Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
17. Menjahit



Arsen datang pagi seperti biasanya. Hari ini mungkin Carrel orang yang pertama ada di cafe karena semalam Carrel menginap dan tidur di ruangan pribadinya. Semalam mereka semua bukan hanya memesan wine tapi juga beberapa minuman alkohol lainnya. Itu semua adalah ide dari Embun dan Carrel. Kedua gadis itu suka mabuk-mabukan ternyata. Untung saja Arsen cukup kuat untuk minum alkohol jadi masih tetap bisa tersadar sampai pulang meski sekarang kepalanya agak pusing.


"Selamat pagi Arsen." Sapa Carrel.


Arsen hanya mengangguk kecil lalu berjalan menuju lokernya. Carrel hanya tersenyum masam. Sudah biasa jika hanya mendapat respon seperti itu dari Arsen.


Arsen meletakkan tasnya di dalam loker. Loker miliknya bersebelahan dengan loker milik Embun. Arsen jadi ingat bagaimana Embun memuji karya lukisannya semalam. Mengingat wajah yang terpesona oleh lukisannya itu membuat Arsen gemas. Oh, sial. Sejak kapan Arsen bisa jatuh cinta secepat ini? Rasanya agak aneh tapi memang saat pertama kali melihat Embun pun Arsen sudah merasa tertarik. Hingga sekarang perasaannya selalu mendebarkan setiap kali berbicara dengan Embun. Sadarlah, dia istri orang. Tapi perasaan sulit dikendalikan.


Ngomong-ngomong soal Embun, Arsen belum melihatnya datang. Tadi saat lewat depan rumahnya pun Embun tidak muncul. Padahal Embun bilang mereka bisa berangkat bersama karena satu tujuan. Karena Embun tidak ada didepan rumahnya jadi Arsen berpikir kalau Embun sudah berangkat lebih dulu. Tapi nyatanya gadis itu belum datang.


"Oh ya, kudengar rumahmu dan Embun berdekatan ya?" Tanya Carrel.


Arsen pun menoleh lalu mengangguk.


"Aku belum pernah berkunjung ke rumah barunya Embun. Semenjak dia menikah kami jadi agak sulit menghabiskan waktu bersama selain saat bekerja. Tapi kau tahu?"


"Ya?"


"Teman suaminya itu tampan. Kira-kira dia sudah menikah belum ya?"


Carrel menghela nafas. Arsen tahu siapa yang dimaksud oleh Carrel. Pasti pria yang semalam datang bersama suami Embun. Jadi Carrel suka pada pria itu ya? Arsen tersenyum samar.


"Bagaimana jika kau tanyakan langsung padanya?" Tanya Arsen.


"Aku punya pacar." Carrel mendengus.


Arsen pun bingung.


"Kau ingin berselingkuh?" Tanya Arsen spontan.


Carrel tampak terkejut.


"Astaga Arsen! Tidak begitu. Uhm aku hanya tertarik saja kok." Kata Carrel dengan gugup.


Wajahnya pun memerah.


"Maaf. Aku hanya bertanya."


"Ya tidak apa-apa sih. Ah, sudahlah. Pria memang tidak bisa diajak bercerita seperti ini." Carrel mendengus.


Arsen hanya mengangguk kecil. Dirinya juga merasa tidak bisa diandalkan untuk mendengarkan cerita apalagi cerita tentang percintaan. Selain Arsen adalah orang yang kaku, dia juga tidak berpengalaman dalam hal percintaan.


"Kau bisa bercerita itu pada Embun." Ujar Arsen.


"Sayangnya hari ini dia mengambil libur. Padahal aku ingin bercerita."


Arsen pun diam. Ternyata hari ini Embun libur. Pantas saja gadis itu tidak muncul didepan rumahnya tadi pagi. Mendadak Arsen jadi merasa tidak bersemangat dan kecewa. Padahal Arsen ingin mendengar lebih jauh tentang pendapat Embun terhadap lukisannya. Sayang sekali, mungkin tidak hari ini tapi esok hari. Arsen akan menunggu besok agar bisa melihat Embun kembali bekerja lagi dan berharap semoga hari ini cepat berlalu.


...__ooOoo__...


Embun tengah memilah-milah kain yang baru saja ia beli tadi siang di toko kain. Ia juga sudah membeli mesin jahit dengan kualitas terbaik berkat kartu kredit yang Ezar berikan. Sambil bersenandung ria Embun membayangkan baju yang akan ia buat. Embun sendiri juga bingung apa yang akan ia jahit kali ini karena sudah lama sekali ia tidak menjahit. Karena hari ini Embun libur bekerja di cafe dan merasa bosan tidak ada kegiatan akhirnya Embun memutuskan untuk berbelanja kain. Dia jadi teringat mama mertuanya yang suka merajut. Tiba-tiba saja Embun jadi teringat keahlian lamanya. Alhasil Embun pergi berbelanja beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan.


