Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 44



Mario keluar dari ruangannya untuk makan siang. Dilihatnya beberapa pegawai yang juga keluar untuk makan siang. Mario menyunggingkan senyumannya saat mereka menyapa. Lalu tatapan matanya langsung tertuju pada wanita yang sedang duduk tak nyaman ditempatnya. Mario bisa melihat wanita itu dari balik pintu kaca yang memisahkan ruangan itu dengan ruangan inti butik.


Mario tentu tidak lupa dengan informasi yang ia dapat dari adiknya semalam.


Embun hamil


Dan itu cukup membuat Mario terguncang. Mario masih menyukai Embun sampai saat ini. Ternyata melupakan perasaan pada seseorang tidak semudah itu. Kini diperut Embun sedang tumbuh hasil dari bibit milik Ezar. Artinya tidak ada kesempatan lagi untuk merebut wanita itu. Ah, jangan terlalu dihiraukan. Itu hanyalah pikiran menyesatkan dalam diri Mario. Tapi Mario tidak ingin benar-benar melakukannya kok.


Namun yang membuat Mario kesal adalah saat mengetahui bahwa Ezar tidak ada disamping istrinya yang sedang mengandung. Oke Mario mungkin bisa mengerti urusan pekerjaan Ezar. Tapi ia tidak bisa mengerti saat Ezar dengan sengaja pergi menjauhi Embun begitu saja. Jangan tanya Mario tahu darimana. Tentu saja dari adiknya.


Menghela nafas, Mario pun pergi ke ruangan itu.


Wajah Embun terlihat tidak segar seperti biasanya namun tidak juga sangat pucat. Sepertinya kehamilan pertama memang sangat menyiksa wanita. Lihat saja, Embun terus-terusan terlihat menahan sesuatu yang bergejolak diperutnya.


"Embun." Panggil Mario.


Embun mendongak lalu menatap bosnya itu dengan mata sayu.


"Ya?"


"Kau tidak makan siang?"


"Ah itu.. aku tidak nafsu makan."


Riska yang mendengar itu menghela nafas. Kemudian Riska mendekati Mario untuk mengatakan sesuatu.


"Dia terus muntah sejak pagi. Efek kehamilannya." Bisik Riska.


Mungkin Riska adalah satu-satunya orang butik yang tahu perasaan Mario pada Embun hanya dalam sekali lihat. Karena itu Riska berharap Mario agar pria itu membujuk Embun untuk makan sesuatu. Riska juga khawatir dengan kondisi Embun.


"Bisa kau ikut ke ruangan ku?"


"Baik."


Embun mengikuti langkah Mario ke ruangannya.


"Ku dengar kau hamil."


"Ya. Pasti Rayhan memberitahumu."


"Kenapa kau tidak mau makan?"


"Tidak nafsu."


"Bagaimanapun juga kau harus makan Embun. Tidak kasihan pada bayimu?"


Pertanyaan Mario membuat Embun tertegun. Wanita itu langsung menunduk menatap perutnya yang masih rata.


"Tapi aku mual."


"Beristirahatlah. Kau bisa pulang setelah ini."


"T-tidak apa-apa. Aku tidak mau."


Mario berdecak. Sudah diduga Embun pasti menolaknya.


"Kalau begitu kau mau makan apa?"


"Itu.."


"Bukankah biasanya wanita hamil mengidam? Kau sedang mengidam apa sekarang?"


Mengidam? Tidak terpikirkan oleh Embun sebelumnya. Sesaat ia memikirkan apa yang sedang ia inginkan sekarang. Mungkin tidak ada jawaban lain selain Ezar. Ya, dia menginginkan Ezar. Tapi itu tidak mungkin. Pria gila kerja itu sedang berada di negara lain untuk urusan pekerjaan.


"Aku .. tidak mau apa-apa." Lirih Embun.


"Bagaimana kalau jalan-jalan?" Tawar Mario.


"Huh?"


"Jalan-jalan untuk menjernihkan pikiran dan menyenangkan buah hatimu."


"Emm itu .. "


"Kau bisa pikirkan nanti sekarang kita makan. Aku sudah pesankan makanan untukmu."


~~


Sesuai perkataannya, Mario benar-benar mengajak Embun jalan-jalan sore ini. Begitu pulang kerja Embun tak punya pilihan lain selain mengiyakan ajakan Mario. Lagipula ia juga butuh sedikit hiburan dan jalan-jalan adalah salah satu alternatifnya.


Mario membawanya ke taman kota.


Tidak buruk juga.


Begitu sampai sana Embun langsung memilih duduk di bangku panjang. Matanya langsung tertuju pada sepasang suami istri yang sedang menggandeng anak perempuan mereka. Ah, anak perempuan ya. Embun juga ingin punya anak perempuan agar bisa memasak bersama. Tapi ia lebih menginginkan anak laki-laki yang mirip dengan Ezar.


Dan sekarang, apakah kelak jika anaknya sudah lahir nanti keluarga kecil mereka bisa berjalan bersama seperti pasangan itu?


Mengingat perkataan Ezar yang seolah akan menceraikannya membuat mata Embun berkaca-kaca.


"Ini minuman untukmu." Sahut Mario yang datang membawa cup coklat panas.


Sedangkan milik pria itu sendiri berisi kopi.


"Aku tidak tahu minuman apa yang cocok untuk ibu hamil. Jika sembarang membelikan aku takut terjadi sesuatu jadi pada kandunganmu. Maka ini--"


"Iya iya terimakasih Mario." Embun mengulum senyum tipis.


