
Ezar sedang melamun sambil menatap pemandangan kota yang bisa ia lihat dari kaca jendela besar di ruangannya. Ezar pusing dengan kerjaan kantor yang masih menumpuk dan sedang sedikit sulit ia benahi. Dan yang paling membuat semuanya terasa sulit adalah desakan dan perkataan orang tuanya tentang pernikahan. Ezar jadi tidak bisa fokus pada pekerjaannya karena memikirkan rencana pernikahannya satu bulan lagi.
Tadi pagi Ezar kembali didesak dengan obrolan seputar pernikahannya. Padahal Ezar sendiri masih belum yakin kalau dirinya akan benar-benar menikahi Embun karena sebuah keuntungan. Namun pada akhirnya Ezar tetap menikah dengan gadis banyak hutang itu. Entah kenapa semalam Ezar tidak bisa berpikir jernih hanya karena melihat kondisi Embun sehingga ia memutuskan untuk setuju menikah. Dan sekarang ia sedikit menyesal atas keputusannya itu.
Ezar menghela nafas. Tapi kalau dipikir kembali lebih baik ia menikah dengan Embun daripada dengan Bella. Meski Bella jauh lebih cantik dari Embun tapi Ezar yakin kalau Embun sebenarnya lebih baik dari Bella.
TOK TOK TOK
Ezar menghela nafas. Kenapa disaat seperti ini ada saja orang yang datang mengganggu. Ezar pun berbalik menuju meja kebesarannya.
Pintu terbuka.
"Ada apa, Sekar?" Tanya Ezar pada wanita bernama Sekar itu.
Sekar adalah sekretaris Ezar jika kalian mau tahu.
"Tuan, saya membawa beberapa berkas pemintaan klien."
Sekar menghampiri meja Ezar lalu meletakkan beberapa berkas sesuai perkataannya. Ezar memijit pelipisnya.
"Baiklah. Terimakasih."
"Dan juga .. ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda, Tuan. Orang itu sedang menunggu diluar." Ujar Sekar.
Mata Ezar langsung terbuka. Pria itu langsung menegakkan badannya.
"Bawa dia masuk." Titah Ezar.
"Baik Tuan."
Sekar pun keluar dari ruangan. Tak lama Sekar kembali masuk sambil membawa seorang pria dibelakangnya. Sekar segera pamit undur diri dan mempersilahkan tamu pria itu menyelesaikan urusannya dengan Ezar.
Ezar menaikkan sebelah alisnya. Pria didepannya itu adalah pria yang terlibat dengan Embun bukan?
Embun berhutang pada pria ini.
"Jadi disini tempat uangku?" Tanya Roy sambil mengamati ruangan Ezar.
"Ah, rupanya anda datang." Sahut Ezar.
Ezar sampai lupa kalau Roy akan datang ke kantornya hari ini untuk mengambil sejumlah yang pernah Embun pinjam. Lalu Roy pun melirik Ezar.
"Aku Roy. Aku menerima alamatmu dari gadis itu." Ujar Roy.
Ezar mengangguk.
"Duduklah."
Kedua pria itu duduk di sofa yang berbeda. Kemudian Ezar meletakkan sebuah koper besi yang isinya uang. Ezar langsung memperlihatkan isinya agar Roy percaya.
"Sekretaris ku sudah menghitung semuanya dan tidak ada yang kurang. Seratus lima puluh juta, benar kan?" Sahut Ezar.
Roy terkesima dengan pemandangan uang yang disusun rapi dalam koper itu. Dan semua uang itu adalah miliknya. Roy langsung menutup koper itu dan berniat langsung pergi. Bukankah tujuannya kemari hanya untuk mengambil semua uangnya?
Roy pun melirik Ezar.
"Aku tidak tahu kalau gadis itu bisa kenal dengan orang kaya sepertimu." Sahut Roy.
"Urusan kita sudah selesai dan semua hutang itu sudah lunas. Jadi berhenti mengganggu gadis itu lagi." Tegas Ezar.
"Apa kau kekasih Embun?" Tanya Roy dengan penasaran.
Ezar mendengus. Bahkan Ezar ini adalah calon suaminya. Tapi tidak penting untuk dikatakan.
"Pergilah. Kau sudah mendapat apa yang kau mau."
Lalu Roy pun tertawa.
"Maaf jika aku terlalu mencampuri. Aku hanya tidak menyangka Embun punya teman sepertimu. Gadis itu menempel padamu pasti karena uang kan?"
