Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 31



Ezar masuk ke kamarnya setelah memastikan kedua orang tuanya sudah pulang. Ezar menatap istrinya yang sedang membersihkan riasan wajah. Karena kunjungan mendadak orang tuanya Embun terpaksa tidak bisa kembali ke butik. Selain itu terlepas dari kunjungan orang tua Ezar, pria itu sendiri juga sudah meminta izin pada Mario untuk mengizinkan istrinya pulang siang hari karena Ezar kira rencananya akan berjalan mulus.


Nyatanya ia gagal lagi. Ezar juga sudah malas untuk kembali ke kantor karena jujur ia sendiri lelah.


Ezar menghampiri Embun secara perlahan. Embun langsung terperanjat saat ada sentuhan lembut dibahunya. Tatapan mereka bertemu melalui bayangan cermin.


"Maafkan aku." Lirih Ezar.


"Kenapa minta maaf? Kau tidak berbuat salah Ezar."


"Maaf karena belum bisa memberikan waktu untukmu."


Embun bangkit lalu tiba-tiba memeluk Ezar. Kepalanya bersandar pada dada bidang suaminya.


"Tidak apa-apa, Ezar. Kau tidak perlu merasa begitu. Harusnya aku yang merasa bersalah karena belum bisa memenuhi keinginan orang tuamu."


"Aku janji, setelah semua pekerjaan kita selesai aku akan membawamu ke belahan dunia manapun. Dan kau juga harus membawaku ke belahan dadamu."


Wajah Embun langsung merah padam. Ia memukul punggung Ezar dengan pelan.


"Bicaramu mesum sekali!"


Ezar terkekeh.


"Oh ya, Ezar. Bisa kau datang ke acara pameran butikku? Aku ingin kau melihat semua hasil karya jahitanku."


"Maaf sayang, aku tidak bisa. Aku sangat sibuk dan harus meninjau ke beberapa cabang perusahaan." Ezar menyisir rambut Embun menggunakan jemarinya.


Embun menghela nafas kecewa. Seharusnya ia tidak perlu bertanya jika sudah tahu suaminya adalah orang yang sibuk. Sekarang yang didapat hanyalah penyesalan atas rasa kecewanya mendengar jawaban Ezar.


"Hei, jangan kecewa begitu. Aku yakin kau pasti sangat pintar dan rajin. Karyamu juga sangat rapi dan bagus. Terbukti saat kau membuatkan sebuah baju untukku." Ujar Ezar dengan lembut.


Embun menatap manik mata Ezar. Ia selalu bisa merasakan kehangatan setiap ditatap oleh mata tajam itu. Mungkin sudah saatnya Embun mengakui perasaan apa yang membuat hatinya terus berdebar. Embun janji akan menyatakan perasaannya di waktu yang sangat tepat dan dalam momen romantis.


Embun pun berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga Ezar.


"Aku menunggu malam itu."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari ini adalah hari yang sangat penting untuk Embun karena hari ini hasil kerja kerasnya tampil didepan publik untuk pertama kalinya dalam acara besar. Acara dimulai sebentar lagi dan gadis itu sangat gugup. Ia takut jika hasil kerja kerasnya tidak sesuai dengan apa yang disukai orang-orang. Ayolah, Embun masih sangat junior dibidangnya. Agenda hari ini adalah peragaan busana dan pameran butik. Busana hasil jahitan tangan Embun akan diperagakan oleh seorang model.


Embun takut jika jahitannya kurang rapi atau ada kesalahan. Ia hanya bisa berdiri dengan cemas sambil menggigiti ibu jari tangannya.


"Hei, tegang sekali." Sahut Mario.


Embun berusaha tersenyum walau ia masih saja gugup.


"Ya, ini pertama kalinya hasil karyaku tampil didepan banyak orang."


"Bukankah kau bilang pernah ikut kontes menjahit semasa sekolah dulu?"


"Benar. Tapi kali ini berbeda. Ini pertama kalinya setelah sekian lama aku tidak menjahit. Aku takut melakukan kesalahan."


Embun menutup wajahnya. Bayang-bayang ketakutan mengalami kegagalan itu muncul lagi. Tentu saja Embun sangat gugup karena merasa tidak percaya jika mimpinya mulai ia capai. Menjahit pakaian yang dirancang khusus untuk acara pameran ini. Jahitannya akan dilihat banyak orang. Siapa yang tidak akan gugup jika ada diposisi Embun?


Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya dengan lembut. Mario tersenyum teduh.


"Tenanglah. Aku suka hasil jahitanmu, Embun. Kau pasti bisa sukses suatu hari nanti."


"Tapi aku sudah menikah. Ezar tidak akan membiarkanku menjadi wanita karir pastinya. Dan sekarang aku takut melakukan kesalahan."


"Kau pasti bisa. Percaya padaku." Ujar Mario dengan mantap.


Mereka pun saling beradu tatap cukup lama sampai sebuah suara mengacaukan.


"Tidak ada karyawan yang berani beradu tatap dengan atasannya."


Mario langsung sedikit menjauh dari Embun. Dan gadis itu terkejut melihat suaminya ada disini. Hei, bukankah pria itu bilang tidak bisa hadir karena sibuk?


"Ezar apa yang kau lakukan disini?"


"Kenapa? Wajahmu terkejut sekali melihatku disini. Bukankah seharusnya kau senang bukan malah terkejut?" Ezar tersenyum miring.


"Kurasa aku harus pergi." Mario pun melenggang pergi.


Embun menatap suaminya. Ezar balas menatapnya dengan dingin.


"Kau bilang tidak bisa datang karena sibuk. Kau berusaha menipuku?" Tanya Embun dengan kekesalan.


Ezar menghela nafas.


"Tidak seperti itu. Aku memang sibuk dan sekarang aku juga sedang bekerja."


"Kerja apanya? Kau kesini untuk melihatku kan?"


"Cih, kau terlalu percaya diri nona."


Ezar tersenyum geli lalu maju beberapa langkah. Ia mendekatkan wajahnya.


"Mall ini milikku sayang." Bisik Ezar.


"A-apa?"


"Berani sekali kau mencoba selingkuh di wilayahku hm."


"Hei, aku tidak selingkuh!" Bantah Embun.


"Lalu tatapan mata tadi itu apa?"


"Hei, itu kan hanya-"


"Kau cuma boleh menatap mataku seperti itu. Mengerti? Ingat, aku sedang berusaha menyelesaikan semua pekerjaanku agar kita bisa berbulan madu sayang."


Pipi Embun langsung merona.


Ezar pun melenggang pergi bersama beberapa pegawainya. Ada Aldo juga disana. Embun sempat senyum pada Aldo. Sabar Embun, Ezar sedang berusaha keras. Ia tidak boleh mengecewakan Ezar kan.


Ah, perasannya mulai berdebar lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Setelah selesai acara Embun diantar oleh Mario sampai depan rumah. Walau sebenarnya Embun agak was-was karena takut ada singa yang marah nantinya. Tapi nyatanya mobil Ezar belum terparkir di rumah.


"Baiklah, terimakasih Mario. Maaf jika aku banyak melakukan kesalahan pada acara besarmu hari ini."


"Sama-sama. Tidak tidak, kau bahkan tidak melakukan kesalahan sama sekali. Terimakasih juga telah banyak bekerja keras. Berisitirahatlah."


"Sampai jumpa dan selamat malam."


"Tunggu!"


Embun mengerutkan keningnya. Mario mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya.


"Terimalah. Ini sebagai hadiah karena sudah bekerja keras."


Mario menyodorkan sebuah korak hitam berbahan buludru. Embun terkejut.


"Mario ini terlalu berlebihan!"


"Terimalah. Aku sudah membelinya dari jauh hari."


Dengan ragu Embun pun menerimanya. Begitu ia membuka kotaknya, ternyata isinya sebuah kalung yang memiliki liontin sangat cantik. Embun menyukai kalung itu.


"Terimakasih Mario."


"Berisitirahatlah. Selamat malam Embun."


Setelah Mario pergi Embun bergegas masuk ke rumah sebelum Ezar pulang. Tapi yang membingungkan adalah suasana rumah yang gelap dan sepi. Biasanya ada bi Lasri yang sedang menonton tv. Atau paling tidak lampu menyala semua. Tumben sekali keadaan rumah gelap. Embun berjalan lalu menyalakan semua lampu di setiap ruangan. Kemana bi Lasri?


Apa bi Lasri lupa menyalakan lampu? Ah, tidak yakin.


