Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 43



"Embun!"


Embun mendengar ada yang memanggil namanya. Namun ia tidak berniat menoleh dan mencari sumber suara itu. Ia lebih memilih menatap jalanan dengan tatapan kosong.


Tak lama tiba-tiba ada seorang pria yang berdiri dihadapannya. Embun mendongak.


"Ray."


"Kau sedang apa disini? Astaga. Kau pucat sekali. Kau sakit huh?" Tanya Rayhan cemas.


"Ray aku-"


"Ayo ke mobilku sebelum kau pingsan disini. Aku khawatir melihatmu sepucat itu."


Rayhan langsung menuntun Embun untuk segera masuk ke mobilnya. Kebetulan sekali Rayhan sedang melintas lalu tak sengaja melihat Embun yang berdiri didekat halte sendirian. Wajah Embun yang pucat serta tatapan kosongnya membuat Rayhan cemas dan langsung menepi.


Sampai masuk ke mobil pun Embun tidak bicara apa-apa. Melirik Rayhan pun tidak. Wanita itu seolah hilang kesadaran.


"Embun, kau tidak apa-apa?"


Rayhan mengguncangkan bahu Embun.


Embun menoleh dengan pelan.


"Aku hamil Ray." Lirih Embun.


Rayhan tertegun mendengarnya. Embun hamil. Wanita yang dicintainya hamil anak orang lain. Rayhan merasa sedih sekaligus senang. Rayhan tersenyum kecil.


"Selamat Embun. Kau akan jadi ibu yang baik kelak."


"Ezar pergi."


Embun mulai terisak.


"Hei, apa maksudmu?"


"Aku hamil dan Ezar malah pergi meninggalkanku."


Bahu Embun bergetar hebat. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Aku tidak mengerti. Ezar meninggalkanmu bagaimana? Bukankah keberadaanmu disana itu artinya kau baru saja datang ke perusahaan suamimu itu?"


"Kami bertengkar lalu dia pergi selingkuh dengan cinta pertamanya. Dan sekarang dia ada di Singapura tanpa sepengetahuan ku."


Rayhan langsung mengepalkan tangannya. Pria itu ingin marah. Emosi rasanya. Tapi ia tidak ingin menunjukkan kemarahannya didepan wanita hamil ini. Tidak ada yang bisa Rayhan lakukan selain memeluk Embun dan menenangkannya.  


"Sudah jangan menangis. Aku akan menjagamu dan bayimu. Tenang saja."


Embun pun menyerah. Ia hanya butuh tempat untuk bersandar sekarang. Tangannya membalas pelukan Rayhan. Tangisannya semakin menjadi. Embun menangis sejadi-jadinya didada Rayhan.


Tanpa kedua orang itu sadari kalo didepan sana ada seseorang yang memperhatikan adegan berpelukan itu. Orang itu adalah Sarah. Ya, Sarah tak sengaja melihat Embun berjalan lalu masuk ke mobil bersama pria lain. Sarah pun menghela nafas. Rasanya sulit sekali melihat kisah percintaan Ezar dan Embun. Mereka bertengkar dan sekarang Embun malah berada dipelukan pria lain.


"Kau sangat menyedihkan Ezar."


~~


Alih-alih tidur karena sudah larut malam, Ezar malah terdiam menatap langit kamar hotelnya. Tubuhnya lelah. Ezar belum tidur sejak kemarin. Ngantuk? Tentu saja. Ezar tetap manusia biasa. Tapi seberat apapun rasa kantuknya tidak bisa membuat Ezar tertidur. Pikirannya melayang kemana-mana. Dan itu membuat Ezar frustasi. Ia ingin sekali tidur malam ini. Nyatanya ada hal lain yang mengganggu pikirannya selain pekerjaan.


Istrinya.


Ezar rindu istrinya.


Persetan dengan rasa rindu, Ezar masih ingat dengan jelas bagaimana wanita itu memeluk pria lain didepan matanya lalu mengatakan kalimat yang sangat menyakiti hati Ezar.


Ugh.


Ezar pun bangkit. Ia berjalan menuju sofa lalu duduk disana. Ezar menatap nanar ponselnya diatas meja. Benda pipih itu sudah tidak ia gunakan selama beberapa hari ini. Ezar bahkan sengaja mematikannya. Sekarang Ezar hanya ingin fokus pada proyeknya. Jangan sampai urusan rumah tangganya itu dapat mengganggu pekerjaan Ezar. Tapi tidak bisa dipungkiri, itu benar-benar mengganggu.


TOK TOK TOK


Shit.


