Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
13. Parfum



Ezar mengamati istrinya yang sedang sibuk membuatkan sarapan. Sebenarnya itu tugas Bi Kasri tapi Embun bersikeras ingin membuat sarapan sendiri. Ezar juga tidak melarang. Ngomong-ngomong, orang tua Ezar langsung kembali ke Inggris setelah acara pesta pernikahan mereka selesai tempo hari. Mereka juga memiliki kepentingan bisnis disana. Mungkin akhirnya Marisa lega karena putra semata wayangnya sudah resmi menikah dan kini hanya tinggal menunggu seorang cucu yang entah kapan akan terlahir. Namun yang jelas waktunya akan sangat lama untuk Embun dan Ezar memberikan seorang cucu kepada orang tuanya.


Embun meletakkan satu piring berisi telur mata sapi dan dagin asap dihadapan Ezar. Tak lupa Embun juga menyediakan satu piring lain untuk dirinya.


"Kau mau bekerja?" Tanya Ezar disela-sela sarapan mereka.


"Ya. Kau tidak bekerja?"


Lalu Embun menatap penampilan Ezar yang hanya memakai kaos dan celana pendek selutut. Biasanya sepagi ini Ezar sudah siap dengan setelan jas kantornya.


"Ezar kau libur?" Tanya Embun.


"Tidak. Tapi meliburkan diri."


"Oh, begitu."


Tidak aneh jika Ezar beralasan seperti itu karena pria itu adalah bosnya jadi bisa masuk kerja sesuka hati.


"Dan hari ini kau jangan pergi bekerja." Tukas Ezar dengan cepat.


Embun langsung berhenti mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya.


"Maksudmu?"


"Hari ini akan ada tamu yang datang dari luar. Mereka adalah teman-temanku di London yang tidak sempat datang kemarin. Sekarang mereka akan datang untuk memberi ucapan selamat." Jelas Ezar.


"Kenapa tiba-tiba? Aku belum izin pada Carrel."


"Soal itu kau tidak perlu khawatir. Aku sudah menanganinya dan temanmu sudah mengerti."


Embun menghela nafas. Kenapa Ezar harus memberi kabar mendadak padanya. Padahal jika Ezar memberitahunya dari kemarin atau semalam Embun jadi bisa mempersiapkan diri. Mendengar teman-teman suaminya akan datang membuat Embun langsung merasa gugup sekaligus tidak percaya diri. Embun takut membuat kesalahan. Apalagi Embun tidak pandai berbahasa Inggris.


Seketika Embun jadi cemas. Nafsu makannya pun langsung hilang. Ia bingung memikirkan harus bersikap bagaimana didepan teman-teman itu Ezar yang merupakan kalangan atas.


"Ada apa?" Tanya Ezar.


Ezar menyadari perubahan raut wajah Embun yang tiba-tiba terlihat lesu.


"Aku harus apa dihadapan teman-temanmu?" Tanya Embun pelan.


"Kau hanya perlu ada di sampingku. Itu saja. Ada hal lain yang kau pikirkan?"


"Aku hanya takut bertemu dengan teman-temanmu. Mereka semua dari kalangan atas."


Kening Ezar berkerut.


"Lalu? Ada masalah?"


"Aku sering menonton drama. Biasanya orang-orang kaya selalu menindas dan meledek orang sepertiku." Embun menunduk.


Ezar pun tertawa. Embun mendengus. Disaat seperti ini Ezar malah tertawa.


"Apa aku terlihat seperti menindasmu?" Tanya pria itu.


Embun terdiam. Dia juga tidak tahu apakah Ezar benar-benar baik atau tidak mengingat sifat dinginnya akhir-akhir ini. Ezar memang tidak menindasnya atau mungkin belum. Yah, entah kenapa semenjak menikah dengan orang kaya sungguhan seperti Ezar membuat Embun jadi tidak percaya diri. Padahal selama ini pergaulan Embun sendiri meninggikan gaya hidup seperti orang kaya. Tapi pada kenyataannya Embun bukanlah orang kaya sungguhan. Dia hanya terbawa arus pertemanan.


Tiba-tiba Ezar mengelus kepalanya. Embun langsung mendongak. Pria itu sudah berdiri disamping kursinya. Ezar menghela nafas.


