
Embun menghela nafas melihat dua kantung belanja besar yang baru saja dikirim oleh anak buah Ezar. Ucapan Ezar benar-benar serius. Mereka benar-benar akan di hotel saja seharian ini. Dan Ezar juga benar-benar tidak akan membiarkan Embun kelaparan lagi hanya karena menunggunya. Semua jenis camilan Ezar beli. Dan Embun hanya bisa geleng-geleng kepala.
Kini keduanya tengah duduk disofa dan menonton acara berita. Walau sejujurnya Embun tidak mengerti berita apa yang mereka sampaikan. Embun melirik Ezar yang duduk disampingnya. Pria itu beberapa kali berdecak bahkan mengeluarkan komentar tentang kasus yang diberitakan. Embun meletakkan gelas nya dimeja dengan cukup kencang sehingga menimbulkan suara. Ezar tersentak.
"Kenapa?" Tanya Ezar.
"Apa kita benar-benar akan di hotel saja?"
Ezar mengangguk.
"Hm. Lagipula udara diluar cukup buruk dan suhunya cukup ekstrim karena salju. Kenapa? Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?"
Embun menggeleng lemah.
"Apa kau segitu takutnya jika aku keluar sendirian hanya karena lapar?" Tanya Embun dengan pelan.
Terdengar helaan nafas dari sebelahnya. Ezar pun duduk mendekat.
"Ya. Aku takut kau hilang. Negara ini berbeda dengan negaramu, Embun. Aku takut kau kenapa-napa. Orang-orang disini juga tidak sebaik orang di negaramu." Kata Ezar lembut.
Tangan Ezar sibuk mengelus kepala istrinya. Embun menghela nafas. Matanya teralih ke jendela. Benar, diluar sedang salju dan pasti sangat dingin. Embun juga tidak bawa pakaian hangat terlalu banyak. Akan lebih nyaman dan aman di dalam hotel. Tapi entah kenapa ia malah merasa bosan.
Embun bangkit lalu beranjak ke dekat perapian. Embun duduk termenung didepan api yang menghangatkan tubuhnya.
Tanpa sadar Ezar mengikutinya.
"Kau sangat kedinginan?" Tanya Ezar seraya menyentuh bahu Embun.
"Tidak."
"Kalau api masih kurang hangat, aku bisa menghangatkanmu dengan tubuhku." Ezar tersenyum miring.
Embun berdecak. Seharusnya ia merona malu mendengar kalimat seperti itu. Tapi sekarang Embun seolah tidak ingin merasakan apa-apa. Ia benar-benar merasa bosan. Termasuk bosan dengan Ezar.
Ezar menatap Embun cukup lama. Tatapan matanya turun menatap bibir ranum Embun yang kemerahan ditengah cuaca dingin seperti ini. Berduaan di kamar dengan istrimu saat musim dingin bukankah itu hal yang didambakan semua pria? Hasrat Ezar sebagai seorang lelaki pun melonjak.
"Embun, kau benar-benar tidak menyukaiku sedikitpun?" Tanya Ezar tiba-tiba.
Embun terkejut dan langsung menatap Ezar.
"Apa maksudmu?"
"Kau tahu kita sedang bulan madu namun .. sejauh ini belum ada yang terjadi. Sudah tiga hari kita berada disini. Kau tidak mau menyatakan apa-apa padaku?"
Kening Embun berkerut.
Tentu saja Embun tersindir karena ia memang merasa ucapan Ezar ada benarnya.
Aku hampir mengatakannya Ezar, aku ingin mengatakannya. Tapi entah kenapa sekarang terasa sulit. Batin Embun.
Embun menghela nafas.
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja-"
"Aku tahu kita menikah karena aku membantu hutang piutang mu dan kau membantuku keluar dari masalah perjodohan. Kita menikah karena saling membantu. Tapi bukankah keterlaluan ketika usia pernikahan kita sudah beranjak tiga bulan dan kau .. tidak mengatakan apa-apa padaku."
Embun bisa melihat rahang Ezar yang mengeras. Embun tidak mengerti dengan sikap Ezar yang akhir-akhir ini seperti mendesaknya. Ezar terkesan tidak sabaran. Dan Embun tidak suka didesak. Embun tidak ingin melakukan dan mengatakan sesuatu terpaksa hanya karena didesak. Embun ingin mengatakannya sesuai keinginan hatinya.
"Maaf Ezar, hari ini aku sedang tidak bersemangat. Sepertinya aku .. tidak enak badan." Gumam Embun.
Embun pun beranjak dari sana. Namun Ezar segera menahan tangannya.
"Besok atau malam ini kita pulang." Sahut Ezar datar.
"Apa? Kenapa tiba-tiba?"
