
Setelah selesai dengan pekerjaannya Ezar pun kembali ke hotel. Ezar mulai berpikir jika seharusnya ia menyewa apartemen saja agar lebih leluasa. Mungkin akan ia pikirkan dan bicarakan dengan Aldo nanti setelah pria itu sampai. Dalam hal apapun Ezar sudah mempercayakan segala keputusan pada Aldo. Begitu sampai di kamar hotel, Ezar menemuka Sarah yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv.
Alis Ezar terangkat. Kenapa wanita itu ada disini?
"Ku kira kau sudah pulang." Ezar bersuara.
Sarah melirik Ezar.
Pria itu melepaskan jas dan ikatan dasinya yang menyesakkan. Kemarin Sarah bilang akan pulang ke Indonesia tapi entah kapan pastinya. Ezar sendiri tidak ingin tahu. Tapi rupanya wanita itu malah sedang bersantai di kamar hotelnya. Aneh. Padahal Sarah juga punya kamar hotel sendiri tapi wanita itu sangat betah berada dikamar Ezar.
Sarah terus memperhatikan gerak-gerik Ezar sampai Ezar sendiri mulai menyadarinya. Ezar balas menatap Sarah. Matanya memicing. Ada yang tidak beres dengan Sarah. Dia terlihat sedang menahan sesuatu. Berkali-kali Ezar memergoki Sarah yang menatapnya dengan tatapan ragu, bingung, dan cemas. Tatapan mata Sarah juga menunjukkan seolah ada yang ingin disampaikan.
Baiklah.
Mungkin sejak kemarin Ezar terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Ezar pun duduk disebelah Sarah dan masih menyisakan jarak. Tubuh Sarah langsung tegak.
"Ada apa?" Tanya Ezar datar.
"Hm?"
"Aku tahu kau sedang ingin menyampaikan sesuatu padaku. Katakan sekarang juga." Tegas Ezar.
Sarah mulai gugup. Antara yakin tidak yakin harus mengatakannya. Tapi bukan ini yang Sarah inginkan sebenarnya.
"Tidak ada, Ezar." Gumam Sarah pelan.
Ezar mendengus.
"Aku sangat mengenal dirimu, seperti apa raut wajahmu ketika ada sesuatu. Katakanlah sekarang."
Sarah bergerak gelisah. Hatinya berdebar karena gugup. Bingung harus mengatakannya bagaimana. Tapi ia rasa jika sudah terlalu lama untuk menahannya.
"Sebenarnya-"
"Sebentar. Ada telpon masuk." Ezar memotong.
Ezar merogoh kantung celananya ketika dirasa ponselnya bergetar. Benar kan. Ada telpon dari Aldo.
"Ada apa?"
"Aku baru saja akan terbang ke sana. Kau pasti sangat terkejut ketika aku sudah sampai."
Ezar memijat pelipisnya.
"Kalau begitu kenapa kau harus menelponku seperti ini? Cepat kemari. Aku butuh saranmu."
"Dengar. Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Jika itu tentang calon istrimu maka-"
"Bukan itu bodoh. Kau terlalu banyak menuduhku."
"Jaga bicaramu Aldo!"
Ezar menggeram kesal. Hal itu mengundang tatapan Sarah.
Ezar tidak sembarang menuduh karena akhir-akhir ini Aldo sering dan banyak bercerita tentang calon istrinya. Aldo bahkan sangat membangga-banggakan calon istrinya itu pada Ezar. Entahlah. Pria itu berubah menjadi sangat bawel dan rewel sejak akan menikah. Padahal sebelumnya Aldo sama sekali tidak pernah mengungkit tentang kekasihnya. Ezar sendiri bingung entah kenapa.
"Ya ya maaf. Bersiaplah untuk tidak terkejut karena aku akan segera terbang ke sana."
"Katakan saja." Ezar mulai jengah.
Aldo terlalu banyak bertele-tele.
"Istrimu hamil."
DEG
Ezar menahan nafasnya. Apa katanya barusan? Istrinya? Embun hamil?
Kemudian Ezar menarik nafas. Tatapan matanya berubah tajam.
"Kau yakin itu hasil dari perbuatanku dengannya?" Tanya Ezar dengan sinis.
Ezar bahkan tertawa sinis. Membuat Sarah yang duduk disebelahnya mulai merasa takut.
"Hei! Jaga ucapanmu! Ini anakmu bodoh! Kau gila ya?! Kenapa bicara seperti itu sedangkan dia istrimu!"
Ezar menggeram pelan saat Aldo mulai berteriak.
"Dia tidak mencintaiku. Dia memilih kekasihnya itu jadi .. jangan asal bilang jika itu anakku karena aku tidak akan percaya." Kata Ezar dingin.
Sarah langsung menegang. Tubuh Sarah langsung merinding saat Ezar mengatakan kalimat keji itu.
"Open your mind dude! Jangan termakan rayuan setan disebelahmu!"
Ezar melirik Sarah tanpa sadar.
"Berhenti bicara omong kosong dan cepatlah datang kemari."
Setelah mengatakannya dengan tegas dan penuh penekanan Ezar langsung memutuskan sambungan teleponnya. Emosinya langsung tidak stabil semenjak tahu Embun hamil. Ezar sama sekali tidak senang dengan kabar itu. bahkan Ezar merasa menyesal karena sudah mengetahuinya.
"Apa maksudmu Ezar? Jelas-jelas itu anakmu." Sarah menyahut.
