Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 29



Hari ini Ezar tampak semangat bekerja. Bahkan sejak datang ke kantor tadi pagi auranya terlihat berbeda dari biasanya. itulah yang dilihat para pegawai lainnya. bahkan Sekar dan Aldo sendiri terheran-heran dengan perubahan sikap bos nya itu. padahal pekerjaan di kantor sedang menumpuk dan hal itu membuat semua pegawai termasuk Ezar sendiri tersiksa sejak kemarin. tapi entah bagaimana bisa hari ini pria itu memasang wajah ceria dan giat menyelesaikan pekerjaannya.


TOk TOK TOK


Ezar melirik pintu ruangannya.


"masuk."


pintu pun terbuka. Aldo berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan Ezar dengan bingung. 


"mau masuk atau tidak? jangan hanya berdiri disitu. kau mengganggu penglihatanku." desis Ezar. 


Aldo pun melangkahkan kakinya lalu menutup pintu. diperhatikannya Ezar yang sedang menatap layar komputer dengan raut sumringah. 


"Aldo, bisa kau bantu aku mengerjakan sebagian dari berkas-berkas ini? kau bisa meniru tanda tanganku kan?" sahut Ezar tanpa mengalihkan tatapannya dari komputer.


"tapi aku juga punya tugas lain."


"ayolah, bantu aku menyelesaikan semuanya hari ini juga."


mata Aldo langsung melebar.


"kau gila?! kau sendiri mengerjakan semua itu sudah hampir dua minggu dan belum selesai. padahal kau pekerja tercepat disini!" pekik Aldo.


Ezar langsung menghujaninya tatapan tajam. Aldo menelan salivanya. sepertinya ia telah salah bicara.


"Jaga ucapanmu! aku ini bosmu!" tegas Ezar.


"Maafkan aku Tuan. tapi .. sebenarnya kau itu kenapa sih? pegawai-pegawai lainnya membicarakan wajahmu hari ini. aku kesini untuk mencari tahu penyebabnya."


"Kenapa apanya? Bukankah hal yang wajar jika semua orang membicarakan wajahku yang tampan ini? Mungkin hari ini wajahku terlihat lebih tampan dari biasanya." Ujar Ezar dengan santai.


Aldo mendengus. Mungkin bosnya itu sudah gila. Sudah sombong, galak, semaunya dan sekarang ditambah sifat narsis yang tinggi. Untung Aldo masih kuat bertahan bersahabat dan bekerja dengan Ezar.


"Bukan itu maksudnya. Hari ini kau banyak tersenyum. Kau bahkan menyapa para office boy. hal yang sangat tidak biasa. kemana bosku yang arogan dan sombong itu?" 


Ezar memijit pelipisnya. Aldo bicara terlalu banyak disaat dirinya ingin mengerjakan semua pekerjaan secepatnya.


"Memang apa salahnya aku ramah dan tersenyum seperti ini?" 


"Katakan, ada apa? sesuatu telah terjadi kan?" tanya Aldo dengan curiga.


Ezar berdecak. Aldo sangat penasaran sepertinya. lagipula Ezar memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang terjadi dalam hidupnya terlalu lama pada Aldo karena Ezar terbiasa bercerita tentang masalahnya pada pria itu. 


Ezar menghela nafas.


"Aku ingin segera pergi bulan madu."


"bulan madu katamu? hei, jangan kau kabur ketika masalah di perusahaan belum selesai bung!" Aldo berdecak.


Ezar menyugar rambutnya.


"aku tahu, Aldo. karena itu aku ingin menyelesaikan semuanya sekarang juga jika bisa. istriku bilang dia akan memberikan jatahku jika kita pergi bulan madu."


"jadi karena itu kau terlihat berbeda hari ini?"


Ezar mengangguk dengan malu. Aldo mendengus. Bagaimana bisa Ezar yang selalu terlihat gagah, perkasa, dan arogan terlihat begitu menggemaskan hanya karena permintaan bulan madu dari istrinya? Secinta itukah Ezar pada istrinya? Aldo terkekeh. Padahal dulu siapa yang tidak mau menikah.


"Kau tahu? Aku sangat menantikan malam pertama kami sejak menikah. Walau awal menikah kita tidak saling mencintai, tapi aku tetap ingin menjadi pria perkasa yang menikmati malam pertamanya." Ujar Ezar.


"Memangnya kalian belum pernah melakukannya?"


Ezar menggeleng.


"Aku tidak mau memaksa jika dia belum siap."


"Tidak kusangka kau sangat berhati lembut. Kukira kau akan sangat ganas dan pemaksa pada istrimu." Aldo mencibir.


"Semalam aku hampir melakukannya. Tapi wanita memang selalu berubah pikiran dengan cepat. Lalu tadi pagi dia bilang akan melakukannya saat kita bulan madu. Bukankah itu sama saja dengan berjanji?"


Aldo mengangguk.


"Lagipula memang apa bedanya melakukannya saat bulan madu dan sekarang? Kita sama-sama melakukannya di ranjang kan." Gumam Ezar.


Aldo menepuk bahu Ezar.


