Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 37



"Aku tidak peduli apapun. Kau hanya milikku! Harus!"


Walau terdengar seperti meracau tapi Embun yakin ucapan Ezar benar-benar serius terbukti dari nada tegasnya. Tubuh Embun langsung dihempaskan begitu saja ke ranjang. Bergegas Ezar membuka kemejanya dan ikat pinggang.


Berulang kali Embun mencoba bangun namun gagal karena Ezar terus mendorong tubuhnya agar tetap berbaring.


Setelah melepas kemejanya Ezar naik ke atas ranjang dan merangkak diatas tubuh Embun. Tentu saja gadis itu berontak.


"Ezar kau mabuk berat! Lepaskan!"


"Tidak. Kau hanya milikku, Embun!" Ezar malah membentak.


Hal itu semakin membuat Embun takut. Bagaimana ini. Ezar sangat diluar kendali. Dalam keadaan mabuk seperti ini Ezar pasti tidak mengenali istrinya dengan baik.


Tangan Ezar membuka kancing kemeja Embun satu persatu. Dengan wajah memohon Embun menatap Ezar.


"Jangan Ezar! Kumohon. Kau mabuk." Lirih Embun yang sudah hampir menangis.


Ezar tersenyum miring. Senyuman yang sangat tidak disukai oleh Embun.


"Aku tidak bisa menundanya lagi!"


"Aku mengerti kau begitu menginginkannya tapi tolong beri aku waktu untuk siap. Setidaknya jangan sekarang. Kau mabuk." Pinta Embun.


Ezar menggeleng.


"Kapan kau siap? Sampai kapan lagi aku harus menunggu? Sampai kau sudah kembali bersama Rayhan? Begitukah caramu?" Tanya Ezar dengan sinis.


Embun menggeleng. Ia tetap berusaha menyingkirkan tangan Ezar dari kancing bajunya.


"Setidaknya aku tidak ingin melakukannya disaat kau mabuk. Aku ingin kau sadar."


"Sial! Kau bicara apa sih." Ezar menggerutu.


Tangannya kembali beraksi. Semakin Embun meronta maka semakin gencar Ezar melucuti pakaian Embun satu persatu. Dan selama itu pula Embun menangis dengan kencang. Ditengah keheningan malam, ditengah kegelapan, Embun menangis begitu keras dan memilukan.


Ezar seolah tuli dan tidak peduli dengan tangisan istrinya. Semakin Embun menangis maka Ezar semakin merasa kesal hingga ia harus melampiaskannya sekarang juga. Ezar menciumi Embun tanpa ampun. Seolah ingin membuat istrinya kehabisan nafas, Ezar terus menciumi Embun meskipun gadis itu sudah menyuruhnya untuk berhenti. Ah, percuma saja. Tenaga Embun tidak ada apa-apanya dibandingkan otot-otot itu.


Setelah puas mencium bibirnya ciuman Ezar pun turun ke bawah. Meski merasa marah dan kecewa Embun tidak bisa menolak rasa geli hingga ia harus mengeluarkan suara erangan kecil yang sedari tadi berusaha ia tahan.


Ezar seperti melecehkannya. Dalam sekali sentakan tangan Ezar, pakaian luar Embun berhasil terlepas dari tubuhnya. Ezar berulang kali mengatur nafasnya yang tidak beraturan melihat bagaimana indahnya tubuh Embun yang masih terlapisi satu kain lagi. Dan lagi-lagi tangan Embun mencoba menghalangi tangan Ezar yang tidak sabaran.


Ezar menggeram lalu menatap Embun dengan tajam.


Embun menggeleng dengan wajah memohon.


"Kumohon.. jangan. Jangan seperti ini, Ezar."


Dan lagi-lagi Ezar tidak peduli. Pria itu melanjutkan aktivitasnya. Hanya dengan sekali sentuh Embun sudah benar-benar menjadi milik Ezar seutuhnya.


Malam itu menjadi saksi bisu bagaimana Ezar mengambil haknya sebagai suami secara paksa. Entah dalam kondisi sadar ataupun tidak sadar yang mungkin akan disesalinya esok hari.



Ezar mengerjap saat merasa silau dengan cahaya yang masuk ke kamarnya dan mengganggu tidurnya. Ah, sial. Ternyata sudah lagi. Ezar menggeliat pelan. Ia tidak ingat tidur jam berapa dan bagaimana bisa ia tertidur. Semuanya tidak ada dalam benak Ezar untuk sesaat. Ezar mendudukkan diri. Namun ia terkejut melihat kondisi tubuhnya yang bertelanjang. Ezar juga mengintip bagian bawah tubuhnya. Sial! Dia bahkan tidak pakai celana.