Embun pernah ikut kelas menjahit saat sekolah dulu. Saat itu Embun sangat rajin dan pintar menjahit sampai-sampai semua temannya berharap Embun akan segera menjadi seseorang yang sukses dan memiliki butik sendiri. Namun sayangnya semua itu hanyalah mimpi Embun di masa lalu karena sejak orang tuanya meninggal karena  di tahun terakhir Embun sekolah. Sejak saat itu Embun sering bolos les dan mulai malas menjahit hingga akhirnya Embun jadi sosok yang liar dan nakal. saat lulus sekolah pun Embun tidak tahu kemana arah tujuannya. ia hanya berjalan tanpa arah mengikuti tren masa kini.


Embun juga mulai dijauhi teman-temannya karena mulai bersikap kasar. untungnya masih ada Carrel, satu-satunya sahabat yang setia menemani Embun hingga sekarang. 


Bi Lasri juga ikut membantu merapikan belanjaan Embun.


"Anda bisa menjahit, nyonya?" tanya Bi Lasri penasaran.


"Dulu aku bisa menjahit bahkan pernah sukses membuat beberapa pakaian untuk pentas seni. tapi sekarang aku tidak yakin masih bisa melakukannya. Karena itu aku mau mencoba, Bi."


"Pasti masih bisa, nyonya. anda sangat berbakat dalam hal ini jadi pasti masih bisa." ujar bi Lasri penuh semangat.


Embun tersenyum.


"Teimakasih, bi. aku juga mau belajar lagi. Bi Lasri bisa menjahit?"


Bi Lasri tersenyum malu.


"Saya bisa menjahit manual nyonya, kalau pakai mesin apalagi mesin jahit yang mahal seperti ini saya tidak bisa."


"Kalau begitu akan ku ajarkan. Ayo kita belajar bersama-sama, Bi. Pasti akan lebih menyenangkan."


"Tidak apa-apa, nyonya?"


"Tentu saja. Jangan pedulikan Ezar. Aku tahu dia pasti Tuan rumah yang rewel kan."


Bi Lasri mengulum senyum tipis. Lalu tiba-tiba bi Lasri langsung menunduk ketika melihat Ezar sudah berdiri dibelakang Embun dengan raut wajah sulit diartikan. Ini masih terlalu sore untuk Ezar pulang kerja. Tapi kenapa pria itu sudah ada di rumah?


Ezar memberi isyarat pada Bi Lasri untuk segera pergi dan memberinya ruang berdua dengan Embun. Bi Lasri pun menurut. Dan sepertinya Embun juga belum menyadari keberadaan suaminya.


"Saya permisi ke dapur dulu nyonya."


"Oh, baiklah. Setelah ini ayo kita mulai menjahit."


Kemudian Embun pun kembali bersenandung sambil mencoba memasukkan benang ke jarum kecil. Ia akan memulai dengan menjahit manual dulu alias menggunakan tangan. Rasanya gugup sekaligus antusias karena sudah lama tidak melakukannya. Tiba-tiba Ezar duduk disebelah Embun.


"Siapa yang kau bilang rewel, huh?"


Embun tersentak kaget melihat suaminya tiba-tiba datang dan tanpa sadar tertusuk oleh jarum ditangannya.


"Ezar! Kau sudah pulang? Akh!" Pekik Embun.


"Kenapa? Kau tidak suka suamimu yang rewel ini pulang cepat?" Tanya Ezar dengan sinis.


Embun mendengus. Ternyata Ezar mendengar pembicaraannya tadi. Tapi bukan masalah untuknya. Embun lebih memilih tidak merespon pertanyaan tidak penting Ezar dan fokus pada benang jahitnya.


"Lihatlah aku berdarah karena mu!" Embun menunjukkan jarinya yang berdarah karena tertusuk jarum.


Ezar tersenyum tipis.


"Kau saja yang bodoh tidak menyadari kedatanganku."


Embun mendengus. Embun pun mengulum jarinya yang berdarah. Tujuannya agar darahnya berhenti mengalir. Ezar yang melihatnya pun merasa jijik. Tapi sudahlah, terserah gadis itu saja.


"Aku dengar hari ini kau libur. Lalu untuk apa ku membeli kain sebanyak ini? Kau mau membuka toko pakaian?" Tanya Ezar sambil menyentuh beberapa kain yang masih terbungkus plastik.


