
Pagi ini Ezar terbangun dan tidak menemukan Embun disampingnya. Biasanya Ezar yang selalu bangun lebih dulu. Kalau kalian mau tahu, Embun itu sedikit susah dibangunkan dan suka sekali bangun siang. Tapi meski bangun siang pun Embun tidak terlambat untuk pergi bekerja. Ezar merasa heran karena tumben sekali gadis itu bangun lebih pagi darinya. Ezar langsung turun ke lantai bawah untuk mencari istrinya.
Ezar malah bertemu bi Lasri yang sedang membereskan ruang tengah.
"Pagi bi." Sapa Ezar.
"Pagi, Tuan. Nyonya Embun sedang membuat sesuatu di dapur." Bi Lasri pun tersenyum.
Tanpa menunggu lebih lama Ezar segera pergi ke dapur untuk menghampiri istrinya. Dan benar saja gadis itu ada disana. Ezar berjalan menuju lemari dan mengambil minum air putih untuk dirinya. Sepertinya Embun belum menyadari kehadirannya. Dilhat-lihat Embun sangat serius sekali sedang berkutat dengan masakannya yang entah apa.
Ezar pun mencoba berdiri dibelakang gadis itu dan melihat apa yang sedang terjadi.
"Kue ulang tahun untuk siapa?"
"Kyaaa!"
Embun menjerit dan terjungkal ke belakang. Untung saja Ezar menahan kedua bahunya agar tidak terjatuh. Embun melotot karena terkejut melihat Ezar.
"Kau mengejutkanku!" Pekik Embun kesal.
"Tidak ada maksud."
"Seharusnya tidak perlu tiba-tiba bersuara dan ada dibelakangku seperti tadi! Lihat kan krimnya jadi miring!"
Embun besungut-sungut kesal melihat krim yang menjadi hiasan diatas kue buatannya itu malah melenceng.
"Siapa yang berulang tahun?" Tanya Ezar mengabaikan omelan untuknya.
"Temanku Tio berulang tahun. Dia juga bekerja di Café milik Carrel, sama sepertiku dan dia juga teman sekolahku dulu."
"Tapi.. kenapa kuenya berwarna pink?" Tanya Ezar yang sangat kebingungan.
Embun tertawa.
"Dia pria tapi suka warna pink."
"Jadi kau bangun pagi hanya untuk membuat kue?"
"Iya. Aku selalu membuat kue untuk teman yang berulang tahun."
Ezar hanya mendengus geli. Siapa yang sangka jika Embun ternyata pandai membuat kue. Ezar kira gadis itu hanya pandai menghabiskan uang saja. Rupanya sejauh ini Ezar sudah banyak salah menilai Embun.
"Kapan ulang tahunmu? Nanti aku buatkan kue juga untukmu, Ezar." Sahut Embun.
"Aku tidak suka makan kue buatan rumah." Ezar terkekeh.
Embun mengerucutkan bibirnya lucu.
"Cih, dasar orang kaya. Kue buatanku juga tak kalah enak dengan kue mahal."
"Terserah. Ngomong-ngomong kau sudah siapkan pakaian kerja untukku?" Tanya Ezar.
"Belum. Sebentar akan aku siapkan."
Ezar Kembali berbalik badan. Embun sangat sibuk menyiapkan kue untuk ulang tahun temannya yang bernama Tio itu sampai rela bangun pagi. Padahal Ezar tahu kalau semalam Embun tidur larut karena menonton drama. Istrinya itu terlihat sangat antusias membuatkan kue untuk teman prianya. Ezar jadi penasaran kira-kira seperti apa orang bernama Tio itu sampai Embun mau berbaik hati membuatkannya kue. Ezar sedikit merasa terganggu akan hal itu.
...__ooOoo__...
Ezar sudah berangkat lebih dulu tadi dan sekarang giliran Embun untuk berangkat. Jam kerja mereka memang berbeda. Ezar bekerja lebih pagi namun pulang lebih awal sedangkan Embun sebaliknya. Hal itu membuat keduanya jarang bertemu atau jarang ada waktu bersama karena terkadang Embun lelah dan langsung tidur saat pulang. Bagaimana mereka bisa mulai pendekatan dan saling mencintai kalau keduanya sama-sama sibuk. Sayangnya tidak ada yang menyadari hal itu baik Ezar maupun Embun sendiri.
Embun baru saja berniat memesan taksi tapi tiba-tiba sebuah motor berhenti didepannya. Kening Embun berkerut. Barulah saat si pengendara motor itu membuka kaca helmnya Embun langsung memekik.
