumah dengan berpakaian santai. Sesekali Aldo mengulum senyum tipis karena hari ini ia akan kencan berdua dengan kekasihnya, atau mungkin calon istrinya. Aldo harus segera melamar kekasihnya secepatnya mungkin namun ia masih menunggu waktu yang tepat. Kalau kalian mau tahu Aldo sudah menjalin hubungan selama lima tahun dengan kekasihnya itu. Karena itu Aldo merasa harus segera menikah sebelum terlambat.
Aldo membuka pintu mobil dengan semangat namun ada sebuah mobil lain berhenti di sisi jalan. Niat Aldo untuk masuk ke mobil pun urung. Seseorang keluar dari mobil berwarna merah itu. Aldo langsung menghela nafas kasar. Hingga orang itu berjalan menghampirinya dan Aldo hanya bisa memasang wajah datar.
"Ada apa Rian?" Tanya Aldo dengan dingin.
Rian tersenyum.
"Hai, apa kabar? Terakhir aku melihatmu di pesta pernikahan bosmu itu."
"Ya. Lalu mau apa kau kemari?"
"Ah, tidak. Aku hanya sedang lewat dan kebetulan melihatmu jadi aku berhenti sebentar. Ngomong-ngomong istri Ezar itu cantik ya." Rian tersenyum miring.
Aldo mendengus. Sepertinya Rian mulai memancing keributan. Tapi untungnya Aldo masih bisa menahan diri.
"Ya, Embun memang cantik." Sahut Aldo.
"Dia juga menarik dan aku tertarik. Sayang sekali aku bertemu dengannya disaat dia sudah menikah dengan Ezar."
"Bilang saja kalau kau memang berniat merebutnya dari Ezar." Desis Aldo.
Rian menjentikkan jarinya.
"Itu ide bagus. Caranya sama seperti dulu ya."
Aldo mendengus.
"Maaf tapi aku harus segera pergi. Sampai nanti Rian."
"Aldo tunggu."
Rian mencegah Aldo yang hendak masuk ke dalam mobilnya. Dengan malas Aldo pun kembali menoleh. Kali ini tatapan Rian lebih serius dan tajam.
...__ooOoo__...
Ezar merasa pandangannya kabur dan kepalanya terasa berat. Belum lagi dtambah rasa mual yang luar biasa padahal sudah dua kali Ezar berusaha memuntahkan rasa mualnya. Benar-benar diluar dugaan, Ezar tiba-tiba jadi terpuruk seperti ini. Dan wanita disampingnya itu sedari tadi malah terus tertawa terbahak-bahak melihatnya tersiksa. Ezar Kembali meminum air mineral yang Embun beli tadi. Tangannnya bahkan bergetar Ketika mengangkat botol itu. Kaki Ezar semakin lemas. Untung saja ada bangku yang kosong untuk diduduki.
Embun membantu memijat leher belakang Ezar ketika suaminya itu terlihat ingin muntah lagi. Tetapi kali ini Ezar tidak muntah melainkan hanya masih merasa mual saja. Terkadang Embun merasa kasihan melihat Ezar yang tersiksa setelah menaiki wahana rollercoaster tadi. Embun tidak tahu kalau ternyata Ezar penakut. Tapi melihat orang yang biasanya terlihat angkuh dan gagah terlihat lemah seperti sekarang ini Embun malah lucu dan tidak bisa berhenti tertawa. Ternyata Embun menemukan satu kelemahan Ezar. Apalagi kalau mengingat wajah ketakutan Ezar selama menaiki rollercoaster tadi sungguh sangat lucu.
"Hahh.. menyebalkan sekali. Kakiku jadi lemas." Ezar menggerutu.
Embun mencolek bahu suaminya itu sambil tersenyum geli. Ezar mendengus.
"Semua ini gara-gara ajakanmu."
"Ternyata kau takut ketinggian ya." Ujar Embun dengan nada menggoda lucu.
"Bukan karena aku takut ketinggian tapi wahana itu benar-benar cepat. Mataku jadi pusing."
Embun kembali tersenyum. Mereka berdua baru saja mencoba dua wahana – rumah hantu dan rollercoaster – dan Embun masih ingin mencoba wahana lainnya yang lebih ekstrim. Tapi melihat kondisi Ezar membuatnya kurang yakin. Jika Embun naik wahana sendirian itu tidak akan seru. Ngomong-ngomong soal masuk ke rumah hantu tadi Embun yang lebih ketakutan dibandingkan Ezar. Bahkan Ezar terlihat biasa saja saat melewati setiap hantunya.
