Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 34



"Kau milikku malam ini. Tidak ada penolakan. Semua perintah aku yang berikan."


Usai berkata seperti itu Ezar mulai membuka kancing baju Embun satu persatu dengan pelan tanpa melepaskan tatapan matanya pada Embun.


"E-Ezar.."


Nafas Embun tercekat. Gerakan tangan Ezar semakin cepat. Embun takut. Tubuhnya bergetar.


"Kau milikku Embun. Kau milikku."


Entah Ezar mabuk atau tidak tapi Embun tidak mencium bau alkohol pada tubuh pria itu. Ucapan Ezar terdengar seperti meracau. Embun berusaha mendorong Ezar sekuat tenaga namun tetap saja tenaganya kalah. Ezar semakin menindihnya lalu menciumnya.


"Pelan-pelan Ezar." Embun meringis karena Ezar benar-benar menciumnya dengan kasar.


Embun bisa merasakan rasa perih disudut bibirnya. Seolah tuli Ezar tetap pada kekasarannya itu. Membuat Embun semakin takut.


Tak lama Ezar melepaskan ciumannya.


"Ada apa?" Tanya Ezar dengan suara rendah.


Embun menunduk. Ia melihat pakaiannya yang sudah sedikit tersingkap. Kancingnya sudah hampir semua terbuka. Semua ini ulah Ezar. Tidak. Tidak seperti ini caranya.


"Aku .. lelah." Ujar Embun dengan datar.


Wajah Ezar langsung berubah seolah tidak terima mendengarnya.


"Jadi?"


"Kau pergi tanpa mengatakan apa-apa padaku. Seharusnya kau meyakinkan aku seharian ini. Tapi nyatanya .. kau pergi entah kemana lalu pulang dan langsung melakukan semua ini padaku. Kau sebut ini bulan madu? Aku justru malah merasa hina diperlakukan seperti ini olehmu!" Tegas Embun.


Mata gadis itu merah dan berkaca-kaca. Ezar cukup tertegun.


"Kau tidak mau melakukannya denganku?" Tanya Ezar menahan kesal.


"Untuk apa aku melakukannya denganmu? Tidak ada kelembutan seperti biasanya. Bahkan kau tidak peduli pada perasaanku! Aku .. merasa terhina."


Ezar mengepalkan kedua tangannya disamping tubuh Embun. Dengan perasaan amarah dan tatapan tajam pria itu menatap Embun yang berada dibawah kukungannya.


"Perasaanmu? Memangnya perasaanmu bagaimana?" Desis Ezar.


Embun mendongak.


"Kau-"


"Kenapa kau harus merasa terhina? Kau istriku, Embun! Istriku! Sudah sepantasnya kau melakukan itu denganku. Bahkan itu kewajibanmu!" Tegas Ezar.


"Dan apa katamu? Harusnya aku meyakinkanmu? Soal apa Embun? Apa lagi yang belum kau yakini?! Aku tidak mengerti denganmu!" Lanjutnya.


Embun terdiam. Ia tidak sanggup merespon ucapan Ezar. Gadis itu membuang wajah ke samping.


"Menyingkirlah dari tubuhku. Aku lelah." Gumam Embun.


Ezar tersenyum sinis. Perlahan Ezar menyingkir dari atas tubuh istrinya. Embun langsung bergerak memunggungi Ezar. Entah kenapa ia harus merasa kecewa atas semua ini. Padahal Embun lah yang menyebabkan kekacauan ini. Embun lah yang kembali tergoyahkan akan masa lalunya.


Ezar mengacak-acak rambutnya frustasi. Pria itu lantas melirik Embun. Bahu Embun bergetar. Ah, gadis itu pasti menangis. Ezar sadar akan kesalahannya yang tiba-tiba meninggalkan Embun sendirian di hotel. Gadis itu pasti ketakutan sendirian di negara orang. Semua ini salah Ezar. Tapi Ezar memiliki alasan sendiri kenapa dia tiba-tiba pergi meninggalkan Embun begitu saja. Pikirannya langsung kalut sesaat setelah mereka tiba di hotel.


Ezar menghela nafas. Ia pun berjongkok didepan Embun. Benar kan, Embun menangis. Sebelum Embun berganti arah untuk kembali memunggunginya buru-buru Ezar menahan bahu gadis itu. Tangan Ezar mengancingi kancing baju Embun yang sempat ia lepas. Setelahnya Ezar mengelus kepala Embun lalu mengecup keningnya.


"Maafkan aku. Aku salah." Bisik Ezar.


"Tidak seharusnya bulan madu kita menjadi seperti ini Ezar." Embun semakin terisak.


