Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
23. Menarik



Carrel melihat Embun yang kembali masuk ke cafe setelah memastikan Ezar akan pergi. Carrel pun berlari kecil menuju mobil Ezar lalu mengetuk kaca mobilnya. Tak lama Ezar menurunkan kaca mobilnya.


"Ada apa Carrel?" Tanya Ezar.


"Sebelumnya aku ingin berterimakasih karena kau sudah mau mendukung apa yang ingin Embun lakukan terutama soal masa depannya." Carrel tersenyum.


Kening Ezar berkerut.


"Apa yang kau bicarakan?" Tanya Ezar tak mengerti.


"Mengenai Embun yang harus berhenti bekerja karena akan sekolah kursus.. aku berterimakasih untuk semuanya. Kau tahu? Sudah lama Embun tidak ingin melakukannya lagi semenjak orang tuanya pergi."


"Ya aku tahu soal orang tuanya itu." Tukas Ezar.


"Selama ini aku berniat membantunya tapi dia sangat sulit dikendalikan. Tapi semenjak menikah denganmu entah kenapa Embun jadi ingin membangkitkan kembali semangat tentang masa depannya walau kalian sempat bertengkar. Hehe aku tahu semuanya. Karena itu aku percaya kau pasti orang yang istimewa untuknya." Jelas Carrel.


Ezar hanya terdiam mencermati perkataan Carrel dengan tenang. Aldo pun demikian.


"Embun akan selalu melakukan sesuatu yang hebat demi membuat orang yang ia anggap spesial itu bangga, Ezar. Kau pasti paham maksudmu."


...__ooOoo__...


Embun turun dari motor setelah Arsen memberhentikan motor itu tepat di depan rumahnya. Setelah memberikan helm yang ia pakai itu pada Arsen Embun pun berjalan memasuki gerbang rumahnya. Dengan gerakan lemas Embun melambaikan tangannya pada Arsen.


"Sampai jumpa besok Arsen, terimakasih atas tumpangannya."


Arsen menghela nafas.


"Jadi nanti kau tidak akan bekerja di cafe lagi ya?" Tanya Arsen dengan nada kecewa.


Embun terkekeh.


"Iya tapi tenang saja, aku akan sering berkunjung ke sana. Walau sebenarnya aku juga masih ingin bekerja disana."


Arsen menggeleng samar.


"Kau harus fokus pada tujuanmu Embun."


Embun mengangguk dan tersenyum.


"Kalau begitu sampai jumpa besok Arsen."


"Dah Embun."


Setelah motor Arsen melesat Embun langsung masuk ke rumahnya. Seperti biasa, mobil suaminya sudah terparkir rapi di pekarangan rumah. Menghela nafas sejenak Embun pun berjalan lesu menuju kamarnya. Tetapi di tangga ia malah berpapasan dengan Ezar yang hanya memakai kaos tipis dan celana pendek.


"Sudah pulang." Ujar Ezar pelan.


Embun mengangguk.


"Hari ini aku lelah mungkin akan langsung tidur." Ujar Embun dengan lesu.


"Apa kau pulang berjalan kaki?" Tanya Ezar.


Embun menggeleng.


"Aku selalu menumpang di motor Arsen. Karena kami satu arah jadi itu lebih baik dan lebih hemat."


Ezar mendengus tak suka. Merasa jika uang jajan pemberiannya tak berguna jika Embun tetap pulang bersama pria lain.


"Ada apa?" Tanya Embun yang keheranan melihat raut wajah Ezar.


"Tidak. Oh iya, kursus mu di mulai Minggu depan. Masih ada sisa waktu dua hari untuk bisa bekerja di cafe."


Embun mengangguk. Ia pun baru ingat kalau besok mulai memasuki akhir pekan. Sebaiknya Embun mulai bersiap.


"Dan dua hari untuk pulang pergi bersama Arsen." Lanjut Ezar.


Embun kembali mendongak.


"Apa?"


"Tidak. Mandilah lalu cepat tidur."


Ezar berbalik badan dan berjalan menuju dapur. Embun masih terdiam di tempat. Sesaat ia memandangi punggung suaminya.


"Ezar." Panggilnya.


"Apa?"


Ezar pun kembali berbalik badan dan menatapnya. Embun menghela nafas lalu berjalan mendekati Ezar. Kakinya berhenti ketika berhadapan dengan tubuh tinggi kekar Ezar. Embun mengerjap pelan. Ia terlihat malu-malu untuk mengatakan sesuatu.


"Bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Meminta apa?"


"Aku ingin .. kau mengantar jemput ku setiap hari." Gumam Embun dengan ragu.


Walau hanya menggumam Ezar tetap dapat mendengarnya dengan jelas.


