Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
20. Getaran



"Terimakasih."


Aldo tersenyum senang ketika makanan yang ia pesan sudah ada didepan mata. Carrel yang mengantarnya. Carrel ikut tersenyum senang lalu hendak kembali ke tempatnya.


"Ngomong-ngomong apa aku boleh tahu nama mu? Malam itu aku tidak sempat berkenalan dengan kalian. Kau pemilik cafe ini kan?" Sahut Aldo.


Carrel pun kembali berbalik badan.


"Ya? Ah, iya. Namaku Carrel."


"Carrel sebenarnya alasan aku adalah karena ingin meminta izin untuk Embun. Hari ini dia harus pulang sore karena akan pergi bersama suaminya ke suatu acara. Bisakah?" Tanya Aldo tanpa basa-basi.


Sebenarnya bukan termasuk urusan Aldo untuk menangani hal ini tapi karena tahu Ezar itu orangnya seperti apa jadi Aldo sengaja datang kemari. Meski katanya Carrel dan Embun bersahabat tapi tetap saja perlu izin sebagai formalitas kan. Dan sepertinya Aldo juga harus banyak-banyak mengajari Ezar untuk bergaul.


Carrel mengerjap karena terkesima dengan Aldo yang mengatakan kalimat itu dengan sangat maskulin.


"Ah, itu.. aku juga sudah mendengarnya dari Embun. Padahal kalau soal izin sudah pasti aku izinkan, tidak perlu repot-repot datang kemari. Lagipula seharusnya Ezar yang datang." Carrel tertawa geli.


Aldo pun tersenyum.


"Benar. Tapi kebetulan aku juga suka makanan disini. Rasanya sesuai seleraku. Tidak apa-apa kan kalau aku sering datang?"


Oh, Tuhan. Bahkan rasanya Carrel ingin berteriak dan menyuruh Aldo untuk datang setiap saat kapan pun ia mau.


"Tentu saja tidak apa-apa!" Tukas Carrel dengan mantap.


Aldo mengangguk dan kembali memamerkan senyum istimewa khas miliknya yang mampu memberikan getaran hangat di hati Carrel. Setelah mempersilahkan Aldo untuk menikmati makanannya Carrel pun pamit undur diri. Carrel langsung berlari-lari kecil menuju dapur dan menghela nafas disana. Wajahnya terasa sangat panas. Carrel pun mencoba mengibaskan tangannya untuk menghilangkan hawa panas ini tapi tidak bisa.


Tio yang sedang memotong-motong sayuran pun merasa aneh melihat tingkah laku bosnya itu. Merasa diperhatikan, Carrel pun menoleh.


"Kau kepanasan? Kenapa malah pergi ke dapur?" Tanya Tio.


"Ya, bahkan rasanya aku telah terbakar oleh senyuman hangat miliknya." Jawab Carrel dengan mendramatisir.


Tio berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tio dan Embun sudah tidak aneh melihat tingkah laku bos mereka yang mudah sekali jatuh cinta pada pria tampan yang tak lain adalah pelanggannya sendiri. Padahal Carrel sudah punya pacar. Terkadang Tio juga bingung kenapa bisa ia bekerja bersama orang yang sangat mendramatisir ketika jatuh cinta seperti Carrel ini. Dan Tio merasa semakin hari tingkah satu persatu teman sekaligus rekan kerjanya ini semakin aneh. Kemarin dia melihat Arsen yang tersenyum sendiri sambil melihat ke sebuah buku. Lalu Embun yang bisa marah-marah sendiri. Dan sekarang Carrel yang entah jatuh cinta pada siapa lagi.


Tidak apa lah, yang penting Tio memiliki pekerjaan tetap dan fokus mencari nafkah meskipun dikelilingi oleh orang-orang yang terkadang menurutnya aneh. Atau bahkan dirinya juga bisa termasuk aneh.


...__ooOoo__...


"Ezar."