"Arsen!"
"Embun, rumahmu disini?" Tanya Arsen bingung.
"Iya. Sedang apa kau disini?"
Arsen menengok ke belakangnya lalu kembali menatap Embun.
"Rumahku disekitar sini. Hanya beda blok saja dengan rumahmu."
"Astaga jadi selama ini rumah kita berdekatan?! Hei, aku bilang rumahmu tidak jauh dari cafe."
Arsen mengerjap.
"Bagiku dari sini tidak terlalu jauh menuju cafe."
Embun menghela nafas. Padahal kalau dibandingkan, lebih dekat rumah lamanya dengan cafe.
"Kalau begitu kita bisa berangkat bersama. Kebetulan aku selalu naik taksi dari sini."
Tanpa permisi Embun langsung naik keatas motor sambil berusaha menjaga kue yang ia bawa. Arsen hanya diam. Tadi Arsen tak sengaja melihat sosok yang menurutnya mirip dengan Embun. Lalu Arsen berniat mencoba mendekat untuk memastikan. Dan ternyata orang itu benar-benar Embun. Sebuah kebetulan yang mengejutkan. Untung saja Arsen selalu membawa helm dua untuk berjaga-jaga.
"Pakai helmnya." Arsen menyodorkan helm lainnya pada Embun.
"Tidak bisa. Tanganku sibuk memegang kue untuk Tio."
"Lalu?"
"Emm.. pakaikan padaku."
"A-Apa?"
Arsen mengerjap cepat. Apa gadis itu baru saja memintanya untuk memakaikan helm? Arsen tidak masalah daripada harus kena tilang tapi masalahnya haruskah ia melakukannya didepan rumah gadis itu? Bagaimana jika suaminya atau orang lain melihatnya dan menimbulkan kesalahpahaman? Padahal Arsen tidak bermaksud apa-apa.
"Cepat pakaikan helm itu ke kepala ku." Titah Embun.
"B-Baiklah."
Arsen terpaksa turun sebentar dari motor hanya untuk memakaikan Embun helm. Setelah selesai Arsen kembali naik ke motornya dan bersiap berangkat. Apa yang baru saja dia lakukan sudah seperti apa yang dilakukan oleh pasangan muda diluar sana. Arsen jadi malu.
"Jangan terlalu ngebut ya, aku bawa kue." Sahut Embun dibelakangnya.
Arsen hanya mengangguk dan mulai melajukan motornya.
Kenapa gadis bernama Embun ini selalu mampu membuat hatinya berdebar?
...__ooOoo__...
Aldo mengamati bosnya lekat-lekat. Saat ini mereka sedang meeting tentang trobosan proyek terbaru perusahaan tetapi pemimpin dari semua ini malah terlihat tidak fokus. Sejak awal berjalannya meeting sang pemimpin rapat malah sering melamun dan hanya merespon seadanya. Tidak biasanya Ezar seperti ini. Pria itu sangat gila bekerja. Pekerjaan adalah yang utama jadi jelas sekali kalau Ezar selalu serius dalam bekerja.
Karena sudah berteman sejak lama dan mengetahui segalanya tentang Ezar, Aldo jadi bisa melihat kejanggalan kecil yang terjadi pada Ezar. Akhirnya setelah meeting itu ditutup Aldo pun langsung menghampiri Ezar.
"Tolong bawakan berkas-berkas ku." Titah Ezar padanya.
"Anda terlihat kurang baik hari ini." Ujar Aldo sambil membantu membawakan berkas-berkas yang Ezar suruh.
Kedua pria itu pun berjalan beriringan keluar.
"Ada masalah?" Tanya Aldo.
"Tidak."
"Oh begitu. Bagaimana dengan istrimu? Kalian sudah saling mencintai?"
Ezar menatap Aldo sekilas lalu mendengus.
"Jangan tanyakan itu. Pagi ini dia malah bangun pagi demi membuatkan kue ulang tahun untuk teman lelakinya."
"Wow, ternyata istrimu bisa membuat kue. Aku pikir dia perempuan yang sederhana." Ujar Aldo sambil menerawang.
Tapi sesaat Aldo kembali ke topik karena menyadari Ezar yang berdecak kesal disampingnya.
"Teman lelaki? Kau tidak cemburu?" Tanya Aldo.
"Tidak. Untuk apa aku cemburu dan aku tidak tahu temannya selain wanita si pemilik cafe itu." Ezar menggerutu.
