Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
16. Ulang Tahun Tio (2)



Setelah Ezar dan Aldo diperbolehkan bergabung oleh Carrel pesta kembali berjalan meski dalam kecanggungan. Mereka canggung karena ada orang lain yang ikut. Akan berbeda cerita jika orang tersebut tidak kaku dan bisa menyesuaikan. Tapi Ezar sangat kaku dan auranya kuat. Itu membuat teman-teman Embun agak kesulitan. Untungnya ada Aldo yang bisa mencairkan suasana. Aldo bilang jika mereka semua tidak perlu menghiraukan Ezar karena memang Ezar sendiri tidak peduli apa yang mereka lakukan. Kehadiran Ezar disini terpaksa karena Aldo memaksanya.


Bahkan semua hadiah untuk Tio itu bukan Ezar yang berniat membelinya tapi Aldo. Dan sekarang Aldo juga ikut terbawa suasana pesta ulang tahun kecil-kecilan ini. Tidak banyak yang mereka lakukan. Hanya makan-makan kue, minum wine dan bercerita tentang apa saja. Ezar hanya menyimak sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Embun duduk diantara dua lelaki yaitu Arsen dan suaminya.


"Ezar bisakah kami pergi .. karaoke?" Tanya Embun.


Ezar mengerjap lalu melirik arloji.


"Ini sudah malam sebaiknya kita pulang." Tegasnya.


"Hei, jangan begitu. Kau kesini kan untuk berpesta bukan untuk menjemput istrimu." Sahut Aldo.


Carrel dan Tio mengangguk setuju.


"Atau pesan pizza untuk kita semua. Kau kan punya banyak uang." Bisik Embun.


Ezar melirik istrinya sambil mendengus.


"Kau mau memeras dompetku? Aku sudah memberimu uang jajan."


"Kau kan kaya Ezar. Ayolah! Uang ku akan kugunakan untuk diriku sendiri."


"Tidak. Lebih baik kita pulang saja. Aku tidak bisa berlama-lama disini."


Embun langsung cemberut. Ia memukul pelan tangan suaminya. Biasanya dulu sebelum menikah Embun selalu bebas melakukan apa saja dan tidak dibatasi oleh waktu. Tapi sekarang dia memiliki suami yang menyebalkan dan menyuruhnya untuk cepat pulang. Embun menghela nafas.


"Biasanya kami berpesta sampai malam. Aku ingin maka pizza." Gumam Embun.


"Sudahlah tidak apa-apa. Sekarang kau kan punya suami jadi turuti suamimu." Ujar Tio.


Carrel mendengus seperti tidak setuju dengan pendapat itu. Arsen terdiam menatap Embun. Tidak tega melihat Embun yang seperti tertekan dengan suaminya. Padahal sejak pagi Embun yang paling bersemangat untuk mengadakan pesta ulang tahun ini. Arsen pun mengangkat sebelah tangannya.


"Ayo kita pesan pizza. Aku yang bayar." Sahutnya dengan nada datar.


Semua orang langsung tercengang.


"Asik ayo pesan!" Pekik Embun.


Embun langsung setuju dan senang karena dia memang menginginkannya jadi tidak peduli siapa yang membayar. Arsen tersenyum kecil melihat Embun yang senang. Aldo melotot dan menginjak kaki Ezar dibawah sana.


"Aw! Hei!" Bentak Ezar.


"Tidak bisa begitu, Ezar yang harus bayar!" Tegas Aldo.


"Tadi dia bilang menolak jadi tidak apa-apa." Ujar Arsen.


"Ezar, ini kan keinginan istrimu jadi harus kau yang bayar!" Ujar Aldo frustasi.


"Bagaimana kalau Ezar yang membeli minumannya?" Sahut Carrel.


Embun mengangguk setuju. Gadis itu pun menatap suaminya.


"Belikan kami wine lagi." Embun merengek.


Sesungguhnya Ezar ingin cepat pulang karena tidak betah berlama-lama disini. Ezar tidak terbiasa berkumpul tidak jelas seperti ini kecuali berkumpul dengan teman-teman sesama konglomerat yang membahas bisnis. Ezar ingin menolak bukan karena ia tidak mampu membelikan itu semua, tetapi karena waktu akan semakin lambat. Tapi melihat Aldo yang memaksa akhirnya mau tak mau Ezar pun setuju.


"Baiklah baiklah. Aku yang bayar semuanya."


...__ooOoo__...