Buru\-buru Ezar melirik sebelahnya. Rupanya Embun masih terlelap disebelahnya. Hati Ezar langsung merasa tidak tenang melihat jejak air mata di pipi Embun. Belum lagi keadaan Embun sama dengan dirinya. Mereka tertidur tanpa memakai sehelai benang pun.



"Embun bangunlah."



Ezar mengguncangkan tubuh Embun.



"Hei, bangun. Ini sudah pagi."



Embun pun membuka matanya. Tangan Ezar mengelus kedua pipinya. Entah apa yang terjadi semalam tetapi raut wajah Embun sama sekali tidak mengenakkan.


Dengan wajah datar Embun menatap Ezar.



"Kau senang? Kau puas? Sekarang aku benar\-benar jadi milikmu kan." Embun tersenyum sinis.



Ezar menggeleng.



"Aku tidak ingat apa yang terjadi semalam."



Embun berdecak lalu menepis tangan Ezar. Wanita itu pun bangun dengan perlahan karena merasakan sakit didaerah selangkangannya.



"Seperti inikah caramu ketika putus asa dan lelah menungguku?" Tanya Embun pelan.



"Embun aku\-"



"Kau memperkosaku! Kita bukan bercinta! Itu namanya pemerkosaan!" Bentak Embun.



Suaranya bergetar begitu juga dengan tubuhnya.



Ezar mencengkram rambutnya sendiri. Kepalanya terasa sangat pusing efek mabuk semalam. Dan semalam Ezar pasti mabuk berat hingga tidak bisa mengingat apa yang terjadi. Ezar meringis melihat beberapa tanda merah kebiruan disekitar bahu dan punggung istrinya. Ezar mencoba menyentuh bahu yang bergetar itu namun ia urung karena takut. Takut jika Embun membencinya.



"Akh!"



Embun meringis saat mencoba berdiri. Daerah selangkangannya benar\-benar sakit. Ezar terlalu kasar padanya semalam. Embun melirik Ezar dengan sinis.



"Kau benar\-benar egois." Desis Embun.



Wanita itu terus mencoba untuk berdiri. Memaksakan rasa sakit yang terasa. Namun begitu berhasil berdiri kepalanya malah terasa berat. Pandangannya mulai buram.


Sampai Embun tidak ingat lagi apa yang terjadi setelahnya.



Tak lupa Ezar juga membersihkan dan memakaikan baju Embun.


"Katanya kau kelelahan dan kurang vitamin. Maafkan aku." Gumam Ezar.


Ezar membuka kancing teratas baju Embun untuk melihat tanda merah disekitar lehernya. Semua tanda itu adalah ulahnya. Ezar kesal karena bahkan ia tidak bisa mengingat sama sekali kejadian semalam. Apakah Embun kesakitan? Oh, sial. Pastinya Embun menangis karena perbuatannya.


Mengingatnya membuat Ezar ingin menangis karena merasa bersalah. Tidak seharusnya Embun diperlakukan seperti itu.


"Ezar." Panggilnya dengan suara serak.


Ezar langsung menoleh.


"Hei. Sudah sadar hm."


"Aku .. kenapa?"


"Kau pingsan sayang. Maafkan aku." Ujar Ezar dengan suara bergetar.


Embun menggela nafas. Ia memalingkan wajahnya.


"Aku harus pergi bekerja."


Ezar menahan tubuh Embun yang ingin bangkit.


"Aku sudah meminta izin pada Mario. Kau sakit dan butuh istirahat, Embun. Lagipula ini sudah siang." Kata Ezar dengan nada lembut.


Embun berdecak. Apakah ia sudah pingsan selama itu? Benarkah?


Perlahan Embun mencoba bangun. Ezar membantunya duduk bersandar pada bantal.


"Aku ingin minum."


Ezar langsung menyodorkan minum yang sudah tersedia di meja nakas. Setelah menegak air hingga tersisa setengah gelas Embun pun kembali bersandar pada bantalan. Tubuhnya benar-benar lemas dan sakit semua. Embun terus menatap lurus ke depan. Ia tidak berani dan tidak mau bertatapan mata dengan Ezar. Sementara Ezar terus memperhatikannya seolah mencari perhatian agar wanita itu meliriknya.


Ezar menghela nafas.


"Apa kau benar-benar tidak bisa mengingat kejadian semalam?" Tanya Embun.


Ezar mendongak.


"Ya. Sepertinya aku sangat mabuk."


Embun berdecak.