Sang pemilik nama langsung menoleh sambil berbalik badan begitu namanya dipanggil oleh sang istri. Ezar pun tertegun melihat istrinya yang sudah berganti pakaian menjadi dibalut oleh long dress dengan model bahu terbuka dan lebar yang sangat pas di badan sehingga menampilkan setiap lekukan tubuh istrinya yang sedikit berisi. Warna dress itu senada dengan warna jas yang akan Ezar gunakan nanti.


Untuk beberapa saat Ezar terdiam mengamati lekukan tubuh istrinya dengan mata jeli. Kemudian mata Ezar mulai mengamati Embun secara keseluruhan. Riasan wajah yang dibuat sealami mungkin sangat cocok untuk Embun. Ditambah rambut yang dibuat bergelombang itu membuat Embun terlihat tampak berbeda. Dan dress itu tampak sangat cocok meskipun Ezar agak keberatan dengan lekukan tubuh serta potongan belahan dada yang rendah. Tapi tidak apa, Embun terlihat sangat menarik. Ezar semakin menelisik lebih tajam sementara Embun mulai merasa risih dengan tatapan mata Ezar yang entah apa artinya.


"B-Bagaimana?" Tanya Embun dengan gugup.


"Aku suka yang ini." Gumam Ezar.


Embun mendengus.


"Sudah kesekian kalinya kau berkata seperti itu tapi terus menyuruhku berganti." Sungut Embun kesal.


"Umm sebentar."


Ezar berjalan menuju tempat pakaian. Tak lama pria itu segera kembali dan menyodorkan sebuah selendang bulu berwarna hitam kepada istrinya.


"Pakai ini agar lebih cocok."


Embun langsung memakai selendang berbulu tebal itu untuk hiasan tambahan yang melingkari punggung serta kedua lengannya.


"Sudah selesai kan?" Tanya Embun.


Pasalnya sudah hampir dua jam mereka menghabiskan waktu untuk memilih pakaian yang akan Embun gunakan. Padahal sedari tadi banyak dress yang Embun suka tetapi Ezar tak suka dan tak setuju jika Embun harus mengenakannya.


"Ya."


Ezar langsung mengajak istrinya untuk berjalan keluar butik. Embun jadi ingat saat pertama kali Ezar membawanya ke butik ini di waktu Embun akan bertemu dengan orang tua Ezar. Ini seperti de Javu. Sepertinya butik dan salon ini sudah menjadi tempat kepercayaan Ezar. Yah, Embun juga menyukai pelayanannya.


Embun berjalan dengan anggun menuju mobil. Tiba-tiba Ezar sudah membukakan pintu mobil dan menunggunya yang berjalan dengan sedikit lambat. Tumben sekali Ezar bersikap manis seperti ini. Setelah keduanya berada di dalam mobil Ezar langsung mempersiapkan dirinya sendiri. Ezar memakai jas yang sudah tersedia di mobil dan juga dasi kupu-kupu. Jas itu berwarna senada dengan gaun yang Embun kenakan.


Embun hanya diam memperhatikan suaminya sedang bersiap-siap.


"Kita sedikit terlambat." Sahut Ezar.


"Ya. Itu karena mu. Kau yang lama mengatur gaunku."


"Karena hampir semua gaun yang kau coba itu tidak cocok denganmu."


Embun mendengus sebal lalu memalingkan wajahnya ke luar kaca jendela mobil. Tak lama Ezar pun selesai dengan penampilannya.


"Pakai sabuk pengaman mu." Sahut Ezar.


Embun pun menoleh dan mendapati suaminya yang sudah rapi. Rambut Ezar juga memakai sedikit gel agar terlihat lebih rapi. Ezar terlihat tampan. Atau bahkan lebih tampan. Ezar terburu-buru untuk melajukan mobilnya hingga mata Embun melirik ke satu titik. Spontan Embun maju mendekat dan menarik kerah kemeja Ezar.


Pria itu pun terkejut namun tetap berusaha terlihat tenang. Kalian tahu kalau Ezar tidak pernah dekat dengan wanita sebelumnya kecuali sekretaris nya sendiri. Jadi sekarang setiap melakukan kontak fisik dan hanya berjarak sedekat ini dengan istrinya Ezar masih merasa gugup dan kaku meskipun mereka sudah pernah berciuman. Tetap saja rasanya sangat mendebarkan.