"Apakah karena pria itu?" Ezar bertanya balik dengan nada dingin.
"Apa?"
"Pria bernama Rayhan. Masa lalumu yang kini tinggal di kamar sebelah."
Ezar langsung berdiri berhadapan dengan Embun.
"Ezar kau-"
Ezar tertawa sinis.
"Tadi pagi kau berada disana."
"Apa katamu?"
"Kenapa? Apa sekarang kau akan kembali ke masa lalu mu itu tidak peduli kau sudah menikah?" Tanya Ezar dengan nada sinis.
Embun mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa Ezar tahu soal Rayhan? Bukankah tadi pagi pria itu tertidur?
Embun hanya bisa diam menahan perasaan bingungnya. Dan lagi-lagi Ezar tertawa sinis.
"Kemasi barang-barang. Kita ambil penerbangan malam ini juga." Kata Ezar sambil berlalu melewati istrinya.
"Tunggu. Kau tidak bisa seenaknya begitu. Kita disini untuk berbulan madu!" Pekik Embun.
Ezar menoleh.
"Ya. Dan semuanya kacau karena mu."
"Kau egois Ezar! Bagaimana bisa kau merencanakan bulan madu ini secara tiba-tiba lalu menyuruh kita kembali lagi dengan cara yang sama. Bukankah kau sangat seenaknya?"
Embun menatap Ezar dengan mata berkaca-kaca. Ezar menghela nafas. Pria itu tidak ingin membuat Embun menangis. Ezar maju selangkah lalu memegang kedua bahu istrinya itu.
Tatapan mata Ezar melembut namun tidak dengan lidah dan perkataannya.
"Bukankah aku memang egois sejak dulu? Kau tahu itu. Ingat bagaimana cara kita menikah? Kau menolak pernikahan ini dengan keras namun aku tetap menikahimu. Bukankah saat itu aku juga egois?"
"Kau .. sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan orang lain." Tukas Embun dengan tajam.
Dengan kesal Embun berjalan menuju kopernya lalu mulai membereskan pakaian sesuai perintah Ezar. Sebelah alis Ezar terangkat. Ia menatap punggung istrinya.
"Aku tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Memang benar. Tapi apa kau pernah memikirkan perasaanku?" Tanya Ezar.
Embun tidak menjawab. Tangannya semakin giat melipat pakaiannya.
"Dan ada satu hal yang ingin tanyakan. Apa isi perasaanmu padaku?"
"Kau benar\-benar bertemu Ray disana?!" Pekik Carrel heboh.
Embun mengangguk kecil. Carrel mendengus.
"Lalu bagaimana reaksinya?"
"Reaksi apa?"
"Reaksi Ray saat melihatmu disana. Kondisimu juga sudah menikah. Apa dia langsung menyerah?" Tanya Carrel penasaran.
Embun menghela nafas.
"Kami belum sempat mengobrol karena Ezar langsung membawaku pulang hari itu juga. Sepertinya Ray juga sibuk."
Carrel menghela nafas. Gadis itu masih tidak percaya jika Embun akan bertemu Rayhan disana. Carrel khawatir bulan madu Embun kacau gara\-gara Rayhan. Terbukti saat Ezar langsung membawanya pulang setelah pertemuan dengan Rayhan. Dan Carrel bingung entah kenapa Ezar bisa tahu soal Rayhan. Padahal selama ini Carrel belum memberitahu apa\-apa soal Rayhan, orang yang sedang ditunggu\-tunggu oleh Embun. Carrel akui jika Ezar hebat.
Carrel senang mengetahui bahwa Rayhan yang merupakan adik kelasnya juga itu baik\-baik saja. Namun ia tidak senang karena Rayhan harus bertemu Embun. Carrel pun menatap Embun.
"Tapi bulan madu kalian lancar kan?" Tanya Carrel sedikit cemas.
"Tidak. Kau tahu? Sudah seminggu kami tidak saling bicara. Dan, Ugh! Seharusnya hari ini kami baru saja kembali dari perjalanan bulan madu."
"Lalu apa itu artinya bulan madu kalian gagal?"
Embun mengangguk kecil.
Carrel berdecak.
"Maksudmu apa?"
"Bagaimana perasaanmu pada Ezar setelah bertemu dengan masa lalu? Kau tidak goyah kan?"
Embun terdiam. Seketika ia termenung. Perasaannya? Embun sendiri tidak tahu. Bagaimana dengan perasaannya ya? Ah, terakhir kali ia bertengkar dengan Ezar karena pria itu terus mendesaknya soal perasaan. Padahal Embun sendiri masih bingung. Embun memang sempat ingin menyatakan perasaannya pada Ezar waktu itu, tapi jujur Embun sendiri masih kurang yakin dengan perasaan itu. Embun jadi tidak ingin tergesa\-gesa menyimpulkan perasaannya.