Ezar mengangguk lemah.


"Maaf. Semua ini salahku. Aku janji akan memperbaikinya dengan sisa waktu kita disini. Aku berjanji Embun."


CUP


Ezar tersenyum setelah mengecup kening Embun.


"Tidurlah jika lelah. Aku mau ke lobi sebentar."


Setelah memastikan Embun berhenti menangis Ezar langsung pergi keluar kamar. Sesuai ucapannya, pria itu benar-benar menuju lobi hotel. Disana ia bertemu dengan seseorang yang dikenalnya.


"Cari tahu tentang pria itu lebih lanjut. Jangan sampai dia mendatangi istriku disini."




Gadis itu menghela nafas. Rupanya Ezar masih tertidur pulas. Tadi saat Embun bangun dan mencoba membangunkan Ezar, pria itu bilang akan bangun sebentar lagi. Tapi begitu Embun tinggal mandi hingga selesai Ezar masih tertidur. Bahkan dengkurannya semakin jelas terdengar. Embun mengusap perutnya. Lapar. Jika menunggu Ezar akan memakan waktu lebih lama.



"Ezar aku lapar." Sahut Embun.



Namun Ezar sama sekali tidak bergerak. Embun menghela nafas. Sudahlah. Ia ingin sarapan duluan saja. Tak lupa Embun meninggalkan catatan kecil di nakas agar pria itu tidak cemas mencarinya. Embun bersiap lalu keluar dari kamar.



"Embun?"



Langkah Embun langsung terhenti. Tubuhnya menegang. Perlahan ia menolehkan kepalanya ke belakang.



"Sudah kuduga. Itu memang kau."



"Ray .. "



Mata Embun berkaca\-kaca. Pria itu ada disini. Dihadapannya dan bertatapan mata dengannya. Embun seolah kehilangan tenaga untuk menopang berat tubuhnya. Rayhan berjalan mendekat.



"Aku merindukanmu."



GREP



Rayhan menarik tangan Embun dan langsung memeluk gadis itu.


Embun terpaku.



"Kau tahu? Aku sangat tidak sabar menyelesaikan studiku disini karena aku ingin pulang lalu bertemu denganmu." Sahut Rayhan.



Embun melepaskan pelukan itu sedikit memaksa.



"Jadi .. selama ini kau studi disini?"



Rayhan mengangguk.



Embun menggigit bibirnya. Ia benar\-benar ingin menangis. Rayhan langsung memeluknya.



"Aku menunggumu Ray."



"Jangan disini."



Rayhan langsung menarik Embun masuk ke kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar Embun.


Embun terkejut. Matanya menatap ke sekeliling kamar yang Rayhan tempati.



"Kau .. tinggal disini?"



"Tidak. Aku tinggal di apartemen. Tapi sudah seminggu ini aku bosan tinggal disana jadi aku menginap di hotel."



Embun menatap Rayhan dengan tatapan sendu. Ia begitu merindukan pria itu. Selama ini Embun selalu menunggu dengan ketidakpastian. Tidak disangka pada akhirnya ia akan bertemu dengan Rayhan disini, di negara yang sejak dulu ingin ia datangi. Mungkinkah ini alasan dibalik rasa penasaran Embun akan negara ini?



"Kau semakin cantik dan dewasa, Embun. Kau menungguku?"



Embun mengangguk.



"Aku selalu menunggumu, Ray."



"Kau menepati janji." Rayhan kembali memeluk Embun.




"Oh ya, kenapa kau bisa ada disini? Aku baru akan pulang Minggu depan." Kata Rayhan.



"Ah itu .. kau sudah menyelesaikan studimu disini?"



"Sudah. Sekarang aku juga sudah bekerja tapi aku ingin kembali ke negara asalku."



Embun mengangguk.



Rayhan, adik kecilnya saat SMA sudah berubah menjadi pria dewasa yang tampan dan sudah lumayan mapan dengan hasil belajarnya di negara ini. Rayhan menatap Embun dengan ragu.



"Aku .. melihatmu kemarin di jembatan dekat Central Park dan di restoran pizza. Kau bersama dengan seorang pria."



Rayhan langsung menunduk. Embun merasa tidak enak. Rayhan melihatnya.



"Ah itu .. aku bersama\-"



Ucapan Embun terputus karena tiba\-tiba ponsel Rayhan berdering dengan nyaring. Kedua mata mereka langsung tertuju pada benda pipih yang tergeletak di ranjang itu. Rayhan melirik Embun sebentar.



"Aku terima telpon dulu."



"Ray, kurasa aku harus kembali sekarang."



