Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 48



Ezar tak berhenti untuk menciumi tangan istrinya yang entah sejak kapan mulai sangat kurus. Dalam hatinya Ezar tak berhenti mengucapkan doa serta segala bentuk penyesalannya. Dokter bilang istrinya baik-baik saja namun entah kenapa wanita itu tak kunjung membuka matanya. Ini sudah delapan jam berlalu. Ezar takut sesuatu terjadi.


"Bangunlah sayang. Aku disini."


Ezar mulai terisak.


"*Dia membutuhkanmu."


"Istrimu merindukanmu selama ini*."


Perkataan Sarah dan Aldo terus terngiang. Hal itu semakin menumpuk rasa bersalah Ezar.


"Kau bilang merindukanku hm? Aku ada disini sekarang."


Dan Ezar kembali menciumi tangan itu. Tangan Ezar terulur mengelus rahang istrinya. Oh sial. Pipinya juga berubah menjadi tirus. Seburuk itu kah? Ezar menduga jika Embun tidak makan dengan baik. Bagaimana bisa wanita hamil tidak menjaga makan hingga menjadi kurus seperti ini. Oke. Ezar semakin terpukul.


"Maafkan aku. Aku salah." Lirih Ezar.


"Bangunlah Embun. Ayo kita mulai semuanya dari awal lagi. Kita perbaiki."


Aldo yang berdiri didekat pintu pun menghela nafas menyaksikan pemandangan didepannya. Ia merasa iba pada Ezar. Tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terlambat. Janin itu sudah tidak ada. Sejak dokter mengatakan janin itu tidak bisa diselamatkan, tangis Ezar semakin deras. Tentunya pasti rasa sesal begitu mendalam.


Oh, bayangkan saja. Ezar tidak tahu kalau Embun hamil dan saat dia diberi tahu dia tidak percaya jika itu anaknya. Lalu Ezar malah menyakiti Embun dengan menuduhnya sembarangan. Dan kini entah apa yang harus dilakukan Ezar untuk menebusnya. Ia bahkan tidak sempat mengelus janinnya itu.


"Tuan Ezar, lebih baik kau istirahat dulu. Makan malam misalnya." Sahut Aldo.


Namun Ezar tidak bergeming. Matanya begitu basah dan merah. Memandang wajah istrinya tanpa kedip.


"Ezar."


"Tinggalkan aku berdua dengannya. Lebih baik kalian pulang ke hotel dan istirahat. Aku akan disini."


"Tapi-"


"Kumohon biarkan aku merenungi semua kesalahanku."


Aldo mendengus.


"Baiklah. Tapi jangan terlalu terbebani. Aku takut kau jadi gila."


Selepas mengatakan itu Aldo pun keluar. Ezar melirik pintu yang tertutup. Tangan Ezar terulur untuk mengusap perut Embun yang terbalut pakaian rumah sakit.


"Maafkan papa, nak. Maaf."


"Ibumu pasti sangat terpukul dan beban pikirannya menumpuk karena ku. Maaf harus membiarkanmu pergi." Lirih Ezar.


Janinnya.


Darah dagingnya yang masih seumur jagung.


Tak bisa dibayangkan bagaimana Embun menjaga calon anak mereka sendirian ditengah-tengah kehancuran rumah tangga mereka. Dan semua ini terjadi karena kesalahpahaman Ezar sendiri.


SREEKK


"Brengsek kau hah!"


BUGH


Ezar terpental ke lantai setelah mendapat pukulan yang begitu tiba-tiba. Rayhan datang dan langsung memukul rahangnya. Ezar hanya diam saja menunduk setelah mendapat pukulan itu.


"Dia sampai jauh-jauh datang kemari hanya untuk menemuimu tapi kau malah membiarkannya terbaring lemah seperti ini!" Bentak Rayhan.


Rayhan ada disini. Ezar tidak terkejut karena memang dia lah yang menghubungi Rayhan. Awalnya Ezar hanya ingin meminta maaf tapi Rayhan langsung tahu apa yang terjadi. Karena itu Rayhan langsung terbang ke Singapura saat itu juga. Dan Rayhan baru tahu Embun keguguran.


"Bangun kau pecundang!" Desis Rayhan.


Matanya melirik ke bangsal. Embun masih memejamkan matanya. Rayhan menghela nafas dengan kasar. Demi Tuhan Rayhan sangat khawatir. Perlahan Ezar pun bangkit.


"Dia mencintaimu!" Tegas Rayhan.


Ezar mengusap wajahnya.


"Ya. Aku tahu."


"Apa sekarang kau puas telah meninggalkannya tanpa sebab lalu membuatnya kehilangan .. hah .. bayi yang malang."


Meski masih berbentuk janin tapi Rayhan sangat menyayangkan hal itu karena ia tahu Embun sangat menjaga dan mencintainya calon anaknya. Bahkan Rayhan sempat berjanji untuk menjaga Embun dan calon anaknya. Dan sekarang Rayhan merasa sangat menyesal.


Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga kalian. Batin Rayhan.


Rayhan berdecak. Tangannya terkepal. Ia ingin meninju wajah Ezar lagi tapi ini rumah sakit. Terlebih mereka ada di kamar pasien.


"Cih. Sekali lagi kau bertanya aku akan benar-benar merebutnya kembali." Desis Rayhan.


Rayhan pun berjalan menuju pintu. Sesaat dia melirik Ezar.


"Jika ingin mengetahui sesuatu tanyalah padaku jangan padanya. Aku takut Embun akan kembali tersakiti hanya karena pertanyaan bodohmu seperti barusan."


Kemudian Rayhan pun menghilang dari balik pintu. Rayhan perlu mendinginkan kepalanya sejenak. Rayhan pasti sangat emosi melihat Ezar. Apalagi dia baru saja sampai.


Ezar menunduk, menatap lantai tempatnya berpijak. Sekarang dia merasa menjadi manusia paling bodoh disini. Seharusnya malam itu Ezar mendengarkan obrolan mereka sampai tuntas. Seharusnya Ezar tidak langsung pergi begitu saja tanpa mengetahui yang sebenarnya. Ini semua salah paham. Dan Ezar telah menuduh Embun tanpa sebab. Benar kata Aldo. Pantas saja Aldo selalu bersikeras menentang apa yang Ezar pikirkan tentang Embun. Seharusnya sejak awal Ezar mempercayai perkataan Aldo dan menurutinya.


"Ezar.."


Suara lemah itu membuat Ezar langsung menoleh. Ezar langsung mendekati bangsal begitu jari Embun terangkat seperti sedang mencari sesuatu namun matanya masih tertutup. Ezar langsung meraih tangan lemah itu.


"Ya sayang. Aku disini."


Demi Tuhan Ezar kembali menangis.


Perih rasanya.


"Ezar." Lirih Embun.


"Iya aku ada disini. Maaf."


Mendengar suara isakan kecil mata Embun mulai terbuka secara perlahan. Embun menangkap sosok pria yang mirip suaminya itu sedang menangis seraya terus menciumi tangannya. Embun tersenyum lemah. Kenapa tubuhnya terasa kaku dan sakit. Terutama perutnya. Ah, perutnya terasa kosong namun bukan karena ia belum makan. Entahlah.


Embun akhirnya bisa melihat Ezar dengan jelas. Suaminya. Pria yang ia rindukan.


"Ezar, kau disini."


"Iya."


Lagi-lagi Embun tersenyum lemah.


"Maafkan aku. Maaf. Aku sudah menyia-nyiakanmu."


"Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf seperti itu."


"Tidak Ezar. Ini salahku. Seharusnya aku-"


"Bisakah kau berhenti bicara? Apa perutmu terasa sakit?"


Embun menatap langit-langit kamar rumah sakit. Sebelah tangannya meraba perutnya. Kemudian ia tersenyum sambil menatap Ezar.


"Anak kita Ezar. Ini anak kita."


Suara lirih yang mengalun dengan halus itu membuat tangisan Ezar semakin deras dan deras. Ezar tidak tega mengatakannya.


"Maafkan aku Embun. Sungguh. Maafkan aku."


"Kenapa kau terus meminta maaf Ezar? Kau tidak ingin menyapa calon anak kita?" Tanya Embun heran.


Ezar pun berusaha meredakan tangisannya.


"Tatap mataku." Pinta Ezar.


Nyatanya Embun sudah menatap Ezar sejak tadi bahkan sejak pria itu menangis. Ezar tersenyum lemah sambil mengusap pipi tirus istrinya.


"Kita harus merelakan anak kita sayang."


"A-apa maksudmu?"


Baiklah. Embun mulai merasa takut.


"Kau keguguran sayang."


~~


Embun duduk sambil bersandar pada bantal. Matanya menatap keluar jendela. Pikirannya kosong. Ia sedang sendirian diruangan itu karena permintaannya. Embun tidak ingin menemui siapapun dulu termasuk Ezar meski ia masih rindu. Embun terlalu terkejut dengan kabar kegugurannya. Kini Embun hanya ingin menyalahkan dirinya sendiri.


"Maafkan mama nak. Semua ini salah mama. Kau banyak menderita karena mama." Gumam Embun yang tanpa sadar sudah menitikkan air mata.


Embun meraba perutnya yang kini kosong. Ia sangat merasa kehilangan. Siapa lagi yang akan ia ajak bicara sendiri sekarang? Embun merindukan janinnya.


Tatapan Embun beralih pada pintu. Orang-orang itu sedang menunggunya di luar sana. Embun menghela nafas. Tadinya ia ingin mempertahankan pernikahannya demi sang buah hati. Tapi sekarang .. apa tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan pernikahannya dengan Ezar?