Ezar merapikan jasnya lalu bangkit. Semakin lama Roy terlihat semakin menyebalkan.
"Aku sibuk. Silahkan keluar." Ujar Ezar dengan dingin.
Roy mengangguk.
"Baiklah. Terimakasih uangnya. Tapi sangat disayangkan gadis itu tidak jadi aku miliki seutuhnya."
Roy mulai berjalan ke arah pintu. Ezar kembali duduk di kursi kerjanya sambil menatap kepergian Roy. Alis Ezar terangkat sebelah saat Roy tiba-tiba kembali berbalik menoleh.
"Jika ada kesempatan kuharap bukan uang yang aku dapat tapi gadis itu."
...__ooOoo__...
Embun meletakkan gelas terakhir yang baru saja dikeringkan itu pada rak. Gadis itu menghela nafas. Rasanya hari ini sangat melelahkan karena banyak pelanggan yang datang ke cafe milik sahabatnya itu. Dan sekarang hari sudah gelap. Itu artinya cafe juga harus segera tutup.
"Embun, ini untukmu." Sahut Carrel.
Carrel menyodorkan sebuah amplop putih yang sudah pasti isinya adalah uang. Embun menatap sahabatnya itu dengan tatapan bingung.
"Apa ini? Gajian?"
"Bukan. Itu bonus untukmu."
Embun tersenyum lalu memeluk Carrel dengan erat.
"Hei lepaskan!"
"Terimakasih Carrel!"
"Ngomong-ngomong bagaimana soal hutangmu pada Roy? Bukankah kau bilang hari ini jatuh temponya?" Tanya Carrel.
Embun pun melepaskan pelukannya.
"Ezar yang mengurus semuanya." Ujarnya dengan bangga.
"Ezar? Maksudmu pria yang waktu itu menginap di rumahmu?"
Embun mengangguk.
"Lalu apakah kalian akan menikah?"
"Itu.."
Embun menunduk malu. Dia jadi ingat ciumannya semalam di pantai. Embun juga tidak tahu bagaimana hasil keputusan akhirnya. Setelah itu semalam Ezar langsung mengantarnya pulang lalu memberikan alamat perusahaan pria itu. Sisanya Embun hanya memberikan alamat itu kepada Roy tadi pagi. Ah, mungkin sekarang Roy sudah mengambil pelunasan hutangnya dari Ezar.
"Hei, jawab aku! Kau akan menikah?" Tanya Carrel dengan antusias.
"Emmm iya Carrel hehe."
"Wah! Ternyata kau benar-benar mencari suami ya. Aku tidak menyangka kau akan benar-benar mendapatkannya secepat ini."
"Hmm aku juga tidak menyangka. Tapi bagaimanapun juga aku dan dia kan tidak saling mencintai."
Embun tiba-tiba menunduk lalu menghela nafas. Mungkin pernikahannya nanti akan berjalan berat karena tidak ada cinta didalamnya. Embun tidak pernah membayangkan jika dia akan menikah secepat ini dan dengan orang yang tidak dia cintai bahkan tidak dia kenal juga sebelumnya. Apakah pernikahan ini benar? Kemarin Embun putus asa karena memikirkan hutangnya dan tanpa akal yang sehat memaksa seorang pria menikahinya. Tapi sekarang begitu urusan hutangnya sudah selesai Embun malah merasa takut dan ragu.
"Carrel apa pernikahan adalah jalan yang tepat?" Tanya Embun pelan.
Carrel menepuk bahunya.
"Kenapa kau malah terlihat ragu?"
"Aku hanya takut kalau nantinya aku tidak bisa bahagia. Pernikahan ini terjadi hanya karena keuntungan yang kami berdua dapat."
Carrel berdecak.
"Kalian bisa saling mengenal dan belajar saling mencintai. Lagipula apakah dia tampan? Mudah sekali untuk mencintai pria tampan bukan?" Carrel tersenyum geli.
Embun terkekeh. Ezar memang tampan. Mungkin dirinya akan lebih cepat mencintai Ezar dibandingkan pria itu mencintainya. Lagipula pernikahan mereka akan menjadi pernikahan kontrak. Tidak ada yang perlu Embun harapkan lagi karena selama masa kontrak pernikahannya nanti Embun hanya perlu melayani Ezar sebagai bentuk balas budi.
"Benarkah?"
