
"Embun?" Panggil Riska.
Tapi Embun tidak menyahut. Tangan Embun masih sibuk menjahit kain. Riska dan rekan kerja yang lainnya pun saling tatap satu sama lain. Embun hanya melamun dan tangannya terus menjahit.
"Embun, kau mau bekerja sampai kapan?" Tanya Riska sekali lagi.
Embun hanya menghela nafas. Ia bahkan tidak menjawab pertanyaan Riska. Hal itu mengundang tanya semua orang. Riska juga menyangka jika ada yang tidak beres dari Embun hari ini.
Tak lama Mario pun datang. Melihat semua karyawannya yang berkumpul dan bersiap mau pulang Mario pun langsung menghampiri mereka.
"Ada apa?"
"Pak, kurasa rumah tangga Embun tidak berjalan dengan baik. Seharian ini dia banyak melamun dan sering melukai tangannya." Sahut Riska.
Mario pun bingung. Kemudian matanya tertuju pada Embun.
"Tadi pagi dia berangkat sendiri naik taksi. Suaminya tidak mengantarnya." Sahut pekerja lainnya.
Mario menghela nafas.
"Kalian pulang lah. Ini sudah lewat jam kerja. Biar aku yang mengurus Embun."
"Baik pak."
Setelah semua karyawan pulang Mario pun menghampiri Embun. Tatapan Embun kosong. Mata Mario langsung melebar melihat tangan Embun yang terkena jahitan dan berdarah. Buru-buru Marion mengangkat tangan Embun dari sana. Sial. Bahkan Embun tidak merasa jika jarinya terluka.
Embun tersentak kaget.
"Pak Mario?"
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Mario dengan kesal.
Kening Embun berkerut.
"Aku sedang .. bekerja."
"Kau pikir ini jam berapa?"
Embun langsung melihat jam tangannya. Matanya melotot. Ini sudah jam lima. Dan yang lain sudah pulang. Hanya tersisa dirinya sendiri dan Mario disini. Astaga! Kenapa Embun tidak menyadarinya.
"Kau tidak merasakan sakit?" Tanya Mario.
"Sakit kenapa?"
Mario menghela nafas. Pria itu mengangkat jari Embun yang berdarah. Disitulah Embun baru mengetahuinya.
"Lihatlah semua jarimu. Penuh dengan luka. Dan sekarang ada luka baru. Sebenarnya apa yang terjadi padamu hari ini?"
Embun terdiam.
Pikirannya kembali tertuju pada Ezar dan wanita asing itu.
Mendengar Mario yang berdecak Embun langsung mendongak.
"Aku .. harus pulang."
"Ada masalah dengan suamimu?" Tanya Mario.
"Bukan urusanmu."
"Setidaknya obati dulu lukamu. Ayo ke ruangan ku."
Embun memperhatikan bagaimana Mario mengobati luka di jari tangannya. Rasanya sedikit perih tapi ia masih bisa menahannya. Embun tersenyum kecil. Mario pernah dan bahkan mungkin masih menyukainya sementara Embun sudah bersuami. Dan adik Mario ternyata adalah Rayhan, pria yang dulu Embun sukai. Kakak beradik itu sama\-sama menyukainya.
Tapi mungkin mereka menyukai orang yang salah. Embun sudah bersuami. Mungkin saja hati Mario dan Rayhan tersakiti tapi mereka masih mau membantu Embun.
"Mario, terimakasih. Kau bos dan teman yang baik."
Mario tersenyum.
"Ada apa dengan hari ini? Apa semuanya berjalan lancar?"
"Semalam .. apa Ezar tidak mengatakan apa\-apa padamu?" Tanya Embun penasaran.
Mario sempat berpikir sejenak.
"Tidak. Setelah kami keluar untuk memberi ruang pada kalian tiba\-tiba saja aku ada urusan mendadak. Ezar terlihat sabar dan tenang. Tidak seperti saat dia cemburu padaku." Mario terkekeh.
Embun menghela nafas.
"Mungkin kesabarannya sudah habis."
"Apa maksudmu Embun? Dia berbuat sesuatu padamu?" Tanya Mario mulai cemas.
Bagaimanapun Mario masih belum bisa melupakan perasaannya pada Embun.