"Tidak perlu memikirkan hal seperti itu. Jadilah dirimu sendiri. Aku tidak menuntut apapun padamu kecuali yang semalam aku bicarakan."


Lalu Ezar meletakkan piring kotornya di cucian piring. Embun tertegun ditempatnya. Usapan di kepalanya barusan membuat Embun merasa nyaman.


"Ezar terimakasih." Ujar Embun pelan.


Entah Ezar mendengarnya atau tidak, Embun hanya ingin berterimakasih karena sejauh ini Ezar sudah banyak membantunya dan memperlakukannya dengan baik.


Ternyata Ezar mendengarnya. Diam-diam Ezar tersenyum tipis setelah mendengar perkataan Embun barusan.


...__ooOoo__...


"Hey, what's up!"


"Congrats for your wedding, dude."


"Yeah, thank."


Ezar menyambut teman-temannya dengan hangat dan asik. Tamu mereka sudah datang. Tiga orang pria berwajah kebarat-baratan dan salah satunya memiliki warna kulit yang agak gelap, warna sawo matang. Embun berdiri dengan kikuk disebelah Ezar. Mengamati keempat pria itu berbicara bahasa yang tidak begitu Embun mengerti. Lalu salah seorang dari mereka bertiga mulai menatap Embun.


"Your wife?" Tanyanya sambil melirik Ezar.


Ezar pun mengangguk. Ezar segera merangkul istrinya untuk mendekat. Disitulah Embun merasa semakin canggung dengan keringat dingin mengucur deras disekujur tubuhnya.


"Ayo sapa teman-temanku." Bisik Ezar.


Embun menelan salivanya. Tangannya terangkat dengan ragu untuk melambai.


"H-Hai, nice to meet you guys." Ucap Embun dengan sangat gugup.


Ketiga teman Ezar itu tersenyum.


"What's your name?" Tanya si pria berkulit sawo matang.


"Embun." Cicit Embun.


Ezar menghela nafas.


"Perkenalannya didalam saja. Ayo kita masuk dan duduk." Sahut Ezar.


"Okay."


Kemudian Ezar juga menyeret Embun untuk masuk sambil membawa tamunya ke ruang tamu. Sepertinya Ezar harus memperkenalkan temannya satu persatu pada Embun. Selain itu sepertinya Ezar harus menjelaskan soal rangkulannya tadi itu hanyalah pura-pura. Mereka harus terlihat mesra layaknya pasangan sungguhan. Ezar harap Embun tidak merasa terganggu.


"Kenalkan yang itu namanya Simon, Roger, dan Alex." Sahut Ezar pada Embun.


Embun mengangguk kecil. Si pria dengan kulit sawo matang itu bernama Alex.


"For you." Sahut Roger sambil menyodorkan sebuah paper bag pada Embun.


Embun langsung melirik Ezar.


"Itu hadiah pernikahan dari mereka."


"Oh. Thank you."


Embun tersenyum pada Roger.


Beberapa saat kemudian keempat pria itu mulai larut dalam obrolan mereka. Entah apa yang sedang dibicarakan, Embun hanya menyimak sambil sesekali mengintip hadiah pemberian dari Roger. Kira-kira apa isinya. Embun sangat penasaran.


Lama-lama Embun mulai merasa bosan. Sesekali dia juga ikut tertawa ketika mereka semua tertawa dalam obrolannya meskipun Embun tidak tahu apa yang sedang ditertawakan. Embun benar-benar mulai bosan. Dia tidak mengerti.


"Ezar aku mau ke kamar sebentar." Bisik Embun pada suaminya.


Ezar hanya mengangguk dan mempersilahkan istrinya pergi ke kamar mereka.


...__ooOoo__...


Ezar masuk ke kamarnya setelah ketiga temannya itu pulang. Ezar ingin memastikan istrinya yang sudah setengah jam tidak kembali ke ruang tamu. Dan ternyata Ezar malah menemukan Embun yang tertidur meringkuk diatas ranjang mereka. Ezar menghela nafas lalu mendekati ranjang. Ezar duduk di sisi ranjang yang satunya. Tangannya terulur untuk menyentuh bahu Embun lalu mengguncangnya pelan.


"Embun bangunlah."


