Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
19. Marah



Begitu keluar cafe Embun melihat Arsen yang sedang duduk diatas motor ninja miliknya sambil melakukan sesuatu. Embun kira Arsen sudah pulang sejak tadi karena begitu cafe tutup Arsen langsung pamit pulang duluan. Kira-kira apa yang sedang Arsen lakukan disini?


Tio menepuk bahunya.


"Aku sudah selesai mengunci pintunya. Ayo pulang." Ajak Tio.


Embun dan Tio yang pada akhirnya pulang terakhir. Carrel selalu pulang lebih awal dan bebas karena dia sendiri pemilik cafenya. Embun mengamati pintu cafe yang sudah tertutup rapat kemudian mengangguk.


"Kau duluan saja."


"Mau pulang bersama Arsen ya? Kudengar rumah kalian berdekatan." Tio menatap Arsen dari kejauhan.


"Entahlah. Aku hanya ingin mengobrol sebentar dengannya."


Tio mengangguk dan kembali menepuk bahu Embun.


"Syukurlah jika suasana hatimu sudah kembali. Aku pulang dulu."


"Iya. Sampai jumpa besok!"


Tio pun berjalan pulang. Embun mendekati Arsen yang sepertinya belum menyadari kehadirannya. Rupanya Arsen sedang membenahi isi tasnya. Embun cukup tercengang melihat isi tas ransel yang selama ini Arsen pakai ternyata adalah alat-alat menggambar.


"Arsen." Panggil Embun.


Arsen menoleh dengan cepat.


"Embun."


"Sedang apa masih disini? Ku kira kau sudah pulang sejak tadi."


"Tadi sebenarnya aku ada urusan di telepon dan baru selesai tadi. Kalian baru pulang?"


Embun mengangguk. Tatapan mata Embun tertuju pada tas Arsen.


"Sepertinya kau benar-benar menekuni hobimu ya, Arsen."


Arsen mengerjap. Embun pun menghela nafas.


"Punya hobi itu menyenangkan apalagi jika hobimu itu tersalurkan dengan benar. Kau sangat pantas menjadi seniman. Baru pertama kalinya aku berteman dengan seorang seniman sepertimu." Embun mengulum senyum tipis.


Arsen mengusap lehernya dengan canggung. Pipi pria itu memanas. Rasanya malu mendengar kalimat pujian itu dari Embun.


"Terimakasih. Tapi aku bukan seniman sesungguhnya." Ujar Arsen malu-malu.


Embun terkekeh melihat respon malu-malu itu. Arsen terlihat menggemaskan.


"Apa cita-citamu menjadi seorang seniman?" Tanya Embun.


Arsen tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.


"Sepertinya iya."


Embun tersenyum sendu.


"Baguslah. Pertahankan dan kejar terus cita-citamu itu. Kita ini seumuran dan masih muda. Perjalanan hidup kita masih panjang, Arsen. Kau masih bisa dan pantas memperjuangkan cita-citamu."


Arsen tertegun mendengarnya. Lebih tepatnya Arsen tertegun karena nada bicara serta raut wajah Embun saat mengatakan kalimat itu sangatlah sendu.


"B-Bagaimana denganmu?"


"Hm? Apa?" Embun mendongak.


"Apa.. cita-citamu?"


Begitu ditanya apa cita-citanya Embun malah tertawa pelan sambil menggeleng.


"Bukan apa-apa. Lagipula aku sudah menikah. Sudah terlambat untuk semuanya. Sekarang aku hanya perlu fokus mengurusi suamiku."


Arsen bahkan tidak sadar kalau mata Embun berkaca-kaca saat mengatakannya. Kemudian gadis itu menghela nafas.


"Ayo pulang."


...__ooOoo__...


Motor Arsen berhenti tepat didepan gerbang rumah Ezar. Arsen memandangi rumah besar itu sejenak lalu melirik sebuah mobil sport yang terparkir di halaman depannya. Embun turun dari motor dengan hati-hati.


