Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
7. Pemaksaan



"Masuklah. Aku akan mengantarmu pulang."


Ezar berdiri di samping mobilnya sambil membukakan pintu untuk Embun. Tak terasa hari sudah malam. Setelah makan malam bersama dengan keluarga Ezar, pria itu memutuskan untuk segera mengantar Embun pulang. Embun pasti lelah setelah belajar merajut pada Marisa. Bahkan tadinya Marisa memaksa Embun untuk menginap di sana. Tapi Ezar bersikeras ingin mengantarkan Embun pulang ke rumahnya.


Sebenarnya Embun tidak masalah menginap di rumah itu semalam hanya saja Ezar tidak ingin melihat gadis itu lebih lama di rumahnya. Ezar juga mengerti perasaan Embun yang masih canggung berada di sekitar keluarganya.


"Ezar, kurasa kita masih perlu berbicara," ucap Embun sebelum masuk ke mobil.


Ezar mengangguk. "Aku juga. Kalau begitu masuklah. Kita akan ke suatu tempat."


Embun hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Disusul Ezar yang segera duduk di kursi kemudi. Selama perjalanan hanya keheningan yang melanda mereka berdua. Embun lebih banyak menghabiskan waktu untuk melamun sedangkan Ezar fokus menyetir sambil memikirkan sesuatu. Keduanya sama-sama memikirkan hal yang sama dalam pikiran mereka, yaitu pernikahan mereka yang akan diadakan satu bulan dari sekarang.


Embun memperhatikan jalan raya yang tidak begitu padat saat malam hari. Sesekali Embun menghela napas mengingat hari esok adalah hari terakhir Roy memberikan kesempatan terakhirnya. Embun takut jika pada akhirnya tubuhnya harus diserahkan untuk preman-preman itu. Embun sangat takut hingga ingin menangis jika membayangkannya. Ah, bukankah ia sudah akan menikah dengan Ezar? Tentu saja Ezar akan melunasi hutang-hutangnya bukan?


Tapi entah kenapa Embun merasa ragu dengan pernikahan ini. Orang tua Ezar sangat menginginkan pernikahan ini. Embun merasa tidak enak hati dan ragu. Disaat Embun hanya menginginkan uang untuk melunasi hutangnya saja, ia justru disambut dengan sangat baik oleh keluarga Ezar. Tidakkah Embun terlihat sangat jahat? Orang tua Ezar pasti mengira Embun dan Ezar adalah sepasang kekasih yang saling mencintai dengan tulus.


Padahal mereka baru kenal kemarin sore.


"Kau tidak mau turun?" Suara Ezar menyadarkan lamunan Embun.


Embun langsung melirik Ezar yang sudah bersiap turun dari mobil. "Kita .. sudah sampai?" tanya Embun dengan bingung.


"Kau bisa lihat sendiri."


Lalu pria itu pun segera keluar dari mobil. Dengan cepat Embun menyusul Ezar yang semakin mempercepat langkahnya.


"Ezar tunggu!"


Ezar menghentikan langkahnya saat ia sudah sampai di pinggir pantai. Ezar menyugar rambutnya ke belakang sambil menghela nafas. Embun sangat lambat ketika Ezar ingin pembicaraan mereka selesai dengan cepat. Sungguh Ezar sudah lelah dengan hari ini.


"Ezar, kubilang tunggu aku!" Pekik gadis itu.


Ezar melirik gadis disebelahnya. Embun tampak kelelahan sehingga harus mengatur nafasnya sebelum berbicara.


"Kenapa kau sangat tidak sabaran sih?!"


Ezar menghela napas. Matanya menatap lautan luas yang terpantul cahaya bulan di atasnya. Suara desiran ombak terdengar begitu merdu. Angin pantai berhembus lumayan kencang dan dingin. Untungnya Ezar memakai baju rajut panjang buatan mamanya dari rumah. Berbeda dengan Embun yang tampak kedinginan disaat sedang terpesona dengan pemandangan pantai malam hari.