"Dia membawa wanita lain ke rumah. Aku tidak tahu siapa dia. Tapi wanita itu tidak terlihat jahat."
Mario berdecak.
"Apa maksudmu? Wanita penggoda memang seperti itu awalnya. Dia terlihat manis namun beracun. Kau tidak bisa diam saja. Rayhan bilang kau lebih memilih Ezar bukan? Itu artinya kau ingin memulai semuanya dari awal. Kau tidak boleh menyerah begitu saja."
"Benar. Aku juga bukan tipe orang yang mudah menyerah. Tapi sikap dingin Ezar membuatku kecewa."
Embun memegang tangan Mario.
"Semuanya belum terlambat kan?" Tanya Embun penuh harap.
Mario menghela nafas. Ia tidak yakin karena sebenarnya ia juga belum pernah menikah. Tapi seharusnya Embun bisa mendapatkan kesempatan itu. Meski ada rasa sakit karena perasaannya tidak terbalas, Mario tetap mendukung rumah tangga Embun.
Mario tersenyum.
"Aku mendukungmu. Aku yakin masih belum terlambat."
~~
BRAKK
"Kau gila! Bagaimana bisa kau membawa Sarah kembali?!!" Teriak Aldo diambang pintu.
Ezar langsung menatap tajam Aldo.
"Kau yang gila. Masuk tanpa permisi sambil membanting pintu lalu berteriak. Apa seperti itu kau memperlakukan bosmu?" Desis Ezar.
Aldo menghela nafas. Aldo menutup pintu dengan perlahan lalu berjalan mendekat. Aldo berkacak pinggang menatap Ezar dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Apa tujuanmu? Apakah semua saran dariku tidak berguna sehingga kau harus membawa masa lalu mu kembali hah?" Tanya Aldo.
"Lalu .. secepat itu kau menyerah? Kau membuat semua usahamu sia\-sia hanya karena ketidakpercayaan dirimu."
Ezar memijat pelipisnya. Pekerjaannya belum selesai tapi Aldo sudah datang lalu mengoceh tentang hal lain. Sia\-sia Ezar menyibukkan diri dengan bekerja untuk melupakan masalahnya sejenak. Kini Aldo malah membahas dan membuatnya kembali ingat. Ezar bangkit lalu berjalan menuju sofa.
Ia juga mengajak Aldo untuk duduk.
"Dia sangat marah dan benci ketika aku mengambil hakku sebagai seorang suami lalu pergi ke pelukan kekasihnya." Kata Ezar dengan pelan.
Aldo terlihat terkejut.
"Apa itu terjadi saat kalian bulan madu?"
Ezar menggeleng.
"Kau tahu sendiri jika bulan madu itu tidak menghasilkan apa\-apa selain keriburan. Kemarin. Saat aku pergi minum. Aku bahkan tidak ingat apa yang terjadi."
Aldo berdecak kesal. Ezar terlihat seperti orang bodoh sekarang.
"Jadi maksudmu, kau menidurinya dalam keadaan mabuk?" Tanya Aldo.
Ezar hanya menjawab dengan helaan nafas.
Aldo langsung menjambak rambutnya sendiri.
"Kau tidak ingat apa yang terjadi. Bisa saja kau memaksanya. Itu sudah pasti. Dia pasti ketakutan Ezar! Wanita tidak suka dipaksa untuk melakukannya. Dia membencimu karena dia takut melihat sisi singa darimu." Jelas Aldo.
Ezar merasa tidak setuju dengan pernyataan itu. Embun bahkan pernah melihatnya marah tapi ia tidak ketakutan. Bukankah jika seseorang marah itu sudah cukup disebut menunjukkan sisi singa nya?
"Dia marah bukan karena takut. Tapi karena dia tidak mencintaiku. Dia tidak mau melakukannya denganku." Kata Ezar.
Aldo tertawa sinis.
"Aku tidak menyangka punya bos yang pemikirannya pendek dan sempit sepertimu." Desis Aldo.
Ezar merasa marah mendengarnya.
"Jaga bicaramu!" Tegas Ezar.
"Kau tidak mengerti wanita."
"Kau pikir kenapa sudah lima bulan menikah kami belum melakukannya? Itu karena dia selalu menolaknya! Dia selalu bilang tidak siap padahal dia sedang menunggu kekasihnya itu lalu bercerai denganku!" Teriak Ezar frustasi.
