
"a-apa maksud anda dokter?" Tanya Carrel dengan ragu.
Dokter pria itupun tersenyum.
"Selamat, teman ada positif hamil."
Carrel langsung beringsut memeluk sahabatnya yang sedang hamil itu. Kedua wanita itu terkejut tentunya apalagi Embun. Saat ini ditubuhnya ada nyawa lain yang harus ia jaga selain nyawanya sendiri.
"Akhirnya aku akan punya keponakan!" Pekik Carrel dengan ceria.
Namun lain hal dengan yang dipeluk. Embun malah terlihat murung. Kemudian Embun pun mengeluarkan air matanya. Tubuhnya mulai bergetar. Tidak tahu harus merasa senang atau sedih.
"Hei jangan menangis. Kau akan jadi seorang ibu yang baik Embun." Carrel mengelus punggung Embun.
Tangisan Embun semakin menjadi. Carrel pun mulai panik.
"Terharu tidak perlu sampai segitunya Embun."
"Tidak Carrel. Lalu bagaimana dengan nasibku? Dimana ayahnya?" Suara Embun bergetar.
Sesaat Carrel terdiam.
Ia baru ingat masalah rumah tangga Embun dengan Ezar.
Tidak bisa begini. Embun hamil anak Ezar. Tentu saja pria itu harus bertanggungjawab. Carrel pun menarik tangan Embun.
"Ayo kita temui ayah anakmu."
~~
Sementara itu di belahan dunia lain, seorang pria dengan kemeja hitam yang bagian lengannya sengaja digulung itu tengah sibuk berkutat dengan Ipad-nya. Ezar baru saja tiba di kamar hotel yang akan ia tempati selama beberapa Minggu ke depan setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan. Selama diperjalanan menuju ke mari Ezar tidak berisitirahat sama sekali. Ia sangat fokus mengerjakan apa yang sedang ia kerjakan. Otaknya tak pernah berhenti untuk memikirkan nasib perusahaan.
Padahal kalau orang lain lihat dengan mata kepala masing-masing, Ezar tidak akan jatuh miskin meski ketiduran selama satu jam. Barangkali hanya memejamkan mata selama sepuluh menit saja rasanya rugi bagi seorang Ezar. Dia memang gila kerja sejak dulu. Tapi kali ini ia menjadi lebih gila karena ingin mengalihkan pikirannya.
TOK TOK TOK
Ceklek
"Tuan, klien anda sudah menunggu dibawah." Sahut Aldo yang muncul diambang pintu.
Tanpa mengalihkan tatapan dari layar iPad, Ezar bergegas bangkit lalu menghampiri Aldo.
"Hati-hati Tuan. Kau harus berjalan menggunakan matamu." Aldo memperingati.
Pasalnya Ezar tampak sangat fokus.
"Ya."
Setelah mengunci kembali kamar hotel Aldo pun mengikuti Ezar yang berjalan untuk menemui klien penting mereka.
"Ezar, kau baik-baik saja? Kau baru saja tiba tiga puluh menit yang lalu."
"Tidak apa-apa."
"Kau tampak kelelahan. Apakah sebaiknya kita meminta waktu sebentar untuk berisitirahat?"
"Tidak perlu Aldo. Aku baik-baik saja."
Bukan apa-apa, Aldo sebagai seorang teman sekaligus bawahan hanya khawatir dengan kondisi Ezar. Tubuh Ezar memang masih berdiri tegak sekarang tapi entah besok. Bahkan saat ini pun entah apa yang sedang dirasakan pria yang sudah tidak tidur selama dua hari itu. Barangkali Ezar diam-diam merasa tidak enak badan namun tetap memaksakan diri. Aldo khawatir akan hal itu.
"Kau benar-benar tidak tidur selama dua hari." Aldo kembali berujar.
Mereka pun masuk ke dalam lift yang kosong.
"Tidur hanya sebentar."
"Tapi itu sebentar. Jelas-jelas kau kurang tidur Ezar."
"Bisakah kau berhenti mengoceh Aldo? Aku ingin fokus pada proyek kita." Ezar menatap Aldo.
Aldo menghela nafas.
"Aku tahu kau sedang berusaha melupakan masalah istrimu kan?" Tebak Aldo.
"Aldo." Desis Ezar.
"Kau yang terlalu bodoh Ezar. Oh ya, bulan depan aku akan menikah dengan kekasihku. Aku harap kau datang bersama Embun."
Ezar terkejut mendengarnya.
"Kau menikah? Secepat itu?" Tanya Ezar dengan tidak percaya.
"Ya. Sebenarnya aku sudah mempersiapkan semuanya sejak lama hanya saja aku tidak enak melangkahimu. Karena aku asisten sekaligus teman yang baik jadi aku menunggumu menikah dulu agar aku bisa menikah. Untung saja kau cepat dipertemukan jodohmu. Kau tahu sudah segila apa kekasihku karena ingin cepat aku nikahi. Kami sudah cukup bersabar menunggumu yang tidak normal itu." Cecar Aldo panjang lebar.
Ezar mendengus.
"Aku normal!" Tegas Ezar.
"Ya kurasa sekarang kau normal."
"Aku normal sejak dulu Aldo."
"Sudahlah. Intinya kau harus bawa istrimu ke pernikahanku nanti. Kekasihku, ah calon istriku tepatnya sangat antusias dengan wanita yang akhirnya bisa membuatmu menikah."