Embun merogoh saku celananya. Ternyata ponselnya benar-benar berdering. Keningnya berkerut membaca nama kontak penelpon. Roy. Untuk apa Roy menelponnya? Bukankah urusan mereka sudah selesai? Tanpa berpikir lebih lama Embun segera mengangkat panggilan telepon itu.
"Ada apa?" Tanya Embun dingin.
"Hai manis bagaimana kabarmu? Senang ya hutangmu sudah lunas?"
Embun mendengus.
"Kau mau apa? Urusan kita sudah selesai, Roy. Jangan ganggu hidupku lagi!"
"Iya tenang saja. Tapi ada satu hal yang harus aku katakan padamu. Pria itu memberikan uang palsu."
"A-Apa? Tidak mungkin. Jangan berbohong!"
"Untuk apa aku berbohong? Kalau kau mau tahu datang saja langsung kesini lalu ganti dengan uang asli. Kalau tidak tubuhmu tetap akan jadi milikku, bagaimana?"
Embun mengerjap. Tubuhnya langsung kaku. Rasanya Embun tidak percaya jika Ezar melakukan itu. Uang palsu? Bukankah Ezar itu kaya? Tapi ucapan Roy terdengar tidak main-main. Sekarang Embun baru tersadar akan suatu hal.
Lebih baik sekarang Embun memastikannya sendiri.
...__ooOoo__...
Ezar tengah berbaring di kamar sambil memainkan sebuah rubik ditangannya. Rubik itu hanya ia putar-putar tanpa berniat diselesaikan dengan benar. Ezar sedang tidak mood untuk menyelesaikannya. Ezar hanya bosan. Orang tuanya pergi ke Singapura tadi siang. Kata Bi Lasri mama dan papanya hanya pergi dua hari untuk bertemu desainer terbaik yang akan mendesain gaun pengantin untuk calon istri Ezar.
Mendengar hal itu membuat Ezar muram. Calon istri apanya.. Ezar bahkan tidak ingin menikah. Lebih tepatnya belum siap menikah. Ezar tahu dan sadar bahwa usianya sudah sangat matang untuk menikah. Selain itu harta benda yang Ezar miliki sudah lebih dari cukup untuk membangun sebuah rumah tangga. Hanya saja belum ada kesiapan dari diri Ezar. Sangat disayangkan. Padahal jika Ezar mau, ia bisa langsung menunjuk wanita manapun yang pantas untuk menjadikannya seorang istri.
Dan sangat disayangkan Embun tidak masuk dalam kategori yang pantas untuk menjadi istri Ezar karena Embun bukan gadis yang baik. Ezar tidak mau punya istri yang suka menghambur-hamburkan uang meskipun uang Ezar sangat lebih untuk dihambur-hamburkan. Tapi entah kenapa Ezar lebih memilih menikah dengan Embun daripada Bella. Sekarang Ezar merasa dirinya aneh. Bahkan dia tidak marah saat Embun mencium bibirnya. Ah, sial. Ciuman itu masih terasa dibibirnya.
Ezar bangkit saat mendengar suara dering ponselnya yang berada diatas nakas. Ezar langsung mengangkat teleponnya tanpa melihat siapa nama penelpon.
"Sekarang aku merasa menyesal karena sudah memaksamu!"
Kening Ezar mengkerut saat mendengar suara seorang wanita. Ezar menjauhkan sedikit ponsel dari telinganya untuk melihat nama si penelpon. Ternyata Embun. Lantas saja Ezar merasa tak asing.
"Ada apa?"
"Aku pikir tidak mungkin kau berbaik hati langsung mau melunasi hutang-hutangku sebanyak itu dengan mudah. Ternyata kau hanya ingin mempermainkan ku!"
Embun berbicara dengan nada ketus. Ezar semakin bingung.
"Sebenarnya apa yang kau bicarakan?"
"Kau memberikan uang palsu padanya kan?"
"Apa? Aku tidak-"
"Aku membencimu meski sekarang aku masih dalam perjalanan untuk memastikannya sendiri."
Ezar memijat pelipisnya. Dia belum mengerti apa yang Embun bicarakan. Tapi yang Ezar tangkap sepertinya gadis itu sedang dalam perjalanan untuk menemui Roy. Padahal Ezar sudah katakan pada Roy untuk jangan ganggu gadis itu lagi. Dan sekarang entah apa lagi yang menjadi masalah disini sampai Ezar harus dibenci.
"Halo? Embun kau ada dimana?"
"Aku sedang dijalan menuju hotel. Aku harus memastikan uang yang kau berikan itu asli atau bukan. Kau benar-benar keterlaluan Ezar!"