"Embun, aku tahu bagaimana kisahmu dengan Ray. Aku juga tahu bagaimana pengorbanan Ray dulu padamu. Tapi tolong jangan terlalu terikat dengan masa lalu hanya karena merasa tidak enak. Kau juga perlu memikirkan masa depanmu. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu." Ujar Carrel.
Kemudian Carrel pun bangkit.
"Aku harus kembali bekerja. Habiskan dulu makananmu jika ingin pergi ya."
Setelah Carrel pergi Embun diam menatap makanannya dengan tidak minat. Ia kembali memikirkan perkataan Carrel. Memang benar apa kata orang, sesuatu hal yang menyangkut perasaan itu sangatlah rumit. Embun menatap ke luar kaca jendela disampingnya. Hatinya tertegun melihat Ezar yang baru saja turun dari mobil. Ezar juga melihatnya. Embun menelan salivanya. Entah kapan terakhir kali ia bertatapan mata dengan suaminya sendiri.
Ezar memasuki cafe tanpa melepas tatapan matanya pada Embun. Begitu masuk Ezar langsung mengambil tempat dihadapan Embun. Pria itu duduk dengan tenang dan wajah tanpa dosa.
Ezar langsung memesan secangkir kopi espresso.
"Kau tidak makan?" Tanya Embun dengan gugup.
"Tidak. Aku kesini hanya mampir setelah bertemu dengan klien didaerah sini."
Embun mengangguk. Ezar melirik piring makanan Embun yang masih penuh.
"Cepat habiskan makananmu. Aku tidak akan lama disini. Aku akan mengantarmu ke butik." Ezar melirik jam arlojinya.
Embun hanya diam sambil melahap makanannya dengan pelan. Sebenarnya nafsu makannya hilang entah kemana. Embun tidak yakin bisa menghabiskan sepiring penuh nasi goreng ini sampai habis. Dan juga .. tidak ada percakapan diantara mereka. Ezar diam saja saja, menyesap kopi sambil sibuk dengan ponselnya. Embun merasa aneh berada di situasi seperti ini. Biasanya Ezar selalu mengajaknya bicara.
"Sudah selesai?" Tanya Ezar sambil melirik piring Embun.
Embun mengangguk.
"Yasudah. Ayo."
Ezar langsung berdiri tanpa menyuruh Embun menghabiskan makanannya. Pria itu benar\-benar jadi dingin. Biasanya Ezar selalu mengomeli Embun jika makanan gadis itu tidak habis.
Selama perjalanan pun begitu. Ezar menatap lurus jalanan didepannya sementara Embun memikirkan hal tentang perasaannya. Hingga akhirnya tak terasa mereka sudah sampai di depan butik tempat Embun bekerja. Ezar hanya melirik sekilas.
"Sudah sampai."
"Ah, iya."
Embun bergegas turun. Namun tangannya terhenti saat ingin membuka pintu mobil. Ia kembali melirik Ezar.
Ezar menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa?" Tanya Ezar.
Embun menggeleng.
Gadis itu segera turun dari mobil. Begitu turun, mobil Ezar langsung melaju pergi. Embun sedih. Tidak ada ciuman perpisahan seperti biasanya. Dan sudah seminggu berlalu sejak mereka bulan madu. Embun merasa aneh dan tidak biasa. Ezar benar\-benar bersikap dingin. Jika boleh jujur, Embun merindukan hal\-hal kecil yang biasa Ezar lakukan padanya.
Dengan langkah gontai Embun pun berjalan memasuki butik.
"Embun." Panggil Mario.
Embun langsung menghampiri Mario yang berdiri didekat pintu.
"Ya pak?"
Mario tersenyum.
"Hari ini kita semua pulang satu jam lebih awal dari seharusnya. Aku memberitahumu karena mungkin hanya kau yang belum tahu."
Embun mengerjap.
"Benarkah? Memang ada apa dengan hari ini?"
"Adikku baru saja pulang dari Amerika dan aku ada acara keluarga. Karena suasana hatiku senang jadi seluruh karyawan juga aku pulangkan." Mario tersenyum.
"Wah? Benarkah. Selamat pak."
"Oh ya, kau sudah membantuku memilihkan hadiah untuknya. Apa kau mau berkenalan dengannya?" Tanya Mario.
Embun mengangguk.
"Boleh saja."
"Dia ada di ruangan ku. Ayo."
Mario langsung mengajak Embun ke ruangannya. Begitu masuk Embun raut wajah Embun langsung berubah datar. Apa ini?
"Kenalkan ini adikku. Namanya Rayhan."