"Sama-sama."


"Kalian pasti akan baik-baik saja." Ujar Mario.


"Keluarga kecil kalian tetap akan utuh, Embun. Tidak perlu khawatir."


"Aku takut." Lirih Embun.


"Hei, jangan takut."


Melihat tangan yang bergerak gugup itu membuat Mario bergerak itu menggenggamnya. Embun tersentak dan langsung mendongak begitu Mario menggenggam tangannya. Mario memberikan tatapan yang teduh dan hangat, tatapan yang sama seperti Rayhan. Mario tersenyum dengan hangat.


"Pria itu pasti kembali."


"Bagaimana jika dia kembali untuk .. menceraikanku?" Lirih Embun.


Kepalanya pun tertunduk. Rasa takut terus menghantuinya. Embun takut berpisah dengan pria yang ia cintai. Ketika hatinya sudah mantap memilih Ezar dan benar-benar ingin terus bersama, kenapa semua cobaan ini datang padanya? Walau Embun sempat ragu saat ia melihat Rayhan, tapi yang ia inginkan sekarang untuk seterusnya adalah Ezar.


Maafkan mama, nak. Maaf membuat papamu pergi.


Embun ingin menangis. Namun ini tempat umum. Embun tidak ingin mempermalukan Mario karena dirinya menangis. Kepalanya pun mendongak. Matanya langsung menangkap sosok wanita yang ia kenali. Sarah. Ya, itu memang Sarah. Sedang apa dia disini?


Sarah berdiri tak jauh dari tempat Embun. Tatapan mereka bertemu. Sepertinya Sarah memang sudah memperhatikannya sejak tadi.


Embun langsung bangkit. Ia juga melepaskan genggaman tangan Mario.


"Mau kemana?"


Embun tak mengindahkan pertanyaan itu. Ia langsung berlari kecil menuju Sarah yang ada disebrang sana.


"Hei, Embun! Jangan lari-lari!" Mario berteriak dibelakang sana.


Sarah hanya diam saja memperhatikan Embun berlari kecil kearahnya sampai wanita itu berdiri dihadapannya sekarang. Embun langsung memegang kedua tangan Sarah. Tatapan matanya memohon.


"Katakan, dimana suamiku? Kenapa kau ada disini?" Tanya Embun dengan suara bergetar.


Sarah menghela nafas.


"Kurasa kau sudah tahu dimana suamimu berada sekarang."


Sarah melepaskan tangan Embun secara perlahan.


"Duduklah. Kau pasti lelah berlarian seperti tadi." Kata Sarah dengan raut wajah datarnya.


Sarah sudah menebak jika ada yang tidak beres dengan kondisi Embun.


"Tolong katakan jika itu tidak benar!"


"Iya Embun. Aku akan menjelaskannya setelah kita duduk."


"Kumohon katakan padaku sekarang!"


"Embun! Sadarlah! Tenang oke? Aku akan menjelaskannya secara pelan-pelan."


Sarah berusaha meyakinkan Embun melalui tatapan matanya. Sama seperti Ezar. Ternyata mereka berdua sama-sama ahli meyakinkan melalui tatapan mata. Sarah menarik Embun untuk duduk.


Kedua bahu Embun bergetar hebat. Tangan wanita itu juga bergetar.


"Embun, tenanglah."


"Apa kalian serius?" Lirih Embun.


Tatapan mata yang kosong itu menatap Sarah.


Sarah menghela nafas.


"Apa lagi yang mau kau tahu?" Tanya Sarah.


"Jangan ambil suamiku. Aku .. membutuhkannya." Embun mulai menangis.


"Membutuhkannya? Hanya karena itu?" Tanya Sarah.


Embun menggeleng. Ia ingin melanjutkannya tapi Sarah memotong.


"Bersama lah dengan pria lain jika itu yang kau mau. Jangan sakiti Ezar lagi. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Ezar walau aku .. hanya orang masa lalunya." Ujar Sarah.


"Aku mencintainya!" Pekik Embun gemas.


Sarah pun terkejut.


"Aku mencintainya Sarah! Aku mencintainya!"


Dan Embun kembali terisak.


Sarah tidak mengerti. Entah ia harus percaya pada Embun atau tidak. Tapi sejauh ini Sarah selalu memperhatikan Embun dari kejauhan. Termasuk tadi. Sarah tidak sengaja lewat disekitar sini dan melihat Embun sedang bersama pria lain. Pria yang juga berbeda dengan pria sebelumnya.


Embun masih mencari suaminya disaat wanita itu berjalan bersama dua pria berbeda lainnya. Oke. Sarah pusing.


"Entah kau punya banyak pria tapi Ezar lelah disakiti olehmu."


"Aku tidak bermaksud. Aku hanya mencintainya. Sungguh."


Embun pun menghapus air matanya. Ah, kenapa ia tidak pernah memikirkan rasa lelah yang dirasakan Ezar? Pria itu selalu ingin kepastian cinta darinya. Dan kini semuanya terlambat. Ezar sudah lelah padanya. Harusnya Embun cukup sadar diri.


"Aku tahu kesalahanku tapi bisakah kau beritahu dia satu hal?" Pinta Embun dengan nada memohon.


Sarah diam memperhatikan gerakan tangan Embun yang menuju ke perutnya. Kemudian Embun tersenyum sambil menatap mata Sarah.


"Aku hamil. Aku hamil anaknya."