Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 36



Setelah pintu lift terbuka Ezar langsung berjalan dengan sedikit tergesa menyusuri lorong menuju ruangannya. Tangannya memijat pelipis karena merasa sedikit pening. Akhir-akhir ini banyak yang Ezar pikirkan termasuk masalah diluar pekerjaan. Ezar berhenti saat melihat Aldo di meja sekretasinya. Aldo sedang berbincang dengan Sekar.


"Aldo. Sedang apa disini?" Sahut Ezar.


Kedua orang itu langsung menoleh.


"Hai, Pak Ezar. Aku kesini untuk menemuimu. Katanya kau sedang tidak ada. Syukurlah sekarang kau ada disini." Ujar Aldo.


Ezar menunjuk pintu ruangannya menggunakan dagu.


"Masuklah. Sekar, tolong bawakan camilan manis dan teh untuk kami."


"Baik pak."


Ezar langsung membantingkan tubuhnya di sofa. Ia juga melonggarkan ikatan dasinya yang terasa menyesakkan. Aldo yang duduk diseberangnya pun tertawa.


"Biasanya raut wajah orang yang telah berbulan madu itu bahagia dan berseri-seri bukan malah terlihat kusut." Sahut Aldo.


Ezar berdecak.


"Tidak perlu menyindirku."


"Aku tidak menyindir. Itu memang fakta."


Ezar mendengus. Sekar pun datang membawakan pesanan Ezar. Setelah Sekar keluar Aldo menatap Ezar dengan serius.


"Hari ini orang itu kembali ke Indonesia." Kata Aldo.


Ezar mengangguk. Ia kembali memijit pelipisnya.


"Aku sudah tahu. Aku bahkan menandai tanggal kepulangannya."


"Kau sudah tahu? Si Rayhan itu ternyata adiknya Mario. Kau pasti kenal siapa Mario. Dia bos istrimu kan?"


Gerakan tangan Ezar langsung terhenti. Matanya menatap Aldo. Dalam hatinya Ezar terkejut bukan main. Namun sebisa mungkin ia menahannya agar terlihat tenang.


"Lalu apakah dia pergi ke butik istriku?" Tanya Ezar.


Aldo mengangguk.


"Ya. Orang-orang ku bilang seperti itu. Mungkin dia bertemu istrimu."


Aldo memperhatikan gerakan Ezar menyeruput teh panas. Menurut Aldo cara Ezar menikmati teh panas itu sangat tidak manusiawi. Biasanya Ezar tidak suka teh yang masih panas. Tapi lihatlah, sekarang pria itu menyesapnya tanpa merasa kepanasan sedikitpun. Aldo curiga jika indera pengecap Ezar mati rasa karenanya.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Aldo.


"Apa maksudmu?"


"Dia masa lalu istrimu. Mereka saling menunggu waktu untuk bertemu setelah sekian lama. Dan tampaknya Embun juga menunggu pria itu bertahun-tahun lamanya. Lalu sekarang mereka sudah dipertemukan kembali. Kau tidak cemas jika Embun akan direbut?" Tanya Aldo dengan gemas.


Ezar menghela nafas. Tentu saja ia cemas. Sangat cemas.


"Aku yakin hanya karena hutang budi lah Embun masih setia menunggunya. Aku tahu persis seperti apa hubungan mereka dulu." Kata Ezar.


Ya. Ezar tahu semuanya. Bukan dari Carrel tentunya. Ia mencari tahu sendiri. Ezar juga tahu bahwa Rayhan pernah menukar nyawanya dengan nyawa Embun. Mungkin karena itulah Embun tidak tega menyakiti hati Rayhan, orang yang telah menyelamatkan hidupnya saat Embun hendak tertabrak truk dimasa itu. Sebagai gantinya Rayhan yang terbaring koma di rumah sakit selama berbulan-bulan dengan alasan ia menyukai Embun sejak lama. Sejak dari situ Embun tak henti-hentinya bersikap baik kepada Rayhan. Mungkin karena gadis itu ingin berbalas Budi.


Ezar tersenyum miring jika mengingat kisah masa lalu istrinya. Menurutnya itu sangat konyol dan tidak menarik.


"Kau tahu tapi kau masih diam saja seperti ini? Hey, bung! Bulan madumu kacau karenanya harusnya kau menjaga ketat istrimu." Kata Aldo dengan gemas.


"Aku menyayanginya. Karena itu juga aku ingin percaya padanya. Dia mencintaiku, bukan Rayhan. Percayalah, dia hanya ingin membalas kebaikan Rayhan. Bukan karena benar-benar menyukainya." Ujar Ezar penuh keyakinan.


Aldo tertawa sinis.