Ezar terlihat berpikir sejenak. Sesaat Ezar pun bingung dengan permintaan istrinya. Bukan karena ia tak mampu hanya saja Ezar sedang dalam masa sibuk dan tidak bisa meninggalkan kantor lebih sering. Selain itu Ezar juga bingung tumben sekali Embun berani meminta hal seperti itu padanya. Apakah Embun sudah mulai berani meminta sesuatu yang lain sejak permintaannya kemarin terkabul?


"Kenapa tiba-tiba kau ingin seperti itu?" Tanya Ezar dengan nada rendah.


"Kau kan suamiku." Sahut Embun dengan nada merengek.


Embun sudah punya firasat jika Ezar akan menolak permintaannya.


"Apa karena aku ini istimewa?" Tanya Ezar dengan cepat.


"Huh? Maksudmu?"


Kening Embun berkerut. Embun tidak mengerti kenapa tiba-tiba Ezar bertanya seperti itu padanya tapi jika dilihat dari raut wajahnya Ezar terlihat seperti berharap.


"Apakah aku harus meminta karena kau itu istimewa?" Embun malah bertanya balik.


Ezar mengusap wajahnya sambil menghela nafas.


Ezar kembali melanjutkan langkahnya ke dapur dengan sedikit tergesa karena ingin segera menghindar dari istrinya. Sementara Embun menjadi bertanya-tanya sendiri dan bingung dengan tingkah laku suaminya. Akhir-akhir ini atau mungkin sejak tadi siang tingkah Ezar terasa aneh baginya. Ezar jadi bersikap lembut dan sedikit romantis padahal Embun tidak pernah memintanya. Apakah ini hanya bentuk sikap iba Ezar karena telah mendengar cerita tentang orang tuanya?


Tapi yang jelas menurut Embun, suaminya itu malah terlihat menggemaskan.


...__ooOoo__...


Begitu tiba di kamar Embun benar-benar sudah terlelap. Seperti biasa, gadis itu lebih memilih nyaman memakai piyama bergambar kartun anak-anak dibandingkan memakai gaun tidur yang sudah Ezar belikan sejak awal menikah. Ezar tak habis pikir bagaimana bisa dia menikahi wanita yang memiliki selera kekanak-kanakan. Ezar terkekeh pelan.


Punggungnya bersandar pada pintu dan kedua tangannya terlipat di depan dada. Matanya memicing mengamati istrinya yang sudah tertidur pulas. Sepertinya Embun benar-benar kelelahan. Puas hanya menatapi Embun, Ezar pun bergerak naik ke atas ranjang dan berbaring di samping istrinya. Ezar memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan Embun.


"Kau seperti anak kecil jika sedang tertidur." Gumam Ezar.


Kemudian tangan kekarnya terulur untuk merapikan rambut-rambut yang menutupi sebagian wajah Embun. Setelahnya Ezar memberanikan diri untuk menyentuh dan mengelus pipi Embun dengan lembut. Jika sedang tertidur seperti ini Embun terlihat menarik. Bahkan entah sejak kapan Ezar mengakui fakta kalau istrinya ini benar-benar menarik. Ezar merasa beruntung telah menikahi wanita secantik Embun meskipun awalnya penuh dengan masalah.


Ezar juga tidak bisa melupakan raut ketakutan Embun saat hendak dirusak oleh Roy. Menggemaskan. Sekarang Ezar merasa tak rela jika seandainya Rian benar-benar merebut Embun darinya. Haruskah Ezar mempertahankan istrinya jika seandainya Rian benar-benar menggunakan cara licik?


Ezar menghela nafas mengingat permintaan Embun soal diantar jemput olehnya. Ezar merasa seperti pernah mendengarnya juga.


"Rasanya kau seperti mengingatkanku pada seseorang." Lirih Ezar.


Rindu. Mendadak Ezar merasa rindu entah pada siapa dan karena apa. Pria itu hanya bisa menggenggam erat tangan Embun. Hingga lama-lama memandangi wajah cantik itu membuatnya sedikit mengantuk. Ezar semakin merapatkan tubuhnya dengan Embun. Ia menghembuskan nafas pelan ke wajah istrinya.


"Aku jadi sedikit merindukannya." Ezar terkekeh.


Matanya semakin terasa berat. Baiklah. Ezar mengantuk. Sebelum tertidur Ezar memberikan kecupan singkat di bibir Embun sebagai ucapan selamat malam. Mungkin ini pertama kalinya Ezar memberikan kecupan sebelum tertidur. Hari ini Ezar merasakan perasaan yang berbeda dan entah apa itu. Tak sampai lima menit Ezar pun segera menyusul istrinya ke alam mimpi dengan kecupan sebagai perpisahan di hari yang begitu melelahkan ini.


...__ooOoo__...