"Sepertinya suamimu sudah pulang." Sahut Arsen.


"Iya. Dia memang pulang lebih awal dariku."


Embun melepas helmnya lalu memberikannya pada Arsen.


"Embun aku ingin bertanya."


"Ya, apa?"


"Kenapa kau harus bekerja di cafe sementara suami mu sangat mampu mencukupi kehidupan kalian?"


Embun terdiam sejenak. Dia sendiri tidak tahu kenapa masih harus bekerja di cafe sementara dirinya sudah menikahi pria kaya raya. Seharusnya Embun tinggal duduk manis di rumah dan menghabiskan uang yang diberikan oleh suaminya. Tak perlu repot-repot mencari uang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya lagi seperti dulu. Tapi karena sejak awal Ezar sudah memberitahunya untuk jangan berfoya-foya, Embun jadi tidak ada niat untuk duduk manis saja.


Lagipula mungkin rasanya akan sangat bosan hanya berdiam diri di rumah. Embun butuh sering berinteraksi dengan orang-orang. Untungnya Ezar juga tidak melarangnya untuk bekerja.


"Entahlah, Arsen. Aku takut kebosanan jika di rumah hehe."


Arsen pun tersenyum tipis. Tiba-tiba Embun jadi teringat sesuatu.


"Maaf untuk tadi pagi ya. Aku memang selalu memukul siapa saja orang yang mengganggu ku disaat aku seperti tadi."


"Tidak apa-apa. Syukurlah jika suasana hatimu sudah membaik."


Embun mengangguk lalu berjalan memasuki gerbang rumahnya. Arsen mengamati punggung itu dari belakang.


"Embun." Panggil Arsen.


Mau tidak mau Embun pun kembali menoleh ke belakang.


"Ya?"


"Pernikahan itu bukan akhir dari perjalanan hidup. Kau juga masih bisa memperjuangkan cita-cita serta hobimu. Tidak ada kata terlambat selagi ada niat dan tekad." Kemudian Arsen tersenyum.


Tubuh Embun langsung membeku melihat senyuman indah itu. Ditambah kata-kata yang Arsen ucapkan begitu penuh makna. Tanpa berkata apa-apa lagi Arsen melajukan motornya dan melesat begitu saja meninggalkan Embun yang masih mematung di tempat memikirkan perkataan tadi sekaligus mengingat senyuman indah itu.


...__ooOoo__...


Ezar mengamati istrinya yang memasuki rumah tanpa menoleh ke arahnya. Padahal Ezar sedang duduk di sofa sambil menonton acara tv. Tapi Embun seolah tidak melihat keberadaannya atau mungkin berpura-pura tidak lihat.


"Pulang dengan siapa?" Ezar menyahut.


Embun malah meneruskan langkahnya menuju kamar. Sebelum Embun menaiki tangga Ezar buru-buru menarik tangan istrinya itu dan membuatnya berbalik badan. Embun menatap Ezar dengan tajam.


"Apa?!" Ketus Embun.


"Aku bertanya kau pulang dengan siapa?"


"Bukan urusanmu!"


"Apa dia yang bernama Arsen?"


"Lepaskan!"


Embun meronta minta tangannya dilepaskan tapi Ezar malah semakin mencengkram tangannya.


"Jawab aku dulu!" Tegas Ezar.


"Ya. Puas?!" Teriak Embun tepat didepan wajah suaminya.


Ezar menggeram pelan.


"Kau marah?" Tanya Ezar dengan tenang.


Embun sempat terdiam namun akhirnya ia kembali berusaha menarik tangannya dari cengkraman Ezar.


"Sudah dijawab. Sekarang lepas!"


"Baiklah baiklah."


Ezar pun akhirnya melepaskan cengkraman tangannya. Embun langsung bergegas menuju kamar begitu tangannya terlepas. Tapi Ezar tetap mengikuti. Selain karena kamar tidur mereka itu sama, Ezar juga hanya ingin mengikuti istrinya. Sial. Sepertinya Embun benar-benar marah.


"Kau marah?"