Rayhan mengangguk.



"Nanti kita bicara lagi."



Bergegas Embun pun keluar dari kamar Rayhan. Begitu keluar dari sana ia langsung menghembuskan nafas lega. Selama bertahun\-tahun tidak bertemu dan ketika bertemu lagi membuat Embun jadi sangat gugup didepan pria itu. Hati Embun juga berdebar. Rayhan jadi semakin tampan dan gagah. Tentunya Embun sangat senang bisa bertemu lagi dengan Rayhan. Hanya saja waktunya yang tidak tepat. Kenapa Rayhan malah muncul saat Embun baru saja ingin menyatakan perasaannya pada Ezar? Apakah Tuhan berniat mempermainkan perasaan Embun?



"Embun!"



Embun terkejut. Ia melihat Ezar berdiri didepan pintu kamar mereka dengan wajah yang penuh amarah. Rahang Ezar begitu tegas dan sorot matanya sangat tajam. Nafas Ezar juga memburu. Embun menggenggam erat bajunya.



"Ezar." Gumam Embun.



Ezar berjalan mendekati istrinya dengan langkah yang terburu\-buru. Kemudian Ezar langsung menarik Embun ke dalam pelukannya. Ezar memeluk Embun begitu erat, sangat erat. Pria itu juga langsung menghela nafas lega.



"Ezar."



"Kenapa kau ada disini? Kau darimana saja? Aku mencarimu."



Embun melepaskan pelukannya.



"Kenapa kau .. mencariku?" Tanya Embun dengan ragu.



"Aku mencemaskan mu. Ini bukan negaramu. Kau tidak kenal daerah disini lalu bagaimana jika kau tersesat? Aku setengah mati mencarimu." Kata Ezar dengan nada membentak.



Embun tertegun. Seketika air mata langsung menetes dari matanya.



"Aku takut. Jangan membentakku." Lirih Embun dengan suara bergetar.



Ezar menghela nafas. Apakah ia sudah berkata terlalu kasar? Tanpa basa\-basi Ezar langsung menarik tangan Embun untuk kembali ke kamar hotel mereka. Ezar langsung mendudukkan Embun di kasur lalu pria itu berlutut dihadapan Embun.


Ezar menggenggam tangan Embun dengan kuat.



"Jangan keluar tanpa sepengetahuanku. Apalagi jika kau pergi tanpaku. Jangan." Kata Ezar sambil memohon.



"Ezar aku hanya ingin sarapan. Aku sudah membangunkanmu tapi kau tetap mendengkur. Dan aku sudah sangat lapar."



"Aku tahu itu. Maaf. Aku baru bisa tidur dini hari dan aku kelelahan."



Mata Embun melebar.



"Apa? Apa yang kau lakukan?"



"Ada sedikit pekerjaan yang harus aku urus. Maafkan aku."



Embun mendengus. Sedikit pekerjaan katanya. Embun menatap Ezar dengan tidak percaya. Lalu bagaimana jika semalam mereka benar\-benar melakukannya sementara Ezar ada pekerjaan mendadak? Apakah kegiatan mereka akan sempat tertunda hanya karena pekerjaan? Seketika Embun jadi kesal sendiri.



"Aku tidak percaya kau masih bisa bekerja disaat bulan madu."



Ezar terkekeh. Tangannya terulur merapikan rambut Embun.



"Bisakah kau benar\-benar tinggalkan pekerjaanmu selama kita disini? Aku tidak ingin ditinggalkan seperti kemarin." Pinta Embun.



Ezar mengangguk.



"Hari ini kita akan di kamar saja. Aku sudah menyuruh orang untuk membelikan stok cemilan agar kau tidak kelaparan dan bisa menungguku kalau itu perlu."



"Apa?! Tapi Ezar, aku\-"



"Mandilah. Sebentar lagi orang suruhan ku datang. Aku tidak ingin mereka melihatmu dalam kondisi menggemaskan seperti ini."



Ezar terkekeh melirik piyama tidur yang Embun kenakan.



"Kau meledekku?!" Pekik Embun.



"Tidak. Bagiku kau unik. Bahkan kau jauh lebih seksi memakai piyama princess itu dibanding memakai gaun gaun transparan yang ada dikopermu." Ezar tersenyum miring.



Embun terkejut.



"Kau melihatnya?!"



Ezar tidak menjawab dan malah sibuk menonton tv. Embun benar\-benar malu. Pasti Ezar berpikiran yang tidak\-tidak tentang dirinya. Akh! Kenapa juga Embun mesti membawa pakaian pakaian laknat itu sih?