Baiklah. Sekarang Ezar menyesal karena telah menuruti keinginan mereka semua. Selain dirinya yang jadi harus menunggu lebih lama, kini mereka semua tertidur karena meminum minuman yang mereka pesan sendiri. Termasuk istrinya yang meracau tidak jelas sejak tadi. Ezar mendengus lalu berdecak kesal. Matanya melirik Aldo yang duduk didepannya. Aldo tidak terbiasa minum alkohol jadi tidak kuat menahan mabuk. Bahkan Aldo juga tidak bisa meminum wine terlalu banyak tapi entah kenapa malam ini Aldo malah meminumnya seperti orang bodoh.


Bodoh.


Tersisa Ezar dan Arsen yang masih duduk dengan tegap. Embun terus memeluk lengannya sambil meracau.


"Sepertinya istrimu benar-benar terlelap. Sebaiknya kita semua pulang." Sahut Arsen.


Ya, Ezar pikir juga begitu. Ezar juga sudah memesan taksi untuk mengantar Aldo ke rumahnya.


"Aku akan membawa Carrel ke ruangan pribadinya, disana ada kasur jadi dia bisa tidur disana. Sementara Tio.. mungkin aku akan membawanya ke rumahku." Lanjut Arsen.


Ezar mengangguk. Lalu pria itu memukul kecil tangan Aldo berniat membangunkannya.


"Hei, Aldo, kita harus pulang sekarang."


"Hmmm iya iya sebentar kita makan pizza lagi." Sahut Aldo.


Sial. Ezar jadi kesusahan sendiri sekarang. Ia pun melirik Arsen yang mencoba menuntun Carrel. Sepertinya Arsen bukan orang yang mudah mabuk, sama sepertinya. Baguslah. Ezar jadi tidak perlu repot-repot mengurus sisanya. Setelah taksi datang Ezar langsung mengantarkan Aldo kesana. Tak lupa ia juga berpesan pada supir taksi agar mengantarkan Aldo ke alamat yang tepat.


Begitu Ezar kembali masuk ke dalam ia melihat Tio yang sudah berdiri meski dalam keadaan setengah sadar.


"Aku pulang sendiri. Aku bisa. Sampai jumpa. Terimakasih." Ujar Tio sambil terputus-putus.


Kemudian Tio langsung berjalan keluar. Tersisa mereka bertiga sekarang. Ezar pun menggendong istrinya ke mobil. Arsen juga mengikuti setelah membersihkan semua sisa-sisa pesta mereka. Setelah mengunci pintu cafe Arsen pun berjalan menuju motornya yang terparkir didepan. Kemudian kepalanya menoleh ke mobil Ezar yang hendak melaju. Matanya tertuju pada Embun yang terlelap dengan sangat nyaman disana. Tanpa sadar Arsen mengulas senyum tipisnya.


Andai saja Embun belum menikah, mungkin Arsen akan mengejarnya hingga dapat.


...__ooOoo__...


Ezar menidurkan Embun di ranjang dengan sangat hati-hati sambil menahan bau alkohol dari mulut istrinya. Ezar tidak begitu memperhatikan seberapa banyak Embun minum sampai semabuk ini. Setelah membaringkan istrinya itu Ezar menghela nafas kemudian melepaskan sepatu dan jaket Embun.


Ezar tersentak karena Embun tiba-tiba memeluk lehernya dengan mata tertutup.


"Hei lepaskan aku." Desis pria itu.


"Arsen."


Embun menggumam. Ezar langsung terdiam saat merasa mendengar nama laki-laki lain yang disebut oleh istrinya. Pelukan Embun dilehernya pun semakin erat. Apakah saat ini Embun sedang mengira bahwa yang dipeluknya adalah Arsen?


"Arsen itu menarik sekali."


Ezar terdiam sesaat sebelum akhirnya melepaskan diri secara paksa. Ditatapnya Embun yang terpejam sambil terus menggumamkan sesuatu yang Ezar tak mengerti. Tapi sepertinya istrinya itu sedang jatuh hati kepada lelaki bernama Arsen. Ezar tersenyum sinis.


"Kau sudah menikah, Embun."


"Carrel, Arsen itu bisa.. melukis." Embun kembali bersuara sambil mengubah posisinya jadi membelakangi Ezar.


Tanpa bersuara Ezar memandangi punggung istrinya cukup lama dengan perasaan yang sulit diartikan. Ezar tidak cemburu. Tidak. Dia juga tidak mencintai Embun. Tapi mendengar nama lelaki lain yang Embun sebut dan Embun puji membuat Ezar jadi memikirkan pernikahannya yang baru berjalan seminggu. Bisa dibilang Ezar jadi sedikit kesal. Bisa-bisanya Embun memuji pria lain disaat mereka berdua harus fokus menjalani rumah tangga ini.