"Mau apa kau kesini Aldo?" Tanya Ezar dengan dingin.


"Uhm aku tidak bisa tidur. Bisakah aku masuk ke dalam? Ayo lakukan sesuatu selagi menghabiskan waktu."


Aldo langsung masuk ke dalam kamar Ezar tanpa permisi. Ezar berdecak. Selalu saja seenaknya. Setelah menutup pintu Ezar pun duduk di sofa seperti yang Aldo lakukan.


"Aku tahu kau tidak bisa tidur meskipun kelelahan." Sahut Aldo.


"Kau merindukan istrimu." Lanjut Aldo yang mampu membuat Ezar diam.


Ezar hanya diam. Matanya menatap keluar jendela besar yang menampilkan pemandangan kota di malam hari.


"Ezar aku kesini sebagai temanmu. Apa tidak sebaiknya kau mencoba membicarakan ini baik-baik dengan Embun?"


Ezar menghela nafas.


"Kenapa kau masih bersikeras membela wanita pengkhianat itu?" Desis Ezar tak suka.


"Astaga dia istrimu! Jangan menyebutnya seperti itu!"


"Kami akan bercerai. Aku akan .. menceraikannya."


Aldo terkejut.


"Kurasa kau tidak benar-benar mencintai istrimu." Gumam Aldo.


Ezar langsung melirik Aldo dengan tajam. Tidak benar-benar mencintai Embun? Apakah perasaan yang selama ini menggerogoti hati dan pikirannya itu hanyalah obsesi semata? Untuk apa Ezar terobsesi pada istrinya?


Tidakkah Aldo tahu bahwa saat mengatakan kata perceraian tenggorokan Ezar terasa tercekat dan hatinya sakit?


Astaga! Bahkan kini pria itu memikirkan istrinya setengah mati.


"Kenapa kau mau bercerai?" Tanya Aldo dengan tajam.


"Aku muak disakiti wanita itu."


"Kau bercerai disaat aku mau menikah..kau bercanda?" Aldo tertawa sinis.


"Apa yang salah dari itu? Kau bisa menikah kapanpun dan jangan pikirkan aku lagi."


"Kau sama sekali tidak menghargaiku! Kau tahu? Aku sudah pernah bilang bahwa aku ingin menikah sejak lama tapi aku tidak mau mendahuluimu!"


"Aku tidak pernah memintanya Aldo!"


"Aku tidak tega menikah duluan dan meninggalkanmu yang entah hatinya untuk siapa. Kau lupa siapa yang dulu pernah hancur hidupnya hanya karena seorang wanita? Sejak Sarah meninggalkanmu kau selalu membutuhkan aku lalu aku terus membantumu untuk bangkit lagi. Bisa kau bayangkan betapa khawatirnya aku jika kau belum memiliki pasangan disaat Sarah bahkan sudah pergi? Kau pikir aku bisa meninggalkanmu dengan menikah?" Jelas Aldo dengan mata berapi-api.


Ya, harusnya Ezar ketahui dan sadar bahwa Aldo bukan hanya sekedar bawahan dan tangan kanannya. Tapi Aldo juga sahabatnya. Sahabat yang selalu ada untuknya. Ah tidak, atau mungkin Aldo saudaranya.


Ezar mengusap wajahnya gusar.


"Aku takut hidupmu hancur lagi karena wanita. Karena itu pertahankan lah Embun." Aldo kembali bersuara.


"Tapi Embun tidak mencintaiku. Dia memilih pria itu. Dia bahkan menunggu pria itu bertahun-tahun bagaimana dia bisa mencintaiku?" Lirih Ezar.


"Kau pernah menyuruhku untuk menyelidiki Rayhan. Rayhan pernah hampir koma dan bahkan nyaris mati karena menyelematkan Embun dulu. Barangkali dia hanya merasa berhutang Budi."


"Tidak. Aku mendengarnya dengan jelas kalau wanita itu masih mencintai Rayhan."


Aldo menghela nafas. Tangannya terulur untuk menepuk bahu Ezar.


"Sejak awal aku lah orang yang paling mendukung pernikahan kalian. Aku bertemu dengan Embun lebih dulu sebelum kau, Ezar. Dan sejak itu aku sangat yakin kalau Embun bukan orang yang seperti itu."


"Lalu? Apa menurutmu yang aku dengar itu hanya omong kosong?" Desis Ezar dengan tajam.


Aldo berdecak.


"Entah kau sadar atau tidak, tapi wanita itu selalu menatapmu dengan penuh cinta."