"Sudah lama aku tidak menjahit. Aku ingin mencoba membuat pakaian seperti dulu lagi. Mungkin aku akan mencoba melanjutkan mimpiku yang sempat terhenti."


"Kalau mau punya toko sendiri pun tidak apa-apa. Aku bisa membangunnya untukmu."


"Tidak perlu repot-repot. Aku hanya ingin mencobanya saja. Jika gagal maka aku akan benar-benar berhenti menjahit."


Ezar mengelus kepala istrinya dengan lembut lalu mengecupnya. Hal yang tidak pernah Ezar lakukan dalam hidupnya. Embun langsung melirik Ezar dengan tatapan terkejut seolah meminta penjelasan atas apa yang baru saja Ezar lakukan.


"Apa?" Tanya Ezar melihat raut wajah yang Embun tunjukkan.


"Kenapa kau bersikap manis?"


"Memang kenapa? Kita kan sedang belajar saling mencintai."


Ezar menghela nafas. Entah bagaimana 'normal' yang Embun maksud untuk mencoba belajar mencintai padahal Ezar sudah berusaha sealami mungkin bersikap lembut pada Embun. Dan itu sangatlah tidak mudah bagi Ezar untuk melakukannya.


"Ngomong-ngomong kenapa kau ada disini? Ini bukan jam pulang mu kan?" Tanya Embun.


"Kau lupa? Semua terserah padaku karena aku pemimpinnya." Ujar Ezar dengan bangga.


Embun mencibir melihat kesombongan yang sedang Ezar tunjukkan secara tak langsung.


"Aku pulang karena melihat tagihan belanja yang lumayan banyak lalu aku penasaran apa yang kau beli dengan uangku." Ujar Ezar.


"Kenapa ingin tahu sekali." Gumam Embun.


Tangannya kembali memilih kain yang akan ia gunakan untuk menjahit lebih dulu.


"Kita juga harus sering-sering menghabiskan waktu bersama agar bisa lebih dekat." Lanjut pria itu.


"Iya."


"Kau mau bercinta denganku?"


Embun langsung menghentikan aktivitasnya. Perlahan ia menoleh dan melirik suaminya. Ezar tiba-tiba membuka ikatan dasi lalu membuka beberapa kancing kemeja teratasnya dengan gerakan perlahan dan raut wajah yang sensual. Wajah Embun langsung merona. Embun pun mendorong bahu Ezar agar menjauh.


"P-Pergi sana! Jangan menggangguku!"


"Kau mengusirku di rumahku sendiri. Aku kan hanya bertanya."


"Pertanyaan macam apa itu?! Tidak sopan!" Bentak Embun.


"Apanya yang tidak sopan? Kita kan sudah menikah."


"Tapi aku bilang kan lakukan secara alami, Ezar! Sudah sana pergi! Kau mengganggu!" Embun kembali mengusir Ezar.


Ezar terkekeh pelan sambil terus mengamati istrinya yang masih saja merona karena perkataannya.


Lihat saja, tidak akan kuberi celah padamu untuk menyukai pria lain.


...__ooOoo__...


Ezar bersandar pada kusen pintu sambil melipat kedua tangannya. Matanya terus memperhatikan gerak-gerik istrinya dibalik meja jahit. Sudah hampir tengah malam dan Embun masih berkutat dengan kegiatannya. Bahkan kini ruang kerja Ezar yang semula penuh dengan berkas-berkas kini penuh dengan potongan-potongan kain yang berserakan. Ezar merasa menyesal telah membiarkan gadis itu menggunakan ruang kerjanya untuk menjahit.


Mesin jahit pun dimatikan Embun saat sudah selesai menjahit. Embun melihat hasil jahitannya. Ezar berjalan mendekat.


"Sudah selesai nona?" Tanya Ezar.


"Ah, sial. Aku melakukan kesalahan lagi."


"Apa yang gagal dari itu?"


Embun menunjukkan bagian jahitan yang sedikit kurang rapi. Ezar berdecak.


"Lalu apa yang mau kau lakukan dengan itu?"


"Ini sudah baju kelima tapi semuanya gagal."


"Apa? Jadi kau menghabiskan waktu seharian ini sia-sia? Kau gila!"


Embun menghela nafas. Ternyata sudah lama tak menjahit membuat kemampuannya menumpuk. Sebenarnya semua hasil jahitannya lumayan hanya saja Embun tidak puas karena beberapa kali jahitannya tidak rapi dibeberapa bagian. Embun mengambil kain baru dan berniat membuat pola. Tangan Ezar menahan tangannya yang ingin menggambar pola.


