
Hari ini Embun libur bekerja. Butik juga tutup saat hari Minggu. Ya, hari ini adalah hari Minggu. Namun entah kenapa Ezar tetap pergi bekerja di hari libur seperti ini. Bahkan pria itu berangkat lebih pagi dari biasanya tadi. Hal itu membuat Embun sedikit kesal. Ternyata memiliki suami gila bekerja sangat menyebalkan. Padahal tadinya Embun ingin mengajak Ezar bermain di pantai yang waktu itu untuk melepas penat dan sekalian quality time. Selama hampir sebulan ini kan keduanya jarang ada waktu bersama karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Tapi yasudahlah. Sepertinya Ezar lebih mencintai pekerjaannya dibanding istrinya. Sebagai gantinya Embun akan membawakan bekal makan siang untuk Ezar nantinya. Embun ingat betul jika Ezar pernah berkata bahwa pria itu sering melewatkan jam makan siang hanya karena sibuk. Embun tidak ingin suaminya jatuh sakit atau paling tidak terkena penyakit lambung karena sering melewatkan waktu makan.
Embun juga membawakan bekal untuk Sekar, si sekretaris Ezar karena bermaksud meminta maaf atas kejadian waktu itu. Jujur Embun masih merasa sangat malu sekali karena sudah salah paham. Pasti Sekar merasa tidak nyaman waktu itu.
Embun memasak sendiri bekal yang akan ia bawa dibantu dengan Bi Lasri tentunya. Tapi bi Lasri hanya membantu menyiapkan bahan-bahannya saja. Selebihnya Embun yang memasak dan menyampurkan bumbu. Setelah selesai memasukkan dua kotak bekal ke dalam tas Embun pun pergi ke kamar untuk bersiap.
Tapi tak lama Bi Lasri menghampirinya ke kamar.
"Maaf mengganggu nyonya, tapi dibawah ada tamu."
"Tamu? Siapa bi?"
"Saya tidak tahu, nyonya. Katanya ingin bertemu dengan nyonya."
"Baiklah, terimakasih bi."
Embun pun terpaksa menunda kegiatannya dandannya lalu pergi menemui tamu itu. Begitu didepan pintu Embun bisa melihat sosok pria berdiri membelakanginya.
"Siapa?"
Pria itu langsung berbalik.
"Mario?"
"Hai, Embun."
Embun ternganga melihat kedatangan atasannya itu. Tumben sekali Mario mampir ke rumahnya secara sengaja seperti ini. Hari ini penampilan Mario juga sangat santai dengan kaos polos dan celana selutut. Embun terpesona dengan style Mario yang baru dilihatnya. Kan selama ini Embun hanya melihat Mario memakai kemeja dan celana bahan resmi di kantor.
"Tidak perlu memperhatikanku seperti itu." Sahut Mario sambil terkekeh.
"Aku hanya tidak biasa dengan pemandangan seperti ini."
"Benarkah? Lalu apakah aku terlihat lebih tampan dengan gaya santai seperti ini?" Mario menaik turunkan alisnya.
Embun tertawa.
"Gaya apapun cocok untukmu. Ayo masuk."
"Sebenarnya aku kemari untuk berkunjung sekalian mengajakmu jalan jika bisa. Apa suamimu ada dirumah?"
"Suamiku pergi bekerja. Dan aku juga akan ke kantornya untuk mengantarkan bekal."
Mario terlihat terkejut.
"Benarkah? Ck. Tega sekali meninggalkan istrinya di hari libur seperti ini."
"Katanya dia sedang menyelesaikan proyek terbaru. Jadi wajar saja jika dia sibuk. Kalau tidak keberatan, bisakah kau antar aku kesana?"
Mario langsung mengangguk.
"Tentu saja. Setelah mengantar makanan bisakah kita jalan-jalan? Aku butuh bantuan memilih hadiah yang cocok untuk adikku nanti." Ujar Mario.
"Kau punya adik?"
"Ya, dia akan pulang dari luar negeri beberapa waktu kedepan."
"Baiklah. Aku mau bersiap-siap dulu."
\=\=\=\=
Setelah menyuruh Mario menunggunya di mobil Embun langsung naik ke lantai atas dan menemui Sekar. Kantor lumayan sepi karena hanya beberapa pegawai saja yang tetap bekerja di hari Minggu seperti ini. Embun tidak habis pikir dengan orang-orang yang masih bisa tetap bersemangat bekerja di hari Minggu seperti ini termasuk suaminya. Ada ada saja. Padahal Ezar kan seorang bos pimpinan yang bisa sesuka hati mau bekerja atau tidak apalagi ini hari Minggu. Harusnya tadi Embun tidak membiarkan Ezar pergi bekerja.