"Jadi itu ya yang membuatmu tidak fokus selama rapat tadi?" Aldo tersenyum simpul.
"Aku hanya sedikit kesal. Semalam dia tidur larut dan bangun sangat pagi. Aku hanya takut dia sakit. Itu akan sangat merepotkan."
"Kau khawatir?"
"Aku belum pernah merawat orang sakit sebelumnya dan aku belum siap."
"Lalu untuk apa kau menikah, Ezar? Semuanya sudah terjadi. Kau dan Embun sudah berjanji sehidup semati." Ujar Aldo dengan gemas.
Ezar ini memang selalu membuatnya gemas kalau urusan percintaan.
"Kami terpaksa, kau tahu itu."
"Hmmm baiklah. Bagiamana kalau pulangnya kita ikut merayakan ulang tahun teman istrimu itu?"
Ezar langsung melotot dan menatap Aldo dengan wajah penuh penolakan.
"Tidak! Untuk apa juga aku datang kesana." Ketus Ezar.
"Dia kan istrimu jadi sudah seharusnya kau mengenal mereka semua. Ayolah, bung, kau harus mulai terbuka pada dunia luar."
Aldo menepuk bahu Ezar. Tapi dengan cepat Ezar langsung menyingkirkan tangan Aldo dengan halus.
"Jaga sikapmu. Ini di kantor." Desis Ezar.
Tapi Aldo hanya mengedikkan bahunya. Kemudian Ezar langsung melengos pergi menuju ruangannya. Ia ingin berhenti memikirkan hal yang sudah jelas bukan bagian dari urusannya tapi ada rasa kesal melihat Embun melakukan segala hal untuk temannya. Ezar tidak tahu kalau Embun orang yang sehangat itu terhadap teman-temannya terutama terhadap teman lelaki.
Memikirkannya membuat Ezar kesal sendiri. Ezar pun membanting pulpen miliknya ke lantai. Bayang-bayang wajah Bahagia Embun tadi pagi tidak bisa lepas dari benaknya.
"Memangnya seperti apa lelaki bernama Tio itu?"
...__ooOoo__...
Sebentar lagi waktunya café akan tutup. Satu persatu pelanggan sudah mulai pergi karena sadar café akan tutup. Hanya tersisa dua pelanggan yang tinggal menghabiskan secangkir kopi milik mereka. Embun terus berdiri dengan gelisah di dekat pintu sambal berharap dua pelanggan terakhirnya segera cepat pergi. Embun sudah tidak sabar memberikan kejutan pada Tio.
Lelaki penyuka warna pink itu kini sedang membereskan barang-barang di dapur.
"Bagaimana? Sudah mengerti posisinya kan?" bisik Carrel.
Embun mengangguk.
"Tentu. Kuenya masih ada di kulkas ruanganmu."
Embun memang sengaja menaruh kuenya di sana karena meskipun ia, Carrel dan Tio berteman tetapi tetap tidak ada yang berani mengganggu ruangan pribadi Carrel sang pemilik café disini. Embun menarik tangan Arsen yang lewat dihadapannya.
"Kau sudah mengerti posisimu kan?" bisik Embun.
Arsen tampak terkejut sambil melirik-lirik tangan Embun yang menyentuh tangannya. Lalu dengan ragu Arsen pun mengangguk. Embun tersenyum.
"Baguslah. Setelah dua pelanggan ini pulang kita harus mulai bersiap-siap dan berpesta sampai malam."
"Apa biasanya memang seperti ini?" Tanya Arsen bingung.
"Iya. Setiap ada yang berulangtahun kami akan mengadakan pesta kecil atas ide Carrel."
Arsen mengangguk kecil. Tidak aneh sih karena Arsen tahu kalau mereka bertiga berteman sejak lama. Tiba-tiba Embun menepuk bahunya.
"Tenang saja Arsen, saat kau ulang tahun pun kami semua akan mengadakan pesta."
Arsen terkekeh.
"Seharusnya kau tidak perlu memberitahuku agar menjadi kejutan kan?" Arsen tersenyum.
"Ah, benar. Tapi Tio juga pasti sudah tahu kalau kami menyiapkan kejutan untuknya. Dia tahu kalau akan ada pesta kecil." Embun terkekeh.
Arsen ikut tersenyum. Meski tradisinya agak sedikit aneh menurutnya tapi Arsen sedikit terkesan. Arsen lebih terkesan karena ternyata Embun pintar membuat kue. Setiap mengetahui fakta baru tentang Embun membuat hatinya berdebar. Ya, Arsen juga mengakui bahwa dirinya menyukai Embun. Tapi Arsen tidak berniat merebut Embun dari suaminya itu. Arsen masih tahu diri.
