
"apa tidak apa-apa jika kita seperti ini? Aku tidak enak pada suamimu Embun." Sahut Rayhan.
Embun melepaskan pelukannya lalu menatap keadaan sekitar. Kosong. Kemana perginya Ezar dan Mario? Embun menghela nafas. Pasti Ezar kabur karena pemandangan ini terlalu menyakitkan. Tapi Ezar pantas mendapatkan ini. Pria itu sudah memperkosanya.
Rayhan menarik Embun untuk duduk di sofa. Mungkin akan lebih baik berbicara seperti ini.
Rayhan hanya bisa menunggu Embun bercerita. Embun terus menunduk dan terlihat sangat murung.
"Sebenarnya aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Siapa yang menginginkan pernikahan tanpa cinta?" Embun menatap Rayhan.
"Bukankah jaman sekarang memang seperti itu? Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu." Balas Rayhan.
Embun menggeleng.
"Sudah lima bulan kami menikah tapi aku tidak yakin dengan perasaanku. Kami menikah hanya karena keadaan. Aku kesulitan dengan hutangku dan Ezar membutuhkan seorang wanita untuk menghindari perjodohan orang tuanya. Kami bertemu dengan takdir seperti itu."
"Kau bisa menungguku jika itu soal hutangmu." Sahut Rayhan dengan nada kecewa.
"Dia juga menyelamatkanku. Ini bukan hanya soal uang, Ray. Banyak orang yang ingin merusakku. Dia berbuat terlalu banyak untukku."
Tiba-tiba Rayhan menggenggam tangan Embun. Rayhan tersenyum sendu pada wanita yang ia sukai sejak dulu.
"Aku masih menyayangimu dan mencintaimu. Aku bersedia menunggu jika kau tidak nyaman dengannya. Aku bersungguh-sungguh." Kata Rayhan dengan lembut.
Embun terharu mendengarnya.
"Aku juga masih menyayangimu, Ray."
Rayhan tersenyum. Kemudian Embun menunduk. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu kembali menatap Rayhan.
"Tapi kalo soal cinta, aku tidak bisa mencintaimu. Aku memang selalu menunggu dan menyayangimu tapi sekarang aku sadar bahwa aku menyayangimu sebagai adik. Dan aku lelah terus-terusan merasa berhutang Budi padamu. Aku tidak ingin punya perasaan hanya karena berhutang Budi. Bukankah itu sama saja dengan kasihan?"
Rayhan terdiam mendengarnya.
"Kau memang menyelamatkan nyawaku saat itu tapi bukan berarti aku harus hidup bersamamu selamanya kan?"
Rayhan mengangguk pelan.
"Maaf jika itu menyakitimu. Aku hanya ingin jujur atas perasaanku. Haruskah aku membalas jasamu?"
"Tidak, Embun. Kau benar. Kau tidak perlu merasa berhutang Budi padaku. Lagipula aku menyelamatkanmu bukan untuk menerima balasan. Aku memang tulus menyukai kakak kelasku. Secara tidak langsung kau juga sudah membalas budi dengan hidup baik-baik saja sampai saat ini. Hanya itu yang aku butuhkan." Kata Rayhan dengan tulus.
"Dan aku juga tidak bisa memaksa jika kau sudah bersuami. Aku tidak ingin jadi orang jahat hanya karena merebut istri orang demi keegoisannya."
Rayhan tersenyum. Jujur saja, Embun merasa tidak tega. Tapi mau bagaimana lagi? Takdir sudah berada pada garisnya.
"Terimakasih, Ray. Terimakasih karena mau mengerti ku. Kau pria yang baik. Sudah sepantasnya kau mendapatkan gadis yang lebih baik dan juga lebih cantik dariku tentunya." Embun terkekeh.
"Tidak apa\-apa jika aku tinggal sendirian?" Tanya Rayhan khawatir.
Embun mengangguk. Tapi matanya terus berkeliling mencari keberadaan Ezar diluar rumah. Mario juga menghilang. Tapi Rayhan sudah mendapat pesan dari Mario bahwa pria itu ada urusan mendadak. Rayhan memegang kedua bahu Embun.
"Kau mencemaskan suamimu?" Tanya Rayhan.
"A\-aku hanya bingung kemana perginya dia."
Rayhan terkekeh.
"Kau sudah berubah. Semoga rumah tanggamu baik\-baik saja."
Embun terdiam.
"Aku pulang dulu Embun. Jangan khawatir, suamimu pasti pulang. Selamat malam."
Embun menatap kepergian Rayhan dengan perasaan cemas akan soal suaminya. Tidak biasanya Ezar menghilang. Dan baru Embun sadari jika mobil Ezar tidak ada di halaman rumah. Sial. Kenapa Embun baru menyadarinya?