"Kau begitu percaya diri. Astaga! Aku benar-benar tidak menyangka ini. Kakak beradik itu sama-sama menyukai istrimu. Mereka bisa jadi sekutu untuk mengalahkanmu, Ezar."


BRAKK


Aldo terperanjat saat Ezar tiba-tiba saja menggebrak meja didepannya. Ezar menatap Aldo dengan tajam.


"Kau sialan. Lebih baik kau keluar dari ruangan ku sekarang daripada membicarakan hal yang tidak penting atau gajimu aku potong setengahnya." Desis Ezar.


"A-apa? Kau benar-benar .. ah, baiklah baiklah aku keluar."


Tidak ingin ada potongan gaji Aldo pun segera keluar dari sana. Ezar menghela nafas. Ia membuka dasinya lalu melempaskan dasi itu begitu saja ke lantai. Kehadiran Aldo disini hanya semakin memperkeruh suasana hati Ezar yang ingin berusaha positif. Yang Ezar butuhkan adalah hiburan atau sedikit kalimat pembangun bukan kalimat yang membuatnya semakin pusing dan pesimis.


Aldo benar-benar sialan.



Embun menghela nafas. Setelah berkenalan secara resmi dihadapan Mario, Rayhan langsung meminta izin untuk mengajaknya berjalan\-jalan keluar. Sialnya Mario malah mengizinkan. Alhasil Rayhan mengajak Embun untuk berjalan\-jalan sebentar di taman daerah sekitar.



Tapi Embun belum mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi. Ia merasa gelisah dan canggung bertemu dengan Rayhan setelah semua yang terjadi pada rumah tangganya akhir\-akhir ini.



"Bukankah ini sebuah takdir?" Tanya Rayhan.



"Ya?"



"Kita bertemu di Amerika lalu ternyata kau karyawan kakakku." Rayhan tersenyum.



"Kau benar."



"Bagaimana kabarmu? Kau pulang tanpa berkata apa\-apa padaku waktu itu. Padahal aku mendatangi kamarmu namun ternyata sudah kosong." Kata Rayhan.



Embun menelan salivanya. Kira\-kira apa yang terjadi jika ia dan Ezar tidak segera pulang lalu Rayhan mendatangi kamar mereka. Huh. Sepertinya perang akan terjadi.



"Maaf. Aku pulang secara tiba\-tiba."



"Tidak apa\-apa, Embun. Yang penting sekarang kita sudah bertemu kembali."



Embun hanya bisa tersenyum kecil.



"Soal pria yang bersamamu di Amerika.."



"Ah, itu sebenarnya.."



Rayhan tertawa. Embun mengerutkan keningnya.



"Kenapa kau tertawa?"



"Aku sudah melihat resume beberapa karyawan di meja kakakku. Aku membaca resume punyamu. Kau .. sudah menikah."



Embun menatap Rayhan.




"Tidak apa\-apa. Itu pilihan hidupmu. Aku senang jika kau senang, Embun."



Rayhan menatap Embun dengan sendu. Hal itu cukup membuat Embun merasa tidak enak.



"Tapi bolehkah aku merasa kecewa? Kau tidak benar\-benar menungguku."



Embun menggelengkan kepalanya.



"Bukan begitu, Ray. Aku sungguh\-sungguh menunggumu. Tapi keadaan yang terpaksa membuatku menikah dengannya. Aku tidak mengingkari janji." Tegas Embun.



Rayhan tersenyum kecil dengan raut wajah sedihnya.



"Tidak apa\-apa. Aku tidak memaksa. Kata orang cinta pertama itu tidak pernah berhasil. Aku akan menerimanya."



Mata Embun berkaca\-kaca. Ia sungguh tidak tega membiarkan Rayhan terluka. Pria itu pernah jauh lebih terluka di sekujur tubuhnya karena Embun. Tanpa menunggu lagi Embun langsung memeluk Rayhan.


Rayhan pun tersentak dengan gerakan yang begitu tiba\-tiba.



"Maafkan aku. Sungguh. Maafkan aku. Setiap hari aku selalu menunggumu Ray. Percayalah! Aku terpaksa menikah dengannya." Suara Embun bergetar.



Rayhan menghela nafas. Bohong jika ia tidak kecewa dengan fakta bahwa gadis yang dicintainya selama bertahun\-tahun itu sudah menikah. Mau seperti apapun keadaannya dan meskipun Embun menikah karena terpaksa, gadis itu bukan lagi miliknya. Rayhan tidak bisa memiliki Embun lagi. Fakta yang paling menyayat hatinya, bahwa Embun sudah menjadi milik orang lain.



Rayhan melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah Embun lalu menghapus jejak air mata Embun yang tersisa.



"Tapi kau mencintainya." Lirih Rayhan.



Embun kembali menggeleng.