Embun memutuskan untuk langsung membersihkan diri di kamar. Anehnya lagi pintu kamar sedikit terbuka dan gelap. Embun masuk ke kamar dengan hati-hati. Tiba-tiba perasaannya tidak enak. Apakah ada penyusup? Ayolah, ini di perumahan elit. Bisa saja kan para penyusup itu mengincar rampok dikawasan elit.


Begitu pintu terbuka lebar Embun langsung ternganga. Diatas ranjang terdapat kotak kecil yang dikeliling oleh cahaya lampu Tumblr yang entah darimana.


Tatapan Embun langsung berkeliling mencari sang pelaku.


"Ezar! Aku tahu kau ada disini."


Embun menyalakan lampu kamar lalu mengecek kamar mandi. Kosong. Ezar benar-benar belum pulang?


Penasaran Embun langsung membuka kotak itu. Embun mendapatkan dua lembar kertas berbentuk voucher atau tiket didalamnya. Hah, apa ini?


Tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkari pinggangnya.


"Suprise!" Bisik Ezar.


Tubuh Embun langsung menegang. Ia mendongak menatap Ezar yang ternyata tidak memakai baju.


"Kau sudah pulang?"


"Ya."


"Lalu mana mobilmu?"


"Aku masukkan ke dalam bagasi."


"Aku kira kau belum pulang. Biasanya mobilmu selalu ada di halaman."


Lalu Embun kembali menatap tiket yang ia pegang. Seketika pipinya merona merah.


"Ezar ini .. "


"Lusa kita akan pergi bulan madu sayang." Ezar mengecup kening istrinya lembut.


"T-tapi kenapa cepat sekali? Maksudku, ku kira kau masih .. sibuk." Ujar Embun gugup.


"Yes honey. Semua pekerjaanku hampir selesai semua jadi aku memutuskan untuk memberi kepecayaanku pada Aldo dan Sekar. Akhirnya kita bisa pergi berbulan madu Embun."


Ezar memberikan sentuhan lembut diwajah Embun.


Sekali lagi Embun membaca dua tiket itu. Benar-benar nyata.


"Kita ke New York?" Tanya Embun sambil menahan senyum.


"Yes baby, as your wish."


"Hei, darimana kau tahu aku ingin kesana?" Tanya Embun bingung.


Seingatnya ia tidak pernah membicarakan soal ini pada Ezar.


Ezar tersenyum miring.


"Sahabatmu." Sahut Ezar.


Embun mendengus. Carrel benar-benar!


Tapi syukurlah. Embun merasa sangat senang sekarang. Sebentar lagi ia akan pergi ke tempat yang sudah ingin ia kunjungi sejak dulu.


"Apa ini?" Sahut Ezar.


Rupanya Ezar menemukan kotak kalung pemberian Mario tadi. Seketika Embun gugup.


"Itu .. "


"Sebuah kalung? Tidak mungkin kau membelinya sendiri secara sengaja kan?" Tanya Ezar dengan tegas. Sorot matanya sangat mengintimidasi.


Embun menggigit bibir bawahnya.


"Mario memberikannya padaku sebagai hadiah." Jawab Embun dengan suara pelan.


Ezar menghela nafas.


"Baiklah. Tidak apa-apa. Dia hanya memberikan barang untukmu." Ezar meletakkan kembali kotak itu diatas nakas.


Embun dengan cepat duduk disamping suaminya.


"Kau tidak marah?" Tanya Embun heran.


"Aku cemburu karena tahu Mario suka pada istriku. Tapi sebentar lagi kau juga akan jadi milikku seutuhnya jadi untuk apa aku harus membesar-besarkan masalah ini? Dia memberimu sebuah kalung sedangkan kau memberiku mahkotamu dan sebuah kenikmatan nantinya." Ujar Ezar.


Embun langsung menunduk dengan wajah memerah. Astaga! Bukankah perkataan Ezar terlalu vulgar? Hei! Embun jadi semakin gugup.


Ezar terkekeh melihat wajah istrinya yang merah padam.


"I'm waiting." Bisik Ezar.


Lalu Ezar pergi keluar kamar entah kemana. Embun masih diam ditempat berusaha menetralisir detak jantungnya. Ah, bulan madu mereka dipercepat secara mendadak. Dua hari lagi..


Apakah itu artinya Embun harus menyatakan perasaannya secepat ini?


[maaf lama update karena sibuk dan juga lagi fokus sama cerita yang lain hehe. sebisa mungkin akan mulai up rutin cerita ini lagi kok]