"Aku bahkan tidak tahu semalam melakukannya dengan siapa." Desis Embun.


"Maafkan aku sayang." Ezar meraih tangan Embun.


Embun segera menepisnya.


"Aku takut bersentuhan denganmu." Gumam Embun.


Ezar menatap Embun dengan nanar. Sorot matanya menyirat kekecewaan dan kesedihan. Tapi semua ini karena perbuatannya. Seharusnya kemarin Ezar tidak minum terlalu banyak hanya karena pusing memikirkan masalah Embun dengan Rayhan. Lihatlah sekarang, Ezar malah berujung menyakiti Embun.


"Permisi Tuan, Nyonya." Bi Lasri muncul di ambang pintu kamar.


"Ya ada apa bi?"


"Ada tamu yang mencari nyonya."


Ezar langsung bergegas turun kebawah untuk menemui siapa tamu yang dimaksud.


Begitu membuka pintu, Ezar langsung mendengus. Dua pria yang tidak ingin dilihatnya malah datang ke rumah.


"Ada apa ini?" Tanya Ezar pada Mario.


"Kudengar Embun sakit jadi aku kesini untuk menjenguk."


Ezar mengangguk kecil lalu melirik pria disebelah Mario.


"Lalu haruskah kau membawa pria ini?" Tanya Ezar sinis.


"Dia adikku. Dan adikku ini berteman dengan Embun saat masih sekolah dulu. Jadi sekalian kuajak dia menjenguk teman lamanya." Ujar Mario dengan senyuman hangat.


Ezar tersenyum miring.


"Teman lama ya." Gumam Ezar.


"Bisakah kami masuk sekarang? Aku ingin melihat kondisi Embun. Kau suaminya kan?" Tanya Rayhan dengan cemas.


Ezar mundur dan menyingkir dari ambang pintu.


"Duduklah di ruang tamu. Kita perlu bicara. Dan istriku sedang tidur."


Mario dan Rayhan pun setuju untuk duduk di ruang tamu. Entah apa yang akan dibicarakan oleh Ezar pada mereka. Setelah mendapat jamuan berupa teh hangat dan beberapa biskuit Ezar duduk dihadapan kakak beradik itu.


Ezar merasa ia harus mengambil tindakan lebih tegas diawal sebelum semuanya terlambat.


"Kurasa aku kemari untuk menjenguk orang sakit bukan ingin bicara denganmu." Sahut Rayhan.


"Sudah kubilang istriku sedang-"


"Ray!"


Semua mata langsung menoleh ke atas tangga. Embun berdiri ditengah-tengah tangga dengan wajah pucat. Dan wanita itu menangis begitu melihat Rayhan.


Ezar berdecak. Tidak seharusnya seperti ini. Ezar segera bangkit dan berniat mengajak Embun kembali ke kamar. Namun gerakannya kalah cepat dengan Rayhan yang tiba-tiba saja sudah memeluk Embun. Mata Ezar nyaris keluar dari tempatnya. Apa-apaan ini?


Mario pun hanya bisa meringis melihat situasi saat ini.


"Ray, kau ada disini!" Embun menangis haru sambil memeluk Rayhan.


"Kau baik-baik saja? Kau sakit apa? Kemarin kau baik-baik saja." Tanya Rayhan bertubi-tubi.


Embun semakin memeluk Rayhan dengan erat. Ezar menghampiri dua orang itu sambil menahan kesal.


"Apa-apaan kau ini?" Pekik Ezar.


Rayhan pun melepaskan pelukannya. Namun Embun malah kembali memeluknya. Hal itu membuat Ezar gusar.


"Sayang kau kenapa?"


"Pergilah, Ezar. Aku sedang tidak ingin melihatmu!" Pekik Embun.


Mendengar kalimat itu dari Embun langsung tentunya membuat Ezar semakin gusar. Pria itu kalut. Ingin rasanya ia mencekik lalu mengusir Rayhan dan juga Mario. Namun niat mereka datang kesini baik, yaitu untuk menjenguk istrinya.


Mario pun menepuk bahu Ezar.


"Bisa kita bicara empat mata?" Tanya Mario.


Ezar kembali melirik istrinya dengan Rayhan.


"Biarkan saja dulu mereka. Ini pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. Tenang saja, akan aku pastikan adikku tidak merebutnya darimu."


Ezar menatap Embun dan Rayhan dengan tatapan sendu. Ada perasaan sakit dihatinya. Tapi mungkin dia harus memberi ruang untuk Embun. Ezar baru tersadar jika selama ini Embun sangat sulit digapai. Lalu haruskah ia membiarkan pria lain memeluknya kali ini?