Rupanya nyali Sarah langsung menciut saat mendapatkan tatapan setajam silet.
"Aku tidak akan pernah percaya. Aku sudah meninggalkannya selama ini jadi memungkinkan telah terjadi sesuatu diantara mereka."
Sarah menjambak kecil rambutnya sendiri. Sungguh, ia benar-benar frustasi dengan pria yang notabenenya adalah mantan kekasihnya itu.
"Jangan asal menuduh. Kau tidak pernah berubah. Kau ingat? Kau juga pernah menuduhku selingkuh dengan senior dulu. Dan ternyata kau salah." Pekik Sarah kesal.
"Tapi dia memang menyukaimu. Itu tidak salah."
"Tapi tidak ada sesuatu diantara kami. Aku hanya berteman dengannya itu saja, Ezar!"
"Sudahlah Sarah. Kenapa kau malah membahas masa lalu? Aku menghubungimu lagi bukan untuk membahas masa lalu!" Ezar membentak.
Sarah tersentak karena dibentak. Sarah menghela nafas. Kemudian Sarah bangkit berniat meninggalkan Ezar.
"Terserahlah. Jangan sampai kau menyesal hanya karena prasangka tak berdasarmu itu."
Sarah pun pergi dengan membanting pintu. Ezar terkekeh pelan.
"Prasangka tak berdasar? Lihat saja nanti. Dugaanku pasti benar."
~~
Aldo menghela nafas lalu menatap ponselnya sekali lagi. Kemudian ia melirik wanita yang sejak tadi hanya dia menunduk duduk di kursinya. Aldo ikut duduk disebelah wanita itu.
"Tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja Embun." Ucap Aldo dengan lembut.
Embun tak kunjung mendongak. Aldo mulai merasa aneh setelah beberapa saat. Bahu itu mulai bergetar. Aldo panik.
"Hei Embun. Ada apa?"
Embun mendongak dengan kondisi wajah yang sudah memerah. Sial. Wanita itu menangis. Embun memperlihatkan ponselnya pada Aldo. Kemudian mata Aldo langsung membaca pesan yang ada diponsel itu. Itu dari Ezar.
Isinya..
'Hamil lah untuk dirimu sendiri. Tidak perlu mengumbarnya kesana kemari apalagi memberitahunya kepada orang-orang ku karena itu memalukan. Dan selamat untuk buah hatimu dengan pria itu.'
Sungguh. Aldo ingin menghajar wajah Ezar sekarang juga. Tangan Aldo terkepal kuat.
"Sialan Ezar."
"Dia tidak percaya ya bahwa aku hamil anaknya." Embun terkekeh pelan.
"Hei tidak seperti itu."
Embun menggeleng.
"Kurasa tidak akan berguna jika aku datang kesana, Aldo. Lebih baik aku pulang. Terimakasih untuk semuanya."
Embun hendak bangkit lalu membawa kopernya. Tapi Aldo dengan cepat menahan tangan wanita itu.
"Jangan terlalu dipikirkan. Dia memang gila. Kau harus memakluminya. Saat ini Ezar sedang pusing soal proyeknya." Sahut Aldo.
Embun tersenyum getir. Sekalipun pria itu pusing karena pekerjaannya bukan berarti harus seenaknya menuduh kan.
"Ternyata sudah seburuk itu aku dimatanya." Lirih Embun.
"Bukankah sudah kubilang jika kau sendiri yang harus meyakinkannya?"
Embun menatap Aldo.
"Dia akan percaya jika itu dirimu, Embun." Aldo menghela nafas.
"Kau yakin Aldo?" Tanya Embun pelan.
Aldo mengangguk dengan pasti.
Embun mulai menenangkan pikirannya. Ya. Kali ini mungkin sudah seharusnya dia yang berjuang setelah selama ini Ezar yang selalu memperjuangkannya. Kemudian Embun mengelus perutnya. Ia berjanji akan berjuang demi anaknya. Bayi ini harus bersama ayahnya saat lahir nanti apapun yang terjadi.
Harus.
~~
Ezar baru saja selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan tubuhnya yang masih terbungkus bathrobe. Ezar mengambil minuman bersoda dingin dari kulkas mini lalu menyalakan tv. Mungkin sore ini ia akan bersantai sejenak sambil menunggu Aldo datang. Sekalian melepas beban pikiran tentang kehamilan Embun. Ah, sudahlah tidak perlu diingat lagi.
Ezar melirik jam. Seharusnya Aldo sudah sampai karena penerbangannya tidak memakan waktu berjam-jam seperti terbang ke Eropa. Ezar menegak minuman kaleng itu. Matanya fokus menonton berita yang disiarkan langsung.
Berita baru. Kecelakaan beruntun di jalanan menuju bandara internasional Singapura. Diduga pelakunya supir bus yang mabuk. Kecelakaan beruntun ini melibatkan dua pengendara motor, satu truck, dan tiga mobil. Satu diantara adalah taksi biasa.
"Huh, kasus serupa dinegara yang berbeda rupanya." Gumam Ezar.
Kemudian Ezar melirik ponselnya yang berada diatas meja. Ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Ezar langsung mengangkatnya.
"Hello."
Ezar diam mendengarkan orang diseberang sana berbicara. Tak lama tubuhnya langsung menegang. Matanya pun kembali menatap layar televisi dengan ragu. Sungguh Ezar bahkan tidak bisa menelan ludahnya sendiri.
Dan detik itu juga Ezar mulai dihantui rasa ketakutan yang ditinggi.