Tak berapa lama kedua pelanggan terakhir mereka pergi. Cafe pun tutup. Tio muncul dari dapur karena sudah menyelesaikan tugasnya. Buru-buru Embun menarik Arsen untuk mengambil posisi. Tak lama Carrel datang membawa kue ulang tahun untuk Tio.
"Selamat ulang tahun!" Pekik Carrel.
Barulah Tio menoleh. Meski sudah sering mendapat kejutan seperti ini di hari ulang tahunnya tapi Tio tetap merasa terkejut dan senang. Tio tersenyum.
"Apa malam ini kita akan berpesta?" Tanya Tio dengan sumringah di wajahnya.
"Tentu saja!"
Kemudian mereka berempat berkumpul di satu meja dengan Tio yang duduk di tengah. Sambil menyanyikan lagu ulang tahun Embun juga mengajak Arsen untuk bernyanyi sambil bertepuk tangan. Jangan lupakan Arsen adalah orang yang kaku tapi karena Embun terus memaksa akhirnya Arsen ikut bernyanyi.
Tio merapalkan doa dalam hati sebelum akhirnya meniup lilin. Carrel dan Embun pun bersorak.
"Selamat ulang tahun Tio!"
"Wah, aku tidak menyangka jika masih mendapat kejutan seperti ini."
"Ini hadiah dariku!" Carrel memberikan kotak yang dibungkus kertas kado pada Tio.
"Hei, kau tidak memberiku jaket bulu-bulu berwarna pink lagi kan?!" Tanya Tio dengan kesal.
"Kenapa? Bukankah itu warna kesukaanmu?" Embun menyahut.
"Tapi yang benar saja.. dia memberiku jaket bulu dengan motif kupu-kupu seperti milik anak perempuan!"
"Hahahaha."
Carrel dan Embun tertawa. Hanya Arsen yang diam. Pantas saja kue ulang tahunnya berwarna pink karena ternyata Tio suka warna pink. Arsen terkekeh pelan. Merasa diperhatikan, Arsen segera menoleh pada Tio.
"Mana hadiah untukku dari anak baru?" Tio tersenyum jahil.
Embun memukul lengan Tio pelan.
"Dasar tidak sabaran. Jangan seperti itu pada anak baru. Dia tidak tahu apa-apa." Ujarnya.
Arsen mengusap tengkuknya dengan canggung lalu tiba-tiba beranjak dari tempatnya. Ketiga orang itu hanya diam sambil mencicipi sedikit kue buatan Embun. Tak lama Arsen kembali.
"Apa itu? Lukisan?!" Tanya Tio.
Arsen mengangguk pelan sambil menunduk malu. Ditangannya ada sebuah lukisan wajah Tio buatan tangannya sendiri.
"Aku tidak sengaja melukisnya. Ini hadiah dariku."
Tio menghampiri Arsen dan mengambil lukisan berukuran sedang itu.
"Ini kau sendiri yang melukisnya?" Tanya Carrel.
"Iya."
"Selain ahli membuat kopi kau juga bisa melukis. Keren. Lukisanmu seperti lukisan seniman terkenal."
Tio tersenyum senang dan menepuk bahu Arsen.
"Terimakasih ya. Aku terharu sekali diberi lukisan wajah seperti ini."
Arsen mengangguk.
Embun terdiam memandangi lukisan tangan Arsen. Lukisan itu terlihat sempurna dan indah seperti milik seniman-seniman handal. Mereka semua baru tahu kalau ternyata diam-diam Arsen bisa melukis. Embun cukup kagum pada Arsen yang ternyata memiliki kemampuan dalam bidang seni seperti itu.
"Permisi, apa kami bisa bergabung?"
Sebuah suara yang bukan berasal dari keempat orang tersebut tiba-tiba terdengar. Tio memasang wajah terkejutnya melihat ke arah pintu masuk.
"Oh? Bukankah dia suamimu?" Sahut Tio.
Lantas semua orang langsung menoleh mengikuti arah pandang Tio. Embun pun melotot terkejut sampai bangkit dari kursinya. Matanya bertemu dengan mata tajam itu. Disana berdiri dua orang pria berpakaian kantoran. Salah satunya memegang banyak bingkisan di kedua tangannya.
"Ezar?!"
...______________...
...To be continued...
...(Revisi : 31-10-2020 )...