Embun tidak tahu jika jarak pantai dengan rumah Ezar lumayan dekat. Ezar melirik pakaian yang Embun kenakan. Sial. Dress itu adalah dress pilihan Ezar sendiri dan sekarang Embun harus kedinginan memakai baju pilihan Ezar yang sangat terbuka.


"Ezar sebenarnya-"


"Aku tidak bisa menikah denganmu, Embun." Potong Ezar dengan cepat.


Raut wajah Embun langsung kaku. Sorot mata gadis itu menunjukkan bahwa gadis itu terkejut sekaligus kecewa dengan pernyataan Ezar. Padahal dia sendiri masih ragu dengan pernikahan tapi entah kenapa begitu mendengar penolakan dari mulut Ezar langsung membuat hatinya kecewa.


"Kenapa?" tanya Embun dengan suara yang hampir tidak terdengar.


"Bagiku menikah itu hanya untuk sekali seumur hidup dan aku harus menikah dengan orang yang benar-benar aku cintai dan benar-benar aku inginkan. Bukankah kau juga begitu? Apalagi kau seorang gadis. Tidak mungkin kau menyerahkan masa depanmu begitu saja dengan menikah bersama pria yang tidak pernah kau kenal sebelumnya."


"M-Maksudmu?"


Ezar bergerak berdiri menghadap Embun. Di bawah pantulan sinar rembulan malam Embun bisa melihat tatapan tajam yang sangat kelam pada raut wajah yang datar.


"Aku tidak yakin jika pernikahan kita akan awet selamanya. Mungkin kita bisa bercerai tapi aku tidak mau menikah dua kali. Pernikahan adalah hal yang suci jadi aku memutuskan untuk membatalkan kesepakatan kita. Aku akan menikah setidaknya sampai aku benar-benar siap dan yakin bahwa hanya akan memiliki satu pasangan saja seumur hidupku."


Embun menunduk. Tubuhnya gemetar membayangkan hari esok tiba. Ezar baru saja membatalkan rencana pernikahan mereka. Itu artinya pria itu tidak akan membantu Embun untuk membayarkan hutang pada Roy. Dan itu artinya .. Embun harus benar-benar menyerahkan hidupnya sebagai wanita bebas mulai besok. Kaki Embun lemas. Gadis itu nyaris terjatuh jika saja tangan Ezar tidak menahannya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Ezar dengan datar.


Embun menggeleng. Mata gadis itu berkaca-kaca. Ezar bisa melihat dengan jelas ketakutan di mata Embun.


"Kau ... sangat takut?"


Embun mengangguk pelan. "Seharusnya jika kau ragu kau tidak perlu membawaku sejauh ini, Ezar. Tadi siang kau bersikap sangat yakin dan sekarang kau malah seperti ini. Kau membuatku kecewa. Aku ... benar-benar sangat takut jika hari esok tiba," lirih Embun.


Kemudian suara isak tangis Embun mulai terdengar. Ezar memejamkan mata sambil memijit pelipisnya. Bagaimana ini? Ezar sudah membuat anak orang menangis karena perkataannya. Tidak, bukan hanya perkataan tapi Ezar juga sudah memperlakukan Embun dengan dingin. Bahkan kini gadis itu harus kedinginan karena baju yang dipilihkan Ezar sementara Ezar sendiri tidak mau memberikan baju hangatnya.


"Jangan menangis. Aku tidak suka melihat perempuan menangis karena aku," gumam Ezar.


Embun menatap Ezar sambil berusaha berhenti menangis. Dia memberikan tatapan memohonnya pada pria itu.


"Tidak bisakah pernikahan ini tetap berlanjut? Kumohon ... jadilah suamiku. Jangan batalkan semua ini," pinta Embun.


Ezar menggelengkan kepalanya. "Maaf aku tidak bisa."


Tangan Embun mengepal dengan kuat. Disela-sela isak tangisnya ia menatap Ezar dengan tajam dan penuh kebencian. Hanya dalam waktu singkat Ezar bisa membolak-balik perasaan dan penilaiannya terhadap lelaki itu sendiri.


"Kau sangat egois! Kenapa kau mudah sekali berubah-ubah?! Kau sengaja mempermainkan ku?!" teriak Embun.