Ezar kembali bertanya setelah menutup pintu kamar. Embun yang duduk di meja rias hanya menatapnya sekilas melalui pantulan cermin lalu kembali sibuk dengan kegiatannya.


"Ku pikir yang seharusnya marah itu aku."


Embun langsung menghentikan aktivitas. Ezar menggunakan kesempatan itu untuk mendekat dan berdiri dibelakang istrinya. Tatapan mereka bertemu melalui pantulan cermin. Ezar bisa melihat tatapan tidak terima dari istrinya itu.


"Aku yang seharusnya marah karena kau sudah mengganggu waktu istirahat ku." Tukas Ezar.


Embun tersenyum sinis.


"Apa aku salah? Aku hanya memberitahu bahwa lupakan hal yang tidak bisa kau lakukan. Itu hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Tidak penting."


"Ya! Tidak penting bagimu Tuan!" Bentak Embun.


Bahu Embun mulai bergetar. Embun menggeram sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kemudian Embun bangkit dan berdiri berhadapan dengan Ezar. Dengan mata yang berkaca-kaca serta memerah Embun menatap suaminya dengan sorot tajam. Seketika perkataan Arsen kembali terngiang dibenaknya.


"Kau bahkan tidak tahu sesakit apa rasanya ketika aku meninggalkan semua mimpi-mimpi karena keadaan!"


Setelah puas berteriak di depan wajah suaminya Embun pun berlari ke kamar mandi dengan segala perasaan yang goyah.


Ezar langsung terdiam. Sejujurnya Ezar tidak memahami perkataan Embun. Tapi melihat emosi yang ditunjukan Embun padanya membuat Ezar sedikit tertegun. Ezar pun jadi bertanya-tanya sekaligus penasaran sebenarnya seperti apa kehidupan Embun dulu?


...__ooOoo__...


Ezar mengamati tubuh yang tertidur membelakanginya itu. Entah Embun sudah tertidur atau belum tapi Ezar merasa gelisah. Ia ingin banyak bertanya pada Embun. Ezar juga ingin tahu kenapa Embun harus semarah itu padanya tapi Embun terus menghindar. Setelah mandi tadi Embun langsung tertidur dan tak mau bertatap muka dengan Ezar begitu gadis itu keluar dari kamar mandinya.


Namun pada kenyataannya Embun belum tertidur. Gadis itu sibuk merenung disaat Ezar terus merasa gelisah entah karena apa. Ezar merasa tidak yakin bisa mengajak istrinya untuk datang ke undangan besok. Bagaimanapun juga Ezar tetap harus datang bersama sang istri karena usia pernikahan mereka yang terbilang masih hangat. Sangat aneh kalau baru menikah tapi tidak terlihat dekat dan lengket. Ezar baru memikirkan hal itu sekarang.


Merasa Ezar mungkin sudah terlelap Embun pun berbalik badan karena merasa pegal dengan posisinya.


"Kyaaa!"


Embun nyaris terjungkal ke lantai jika saja Ezar tidak sigap menahan pinggangnya. Embun melotot dan sangat terkejut karena begitu ia berbalik wajahnya hampir bertubrukan dengan dada bidang itu. Tidak disangka jika sejak tadi Ezar berbaring tepat dibelakang dalam jarak yang sangat dekat. Bahkan kini tubuh mereka juga berhimpitan. Ezar menyeringai saat tahu Embun tidak bisa kabur menjauh. Ya, Embun terjebak karena posisinya yang terlalu berada di sisi ranjang. Jika bergerak mundur sedikit saja tubuhnya akan terjatuh ke lantai.


"Bisakah kau mundur? Sisi sebelah sana masih kosong!" Sungut Embun.


Lalu Embun menunduk menatap tangan Ezar yang masih menahan pinggangnya.


"Dan jauhkan tanganmu dari sana!"


"Bagaimana jika kita tidur seperti ini?" Tanya Ezar dengan nada menggoda.


Embun mendengus. Meskipun begitu ia sendiri langsung merinding mendengarnya.