Setelah keluar dari lift Embun langsung menyusuri lorong menuju ruangan Ezar. Embun juga melihat Sekar sedang sibuk berkutat dengan komputernya.
"Sekar." Panggil Embun.
Sekar pun mendongak. Gadis itu langsung berdiri menyambut kedatangan Embun.
"Hai, nyonya. Mau bertemu Tuan Ezar?"
Embun mengangguk.
"Dia tidak sedang sibuk kan? Oh ya, kau sudah makan?"
Sekar tampak berpikir.
"Belum. Tuan juga belum makan siang."
Embun menghela nafas. Ia segera mengeluarkan kotak bekal untuk Sekar.
"Ini apa Nyonya?" Tanya Sekar bingung.
"Sekar maafkan aku ya. Maafkan sikap ketusku waktu itu aku sedang sensitif saja hehe."
Sekar mengulum senyum.
"Tidak apa-apa nyonya. Tuan Ezar bilang jika anda lupa pada saya. Lalu apakah ini untuk.."
"Itu untukmu. Sebagai permintaan maaf ku. Sekarang aku mau bertemu Ezar dulu."
Embun langsung melangkah masuk ke dalam ruang kerja Ezar. Sekar tampak bersemangat menatap kotak bekal dari Embun itu. Kebetulan sekali perutnya juga lapar. Lagi-lagi Sekar hampir melewatkan jam makan siang.
"Terimakasih nyonya!"
\=\=\=\=
Embun menghela nafas menatap pemandangan didepannya. Ezar duduk dibalik meja kebesarannya yang penuh dengan setumpuk berkas. Astaga! Di hari libur seperti ini saja pekerjaan Ezar masih banyak. Sebenarnya selama seminggu penuh apa yang dilakukan pria itu sampai tidak bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu enam hari? Apakah lembur hingga tengah malam saja tidak cukup?
Dan sepertinya Ezar juga belum menyadari kehadirannya. Lihatlah kening pria itu yang berkerut karena pusing berpikir menatap layar komputer sambil membaca berkas-berkas itu. Embun yang hanya melihatnya saja pusing apalagi Ezar yang melakukan dan memilki tanggung atas semua tumpukan kertas itu? Embun berjalan mendekati suaminya.
"Sekar, bisa tolong ambilkan aku kopi? Juga jangan lupa untuk menyalin berkas yang aku kirim semalam." Sahut Ezar.
Embun berdiri dibelakang Ezar lalu mulai memijati bahu suaminya. Tak lama Ezar menepis tangan yang berusaha memijat bahunya.
"Kubilang ambilkan aku kopi bukan pijat!" Ketus pria itu.
Ezar tetap tak berniat untuk menatap wajah gadis itu. Sedangkan Embun tetap berusaha memijat bahu suaminya. Berulang kali Ezar menepis tangan Embun dari bahunya namun pria itu tak kunjung juga menatap wajah Embun. Gemas, Embun pun berdiri disamping Ezar lalu..
CUP
Ezar nyaris mengusap bekas kecupan dipipinya jika saja ia tidak melihat sosok istrinya. Ezar terkejut bukan main.
"Embun? kenapa kau ada disini?"
Embun mendengus.
"seharusnya kau tanyakan itu dari beberapa menit yang lalu saat aku baru sampai."
"maaf sayang. aku tidak tahu kau datang."
"cih, terus saja perhatikan layar komputer itu. mungkin komputermu lebih cantik daripada aku!" ketus Embun seraya duduk di sofa.
Ezar membuntuti dan ikut duduk disebelah istrinya. tanpa permisi Ezar langsung menyandarkan kepalanya di bahu Embun.
Embun berusaha menyingkirkan kepala Ezar dari bahunya.
"ish. menyingkirlah!"
"Tidak mau. Aku lelah."
"Kalau lelah kenapa bekerja? Kau menyiksa diri sendiri!"
"Lalu aku harus bagaimana lagi? Aku bosnya. Aku yang harus menanggung semuanya." Ujar Ezar dengan lirih.
Embun menghela nafas. Tangannya terulur untuk menyentuh kepala Ezar.
"Tapi kau juga harus tahu waktu istirahat. Bukankah kau bilang jika uangmu tidak akan habis sampai sepuluh turunan?"
Ezar tidak menjawab dan malah tiduran di paha Embun. Pria itu memejamkan matanya.
"Hei, aku harus-"
"Sebentar saja. Tolong seperti ini sebentar." Pinta Ezar.