Ezar terdiam. Suara Embun yang lantang bersahutan dengan suara deru ombak dan angin. Karena tak ada jawaban Embun pun memalingkan wajahnya.


"Pergilah. Tinggalkan aku di sini," ahut gadis itu dengan dingin.


Kening Ezar berkerut. "Kau yakin? Rumahmu kan sangat jauh dari sini."


"Itu bukan urusanmu. Sejak awal aku memang terlihat serendah itu di matamu sampai kau bisa berbuat seenaknya kan? Tidak apa-apa, pulanglah. Urusan kita selesai sampai di sini."


Lagi-lagi dengan nada bicara yang sangat dingin gadis itu mengusir Ezar untuk pergi. Walau tidak yakin tapi akhirnya Ezar menurut.


"Baiklah. Aku pergi." Ezar pun mulai melangkah pergi.


Setelah memastikan Ezar sudah benar-benar pergi gadis itu pun melepaskan sepatu heels pemberian dari Ezar. Ia tinggalkan sepatu itu di tempatnya berdiri dan mulai melangkah mendekati laut. Tatapannya begitu kosong.


"Jika besok adalah hari 'kematianku'.. maka lebih baik aku mati malam ini juga kan?" gumamnya.


Kemudian kakinya kembali melangkah dan terus melangkah mendekati air. Hingga tanpa sadar air sudah menenggelamkan kakinya sebatas mata kaki. Daripada harus hidup menderita dengan menjadi budak pemuas nafsu para preman itu, lebih baik Embun mati.


...* * *...


Tring!


Ezar melirik sebuah ponsel yang tergeletak di kursi sebelahnya. Itu bukan ponsel miliknya. Ezar menghela napas. Gadis itu meninggalkan ponselnya di sini. Lantas Ezar harus kembali ke sana untuk mengembalikannya. Ezar pun meraih ponsel itu lalu segera kembali turun dari mobil untuk memberikan benda itu kepada pemiliknya. Namun tiba-tiba ponsel milik Embun itu berdering. Seseorang bernama Roy meneleponnya. Ezar terdiam sesaat.


Haruskah ia mengangkatnya atau langsung memberikannya kepada Embun?


Mungkin mendiamkan telepon itu sampai memberikannya ke tangan Embun adalah jalan terbaik. Lagipula tidak sopan jika Ezar mengangkat teleponnya begitu saja. Ezar segera berlari untuk kembali ke tempat Embun tadi.


"Embun!"


Ezar terdiam saat tidak melihat siapa pun di sana. Lalu ponsel itu kembali bergetar. Ada sebuah pesan masuk lagi dan Ezar pun tak sengaja membaca pesan yang tertera di layar itu.


Roy : Aku tau kalau besok kau akan menjadi milikku Embun :)


Ah, rupanya dari Roy. Ezar tahu siapa Roy. Kalau tidak salah Roy adalah pria yang datang ke rumah Embun pagi ini. Embun memiliki urusan hutang yang besar pada orang ini. Tapi Ezar tidak tahu berapa jumlah hutangnya sampai Embun harus mempertaruhkan tubuh bahkan hidupnya.


Sekarang Ezar mulai panik. Apalagi saat matanya menangkap sepasang sepatu heels milik gadis itu dibiarkan begitu saja di atas pasir pantai tanpa pemiliknya. Belum lagi jejak-jejak kaki yang mengarah ke laut membuat jantung Ezar semakin bergemuruh.


"Sial! Gadis itu mencoba bunuh diri?!"


Ezar langsung berlari mendekati air laut yang dingin. Dalam hatinya Ezar merutuki gadis yang sedang mencoba bunuh diri itu. Tanpa berpikir panjang Ezar segera melepas jas dan sepatunya lalu berlari ke laut. Ezar rela mengabaikan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulangnya demi mencari seorang gadis frustasi yang terlibat banyak hutang pada satu orang.