"Sudah kubilang kita menikah karena keadaan. Aku tidak mengingkari janji untuk menunggumu, Ray. Percayalah."



Rayhan mengangguk.



"Aku mengerti. Jangan menangis lagi."



Setelah menghabiskan waktu di butik seusai jam pulang kerja akhirnya Embun kembali ke rumah pada malam hari. Embun terkejut melihat mobil suaminya sudah terparkir di halaman rumah jam segini. Biasanya Ezar selalu pulang larut malam.


"Tumben sekali dia sudah pulang." Gumam Embun.


Kakinya melangkah masuk ke dalam rumah. Gelap. Suasana dalam rumahnya sangat gelap. Apa Ezar atau Bi Lasri tidak menyalakan lampu? Embun menyalakan lampu tiap ruangan satu persatu. Setelahnya ia bergegas menuju kamar karena tidak menemukan Ezar dimana pun. Pria itu pasti sedang ada di kamar.


Dan suasana kamar pun gelap. Embun berniat menyalakan lampunya jika saja sebuah suara tidak mengejutkannya.


"Jangan dinyalakan." Tegasnya.


Perlahan Embun menolehkan kepalanya. Ezar duduk dilantai bersandar pada ranjang. Kemejanya berantakan dan juga kancingnya terbuka secara acak. Rambut Ezar juga berantakan. Penampilan Ezar sangat kacau. Embun langsung mendekati suaminya.


"Ezar."


Seketika Embun langsung sedikit menjauh ketika hidungnya mencium bau alkohol begitu tajam.


"Kau mabuk?" Tanya Embun tidak percaya.


Ezar tersenyum sambil berdehem.


"Kau sangat kacau. Astaga! Kau bahkan memberantaki kamar." Embun melirik beberapa botol dan kaleng minuman semacam bir berserakan di lantai.


Embun menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa berkata apapun gadis itu langsung membereskan semua sampah itu lalu menyalakan lampu. Ezar tiba-tiba berdiri dibelakang Embun saat lampu sudah menyala. Ezar juga mencengkram kuat pergelangan tangan Embun.


Embun meringis.


"Sakit Ezar."


"Sudah kubilang jangan dinyalakan!" Bentak Ezar.


Embun tersentak.


"Ta-tapi kenapa.."


"Kau keras kepala!" Desis Ezar.


"M-maaf."


Ezar mengumpat kecil saat tubuh Embun bergetar. Kepala Embun juga tertunduk perlahan. Ezar telah membuat gadis itu ketakutan. Ezar langsung menekan tombol saklar agar lampu kamar kembali mati. Dalam keadaan gelap seperti ini ia tidak akan bisa melihat Embun menangis dengan jelas bukan?


"Kenapa?" Tanya Embun dengan suara lirih.


"Apa?"


"Kenapa kau lakukan ini padaku? Aku sangat takut dengan sikapmu akhir-akhir ini." Lirih Embun.


Ezar menghela nafas.


"Kau pikir kenapa?" Ezar bertanya balik.


"Kau bahkan tidak menjelaskan darimana kau tahu soal Rayhan. Sikapmu bahkan perkataanmu sangat menggangguku akhir-akhir ini, Ezar!" Embun mendongak.


Dan Embun berhasil sedikit meluluhkan hati Ezar dengan air mata yang mengalir diwajahnya.


"Itu karena kau hanya milikku, Embun! Milikku! Tidak boleh ada yang lain!" Pekik Ezar secara tiba-tiba.


Embun mendongak. Sepertinya ada yang salah dengan Ezar. Ya, pria itu mabuk berat. Matanya memerah. Embun berusaha mendorong Ezar namun tubuh itu malah semakin menghimpitnya.


"Ezar! Minggir! Kau bau alkohol!"


"Kau cuma milikku! Kumohon, jangan kembali ke masa lalumu. Aku masa depanmu."


Embun terdiam. Bahunya basah. Ezar menangis. Kepalanya pun mendongak. Ezar benar-benar menangis.


"Ezar kau-"


"Aku sangat takut kehilanganmu. Sungguh. Jangan pergi. Kau hanya milikku, Embun. Hanya milikku."


GREP


Ezar langsung memeluk dengan sangat erat. Bahkan Embun sampai merasa sesak. Embun menepuk-nepuk punggung Ezar agar pria itu sedikit melonggarkan pelukannya. Bukanya melonggar, tangan Ezar justru semakin meraih pinggangnya. Tak hanya itu, Ezar juga meraba ke belakang punggung Embun lalu bermain di sleting belakang rok Embun.


"Ezar!"


"Aku tidak peduli apapun. Kau hanya milikku. Harus!"


Dan sepertinya malam itu menjadi malam yang sangat buruk untuk Embun.