"Oh ya, bisakah lusa aku pulang dulu ke Indonesia? Ada yang harus dipersiapkan untuk pernikahanku." Izin Aldo.
Ezar berdecak.
"Baiklah. Terserahmu saja."
"Aku juga akan memberikan undangan pada istrimu."
"Jangan!" Ezar langsung mencegahnya.
Alis Aldo terangkat sebelah.
"Kenapa?"
"Kurasa aku juga tidak akan datang bersamanya nanti. Maaf Aldo."
"Kalian kan suami istri sudah sepantasnya datang bersama, Ezar."
"Kami akan bercerai."
~~
Setelah menjemur semua pakaian miliknya dan temannya wanita itu memutuskan untuk duduk sejenak diatap rumah temannya. Ia ingin menghirup udara pagi sekalian berjemur di bawah sinar matahari pagi. Matanya terpejam seiring tarikan nafas yang panjang. Lalu ia menghembuskannya secara perlahan. Tubuhnya mulai rileks setelah dilanda mual-mual tidak jelas sejak semalam.
Begitu tahu dirinya hamil ia sengaja meliburkan diri dan meminta izin pada bos tempat kerjanya. Embun benar-benar tidak bisa bekerja hari ini. Rasa pusing,mual, dan lemas masih terasa. Padahal barusan ia memaksakan diri untuk mencuci pakaian mereka. Jika Carrel tahu mungkin gadis itu akan mengomel. Tidak apa-apa. Embun hanya ingin melakukan sesuatu yang bisa membuatnya lupa pada rasa mualnya. Tapi tidak dengan bekerja.
Tangannya pun terulur mengusap perutnya yang masih rata itu.
Meski belum ada perubahan tapi Embun sudah bisa merasakan kalau ada seseorang yang hidup didalam sana. Lantas kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman. Apakah rasanya selalu sebahagia ini memiliki calon bayi?
Embun akan jadi mama muda.
Seumur hidupnya ia tidak pernah menyangka akan menjadi ibu secepat ini. Ah, mungkin masih calon ibu.
"Tumbuhlah dengan sehat didalam sana nak. Aku akan terus menjagamu." Gumam Embun pada perutnya sendiri.
Lalu tiba-tiba ia teringat Ezar. Pria itu belum mengetahui tentang kehamilannya. Kira-kira sedang apa pria itu sekarang? Apakah Ezar baik-baik saja setelah menyakitinya kemarin?
"Ezar .. aku merindukanmu."
~~
Rasa penasaran dan rasa rindu membuat wanita itu nekat mendatangi perusahaan Ezar meskipun masih ditemani sedikit rasa mual dan pusing. bagaimanapun juga walau mereka bertengkar Ezar harus tahu tentang calon bayinya. Tidak apa. Embun masih bisa menahannya selagi ia tidak memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya yang hanya akan memancingnya muntah.
Begitu turun dari taksi Embun langsung masuk tanpa rasa segan lagi. Ia menghampiri meja resepsionis terlebih dahulu.
"Selamat siang nyonya." Sapa resepsionis itu dengan ramah.
Tentunya semua anak buah Ezar tahu siapa wanita yang baru saja datang itu.
"Aku ingin bertemu Ezar. Bisa kan?"
Resepsionis wanita itu pun langsung terlihat kebingungan.
"Apa nyonya tidak tahu?" Tanya resepsionis itu dengan suara pelan.
Sepertinya ini hal sensitif dan berbahaya jika orang lain tahu. Kalian tahu sendiri kan bahwa semua manusia memiliki pemikiran dan pendapat masing-masing terharap suatu hal.
"Ada apa?"
"Tuan Ezar sedang pergi ke Singapura dari kemarin untuk mengerjakan proyeknya." Bisik sang resepsionis itu.
Embun langsung mematung ditempat. Apa dia tidak salah dengar?
Ezar sedang berada di negara lain dan ia tidak tahu apa-apa. Jadi apakah pria itu melarikan diri bersama Sarah?
Tangan Embun tiba-tiba terkepal dengan kuat.
"Jadi begitu ya." Lirih Embun.
"Sepertinya anda tidak tahu. Maka aku akan menyembunyikannya dari yang lain." Ujar resepsionis itu.
Embun mengangguk kecil.
Kakinya melangkah gontai keluar dari perusahaannya Ezar.
Ezar benar-benar meninggalkannya. Embun bahkan tidak tahu kapan pria itu akan kembali. Dan bahkan Embun juga yakin kalau Ezar sendiri tidak tahu dengan pasti kapan urusannya disana itu selesai. Ezar hanya bilang dia akan segera membereskan semuanya setelah proyek selesai.
Berapa lama?
Embun menghela nafas kecewa. Saat ini ia ingin Ezar tahu bahwa dirinya hamil. Dihubungi pun percuma. Nomor atau bahkan mungkin juga ponsel pria itu tidak aktif. Sialan. Embun menatap jalan raya yang begitu padat dengan kendaraan. Pandangan matanya kosong.
Ezar pergi setelah semuanya terjadi.
Pria itu bahkan tidak ingin mendengar pendapat atau penjelasan apapun dari istrinya.
Itulah yang membuat Embun merasa kecewa tapi entah harus apa.
"Kau benar-benar meninggalkanku Ezar."