Begitu mulai berenang mencari gadis itu, Ezar baru berpikir kenapa juga ia harus berbuat sejauh ini? Ezar tidak kenal siapa dan bagaimana asal usul Embun bahkan dia tidak tahu berapa jumlah hutang Embun. Beberapa menit yang lalu Ezar membatalkan kesepakatan dan tidak ingin terlibat dengan Embun lagi. Tapi sekarang dia malah sedang berada di dalam air laut yang dingin di malam hari seperti ini demi mencari gadis itu.


Ezar hanya tidak ingin merasa bersalah nantinya karena dirinya yang tidak ingin membantu seseorang dan membiarkan orang itu bunuh diri. Ezar berusaha menajamkan penglihatannya di bawah air yang gelap. Sampai akhirnya dia melihat siluet seseorang yang tenggelam, Ezar langsung berenang dengan cepat. Itu pasti Embun. Pria itu langsung meraih tubuh Embun dan berenang sambil membawanya ke permukaan.


...* * *...


Ezar langsung menidurkan tubuh Embun di atas pasir. Gadis itu tak sadarkan diri. Wajahnya sudah pucat. Bagaimana pun Ezar harus membuatnya sadar.


"Embun, sadarlah!" Ezar menepuk-nepuk pipi Embun agar gadis itu tersadar. "Embun!"


Lalu Ezar mulai melakukan CPR. Ia memompa dada Embun dengan sekuat tenaga dan berharap usahanya berhasil. Embun tidak boleh mati begitu saja hanya karena hutang-hutangnya. Ezar tidak ingin dihantui perasaan bersalah.


Tubuh Ezar langsung terdorong begitu Embun tiba-tiba bangkit lalu memuntahkan air laut yang masuk ke dalam dadanya. Ezar menghela napas lega. Akhirnya ia berhasil menyelamatkan gadis itu. Sekarang tubuh Ezar menggigil karena mulai merasa kedinginan.


"Apa kau gila?! Apa yang baru saja kau lakukan?!" pekik Ezar dengan suara bergetar.


Embun pun tersadar sepenuhnya begitu mendengar suara teriakan Ezar. Sontak kepalanya langsung tertunduk. Ia baru saja melakukan aksi bunuh diri dengan menenggelamkan diri tapi gagal karena diselamatkan oleh Ezar. Seketika Embun kembali teringat pada masalah hidupnya.


"Kau pikir mati adalah jalan terbaik?!" tanya Ezar dengan ketus.


"Lebih baik aku mati daripada harus menjadi tempat pelampiasan nafsu mereka," lirih Embun.


Ezar mendengus. "Kau lah yang mengambil semua keputusan dalam hidupmu tapi kenapa kau malah tidak mau menanggung semua resikonya? Kau malah melarikan diri. Itu kah caramu hidup?"


"Kau tidak mengerti!" bentak Embun.


"Terserah, yang penting urusanku sudah selesai. Tadi aku ke sini hanya ingin mengembalikan ponselmu."


Ezar bangkit lalu meraih jas dan sepatunya. Ah, sial. Dingin sekali. Ezar juga menyodorkan ponsel yang ia temukan di mobilnya kepada pemiliknya.


Embun menerimanya dalam diam. Embun mendongak menatap Ezar cukup lama. Lalu tiba-tiba Embun menarik tangan Ezar dengan cepat dan langsung mencium bibir pria itu. Tentu saja Ezar terkejut dan langsung menghindar. Ezar mendorong Embun dengan sangat kencang.


"KAU!"


Embun malah kembali menarik kepalanya dan mencium bibirnya dengan kasar. Ezar bersikeras berontak tapi tenaga Embun kuat sekali.


"Jadilah suamiku. Nikahi aku!" ucap Embun di sela-sela ciumannya.


"A-Aku tidak .. mau! Lepas..kan!"


"Kau ingin aku mati?"


Ezar berhasil melepaskan ciumannya secara paksa. Napasnya tersengal-sengal. Entah kenapa tiba-tiba saja tubuhnya terasa hangat dan jantungnya berdebar kencang. Itu ciuman pertamanya seumur hidup. Embun telah mencurinya. Lantas Ezar menatap Embun dengan sangat marah.


"Apa kau marah?" tanya Embun.