Buru\-buru Embun masuk ke rumah dan segera menghubungi Ezar. Tapi ternyata nomor Ezar tidak aktif. Embun mulai frustasi. Bagaimanapun ia harus segera minta maaf pada Ezar. Semua harus dibicarakan dengan baik\-baik. Terutama soal perasaannya. Ya, ketika bertemu dengan Rayhan Embun pun langsung merasakan perbedaannya. Embun tidak merasa nyaman seperti dulu jika berada didekat Rayhan. Rindu tetaplah rindu tapi kenyamanan itu sudah berbeda.
Dan pria yang Embun inginkan sekarang hanyalah Ezar.
Embun terbangun ketika cahaya matahari yang masuk dari celah jendela mengganggunya. Ah, sudah pagi. Embun ketiduran saat sedang menunggu Ezar semalam. Embun langsung melirik tempat disampingnya. Kosong dan rapi. Artinya tidak ada yang menempati ranjang selain Embun. Apakah Ezar benar-benar tidak pulang semalaman?
Sudahlah, daripada cemas lebih baik sekarang Embun bergegas mandi dan bersiap-siap.
Setengah jam kemudian Embun sudah siap dengan pakaian kerjanya. Ia segera turun ke bawah. Mungkin bi Lasri sudah menyiapkan sarapan. Tapi langkah Embun langsung terhenti ketika sedang menuruni anak tangga. Ia menoleh ke sofa ruang tengah. Keningnya berkerut. Kenapa ada pakaian pria yang berserakan disana? Berarti ada seseorang dirumanya. Embun kembali menuruni anak tangga dengan cepat.
Tapi .. ia menoleh sekali lagi. Perlahan ia berjalan mendekati sofa. Jantungnya seakan berhenti berdetak dan nafasnya tercekat. Sweater berwarna pink yang sepertinya milik perempuan itu menyita pikiran Embun untuk beberapa saat. Mendengar suara gaduh didapur Embun bergegas berjalan menuju dapur.
"Ezar!" Pekik Embun saat melihat suaminya berdiri didepan kulkas.
Ezar pun menoleh.
Embun ingin langsung memeluk pria itu jika saja seorang perempuan yang ada didepan pantry itu tidak mengganggu penglihatannya. Embun dan wanita itu saling beradu tatap.
"Kau .. membawa seorang wanita?" Gumam Embun.
Ezar berdecak dan langsung duduk di meja makan.
"Duduklah jika ingin sarapan." Sahut Ezar dengan nada dingin.
Embun menurut. Ia duduk dihadapan suaminya dengan wajah kaku. Pikirannya sudah melayang entah kemana memikirkan wanita lain yang ada dirumahnya itu. Apalagi tentang pakaian pria dan wanita yang berserakan di sofa itu..
"Kemarilah." Sahut Ezar.
Embun langsung mendongak.
Rupanya Ezar berbicara pada wanita itu. Dan wanita tidak dikenal itu menurut pada perintah Ezar. Wanita itu duduk disamping Ezar. Embun menghela nafas.
"Ezar semalam kau-"
"Makanlah jika tidak ingin terlambat. Kau harus naik taksi hari ini. Aku tidak bisa mengantarmu karena tidak ingin terlambat. Tempat kerja kita sangat berjauhan." Ezar memotong ucapan Embun dengan cepat.
Embun terkejut.
Bukankah selama ini Ezar selalu rela mengantarnya bahkan terlambat meskipun tempat kerja mereka berjauhan?
"Tapi kau bosnya. Bos bisa datang kapan saja bukan?" Desis Embun.
Ezar menatap istrinya.
"Bersikaplah profesional sebagai sesama orang yang bekerja. Bekerja dibutik itu adalah kemauanmu jadi kau harus terima konsekuensinya sendiri. Aku bos bukan berarti aku bisa berbuat seenaknya. Aku juga pekerjaan yang harus diurus." Ujar Ezar dengan tajam.
TAK
Embun membanting sendoknya ke meja. Ia menatap Ezar dan wanita itu secara bergantian. Rasanya kesal. Ezar tidak bersikap seperti biasanya. Bagaimana bisa hanya dalam semalam suaminya itu berubah?
"Baiklah jika itu yang kau mau!" Ketus Embun.
Embun membawa tasnya dan langsung pergi tanpa menyuapkan sesendok sarapan ke dalam mulutnya.
Ezar menghela nafas. Matanya menatap piring Embun dengan kosong. Embun tidak sarapan. Apakah wanita itu akan baik-baik saja?
"Kau baik-baik saja?"
Ezar langsung menoleh ke wanita disebelahnya.
"Ya. Aku baik-baik saja, Sarah."
"Lalu apa yang akan kau lakukan pada istrimu itu?" Tanya Sarah penasaran.
Ezar berdecak.
"Mungkin aku akan menceraikannya dan membiarkan dia bersama kekasihnya."