Embun menggeliat pelan dan perlahan membuka matanya. Embun langsung terkejut saat melihat Ezar dan spontan bangkit.


"Maaf aku ketiduran. Apa teman-temanmu sudah pulang?"


"Sudah. Mereka baru saja pulang."


"Ah, maaf. Apa mreka semua langsung pulang ke Inggris?"


"Sepertinya begitu."


Embun menghela nafas. Ia jadi merasa tidak enak karena sudah tidak sengaja tertidur. Tadi Embun hanya ingin bernafas sebentar di kamar setidaknya untuk menghindari kecanggungan diantara teman-teman Ezar. Tapi nyatanya dia malah tertidur.


Lalu tiba-tiba saja Embun teringat hadiah dari Roger. Embun bergegas mencari paper bag pemberian Roger. Rupanya Ezar telah membawanya ke kamar dan Embun melihat bingkisan itu ada diatas meja kamar. Dengan bersemangat Embun segera membuka isinya. Ezar pun mendekat karena juga ingin tahu apa isinya.


Mata Embun berbinar menatap botol kaca berbentuk persegi yang begitu berkilau. Didalam botol itu terisi cairan bening berwarna merah muda dan dibagian depan botol itu ada label bertuliskan bahasa yang tidak Embun mengerti.


"Itu parfum. Dari Roger." Sahut Ezar.


"Ini parfum mahal, benar kan."


"Ya. Dari Perancis."


"Ohh, pantas saja bahasanya tidak aku mengerti."


Embun mengambil satu botol lagi yang tersisa di dalam paper bag itu.


"Ini untukmu Ezar."


Namun Ezar malah menggeleng.


"Itu juga untukmu. Keduanya adalah parfum wanita. Roger tahu aku tidak suka memakai parfum."


Embun mencibir. Lantas saja Roger memberikannya pada Embun. Kapan lagi Embun bisa mendapat hadiah berupa parfum mahal dari Perancis kan. Aroma dari parfumnya pun aroma kesukaan Embun dan sepertinya cocok untuk Embun. Roger benar-benar hebat.  Embun mencoba salah satu parfum itu ke tangannya.


"Hmm aku suka wanginya." Serunya.


"Baguslah jika kau suka."


"Tapi kenapa hanya Roger yang memberi hadiah? Mereka tidak memberi hadiah pernikahan untukmu juga?" Tanya Embun penasaran.


Ezar tersenyum miring.


"Alex dan Simon memberi hadiah berupa lima persen saham perusahaan mereka, Embun."


Embun mengerjap dan langsung merasa takjub. Ia bahkan tidak bisa berkomentar. Ternyata seperti itu cara orang kaya berbagi dan memberi hadiah antar teman. Benar-benar membuat Embun tercengang. Bahkan sepertinya walau hanya lima persen pun sudah mampu membiayai hidup Embun selama satu tahun.


"Kenapa diam?" Tanya Ezar.


"Tidak. Aku hanya baru menyadari kalau kau benar-benar kaya. Ku pikir bukan hanya mereka berdua yang menyumbang saham pada perusahaanmu."


Ezar terkekeh.


"Roger memberimu parfum karena dia sendiri pemilik perusahaan parfum di Perancis."


Embun mengangguk. Entah kenapa mendengar cerita bagaimana kehidupan Ezar dengan teman-temannya itu membuat ginjal Embun sedikit bergetar ngeri. Mencoba tidak memikirkan seberapa kaya ketiga teman Ezar, Embun menyemprotkan parfum itu ke lehernya. Ingin tahu seberapa lama ketahanan wangi yang didapat.


"Ngomong-ngomong kenapa kau tidak suka pakai parfum?" Embun menatap Ezar.


"Karena aku sudah wangi meski tanpa parfum." Jawab Ezar dengan mantap.


"Cih, percaya diri sekali."


Penasaran, Embun mendekati Ezar sampai jarak mereka terbilang sangat dekat. Ezar tertegun.


"Mau apa?"


"Ingin tahu seberapa harumnya dirimu sampai tidak perlu parfum."


Mata Embun terpejam sambil fokus menghirup aroma tubuh Ezar. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang menyadari aroma feromon yang begitu kuat di tubuh Ezar. Aroma ini seolah langsung membuat Embun terhipnotis.