"Kau benar-benar gadis gila!"


Bibir Embun bergetar setelah mendengar perkataan Ezar barusan. Ya, dia sadar bahwa dirinya sudah menjadi gila. Dialah yang menawarkan kesepakatan seperti ini pada Roy dan sekarang malah dia yang merasa sangat frustasi hingga rasanya ingin mati. Embun menekuk lutut lalu menangis memikirkan hari esok.


Ezar yang melihatnya menangis ada rasa sedikit tidak tega. Belum lagi Ezar sendiri masih berusaha mengontrol debaran jantungnya yang berlebihan. Lalu Ezar jadi teringat pesan yang dikirimkan Roy untuk Embun. Ezar pun menghela napas.


"Jika masalahnya ada pada hutangmu, maka aku akan meminjamkan uangku untuk melunasi semua hutang itu. Dengan begitu aku tidak perlu menjadi suamimu, bagaimana?"


Embun pun menatap Ezar. "Lalu bagaimana aku mengganti uangmu nantinya? Dan bagaimana dengan orang tuamu? Mereka sudah setuju."


"Ck. Aku tidak akan mengejarmu seperti orang itu. Bayarlah kapan pun yang kau mau dan aku tidak akan meminta jaminan apa pun. Soal orang tuaku, jangan pikiran itu karena aku akan berbicara pada mereka. Sekarang beritahu aku berapa jumlah hutangmu?"


Ezar bersiap mengeluarkan dompetnya. Embun menghela napas. Ezar memang suka sekali menyombong di depan orang miskin sepertinya. Tapi wajar saja jika Ezar sombong karena pria itu memang punya segalanya. Tidak apa-apa kan bersikap sombong seperti itu. Jangan seperti Embun yang selalu berfoya-foya dengan uang pinjaman. Bahkan punya rumah tetap yang kecil saja sudah lebih dari bersyukur untuk Embun.


"Seratus lima puluh juta."


Ezar langsung menatap Embun tidak percaya. "Jangan bercanda."


"Aku tidak bercanda, Tuan Ezar. Memang segitu nominal hutangku pada Roy."


"Kau apakan uang sebanyak itu? Kau bahkan tidak punya apa-apa untuk membayarnya dan malah berani meminjam sebesar itu pada mereka?" tanya Ezar yang masih terkejut mendengar jumlah hutang Embun.


Bahkan Ezar yang merupakan orang kaya sejak ia terlahir ke dunia saja masih menganggap nominal sebanyak itu sangat besar.


"Awalnya aku hanya meminjam sedikit tapi karena aku harus terus hidup jadi aku memberanikan diri meminjam sebanyak itu pada Roy."


"Lalu kau gunakan apa semua uang itu dalam waktu lima bulan ini?"


Embun tampak berpikir sejenak. "Aku gunakan untuk membeli tas, pakaian, dan pergi ke club. Hanya itu saja yang aku lakukan," jawab Embun dengan polosnya.


Ezar mengusap wajahnya gusar. Embun memang benar-benar gila. Pantas saja gadis itu frustasi setengah mati untuk mencari suami kaya raya. Embun benar-benar tidak punya apapun untuk melunasi hutang sebanyak itu. Bahkan rumah yang ditempati Embun beserta seluruh isinya saja Ezar yakin tidak akan cukup untuk membayar semua itu. Ezar tidak menyangka jika gadis yang tinggal di rumah minimalis dan hidup sederhana ternyata memiliki gaya hidup yang jauh dari kata sederhana.


Dan semua itu Embun lakukan demi .. bersenang-senang?


"Baiklah baiklah. Aku akan meminjamkannya sekarang juga."


Ezar pun mengeluarkan selembar kertas dari dompetnya lalu menuliskan sesuatu di sana. Setelah selesai ia langsung memberikan secarik kertas itu, bukan uang yang berniat ia pinjamkan pada Embun.


"Ini. Suruh dia datang padaku dan ambil uangnya."


Ternyata Ezar memberikan alamat tujuan untuk Roy yang dititipkan melalui Embun. Embun menatap Ezar bingung.