Ezar sedikit menunduk untuk melihat apa yang sedang dilakukan tangan istrinya. Rupanya Embun membenarkan dasinya yang miring dan sedikit tak beraturan. Karena terburu-buru dan sedikit panik Ezar jadi kurang memperhatikan kerapihan dasinya.


"Selesai." Sahut Embun sambil tersenyum puas.


Matanya pun mendongak dan bertatapan dengan mata Ezar dalam jarak yang sangat dekat. Embun baru menyadari jarak wajah mereka. Tapi entah kenapa Embun terasa enggan bergerak mundur untuk kembali ke tempatnya. Tatapan Ezar seolah menghipnotis dirinya.


Sementara sang pria sedari tadi sibuk mengagumi sosok wanita yang menjadi istrinya itu. Embun terlihat sangat cantik dan terlihat menarik pada malam ini. Kemudian tatapan mata Ezar turun melihat bibir ranum Embun.


"Bolehkah aku mencium mu?" Tanya Ezar dengan suara serak.


Embun mengerjap pelan dan langsung menunduk. Ia bingung harus menjawab apa. Karena tak ada jawaban akhirnya Ezar pun nekat mencium bibir istrinya dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian. Embun hanya diam saja menurut sampai bibir Ezar mulai bergerak menyapu permukaan bibirnya. Embun mulai membalasnya. Namun sayangnya ciuman itu tidak berlangsung lama. Ezar buru-buru menyudahi ciuman mereka sambil berwajah masam.


"Ugh, aku tidak suka rasa kosmetik itu." Ezar berdecak kesal.


Embun pun menunduk dengan wajah merona. Sial. Kenapa dia malah jadi merasa malu. Tiba-tiba Embun jadi sedikit berkeringat karena hawa panas yang entah kenapa bisa terasa. Mungkin hawa panas ini muncul karena getaran lembut di dadanya? Entahlah. Tapi hal itu juga terjadi pada Ezar.


Embun langsung menoleh begitu tangan Ezar menyentuh kulit bahunya.


"Lain kali kalau mau berciuman denganku jangan pakai apapun di bibir. Aku lebih suka rasa asli bibirmu."


...__ooOoo__...


Embun berdecak kagum pada dekorasi sebuah ballroom hotel mewah itu. Semua interiornya terlihat benar-benar sangat mewah. Inilah kekayaan yang sesungguhnya. Embun tidak menyangka jika dirinya bisa datang ke acara pesta orang kaya sungguhan. Bahkan mungkin semua orang yang berada di ruangan ini adalah milyarder dan jutawan termasuk suaminya sendiri.


Ezar merangkul pinggang rampingnya sambil mengajak berjalan masuk. Begitu masuk Embun langsung merasa asing karena tidak ada satu pun orang yang dikenal ataupun mengenalnya. Ezar mengajaknya untuk menghampiri orang yang mungkin kerabat bisnisnya. Penampilan mereka semua sangat berkelas. Embun benar-benar takjub.


"Hai, Ezar. Akhirnya kau datang juga."


"Ya, aku sedikit terlambat."


"Tidak apa-apa lagipula aku juga baru datang. Oh, ini istrimu ya?"


Embun tersenyum lalu menerima jabatan tangan orang itu. Ezar tampak berbincang sejenak sebelum akhirnya kembali mengajaknya pergi ke sudut lain.


"Aku kira kita akan ke acara pernikahan sungguhan." Sahut Embun.


"Pesta ini diadakan khusus untuk mengundang para pembisnis."


"Ah, begitu."


"Kita harus terlihat mesra. Ayo. Dia adalah pemilik acaranya."


Ezar menunjuk sepasang manusia yang sedang menyapa para tamu. Embun langsung terkesima dengan sang wanita yang berdiri di samping pria berkacamata itu karena terlihat sangat cantik dan memiliki postur badan yang indah.


Ezar tersenyum lalu berjabat tangan dengan sang pemilik acara. Embun pun ikut berjabat tangan.


"Selamat atas pernikahannya. Maaf jika aku datang terlambat." Ujar Ezar.