"Kau tidak bisa marah begitu padaku." Sahut Ezar.


Embun pun mendongak. Mata mereka bertemu. Kening Embun berkerut melihat tatapan tajam khas milik Ezar yang terlihat sangat berkuasa itu.


"Sekarang aku baru paham apa maksud perkataan waktu itu, yang menyuruhku untuk jangan berharap apapun. Ternyata kau orang yang sedingin itu." Ujar Embun pelan.


Ezar hanya diam. Dalam hati dia juga membenarkan perkataan Embun barusan bahwa dirinya memanglah seseorang yang dingin.


"Apa kau marah karena aku membentakmu?" Tanya Ezar.


Embun menggeleng.


"Aku sudah biasa dimarahi oleh preman-preman bahkan pria berbadan besar yang ada di club. Aku bahkan pernah bertengkar dengan Roy. Dibentak seperti itu adalah hal yang biasa buatku."


"Dengar, aku melarangmu pun karena ku pikir tidak ada gunanya kau melakukan semua itu. Sekarang kau sudah jadi istriku, hanya perlu fokus mencintaiku." Tukas Ezar.


Embun menghela nafas kemudian tersenyum miris. Ezar bilang itu 'tidak ada gunanya'. Bahkan Ezar tidak tahu apa faktor yang menyebabkan Embun marah. Bahkan Ezar juga tidak meminta maaf padanya.


"Besok kau harus ikut denganku ke pesta pernikahan seorang kolega. Acaranya jam tujuh malam. Aku akan menjemputmu jam lima." Lanjut Ezar.


Embun tidak bergeming. Tatapannya terus menunduk ke bawah. Sesaat ia merasakan sebuah kecupan hangat di keningnya.


"Selamat malam."


Kemudian Ezar bergerak bergeser sedikit dan memberi Embun ruang. Pria itu langsung pergi tidur setelah merasa Embun sudah cukup membaik. Padahal sebenarnya tidak. Embun masih kecewa dan merasa marah. Tangan gadis itu mengepal kuat dan merasa tidak terima dengan alasan yang Ezar berikan. Ia pikir perkataan Arsen lebih masuk akal dan lebih bisa ia terima.


Mungkin memang benar jika Ezar adalah seseorang yang sangat egois.


...__ooOoo__...


Esok harinya Carrel dikejutkan dengan kedatangan Aldo di jam makan siang. Aldo tiba-tiba datang ke cafenya sendirian, tanpa Ezar. Hal itu langsung membuat Carrel jadi salah tingkah sendiri. Aldo datang dengan sangat tampan dan gagah. Embun yang melihat gelagat temannya itu hanya terheran-heran sendiri sementara dirinya langsung menghampiri Aldo.


"Aldo, kau datang sendirian?"


"Hai Embun. Emm iya aku datang sendiri."


Aldo tersenyum.


"Silahkan duduk, nanti aku bawakan menunya."


"Oke."


Aldo pun menurut untuk duduk. Embun sedikit aneh karena Aldo tiba-tiba datang kesini tanpa Ezar. Lalu kira-kira apa yang dilakukan Ezar di jam makan siangnya?


"Embun." Panggil Arsen.


"Ya Arsen?"


Arsen sempat melirik Carrel sekilas lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Embun.


"Lebih baik kau serahkan tugas ini pada Carrel."


"Carrel?"


Embun jadi ikut menatap Carrel. Aneh, Carrel bertingkah tidak biasanya. Wajah Carrel merona merah serta tatapan matanya berusaha mencuri-curi pandang ke arah Aldo.


"Dia menyukai pria itu." Bisik Arsen.


Embun mengerjap.


"Jangan asal bicara Arsen. Carrel sudah punya pacar."


"Tapi dia mengaku sendiri." Ujar Arsen datar.


"Baiklah. Astaga Carrel, ada-ada saja."


Embun berjalan menghampiri Carrel di kasir lalu menepuk bahunya.


"Pergi layani dia." Sahut Embun.