Ini hari Minggu. Sepasang suami istri itu memilih berdiam diri di rumah selagi istirahat dari hari-hari bekerja yang melelahkan. Selain itu Embun resmi telah berhenti bekerja di cafe karena mulai besok ia akan fokus mengikuti kelas kursus menjahit yang telah Ezar daftarkan untuknya.


Embun tidak terbiasa menghabiskan waktu libur dengan berdiam diri di rumah saja. Biasanya Embun akan pergi ke club atau berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Tapi sekarang Embun sudah bersuami dan ia ingin menghabiskan waktu bersama suaminya. Terlebih lagi saat ini Embun sedang kebosanan karena sejak pagi Ezar berdiam diri di ruang kerjanya. Apa lagi yang Ezar lakukan kalau bukan mengurus pekerjaannya. Terkadang Embun heran kenapa Ezar selalu bekerja setiap waktu. Apakah pekerjannya tidak akan pernah selesai?


Embun menggoyang-goyangkan kakinya sambil duduk diatas sofa. Benar-benar membosankan. Sesekali Embun mendengus. Bi Lasri pun melintas di hadapannya sambil membawa keranjang cucian dari kamar atas.


"Bi, apa Ezar masih ada di ruangannya?" Tanya Embun.


"Iya masih nyonya."


Embun berdecak.


"Apa dia memang selalu seperti ini?" Tanya Embun sedikit kesal.


Bi Lasri pun kebingungan.


"Maksud nyonya?"


"Apa memang setiap Minggu pun dia tetap bekerja?"


Bi Lasri pun mengulum senyum tipis. Sepertinya Bi Lasri tahu apa yang membuat Embun terlihat kesal.


"Iya, Tuan memang gila bekerja. Tapi jika dibujuk mungkin ia akan melepaskan diri dari pekerjannya." Bi Lasri tersenyum simpul.


Maksudnya adalah Embun harus berusaha merayu Ezar agar pria itu tidak terus-terusan bekerja. Tetapi Embun agak merasa takut jika harus mengganggu Ezar. Kalian tahu sendiri semarah apa Ezar jika diganggu. Tapi Embun sudah sangat bosan. Embun pun mendengus.


"Aku akan merayunya." Desisnya.


Dengan langkah menggebu-gebu Embun pun akhirnya berjalan menuju ruang kerja Ezar. Tangannya langsung membuka kenop pintu tanpa permisi. Dilihatnya Ezar yang sedang duduk di kursi kebesarannya sambil membaca beberapa berkas penting. Seketika Embun terdiam begitu melihat Ezar yang memakai kacamata bening. Itu membuat Ezar terlihat.. errr.. apalagi tatanan rambut Ezar yang berantakan, tidak seperti biasanya yang selalu dibuat berdiri tegak oleh gel rambut.


Embun menelan salivanya sambil mengerjap cepat. Tatapan mata Ezar tertuju padanya.


"Ada apa?" Tanya Ezar dengan suara beratnya.


Embun berdehem.


"K-Kau.. kenapa bekerja di hari Minggu?"


"Ada masalah?"


"Ezar aku bosan."


"Kalau begitu pergilah dengan teman-teman mu." Kata Ezar dengan enteng.


Embun mendengus. Kalaupun ia mau sudah ia lakukan sejak tadi. Embun pun berjalan mendekat.


"Aku ingin jalan-jalan denganmu, Ezar!"


"Maaf aku tidak-"


Ezar tercengang ketika tiba-tiba Embun duduk di pangkuannya sambil mengalungkan tangan di lehernya. Mata Ezar terbelalak. Embun memasang wajah manjanya.


"Ayolah aku ingin jalan-jalan dengan suamiku. Tinggalkan pekerjaan dan jalan-jalan denganku." Rengeknya.


"E-Embun."


Dengan sengaja Embun mengerjapkan matanya dengan manja sambil sedikit mengerucutkan bibirnya. Dia benar-benar sedang merayu Ezar. Rasa bosan adalah penyebabnya. Ezar pun tidak bisa berkutik. Matanya terfokus pada bibir ranum Embun yang menggemaskan.


"Ezar!"


"Baiklah. Lagipula kita tidak pernah ada waktu bersama."


Embun tersenyum senang lalu mengangguk. Ezar mulai mendekatkan wajahnya. Embun tahu kemana arah pandang Ezar itu. Pipinya pun merona. Saat sedikit lagi bibir Ezar menyentuh bibirnya Embun buru-buru bangkit dan berlari menuju pintu. Sambil tersenyum tanpa dosanya Embun tersenyum.


"Kalau begitu aku akan ganti baju dan berdandan."


Embun mengedipkan sebelah matanya lalu menutup pintu ruangan itu. Ezar terkekeh pelan. Kepalanya pun menggeleng pelan.


"Dasar gadis nakal."


...___________________...


...To be continued...


...(Revisi : 26-11-2020 )...