"Terimakasih." Ujar Embun sambil tersenyum.


"Ngomong-ngomong kenalkan ini Jack dan istrinya Merlin. Jack dan aku lumayan sudah lama berteman."


"Iya."


Lalu Ezar dan Jack memulai perbincangan seputar bisnis mereka. Satu persatu tamu yang lain pun ada yang mulai ikut bergabung ke dalam obrolan mereka. Embun mundur selangkah. Suaminya sudah larut dalam perbincangan itu dan dirinya hanya bisa terdiam seperti orang bodoh. Embun tidak mengerti apa-apa tentang dunia bisnis jadi dia diam saja.


Embun memperhatikan Merlin yang ikut andil ke dalam perbincangan suaminya. Sepertinya seru sekali sampai beberapa kali Ezar tertawa. Diam-diam Embun juga memperhatikan orang-orang lainnya yang hadir disini. Semuanya berbaur dengan nyaman mungkin karena sesama pembisnis. Mendadak Embun jadi merasa tidak percaya diri. Apalagi saat tahu kalau kelihatannya Ezar cukup populer di kalangan wanita kelas atas.


Sejak masuk tadi banyak pasang mata wanita yang menatap Ezar dengan takjub. Mereka juga lebih cantik dan lebih layak bersanding dengan Ezar. Embun pun menunduk memperhatikan penampilannya lalu menghela nafas.


"Permisi nona, minumannya?" Tawar seorang pelayan yang membawa nampan berisi minuman.


Mata Embun langsung tertuju pada wine. Ia langsung mengambilnya tanpa ragu.


"Terimakasih."


Setelah pelayan itu pergi Embun pun meminum wine itu. Rasa wine mahal memang berbeda. Embun cukup bangga bisa merasakannya dan mengulum senyum tipis.


"Ezarr!"


Beberapa pasang mata di sekitar langsung tertuju pada wanita berambut pirang kini sedang berjalan menghampiri Ezar dengan wajah sumringah. Embun tersedak ludahnya sendiri saat wanita cantik itu tiba-tiba memeluk suaminya dengan mesra dan sama halnya dengan Ezar. Untungnya pelukan itu tak berlangsung lama.


"Akhirnya kau datang juga. Sedari tadi aku menunggu mu datang." Ujar wanita itu dengan nada manja.


Ezar menghela nafas. Raut wajahnya berubah masam seperti tak suka dengan kedatangan wanita itu.


"Yah, ternyata kau juga datang, Bella." Tukas Ezar.


"Tentu saja karena aku ingin bertemu denganmu."


Embun yang mendengar percakapan mereka pun mereka tidak asing dengan nama Bella. Ia seperti pernah mendengarnya. Kemudian Ezar berjalan mendekat dan merangkul pinggangnya. Embun tersentak.


"Kenalkan ini istriku, Embun."


Bella tersenyum miring lalu mengajak Embun berjabat tangan. Tentunya Embun tidak bisa menolak uluran tangan itu.


"Aku Bella. Senang bertemu denganmu, Embun." Ujar Bella dengan penuh penekanan di setiap katanya.


Bahkan raut wajah Bella saat mengatakannya pun seperti tidak ikhlas. Embun hanya mencoba tersenyum.


"Iya, aku juga."


"Maaf karena aku tidak datang ke acara pernikahan kalian itu. Aku sedang berada di Paris waktu itu." Bella menatap Ezar.


"Ya, tidak apa. Aku juga mengerti." Balas Ezar.


"Karena sudah lama tidak bertemu bagaimana jika kau temani aku? aku ingin buah yang ada disana." Bella menunjuk ke salah satu stand buah.


Ezar langsung mengernyit dan melirik Embun. 


"Tidak. Aku-"


"Ayolah Ezar." 


Meskipun Ezar sudah menolak tetapi Bella malah memaksa menarik lengan Ezar dan mengajaknya pergi. Saat melewati Embun Bella pun menyunggingkan senyum miringnya. Embun mengerjap. Melihat wajah licik itu membuat Embun ingin sekali menumpahkan wine ke wajah Bella. Lalu Embun menatap suaminya yang hanya bisa diam menuruti Bella. 