"Kenapa kau tidak langsung berikan saja uangnya padaku?"


"Aku tidak ingin mengambil resiko kau memakai uang itu untuk bersenang-senang. Aku bahkan terkejut ternyata orang sepertimu memiliki pergaulan yang sangat royal." Ezar tersenyum miring.


"Apa?! Kau mencurigaiku tanpa alasan!" ketus Embun.


"Kau mau aku pinjamkan atau tidak?! Kau banyak permintaan!" desis Ezar.


"Aku tidak mau!"


"Huh? Maksudmu?"


Embun menatap Ezar dengan tatapan memohon. Bukan ini yang diharapkan Embun.


"Begini.. jika aku pinjam padamu maka tetap saja aku harus mengembalikannya padamu. Jika kita menikah maka aku tidak perlu repot-repot mengembalikan uangnya kan?"


"Memang apa bedanya jika kita menikah?" tanya Ezar bingung.


"Sebagai gantinya aku sebagai istri akan melayanimu. Bukankah itu impas?"


"Tapi aku-"


"Kau mau dijodohkan oleh mamamu?


Ezar berdecak kesal. Gadis di hadapannya ini benar-benar kacau. Sudah mencuri ciuman pertama Ezar secara paksa lalu sekarang memaksa minta dinikahi. Sebenarnya gadis seperti apa Embun itu? Tapi jika dipikir kembali Ezar tidak ingin dijodohkan dengan gadis mana pun yang tidak ia kenal.


"Ezar kau melamun! Cepat jawab aku!"


Ezar langsung tersentak. "Apa?"


"Nikahi aku maka aku akan memberikan-"


"Kita tidak bisa menikah tanpa cinta, Embun!"


Embun terdiam. Ya, mereka tidak saling mencintai. Tapi Embun sangat membutuhkan bantuan Ezar tapi bukan dengan meminjam uang caranya. 


"Kalau begitu ayo kita menikah kontrak. Kita menikah hanya untuk beberapa waktu ke depan. Aku bersedia melayanimu sebagai balas budi atas hutang-hutangku dan kau juga bebas melampiaskan apa pun yang kau rasakan padaku. Kau juga bebas jika ingin mencampakkanku," ujar Embun dengan ringan. Lebih ringan dari kapas.


Ezar sampai melongo mendengarnya.


"Apa kau bodoh? Itu sama saja kau menjual dirimu padaku dengan cara halal!" teriak Ezar dengan kesal.


"Tapi itu cara yang sangat mudah, Ezar. Ayolah, kita gunakan cara itu saja."


"Kau benar-benar memaksa," desis Ezar.


"Ya. Aku sangat memaksa. Dengan begini kau tidak perlu terikat denganku selamanya lalu kau juga bisa menghindari perjodohan yang tidak kau inginkan dan aku pun terbebas dari hutang. Meski kita dalam peraturan kontak, aku tetap akan melayani dan berbuat apa pun yang kau mau tapi kau bisa terus bebas, Ezar."


Sekali lagi Embun menatap Ezar dengan tatapan memohonnya. Ezar ingin menolak tapi melihat sorot mata yang minta belas kasihan itu membuatnya menjadi ragu untuk menolak. Sebagai seorang pria dewasa yang normal tentunya fokus Ezar sepenuhnya tersita pada penampilan Embun yang terbuka, basah, serta bibir ranum gadis itu yang tampak kemerahan. Apalagi Embun baru saja menciumnya dengan cukup liar tadi. Sial! Ezar jadi tidak bisa berpikir jernih. Ezar memalingkan wajahnya.


Tangan Embun bergerak menarik kepala Ezar lalu mendekat. Ezar semakin merasa merinding. Embun mendekatkan bibirnya pada telinga Ezar lalu berbisik.


"Nikahi aku dan akan aku puaskan dirimu, Ezar. Aku berjanji kau tak akan rugi."


Bibir gadis itu kembali mencium bibir Ezar tanpa permisi. Kemudian tanpa sadar pada akhirnya Ezar pun tetap setuju pada kesepakatan yang mereka buat.