"Hmmm kau benar. Tak perlu parfum." Gumam Embun.


Ezar sedikit menunduk menatap istrinya yang sibuk mengendus aroma tubuhnya. Sesekali Ezar menahan nafasnya. Embun sangat dekat. Hidung gadis itu mulai menempel pada kaosnya. Ezar semakin tidak fokus karena aroma parfum yang Embun gunakan seolah mengacaukan pikirannya.


Ezar bisa bernafas lega karena detik berikutnya Embun langsung mundur beberapa langkah. Gadis itu terlihat merona.


"Aku suka aroma tubuhmu." Ujar gadis itu malu-malu.


Ezar terdiam. Matanya lurus menatap Embun dengan tajam.


"Sekarang giliran ku menikmati aroma parfum yang kau gunakan."


"Ap-"


GREPP


Ezar sudah lebih dulu menarik pinggang ramping istrinya agar mendekat hingga membuat mata lentik itu mengerjap cepat. Embun menatap Ezar dengan matanya yang terbuka lebar. Kedua tangannya berada di dada Ezar untuk menahan jarak. Tenggorokan Embun terasa tercekat saat ditatap sedemikian intens oleh Ezar. Apalagi pelukan dipinggang nya begitu posesif.


Wajah Ezar bergerak maju hingga hidung mancungnya menyentuh kulit pipi Embun yang mulus. Ezar memejamkan matanya dan mulai menghirup aroma parfum yang Embun gunakan. Aroma yang cukup mengacaukan isi pikirannya.


Dan Embun merasa takut. Ia takut kalau Ezar bisa mendengar suara detak jantungnya yang cepat karena mereka berdekatan.


Selama beberapa menit Embun terdiam membiarkan hingga akhirnya ia mendorong pelan dada Ezar agar menjauh. Namun Ezar malah menatap matanya.


"Bolehkah aku mencium mu?" Tanya pria itu dengan suara serak.


Embun bungkam. Kakinya seolah langsung lemas. Tubuhnya ingin terjungkal ke belakang jika saja Ezar tidak menahan pinggangnya.


"Bolehkah?" Tanya Ezar sekali lagi.


Embun langsung menggeleng.


"Tidak! Aku tidak mau. Aku takut."


"Takut sesuatu hal terjadi sementara kita belum saling mencintai?"


Embun mengangguk pelan seraya menunduk.


"Aku ingin kita berteman dulu selagi saling mengenal. Mungkin kita juga harus menghindari hal-hal seperti ini, Ezar."


Ezar menghela nafas kecewa. Tangannya yang berada di pinggang Embun pun terlepas lalu kakinya mundur sedikit menjauh dari Embun. Kini akhirnya Embun bisa bernafas lega karena ada jarak diantara mereka. Namun begitu melihat wajah Ezar nyalinya langsung ciut. Ezar terlihat marah. Rahang pria itu mengatup rapat serta tatapan matanya semakin tajam.


"Hanya sekali ini aja." Tegas Ezar.


Embun ingin menolak tapi entah mengapa saat Ezar melangkah maju dan menarik tengkuknya, Embun hanya bisa pasrah. Embun takut pada tatapan tajam itu. Embun takut mendengar nada tegas yang sangat dingin itu. Pada akhirnya Embun hanya bisa pasrah dan memejamkan mata ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir suaminya.


Embun pun pasrah saat Ezar ******* bibirnya dengan perlahan dan sangat lembut hingga mampu melemaskan seluruh otot-otot ditubuhnya. Hingga lama-lama Embun merasa terbuai dengan ciuman lembut itu dan mulai membalasnya. Ezar langsung melepaskan ciumannya.


"Ciuman mu yang di pantai itu sangat berantakan. Kau tidak ahli." Lalu Ezar tersenyum miring.


Embun mengerucutkan bibirnya malu.


"Sudah kubilang aku tidak berpengalaman."


"Kalau begitu sekarang aku akan memberi pelajaran gratis soal ciuman. Cukup hanya ikuti irama gerakan ku."


Dan terakhir, Embun sangat pasrah ketika Ezar benar-benar mengajarinya cara berciuman yang benar hingga pikirannya mulai kacau.


...___________________...


...To be continued...


...(Revisi : 31-10-2020)...