"Aku akan segera kembali." Ucap Ezar.


...__ooOoo__...


Sudah lima belas menit Ezar tak kunjung kembali. Embun memutuskan untuk pergi menyendiri ke balkon hotel. Di balkon hanya ada beberapa orang saja yang sedang menelpon atau merokok. Embun menghela nafas. Di saat seperti ini ia malah berharap Ezar bisa bersikap tegas. Sekarang Embun baru ingat siapa Bella dan dimana dia pernah mendengar nama itu.


Ezar pernah bilang tidak mau dijodohkan dengan Bella dan lebih memilih menikah dengannya. Embun sedikit heran kenapa Ezar tidak mau dijodohkan dengan gadis secantik Bella dan lebih memilih menikah dengannya. Sekarang Embun bingung harus apa karena tidak ada Ezar di sampingnya. Embun ingin pulang saja. Dia tidak kenal siapapun disini. Suaminya malah pergi bersama wanita lain. Embun jika tidak bertemu Aldo disini. Menyebalkan.


"Bukankah kau istrinya Ezar?" 


Embun menoleh. Seorang pria berdiri di sampingnya sembari memegang sepuntung rokok yang tinggal setengah batang.


"Iya." Jawab Embun singkat.


"Kenapa sendirian? Kemana suami mu?" 


Embun menunduk. Ia pun tidak tahu kemana suaminya pergi. Pria itu berjalan mendekat. Embun langsung terbatuk saat asap rokok tak sengaja terhirup olehnya.


"Uhuk uhuk!"


"Ah, maaf. Akan aku matikan."


Pria itu pun membuang sisa rokoknya ke lantai lalu menginjaknya agar Embun tidak perlu terganggu lagi dengan asap rokoknya.


"Terimakasih."


"Aku datang ke acara pernikahan kalian. Ternyata Ezar memiliki seorang istri yang sempurna." 


"Ngomong-ngomong siapa namamu?" Tanya Embun sambil menatap pria itu.


"Aku? Rian." 


Rian pun tersenyum.


"Kau temannya Ezar?"


"Kami kenal karena sesama pembisnis tapi tidak dekat."


"Ah, begitu."


Kemudian hening. Embun tidak berani mengeluarkan suara lagi. Selain itu ia gugup berhadapan dengan orang lain. Embun takut salah bicara sedangkan ia harus menjaga sikap sebagai istri Ezar. 


"Kau pasti kebosanan disini. Suamimu dipaksa oleh Bella kan?" 


Embun hanya menatap Rian tanpa membalas. Rian pun tersenyum miring.


"Bella memang cantik namun menyebalkan. Dia selalu ingin memonopoli Ezar dari siapapun. Kenapa kau diam saja saat suamimu direbut wanita lain?"


"Karena aku .. tidak percaya diri. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa." Gumam Embun. 


"Tidak percaya diri?" 


Embun tersenyum tipis. Rian tiba-tiba berdiri tepat disampingnya. Entah sejak kapan pria itu berpindah tempat, Embun sendiri tidak menyadarinya. Saat hendak bergerak mundur Rian malah menyentuh rambutnya. 


"R-Rian."


"Kau juga sangat cantik." Lirih Rian tepat didepan wajah Embun.


Embun merasa merinding dan takut. Kenapa dia malah tiba-tiba diperlakukan seperti ini oleh orang yang baru saja ia kenal? Tidak. Bahkan Embun tidak mengenal Rian.


"Wah, jadi ini kelakuan istrimu Ezar?"


Embun langsung menepis tangan Rian dari rambutnya dan bergerak mundur. Kemudian Embun menatap suaminya yang sedang digandeng mesra oleh Bella. Ternyata mereka sudah kembali. Embun mendengus melihat tangan Bella yang bergelayut manja di lengan suaminya. Tapi ada yang lebih parah dari itu. 


Ezar mengatupkan rahangnya rapat-rapat sambil mengamati kedua orang itu dengan tatapan tajam.


"Apa yang sedang kalian lakukan?"


...__________________...


...To be countinued...


...( Revisi : 13-11-2020 )...