Please, Be My Husband

Please, Be My Husband
Part 26



Ezar memasuki cafe milik teman istrinya. Ezar menghela nafas. Pria itu tidak menduga jika Sekar akan mengajaknya makan di cafe milik Carrel. Dari sekian banyak Cafe kenapa Sekar harus memilih cafe ini sih? Padahal letak Cafe Carrel juga agak jauh dari kantor dan masih banyak cafe atau tempat makan yang lebih dekat dengan kantor mereka. Ezar tidak ingin ada salah paham pada Carrel jika melihat Ezar berjalan bersama Sekar. Padahal hubungan mereka tak lebih dari sekedar atasan dan sekretaris.


Ezar membiarkan Sekar memilih tempat untuk mereka duduk.


Tapi baru saja masuk Ezar sudah melihat istrinya berdiri didepan pintu masuk sambil menatapnya datar. Ezar dan Sekar sama-sama terkejut.


"Selamat sore nyonya." Sapa Sekar dengan ramah.


"Sayang, kau ada disini?"


Embun tidak menggubris pertanyaan Ezar. Tatapan mata datarnya tertuju pada Sekar.


"Sayang." Ezar berbisik.


Embun menghela nafas.


"Kalian akan makan disini?"


"Ya, Sekar memilih untuk makan disini." Ezar menjawab.


"Dia yang memilih?" Tanya Embun dengan terkejut.


"Hei, Ezar. Selamat datang di cafe ku." Carrel muncul dan memberikan sambutannya.


Ezar pun say hai dengan Carrel.


"Sebaiknya kalian duduk karena aku tidak ingin kalian menghalangi pintu masuk." Ujar Carrel dengan sedikit menyindir.


Sekar pun mempersilahkan Ezar untuk duduk di meja yang sudah dipilih. Embun hanya diam ditempat, menatap interaksi Ezar dengan Sekar. Embun kira Ezar benar-benar tidak dekat dengan wanita manapun selain dirinya. Bukankah pria itu bilang jika tidak ada wanita dalam hidupnya selain mamanya saja? Jadi ternyata itu bohong. Embun tidak suka dibohongi.


"Kau kenal wanita itu?" Tanya Carrel.


Embun menggeleng pelan.


Matanya terus memperhatikan Ezar dengan Sekar. Sejak turun dari mobil Embun perhatikan suaminya tak pernah berhenti untuk berceloteh sambil tertawa riang.


"Katamu tidak ada wanita dalam hidupnya."


"Ya, dia bilang begitu."


"Lalu bagaimana dengan perempuan bernama Sekar itu? Dia cantik, kulit sawo matang dengan senyuman manis yang begitu menawan. Belum lagi tahi lalat dipipinya itu memberikan kesan manis tersendiri." Cecar Carrel.


Embun melirik Carrel dengan tajam.


"Carrel, bisakah kau diam? Lebih baik kau layani pelangganmu daripada bergosip!" Ketus Embun.


"Lalu kau mau apa? Saranku kau hampiri mereka berdua agar Ezar tahu bahwa kau cemburu."


"Hei, aku tidak cemburu! Siapa yang cemburu? Dasar sial!"


Setelah mengatakan kalimat itu Embun berjalan menghampiri meja Ezar dan duduk disebelah suaminya. Masih dengan wajah yang datar Embun menatap gerak-gerik Sekar yang sedang memilih menu makanan.


"Hei, sayang. Kau ingin makan juga? Silahkan pilih." Ezar menyodorkan buku menunya.


"Sesuaikan saja dengan pesananmu, Ezar."


"Kau yakin? Terakhir kali kau tidak suka dengan menu pesananku. Selera kita berbeda asal kau tahu. Dan lagipula aku hanya mengikuti apa yang Sekar pesan." 


Embun langsung melirik Sekar dengan mata melebar.


"Kenapa kau mengikuti pesanannya?" Tanya Embun dengan sedikit kesal.


"Aku berjanji akan mentraktirnya dan mengikuti semua keinginannya saat makan siang karena kami berhasil keluar dari situasi sulit bersama. Sekar sudah banyak bekerja keras selama masa sulit ini terjadi jadi hari ini aku memutuskan untuk makan di tempat yang Sekar inginkan." Jelas Ezar.


"Oh, begitu. Tapi sayangnya ini sudah sore jadi bukan waktu yang pas untuk makan siang. Jadi kenapa kalian tetap makan bersama?" Tanya Embun dengan nada tak suka.