Tidak. Ezar tidak ingin bercerai. Ezar tidak akan membiarkan kehidupan pernikahannya hancur begitu saja karena pria lain. Apapun yang terjadi Embun tidak boleh meninggalkan pernikahan ini demi pria lain. Tidak akan pernah.


...__ooOoo__...


"Selamat pagi Ezar!" Pekik Embun.


Gadis itu baru saja tiba di ruang makan pagi ini. Embun langsung menyapa suaminya yang sudah duduk manis sambil menikmati secangkir kopi buatan bi Lasri. Karena bangun kesiangan Embun jadi tidak bisa menyiapkan sarapan sendiri.


Ezar tak bersuara dan hanya menatapnya tajam. Embun duduk di kursi yang bersebrangan dengan suaminya. Bi Lasri langsung datang membawakan sarapan untuknya.


"Terimakasih bi."


Embun menyeruput teh hangat miliknya. Tak berapa lama tangannya itu menyentuh bagian kepala yang tiba-tiba berdenyut sakit. Sejak bangun tidur tadi Embun merasa kepalanya terus berdenyut.


"Kepalaku terasa sakit." Gumamnya.


"Siapa Arsen?" Tanya Ezar tiba-tiba.


Embun mengerjap dan menatap suaminya.


"Apa?"


"Siapa lelaki bernama Arsen itu?" Tanya Ezar tanpa mau menatap Embun.


"Oh, dia temanku. Pria yang semalam duduk di sebelahku juga." Ujar Embun.


"Kau suka padanya?"


UHUK UHUK


Embun langsung tersedak teh nya sendiri. Setelah meminum air putih dan selesai dengan masalah kecilnya Embun pun menatap Ezar dengan mata yang melotot.


"Apa maksudmu?" Tanya Embun sedikit lantang.


"Aku bertanya jadi jawab saja."


"K-Kenapa kau bertanya begitu Ezar?"


"Kau tidak boleh mencintai pria lain. Kau harus fokus pada pernikahan kita. Ingat? Kita harus belajar saling mencintai meskipun sekarang kita hanya berteman dalam status pernikahan."


"Ya tapi darimana kau menyimpulkan bahwa aku suka para Arsen?" Tanya Embun pelan.


Ezar menghela nafas lalu bangkit dari kursinya. Ezar berjalan mendekat lalu berdiri di sebelah kursi yang sedang Embun duduki. Embun sedikit mendongak dengan wajah bingungnya.


"Tujuan kita adalah saling mencintai. Fokus saja pada tujuan itu." Ujar Ezar.


Kemudian Ezar sedikit membungkuk. Tangannya meraih rahang istrinya dan mulai mencium Embun dengan lembut. Embun sempat tersentak. Ia hanya diam saat bibir Ezar menyapu seluruh bibirnya dengan perlahan dan lembut. Embun bahkan tidak berniat untuk memberontak. Pikirannya hanya mampu bertanya-tanya kenapa Ezar melakukan ini secara tiba-tiba.


Ezar melepaskan tautan bibirnya namun enggan menjauhi wajahnya. Dengan tatapan tajam itu Ezar menatap Embun dalam jarak yang sangat dekat.


"Mungkin aku harus sering mencium mu seperti ini agar kau bisa mulai mencintaiku." Bisik pria itu sambil menghembuskan nafas beraroma mint ke permukaan wajah Embun.


Embun mendorong bahu Ezar agar menjauh. Embun takut Ezar akan mendengar suara detak jantungnya yang cepat. Sekarang wajah Embun merona. Gadis itu pun memalingkan wajahnya ke samping.


"T-Tidak perlu seperti itu. Aku yakin kita bisa saling mencintai seiring berjalannya waktu." Ujar Embun.


"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Aku pergi."


Ezar pun pergi setelah memberikan ciuman lembutnya pada Embun. Tersisa Embun yang masih berdebar tak karuan karena ciuman itu. Mungkin kalau bisa dilihat pipinya pun masih merona. Saat mendengar suara mesin mobil yang menyala di pekarangan rumahnya Embun setengah berlari menuju jendela dan mengintip mobil suaminya dari sana. Perlahan mobil itu melaju dan menghilang dari pekarangan rumah.


Embun menghela nafas. Entah perasaan berdebar yang ia rasakan sekarang adalah karena ciuman Ezar atau karena pria itu mengetahui isi hatinya yang lain.


"Darimana dia tahu kalau aku sedikit tertarik pada Arsen?"


...____________________...


...To be continued...


...(Revisi : 31-10-2020)...