"Baiklah ini memang tugasku!" Pekik Carrel bersemangat.


Carrel langsung menghampiri meja Aldo. Embun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata benar kata Arsen, sepertinya Carrel memang menyukai Aldo. Sikap yang ditunjukkannya sama persis dengan sikap yang ditunjukkan kepada kekasih Carrel. Bisa-bisanya Carrel jatuh hati pada pria lain sementara dirinya sudah berpacaran bertahun-tahun lamanya dengan sang kekasih. Terkadang Embun heran dengan orang yang mudah jatuh cinta.


Sejauh ini saja Embun belum merasakan sebuah perasaan kepada Ezar. Padahal kalau boleh jujur Ezar itu tampan dan berkarisma. Beberapa kali Embun jatuh ke dalam pesona karisma yang dimiliki oleh seorang Ezar tapi tidak dengan jatuh cinta atau mungkin memang belum. Sudah lama juga Embun tidak merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta.


"Sepertinya temanmu mau selingkuh dari kekasihnya." Ujar Arsen.


Embun menoleh. Arsen pun tersenyum kecil sembari tangannya sibuk dengan mesin kopi.


"Aku bahkan tidak tahu kalau Carrel diam-diam suka pada Aldo. Dia memang maniak lelaki tampan." Embun mendengus geli.


"Kurasa itu normal." Sahut Arsen.


"Ya, tapi ini bukan pertama kalinya Carrel suka pada pria lain selain kekasihnya. Dia sering jatuh cinta."


Embun pun menghela nafas.


"Terkadang aku iri pada orang yang sering mudah jatuh cinta. Entah kenapa aku sulit sekali jatuh cinta." Sahut Embun.


Arsen menoleh.


"Bukankah tipe orang yang seperti itu bagus? Sekalinya jatuh cinta maka akan sulit berpaling. Kau tipe yang setia." Arsen tersenyum samar.


Embun mengangguk pelan. Ya, dia memang tipe orang yang setia. Dulu dia juga pernah menyukai seseorang selama bertahun-tahun. Meskipun banyak pria yang mendekatinya dan lebih sempurna tapi Embun sulit berpaling dari satu pria itu.


"Suami mu beruntung." Gumam Arsen.


Arsen terlihat menghela nafas. Embun hanya diam. Mungkin Ezar akan jadi orang yang beruntung jika mereka sudah saling mencintai. Embun tidak mungkin berpaling. Tapi entah kapan Embun mulai mencintai suaminya.


"Bagaimana denganmu Arsen? Kau tipe orang yang mana dalam hal jatuh cinta?"


Arsen terlihat terkejut saat mendapat pertanyaan seperti itu dari Embun. Tak lama telinganya tiba-tiba memerah. Embun hanya menduga jika hal itu terjadi karena suhu di dekat mesin kopi panas. Tapi padahal Arsen menjadi salah tingkah.


"Sebenarnya aku sama sepertimu. Aku jarang dan sulit jatuh cinta,"


Arsen terdengar menjeda kalimatnya. Selagi itu Embun memperhatikan tangan Arsen yang lihai menuangkan kopi ke dalam cangkir yang sudah disediakan. Setelah cangkir kopi itu terisi penuh Arsen pun menatap Embun. Tiba-tiba tatapan Arsen menjadi sendu. Dan tatapan itu membuat Embun menelan salivanya tanpa sadar. Jantungnya jadi berdegup kencang.


"Tapi entah kenapa kali ini aku bisa jatuh cinta dengan sangat mudah pada satu orang."


Embun mengerjap. Seketika ia jadi teringat perkataan Carrel yang mungkin ada benarnya.


"K-Kenapa bisa begitu?" Tanya Embun gugup.


Arsen menghela nafas. Pria itu sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Arsen menunduk sejenak sebelum akhirnya kembali menatap Embun dengan tatapan yang lebih dalam lagi.


"Mungkin karena dia orang yang istimewa."


..._________________...


...To be continued...


...(Revisi : 09-11-2020 )...