Aldo langsung diam. Sorot matanya menatap Ezar dengan wajah datar.
"Itu karena dia butuh waktu untuk mencintaimu. Kalian menikah tanpa cinta dan jelas itu membuatnya tidak nyaman, Ezar." Sahut Aldo.
Ezar berdecak.
"Butuh waktu apanya. Aku mendengar sendiri dengan jelas bahwa dia masih menyayangi pria itu. Tidakkah kau memikirkan alasanku membawa Sarah kembali?"
Ezar tersenyum miring melihat raut wajah Aldo yang terkejut. Kini Aldo pun hanya bisa bungkam. Ezar bangkit lalu membereskan meja kerjanya. Sebelum pergi ia kembali menatap Aldo.
"Berhenti berkata seolah kau manusia yang paling mengerti wanita. Kau bahkan tidak pernah membelaku sama sekali." Desis Ezar.
Embun memperhatikan makanan yang telah ia buat. Mungkin jika dibiarkan sedikit lagi makanan itu akan dingin. Akankah Ezar pulang telat hari ini? Embun ingin bicara banyak hal pada suaminya termasuk meminta maaf. Embun meyakinkan diri untuk mencintai suaminya. Ya. Bahkan semuanya sudah jelas saat mereka di Amerika.
Embun menyesal karena mengulur dan menunda untuk menyatakan perasaannya. Mungkin ia sudah terlalu bodoh karena tidak pernah melihat ketulusan Ezar. Embun menghela nafas. Ia terus menunggu sampai suaminya pulang.
TING TONG
Embun tersentak mendengar suara bel berbunyi. Namun dengan cepat ia segera membukakan pintu. Mungkin suaminya pulang.
"Ezar kau sudah pu-"
Embun langsung membeku.
Wanita itu datang lagi.
"Kau siapa?" Tanya Embun dengan dingin.
Sarah tersenyum kecil.
"Kupikir Ezar sudah memberitahu padamu. Bisakah aku masuk?"
Tanpa menunggu jawaban Embun, Sarah langsung masuk begitu saja dan meletakkan barang-barangnya disofa. Embun melongo melihatnya. Benar kata Mario, wanita penggoda memang terlihat manis namun beracun. Dan wanita ini sudah mulai berani menunjukkan racunnya.
"Apa kau tidak tahu siapa aku?" Tanya Embun dengan suara lantang.
Embun melipat kedua tangannya didepan dada.
Sarah melirik sekilas kemudian tersenyum miring.
"Kau nyonya dirumah ini." Sahut Sarah.
"Lalu? Untuk apa kau kemari? Apa hubunganmu dengan Ezar?"
"Apapun hubungan kami itu bukan urusanmu, Embun." Sebuah suara menyahut.
Embun langsung mematung. Perlahan ia membalikkan badan. Ezar berdiri dibelakangnya dengan wajah datar. Apa barusan Ezar melarangnya untuk ikut campur soal hubungan mereka?
"Ezar kau sudah pulang."
Embun mengambil tas dan jas kerja Ezar. Embun juga membantu pria itu melepaskan dasi.
"Aku membuatkan makan malam untukmu. Makanlah." Embun tersenyum.
Ezar menghela nafas. Sebenarnya ia tidak nafsu makan. Tapi ia juga belum makan dari siang. Lagipula tidak ada salahnya menghargai masakan Embun. Ezar pun langsung menuju dapur. Embun tak lupa untuk mengikutinya.
Setelah memastikan Sarah tidak mengikuti mereka barulah Embun langsung duduk dihadapan Ezar. Mata Embun penuh mengintimidasi. Tapi sepertinya Ezar tidak peduli.
"Wanita itu siapa?" Tanya Embun langsung.
Ezar hanya menatap Embun sekilas lalu menyantap makanannya.
"Sarah."
"Siapa dia? Apa dia temanmu? Atau sepupumu? Setidaknya beritahu dia agar aku tidak salah paham."
Ezar menghela nafas.
"Kau tidak salah paham." Ujar Ezar dengan datar.
"Hah?"
"Dia mantan kekasihku sekaligus cinta pertamaku."