"Karena kami baru sempat makan sekarang, Embun. Pekerjaan menumpuk jadi kami melewatkan jam makan siang. Sebenarnya aku sudah terbiasa melewatkan jam makan siang tapi berbeda dengan Sekar. Jadi aku ingin menepati janjiku hari ini juga berhubung Sekar juga harus makan." Jelas Ezar.


"Pak Ezar terlalu berlebihan. Saya tidak bekerja sekeras itu kok." Ujar Sekar.


"Kalian terlihat sangat dekat. Apa kalian juga dekat di kantor?"  Tanya Embun.


"Ya, tentu saja kami sangat dekat." Jawab Ezar dengan bangga.


Embun membanting buku menu itu ke meja. Ia menghela nafas kasar.


"Aku mau menu termahal disini!" Ketus Embun.


"Oke, baiklah."


Ezar pun sedikit terheran dengan sikap Embun yang tak biasa. Memang sih setiap hari Embun selalu bersikap ketus tapi kali ini berbeda. Embun terlihat sedang benar-benar kesal. Mungkin Ezar akan menanyakan soal itu nanti karena barangkali wanita itu ada masalah di pekerjaannya.


Selama makan berlangsung Embun hanya bisa memakan makanannya sampai habis dalam diam. Telinganya panas dan ia merasa jenuh mendengar obrolan Ezar dengan Sekar. Mereka membicarakan hal yang tidak Embun mengerti. Huh, apa Ezar sengaja menggunakan siasat pekerjaan agar Embun tidak menaruh curiga pada mereka?


Tentu saja tidak bisa, Tuan! Embun tetap mencurigai hubungan keduanya. Apalagi Sekar tampak tak malu-malu menunjukkan kedeketannya dengan Ezar didepan istri Ezar sendiri. Kesal, Embun pun membanting sendok dan garpu setelah menghabiskan makanannya. Sekar dan Ezar langsung menoleh.


"Ah, maafkan aku ya sayang. Kami selalu membahas pekerjaan dimanapun." Sahut Ezar sambil mengelus tangan istrinya.


"Ezar ayo kita pulang."


Kening Ezar berkerut.


"Tapi aku harus kembali ke kantor, Embun."


"Apa? Ini kan sudah jam pulang kerja. Untuk apa kembali ke kantor?"


"Tidak usah! Aku mau pulang!" Ketus Embun sambil berlalu pergi.


\=\=\=\=


Embun duduk sambil menyilangkan kedua kakinya di sofa. Dua puluh menit yang lalu ia telah sampai di rumah. Setelah membersihkan diri Embun langsung duduk di sofa ruang tengah. Ia penasaran kira-kira jam berapa Ezar akan pulang. Matanya berusaha fokus ke layar tv namun selalu saja ia melirik ke jam dinding. Seolah ia sedang benar-benar menunggu kepulangan Ezar. Tapi Embun berusaha untuk tidak menunggu pria itu pulang. Untuk apa menunggu Ezar? Pria itu kan sedang asik berduaan dengan Sekar di kantornya.


Sekarang Embun merasa seperti dikhinati oleh suaminya sendiri. Padahal Ezar bilang jika ia mencintai Embun. Tapi nyatanya pria itu malah dekat dengan wanita lain bahkan tidak malu-malu menunjukkan kedekatannya didepan Embun. Hah, sial! Tanpa sadar Embun jadi kesal sendiri sampai tangannya meninju-ninju bantal sofa yang tak bersalah.


"Pukul aku saja jika kesal, jangan pukul bantalnya. Kasihan bantal itu hanya benda mati tak bersalah."


Embun mengerjap lalu melirik ke sampingnya. Sontak Embun sedikit menjauh dari Ezar yang entah sudah sejak kapan duduk disebelahnya.


Mata Ezar menatap matanya dengan intens.


"Sejak kapan kau pulang?!" Tanya Embun dengan kesal.


Embun juga melirik jam.


"Ini masih sore. Kenapa kau kembali ke rumah? Kenapa kau tidak lebih lama dengan-"


"Kau cemburu?"


Gleg


Embun langsung kehilangan kata-kata. Cemburu? Yang benar saja.


"Kenapa aku harus cemburu? Aku hanya marah karena kau berbohong padaku!" Ketus Embun.


"Berbohong? Bagian mana yang kau sebut aku berbohong? Aku sama sekali tidak pernah berbohong padamu." Tegas Ezar.


Kini keduanya saling menatap dengan sengit.


"Kau bilang hidupmu itu tidak dikelilingi oleh wanita. Nyatanya bullshit! Kenapa kau menikahiku sialan!" Embun melemparkan bantal sofa yang sedari tadi ia pegang.