"Ezar kau masih lemas ya?" Tanya Embun.
Ezar mengangguk lemah. Wajahnya sudah pucat. Embun Kembali tertawa.
"Rasanya sangat bangga bisa menemukan kelemahan mu, Ezar."
Ezar hanya mendengus sebal. Kemudian tatapan Embun tertuju pada bianglala besar yang sangat simbolis di taman hiburan itu.
"Ayo kita naik itu saja selagi memulihkan rasa mabukmu. Kau tidak takut ketinggian kan?" Pekik Embun seraya menunjuk bianglala besar itu.
"Tidak. Tapi itu besar dan tinggi sekali." Gumam Ezar sambil menatap bianglala itu dengan ragu.
"Tidak apa-apa. Wahana yang itu tidak berjalan cepat. Kita bisa menikmati pemandangan diatasnya. Ayo."
Embun membantu menuntun Ezar menuju wahana bianglala. Setelah mengantri cukup panjang akhirnya mereka bisa naik dengan perlahan menuju atas. Hanya ada mereka berdua didalam tempat berbentuk sangkar itu. Ezar menghela nafas sambil terus merileksasikan tubuhnya.
"Apa kau masih merasa mual?"
"Sekarang sudah lebih baik."
"Baguslah."
Embun tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu Ezar. Matanya sibuk memandang pemandangan yang tersajikan dari atas sana. Embun juga ingin beristirahat sebentar. Berada di ketinggian seperti ini dan hanya berdua dengan suaminya saja membuat Embun merasa tenang dan nyaman. Embun benar-benar menikmati waktu berduaan dengan Ezar.
Sementara Ezar pun terdiam ikut merasakan ketenangan yang tercipta. Ezar mengecup pucuk kepala Embun. Sesaat keduanya fokus menikmati pemandangan dari atas sana.
"Hei." Panggil Ezar pelan.
"Hm?" Embun sedikit mendongak.
"Apa kau menyukainya?"
"Apa?"
"Waktu kita hari ini."
Embun terkekeh pelan.
"Ini pertama kalinya kita menghabiskan waktu Bersama meskipun hari belum usai. Kita bahkan baru saja memulainya tapi rasanya menyenangkan bisa berjalan-jalan dan bermain bersamamu, Ezar."
"Ya, Ternyata tidak buruk juga." Diam-diam Ezar tersenyum.
"Ezar aku ingin bertanya satu hal."
"Tanyakan saja."
Embun mengubah posisinya menjadi duduk tegak. Ia pun menatap Ezar.
"Apa kau senang menikah denganku?"
Suasana langsung hening. Ezar malah terdiam karena bingung.
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Ezar bertanya balik.
"Tidak apa-apa aku hanya penasaran. Walau aku tahu kau terpaksa menikahi ku dan kita ini tidak saling mencintai atau mungkin belum. Tapi jujur aku sangat senang dan bersyukur bisa bertemu hingga menikah denganmu." Jelas Embun.
Ezar tertegun mendengarnya.
"Bagaimana jika nyatanya aku ini bukan orang baik?" Tanya Ezar.
"Kalau kau orang jahat maka aku akan merampas seluruh uangmu lalu kabur."
Embun dan Ezar pun tertawa. Ezar merangkul istrinya dengan mesra sambil tersenyum. Keduanya benar-benar menikmati waktu Bersama dengan baik. Sesaat Ezar bisa melupakan tentang pekerjaannya. Hanya ketika sedang Bersama Embun ia bisa menikmati waktu dengan sebaik-baiknya.
Ezar Kembali mencium kepala Embun dengan lembut.
"Kurasa aku cukup senang menikah dengan gadis sepertimu." Sahut Ezar.
Embun langsung menatap Ezar. Hatinya bergejolak dan terasa hangat. Embun merasa lega mendengarnya. Lantas gadis itu pun tersenyum dengan hangat.
"Setelah ini ayo kita naik wahana ekstrim lainnya."
"Tidak mau."
..._________________...
...To be continued...
...(Revisi : 26-11-2020 )...