"Wanita sangat memperhatikan segala hal yang sangat berkesan dalam hidupnya. Dia akan selalu ingin melakukan sesuatu yang berharga dalam waktu yang tepat dan istimewa. Mungkin Embun ingin melakukannya di tempat yang ia sukai." Jelas Aldo.


"Wow, tidak kusangka bujangan ini lebih pandai berbicara soal cinta daripada aku. Cepatlah menikah dude, susul aku dan mari kita punya anak di waktu yang bersamaan." Ezar terkekeh geli.


Aldo mendengus.


\=\=\=\=\=


Semua orang tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing kecuali Embun. Gadis itu hanya duduk di kursinya sambil melamun. Sejak kejadian semalam Embun jadi merasa tak bertenaga. Rasanya ia lemas dan malas melakukan apa-apa. Pikirannya selalu mengingat kejadian tadi malam. Kejadian yang nyaris mengubah segala hidupnya. Embun mendengus. Ia kembali merasakan bagaimana lembutnya tangan Ezar menyentuh kulitnya. Ugh, rasanya memang sangat memabukkan.


Bagaimana ya seandainya jika Ezar terus memaksanya melakukan itu tadi malam? Mungkin pagi ini Embun benar-benar tidak bisa bekerja. Lihatlah, baru tersentuh sedikit saja Embun sudah lemas tak berdaya seperti ini. Apalagi jika dilanjutkan. Ah, sudahlah. Tidak perlu dibayangkan lebih jauh. Lebih baik dirasakan secara langsung saja nanti. Huh, kira-kira kapan ya Ezar selesai dari kerjaannya yang menumpuk? Embun juga ingin sekali pergi liburan. Lagipula Minggu ini juga Embun akan sibuk karena acara pameran.


"Ekhem."


Embun terperanjat saat Mario sudah berdiri disampingnya.


"Iya, ada apa Mar- maksudnya pak?" Embun mendadak gugup. Hampir saja ia keceplosan memanggil Mario dengan informal.


"Lusa kau bisa ikut kan?" Tanya Mario.


"Tentu saja bisa pak. Pameran ini kan sangat penting jadi saya akan ikut membantu disana."


"Bagus lah. Oh ya, nanti maukah kau makan siang bersama?"


"Ya?"


Embun menghela nafas. Apakah ini salah satu siasat Mario untuk mendekatinya lagi?


Tapi dugaan Embun meleset saat Mario tertawa.


"Tenang, maksudku makan siang bersama yang lain juga. Tidak hanya kita berdua Embun." Mario tersenyum geli.


"Ah, begitu .. baiklah."


Mario terkekeh melihat Embun yang merona. Ah, gadis itu .. akan semakin cantik ketika merona malu. Mario semakin gemas. Andai Embun bukan istri orang, mungkin Mario akan langsung memeluk Embun karena gemas. Mario pun pamit undur diri.


Setelah Mario pergi, ponsel Embun tiba-tiba bergetar. Ezar menelponnya. Tumben sekali. Dengan sumringah Embun langsung mengangkat telponnya.


"Halo."


"Hai sayang. Sedang sibuk?"


Embun menggigit bibir bawahnya. Ezar memanggilnya sayang dengan nada sangat lembut. Ah, pria itu selalu membuat Embun berdebar.


"Tidak. Semua persiapan sudah lengkap jadi sekarang kerjaanku lumaayan santai."


"Nanti aku datang saat makan siang. Kita makan siang bersama ya."


"Baiklah. Aku tunggu."


"Aku merindukanmu."


Embun menggigit bibir bawahnya lagi.


"A-aku .. juga."


"Tunggu aku ya sayang, sampai jumpa nanti."


Sambungan telepon langsung terputus. Embun menarik nafas cukup lama. Pipinya terasa panas. Lantas gadis itu memegangi kedua pipinya. Oh sial, Embun kan akan makan siang bersama yang lain. Ia lupa memberitahu Ezar jika dia sudah punya janji makan siang. Mungkin karena terlalu gugup ia jadi melupakan ajakan Mario tadi. Tapi jika disuruh memilih, Embun lebih ingin makan siang bersama suaminya.


Embun membuka tasnya dan memoleskan bedak tipis di wajahnya serta lipstik dibibirnya.


"Kau mau kemana? Tumben sekali dandan." Celetuk Riska.


"Makan siang bersama suamiku."


"Kau tidak jadi ikut makan bersama kami?"


"Ah, itu .. "


"Sudahlah, kami semua akan mengerti kok. Lagipula kami semua sudah tahu kalau suamimu itu posesif."


Riska pun tersenyum genit. Embun menunduk malu sambil menahan senyumnya.


"Sepertinya kau sedang jatuh cinta sekali pada suamimu ya. Aku perhatikan wajahmu juga tersenyum merona saat bertelepon tadi. Huh, memang wajar sih kau jatuh cinta pada suami seperti Ezar. Aku iri sekali deh."


Embun menunduk sambil tersenyum malu. Pipinya semakin merona merah. Jatuh cinta? Apa iya dia sudah membuka hati untuk jatuh cinta pada Ezar?


Sepertinya iya.


(hai, maaf baru muncul karena baru sempet update hehe. dari kemarin aku sibuk kerja wkwk.. makasih yg udah mau nunggu)