Dengan tangkas Ezar menangkapnya lalu menatap istrinya dengan bingung.


"Embun, kau lupa siapa Sekar? Aku perhatikan kau kesal sekali dengan Sekar. Apa salah dia? Kau benar-benar cemburu ya?" Tanya Ezar.


Hah, dia bertanya apa salah wanita itu? Jelas-jelas berani sekali mendekati suamiku dengan iming-iming pekerjaan.


Embun mendengus.


"Lupa? Bagaimana aku melupakan orang yang belum pernah kukenal? Kenal saja tidak."


"Apa? Kau serius lupa dengan Sekar? Astaga! Sepertinya kau benar-benar lupa."


Ezar memijit pelipisnya.


"Huh? Apa maksudnya Ezar?" Tanya Embun dengan wajah bingungnya.


"Saat kita menikah aku sudah mengenalkan kalian. Dia sekretaris ku jika kau lupa."


Seketika Embun langsung tidak bisa bergerak karena malu. Ia malu karena sudah melupakan Sekar yang notabenenya adalah Sekretaris Ezar. Embun langsung merasa bersalah karena sudah bersikap ketus dihadapan Sekar yang tidak salah apa-apa. Sial, bagaimana bisa Embun melupakan siapa Sekar? Embun masih tidak berkutik saat Ezar mendekatinya dan meraih pinggangnya.


Ezar mendekatkan wajahnya.


"Wajar jika aku dekat dengan Sekar karena dia partner kerjaku. Apa itu mengganggumu sayang?" Bisik Ezar ditelinga Embun.


Embun mengerjap.


"T-tidak! Untuk apa aku terganggu? Aku hanya kesal karena faktor datang bulan."


Embun terpaksa berbohong. Padahal ia sudah selesai datang bulan Minggu kemarin. Untungnya Ezar tidak mengetahui hal itu dan langsung percaya. Ezar mengangguk seraya mengusap kepala Embun.


"Aku dengar wanita akan lebih sensitif mengendalikan emosi saat datang bulan. Aku sempat khawatir takut kau cemburu." Ujar Ezar dengan tenang.


"Memang kalau aku cemburu sungguhan apa yang perlu ditakutkan?" Tanya Embun dengan penasaran.


"Aku pernah membuat seseorang merasa cemburu hingga berujung perpisahan. Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi. Sebisa mungkin aku tidak akan membuatmu cemburu walau banyak orang yang bilang cemburu itu tanda rasa sayang. Tapi tenang saja, aku akan membuatmu menyayangi dan mencintaiku tanpa harus merasa cemburu." Ezar tersenyum.


Ezar meraih kepala Embun agar bersandar dibahunya.


"Aku tidak ingin kehilanganmu sayang."


Embun tertegun. Ternyata Ezar bersungguh-sungguh dengan perkataannya waktu itu. Cemburu? Embun sendiri tidak yakin dan tidak ingin mengakui perasaan cemburu. Mungkin rasa kesal yang ia rasakan tadi timbul karena Ezar selalu sibuk dengan pekerjaan dan tidak pernah menjemput Embun. Bahkan mereka sudah jarang makan bersama sementara Ezar bisa-bisanya menyempatkan diri untuk makan bersama wanita lain sekalipun itu sekretaris nya sendiri. Tapi bukankah itu sama saja dengan cemburu?


Ah, tidak mungkin. Embun sendiri tidak bisa mengartikan dengan jelas apa itu cemburu dan apakah perasaan yang ia rasakan itu adalah kecemburuan.


Selagi Embun dilanda perasaan bingung dalam benaknya, Ezar juga sibuk dengan pikirannya. Ezar yakin jika Embun cemburu walaupun gadis itu tidak mau mengakuinya. Ezar tahu betul seperti apa wanita ketika sedang cemburu. Wanita akan marah-marah dan bersikap ketus saat sedang cemburu. Persis seperti yang dulu pernah Ezar alami. Sebenarnya Ezar senang karena bisa melihat jika Embun mulai menyukainya. Tapi ia tidak mau terlalu terburu-buru dan menuntut Embun untuk mencintainya dalam waktu dekat. Biarlah perasaan itu mengalir seperti air apa adanya.


Ezar benar-benar tidak ingin kehilangan wanita yang ia cintai untuk kedua kalinya.


Ezar akan menjaga Embun agar tetap disampingnya selamanya.


Namun apakah itu bisa?


Mempertahankan orang yang hatinya entah untuk siapa membutuhkan keahlian dan kesabaran level tinggi bukan?


(kasih komentar tentang cerita ini dong 😻)