Setelah itu sambungan telepon langsung terputus sepihak. Embun yang memutusnya lebih dulu. Ezar terdiam. Tanpa pikir panjang Ezar langsung menyambar jaket serta kunci mobilnya. Ezar yakin bahwa Roy telah merencanakan sesuatu yang buruk pada Embun.
"Gadis bodoh. Apa dia tidak sadar jika dirinya dijebak untuk masuk hotel?" Gumam Ezar.
"Jika ada kesempatan kuharap bukan uang yang aku dapat tapi gadis itu."
Sekarang Ezar paham apa yang diinginkan Roy sebenarnya.
Ternyata Embun lebih polos dari yang Ezar pikirkan. Ezar pun segera meminta alamat hotel yang Embun tuju. Semoga saja dia tidak terlambat dan melewatkan sesuatu.
...__ooOoo__...
TOK TOK TOK
CEKLEK
Pintu kamar itu langsung terbuka. Menampilkan Roy dengan wajah menyebalkan sementara Embun masih sibuk mengatur nafas karena dia baru saja berlari menuju kemari. Roy langsung mempersilahkannya masuk.
"Kau berlari? Kenapa harus berlari? Kau jadi lelah." Ujar Roy.
"Aku panik dan ingin memastikannya sendiri. Dimana uang pemberian Ezar?"
"Bersabarlah dan atur nafas mu dulu. Mau minum?"
Roy mengangkat botol minuman miliknya. Itu adalah botol wine bermerk yang Embun suka. Tapi sekarang bukan itu tujuan Embun datang kesini. Jangan harap Embun bisa diajak ngobrol dan minum-minum seperti yang Roy inginkan.
"Cepatlah aku ingin lihat uang yang Ezar berikan itu."
"Ah, uang itu. Akan aku tunjukkan padamu."
Roy berjalan ke arah kasur lalu mengambil sesuatu dari bawah kasur itu. Sebuah koper yang mungkin isinya uang. Roy meletakkan koper itu diatas kasur dan membukanya agar Embun dapat melihat isinya.
Mata Embun mengerjap melihat sejumlah uang yang tertata rapi didalam koper itu. Siapa yang tidak tergiur melihat uang sebanyak itu? Dan semua uang itu adalah uang asli. Ezar benar-benar melunasi semua hutangnya.
Dan sekarang..
"Bagaimana? Uangnya asli kan?" Sahut Roy.
Embun mengepalkan tangannya. Ternyata Roy sudah mengelabuinya. Seharusnya Embun tidak mudah percaya pada omongan Roy. Lagipula tidak mungkin Ezar memberikan uang palsu.
"Kau ********!" Desis Embun.
Roy tertawa.
"Aku bercanda. Dan aku juga sangat terkejut kau bisa melunasi semua hutangmu dalam sekejap mata. Karena pria itu kan? Memangnya siapa dia? Kekasihmu ya?"
Roy mencolek dagu Embun dengan lembut sambil tersenyum menggoda. Embun langsung menepisnya dengan kasar.
"Urusan kita sudah selesai jadi jangan pernah temui aku lagi, Roy!" Pekik Embun.
BRUKK
Roy menerjang tubuh Embun dengan sangat tiba-tiba sampai membuat tubuh gadis itu terlentang diatas ranjang. Roy langsung mengunci pergerakkan kedua tangan Embun.
"Lepaskan!"
"Bagaimana jika kita habiskan satu malam bersama?"
"KAU BRENGSEK!! LEPASKAN! KAU SUDAH DAPAT SEMUA UANGNYA!" Teriak Embun.
"Ssttt jangan berteriak karena tidak ada yang bisa mendengarmu."
Roy menyeringai.
Embun mulai berkaca-kaca. Dia sangat takut sekarang. Roy terlihat sangat menyeramkan berada diatas tubuhnya. Embun ingin melawan tapi tak mampu. Roy menahan tangannya dengan sangat kuat sampai rasanya sakit.
"Roy aku mohon lepaskan." Lirihnya.
"Tidak. Aku lebih menginginkanmu ketimbang uang itu."
Embun memalingkan wajahnya saat wajah Roy mendekat. Tidak. Dia tidak ingin disentuh oleh pria ini. Embun menatap koper uang itu dengan nanar. Sekujur tubuhnya gemetar. Tidak adakah yang bisa menolongnya?
Ezar tolong aku.
...___________________...
...To be continued...
...(Revisi : 22-10-2020)...