"Kau mau melakukannya lagi?" Tanya Ezar.


Embun hanya berdehem sebagai jawaban.


"Oh ayolah, jangan main-main. Ini waktunya istirahat."


"Pergilah istirahat lebih dulu Ezar. Aku masih harus-"


"Berhenti mengerjakan hal yang sia-sia. Lebib baik kau tidur agar kebisingan tidak menggangguku!" Tukas Ezar dengan cepat.


Embun berdecak. Ezar sangat memaksa padahal Embun masih ingin melakukannya lago. Bahkan rasa kantuk bisa kalah oleh rasa penasarannya untuk mengasah kemampuan menjahit lagi.


"Baiklah bagaimana jika satu kali-"


"Tidur!" Tegas Ezar.


"Ugh, baiklah. Ayo kita tidur."


Terpaksa Embun pun mengajak suaminya pergi ke kamar untuk istirahat dan meninggalkan semua kain-kain nya. Sesampainya di kamar Ezar langsung melepas kaosnya dan membuangnya ke sofa. Embun menghela nafas. Perlahan ia mulai terbiasa melihat pria itu tidur bertelanjang dada di ranjang yang sama dengannya. Ezar sulit dilarang.


Embun pun mematikan lampu utama kamar dan menggantinya dengan lampu tidur. Setelah itu keduanya naik ke ranjang. Ezar memejamkan mata saat mulai berbaring. Ezar memang sedang kelelahan karena pekerjaannya. Hari ini Ezar pulang lebih awal sebenarnya karena lelah. Ditambah dia juga ingin menemani hari libur istrinya di rumah. Tapi tak disangka istrinya itu malah menghabiskan waktu untuk menjahit. Tadinya Ezar ingin mereka lebih banyak waktu kebersamaaan.


Embun bergerak gelisah karena memang dirinya belum mengantuk. Perasaannya berdebar karena merasa senang bisa menyentuh mesin jahit lagi. Sudah lama sejak terakhir masa sekolahnya Embun mulai meninggalkan 'mesin jahit' yang merupakan hobi sekaligus cita-citanya. Dulu Embun bercita-cita ingin mengembangkan bakat menjahitnya dan menjadi sukses karena karyanya sendiri. Tapi sayang semua itu harus pupus karena keadaan. Ketika orang tuanya meninggal maka tak ada lagi yang bisa Embun harapkan di dunia ini.


Embun bergerak menghadap suaminya. Matanya menelisik struktur wajah Ezar yang terlihat remang-remang karena pencahayaan lampu tidur. Ezar hampir terlelap.


"Ezar." Panggilnya pelan.


Tidak ada jawaban. Embun menghela nafas. Secepat itu Ezar tertidur. Tapi tak lama pria itu berdehem.


"Ku kira kau sudah tidur." Lirih Embun.


"Tadinya. Kau memanggil. Ada apa?"


"Itu.. Kenapa kita tidak tidur di kamar yang berbeda saja?"


Ezar langsung membuka matanya.


"Kenapa? Itukah yang kau inginkan?" Tanya Ezar lalu kembali memejamkan mata.


"Aku hanya bertanya. Biasanya orang yang menikah tanpa cinta mereka tidur di kamar terpisah."


"Bodoh. Bagaimana mereka bisa saling mencintai jika tidur di kamar yang berbeda? Jika kau ingin seperti itu maka aku tidak bisa mengabulkannya. Bagaimana jika mamaku tiba-tiba datang dan melihat kita tidur terpisah? Kau mau hal itu terjadi?"


"Tidak."


"Lagipula kita tidur seranjang pun tidak ada yang terjadi. Maksudnya belum." Gumam Ezar.


Mendadak wajah Embun merona. Untung saja Ezar tidak melihatnya. Embun jadi membayangkan bagaimana jika hal 'itu' terjadi? Astaga Embun tidak kuat walau hanya membayangkannya. Kasur itu bergerak pelan karena Ezar yang berpindah posisi. Ezar bergerak tidur memunggungi Embun. Bisa dilihat dengan jelas punggung kekar nan lebar itu sedang berusaha menggoda Embun.


Embun menelan saliva dengan berat. Mungkin jika ia tertidur sambil dipeluk oleh tubuh kekar itu rasanya akan sangat nyaman. Sial. Embun jadi malu.


Kira-kira kapan dirinya bisa tidur sambil dipeluk oleh tubuh kekar yang tampak sangat hangat itu?


...__________________...


...To be continued...


...( Revisi : 05-11-2020 )...