Embun menghela nafas. Baru saja ia ingin bilang jika ia harus segera pergi untuk menemani Mario. Tapi sepertinya ia tidak bisa. Lagipula Embun tidak yakin jika Ezar akan mengizinkannya pergi bersama Mario. Pria itu kan pencemburu akut. Embun juga tidak tega membangunkan suaminya.
Akhirnya Embun pun meraih ponsel dan segera menghubungi Mario sambil matanya terus fokus pada Ezar yang terlelap.
"Mario, maaf sepertinya aku tidak jadi pergi denganmu. Mungkin lain kali. Terimakasih sudah mengantarku kesini."
\=\=\=\=\=
Carrel sedang sibuk membersihkan meja-meja bekas pelanggan di cafenya. Hari ini cafe lumayan ramai pelanggan mungkin karena hari libur. Saat pelanggan sudah mulai sepi barulah Carrel bisa bersantai sebentar untuk menarik nafas. Carrel melempar kain lap ke meja lalu duduk sejenak.
"Huh, hari ini melelahkan sekali. Tapi aku senang banyak orang yang datang." Gumam Carrel.
Carrel pun memejamkan matanya. Kepalanya terasa berat dan panas.
"Hai kak Carrel!"
Perlahan Carrel membuka matanya. Ia melihat sosok pria berdiri disamping meja. Carrel menegakkan tubuhnya sambil berusaha mengenali pria itu. Kening Carrel mengerut.
"Kau .. bukankah kau Toni?" Tanya Carrel.
Pria bernama Toni itu tersenyum.
"Masih ingat rupanya."
Carrel langsung bangkit karena terkejut.
"Astaga! Benarkah? Aku tidak percaya ini."
"Aku baru saja kembali setelah melanjutkan studi di Eropa. Bagaimana kabarmu kak?"
Carrel masih belum tersadar dari keterkejutannya. Tapi sebisa mungkin ia terlihat biasa dan menyuruh Toni untuk duduk. Entah kenapa bertemu dengan adik kelasnya semasa SMA membuat Carrel gugup bukan main.
"Bagaimana kabar kakak?" Tanya Toni.
Carrel pun menyuruh pelayan untuk membawakan mereka minuman.
"Baik. Kau sendiri bagaimana? Tumbuh di Eropa ternyata membuatmu semakin tampan ya." Carrel tersenyum.
"Ah, tidak kok. Kau juga semakin cantik kak. Kebetulan sekali kita bisa bertemu disini ya."
"Aku pemilik cafe ini."
"Oh, benarkah? Wow, tidak kusangka. Apa aku bisa mendapat menu gratis?" Toni tersenyum genit.
Carrel pun tertawa.
"Tentu saja! Khusus untuk tamu spesial dari luar negeri hehe."
Pelayan pun datang membawa minuman untuk Toni. Carrel cemas sendiri di tempatnya entah kenapa. Kedatangan Toni seperti tidak diharapkan oleh Carrel padahal jujur Carrel merindukan adik kelasnya itu. Tunggu, jika Toni sudah kembali maka...
Carrel menatap Toni dengan intens.
"Kau kembali tidak sendiri bukan?" Tanya Carrel penuh curiga.
"Hm? Aku datang sendiri. Yang lain masih perlu mengurus segala urusan disana mungkin akan menyusul Minggu depan." Jawab Toni.
"Lalu .. bagaimana dengan .. Ray?"
Carrel menunggu jawaban dengan tegang. Ia tak berhenti menelan saliva selagi menunggu Toni menjawab.
Toni pun tersenyum kecil.
"Ray mungkin akan kembali Minggu depan. Dia bilang dia sangat merindukan kalian berdua terutama .. kak Embun."
Deg
Carrel menghela nafas. Sudah ia duga. Kedatangan Toni pasti mengundangkan kedatangan yang lain juga. Murid-murid yang ikut studi ke luar negeri akan segera kembali. Tentu saja ini kabar buruk untuk kehidupan rumah tangga Ezar dengan Embun. Oh, ayolah! Embun baru saja membuka hatinya untuk Ezar kenapa sekarang akan ada pengacau muncul?
"Oh ya, bagaimana kabar kak Embun sekarang? Dia baik-baik saja kan? Ray terus mengkhawatirkan gadis itu. Tadinya dia ingin pulang bersamaku Minggu ini tapi sayangnya dia tidak bisa." Ujar Toni.
"Embun baik dan sebenarnya dia sudah-"
"Bisa kau beritahu alamat kak Embun untuk Ray? Ray bilang dia akan mencari kak Embun begitu tiba dan kembali melanjutkan kisah mereka yang menggantung."
(hai, jangan lupa baca ceritaku yang trouble marriage ya^^)